Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Friday, March 09, 2012

KlabKlassik Edisi Playlist #11: One Day of Peace and Music


Minggu, 11 Maret 2012
Pk. 13.00 - 15.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Tentang Edisi Playlist
Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.
Tatacara
Peserta kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.
Latar Belakang Edisi Kali Ini
Hari Minggu yang lalu KlabKlassik baru saja memutar dokumenter Woodstock, sebuah event yang bertajuk "An Aquarian Exposition: 3 Days of Peace & Music". Max Yasgur, pemilik tanah yang menjadi lokasi event tersebut menyatakan bahwa :

...it as a victory of peace and love. He spoke of how nearly half a million people filled with possibilities of disaster, riot, looting, and catastrophe spent the three days with music and peace on their minds. He states that "if we join them, we can turn those adversities that are the problems of America today into a hope for a brighter and more peaceful future."
Sebuah prestasi yang luar biasa, dimana segitu banyaknya orang berkumpul dalam sebuah mosi damai. Selain faktor subkultur 1960an dengan flower generationnya, dikatakan bahwa musik yang tersaji itu sendiri yang sanggup menghadirkan kedamaian.
Bagaimana tanggapan anda? Edisi playlist kali ini bertemakan '1 Day of Peace & Music'. Setiap peserta wajib membawa sebuah musik yang menurut peserta dapat membuat pendengarnya merasakan damai. Bisa damai yang subjektif, bisa perdamaian dunia utopian, bebas.

Friday, March 02, 2012

KlabKlassik Edisi Film: Woodstock (1970) The Documentary Film

Minggu, 4 Maret 2012
Pk. 15.00 - 18.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
(gratis dan terbuka untuk umum)

Majalah Rolling Stone menyebutnya sebagai “50 Moments That Changed the History of Rock and Roll”, ada juga yang menyebutnya Hippiefest, mungkin inilah salah satu tonggak sejarah dalam revolusi budaya pop yang begitu monumental dan penuh fenomena dimana ratusan ribu orang berkumpul dengan damai hanya untuk menikmati musik, ialah Woodstock Music and Art Fair yang terjadi pada tanggal 15 -18 Agustus 1969 menyandang tema “3 days of peace and music”, event ini bertempat di ladang peternakan sapi perah milik seorang petani Max Yasgur seluas 600 hektar di sullivan county sekitar 40 km sebelah barat daya dari kota woodstock, lahan peternakan yang mirip seperti mangkuk kolam itu menjadi saksi sejarah 3 hari yang yang terus menerus hujan dengan ribuan orang hippie mandi lumpur disana. Festival ini disebut Woodstock karena seharusnya dilaksanakan di kota woodstock di ulster county , new york namun pemerintah setempat tidak memberikan izin karena diperkirakan satu juta orang lebih akan datang memenuhi kota apalagi rencana penyelenggara untuk memfasilitasi toilet portable pun akhirnya ditolak oleh dewan kota, tetapi penolakan ini malah membuaat issue event ini jadi semakin booming dan mengundang ketertarikan banyak investor. Amerika saat itu sedang masa resesi setelah perang vietnam yang menciptakan trauma psikologis massal bagi para keluarga veteran yang dikirimkan ke vietnam, woodstock seakan ialah sebuah oase, sebuah kerinduan akan dunia yang damai tanpa kekerasan.

Sejumlah band dan artis yang tampil di Woodstock akhirnya menjadi superstar dan legenda seperti Creedence Clearwater Revival (CCR), The Jefferson Airplane, The Who, Joan Baez (sedang hamil 6 bulan), Janis Joplin with the cosmic blues band, Blood Sweat & Tears, Joe Cocker, Johnny Winter, Ten Years after, Crosby Stills Nash & Young, Jimi Hendrix, dan masih banyak performer lainnya, dibuka oleh Richie Havens dan ditutup sang dewa Jimi Hendrix sungguh event ini takkan pernah terulang dalam sejarah, pada hari pertama juga dibuka dengan opening speech dan doa bersama oleh brahmana Swami Satchidananda seorang guru spiritual yoga india yang bermukim di amerika membuat atmosfir woodstock terasa damai dan sakral.yang tidak terlupakan ialah performance gitar Jimi Hendrix memainkan lagu kebangsaan amerika “Star Spangled Banner” menurut kesaksian, banyak orang merasakan kegetiran perang vietnam dalam sayatan distorsi jimi, mungkin hal ini terpengaruh oleh masa wajib militer yang dijalaninya di tahun 1961. banyak juga band dan artis yang menolak tawaran bermain di woodstock dan sebagian menyesal, The Beatles menolak karena pihak panitia tidak mengizinkan permintaan John Lennon untuk sebuah spot stage bagi istrinya Yoko Ono's Plastic Ono Band, Bob Dylan yang kebetulan rumahnya dekat dengan area woodstock merasa tidak senang dengan aksi para hippie di belakang rumahnya, Jeff Beck sempat ditawarin tapi ia terlanjur membubarkan Band yang dibentuknya, Led Zeppelin bentrok dengan jadwal konsernya di jersey, Procol Harum juga sama sedang schedule Tour. Band yang paling potensial dan dinanti penampilannya di event ini oleh para hippies ialah The Doors, sayangnya tawaran ini ditolak oleh sang gitaris Robbie Krieger dengan alasan masih trauma dengan kasus morrison yang terjadi di monterey pop festival.

Dokumentasi Film Woodstock ini disutradarai oleh Michael wadleigh dan disunting kembali oleh Thelma Schoonmaker dan Martin scorsese, film ini meraih Oscar untuk dokumenter terbaik dan sangat menolong kebangkitan kembali bagi rumah produksi Warner Bros yang hampir bangkrut. Durasi film yang hampir mencapai 3 jam cukup menguras stamina tetapi 3 jam walaupun tidak cukup mewakili 3 hari woodstock yang sebenarnya, seharusnya layak untuk disimak dengan santai dibarengi kopi aroma yang selalu panas :)



Psikedelik: Hidup ini hanyalah mimpi, dan kita adalah imajinasi diri kita sendiri

Tubuh adalah Penjara Jiwa ~plato, Psikedelik Membebaskannya! 

Minggu, 26 Februari 2012 di Tobucil sedang berlangsung bincang-bincang musik. Isu yang diusung kali ini adalah Musik Psikedelik: Antara Spiritualisme dan Budaya. Sebenarnya ini bukan kali pertama Klabklassik mengangkat isu tersebut. Atas desakan rasa penasaran dan keingintahuan yang besar, akhirnya isu psikedelik musik diangkat kembali, namun dengan pokok bahasan yang lebih mendalam. Bincang-bincang ini menghadirkan Ismail Reza sebagai narasumber dan dipandu oleh Diecky K. Indrapraja. Diluar dugaan, peserta bincang-bincang kali ini cukup banyak, yaitu sekitar 12 orang lebih. Minggu sore yang hujan, tak terasa dinginnya setelah dihangatkan oleh sepuluh lagu psikedelik yang telah disiapkan oleh Reza.
Bincang-bincang dibuka oleh pendahuluan dari Diecky tentang kompleksitas manusia dewasa yang semakin berpengetahuan dan berpengalaman, serta memiliki pemahaman atas keduanya, justru merasa terkekang oleh beragam ikatan. Norma, adat, agama, hingga logika adalah belenggu ikatan yang kadang membatasi. Tentu saja ragam belenggu tersebut tidaklah salah untuk disepakati. Bagi kaum psikedelik, mereka hanya tidak mau menjadi naif dalam menjalani hidup. Selanjutnya Reza memaparkan cikal lahirnya psikedelik, yaitu di akhir tahun 60-an, ketika isu ras kulit putih dan kulit hitam begitu kental di Amerika dan Inggris pada umumnya. Ras kulit putih adalah “bangsawan”, yang seharusnya berprofesi sebagai pengacara, politisi, dan selera musiknya pun musik klasik Eropa, singkatnya ras kulit putih berderajat sosial lebih tinggi dan kaum mapan, baik secara pendidikan maupun secara ekonomi. Kendati demikian, beberapa golongan ras kulit putih tersebut justru ingin keluar dari pengelompokan strata saat itu. Mereka hanya ingin menjadi insan yang tak terkotakkan dan tak berbatas. Sejak itu tunas budaya psikedelik mulai tumbuh, baik di dunia seni visual, suara, hingga sastra.
Bincang-bincang diteduhkan sejenak dengan diputarnya dua buah lagu generasi psikedelik awal, yaitu dari The Byrds berjudul “Eight miles high” dan dari 13th Floor Elevators berjudul “You Don't Know (How Young You Are Now)”. Dari sisi instrumentasi, keduanya mencoba mengeksplorasi warna-warna bunyi baru dalam teknologi yang masih sangat sederhana. Artikulasi melodi gitar listriknya pun serasa entah sedang membuat kalimat apa. Lirik lagu “You don't know (How young you are now)” seolah mengingatkan pada para pendengar lagu ini untuk mempertanyakan kembali seberapa muda, lugu dan polos kah kita, hingga pendewasaan usia menjadikan kita naif dalam menghadapi banyal hal.
Selanjutnya Reza membawa kami pada band asal Inggris yang tersohor, yaitu The Yardbirds dengan lagu “For Your Love”. Band yang merupakan bagian dari gelombang British Invasion ini pernah melahirkan gitaris-gitaris dunia, antara lain Eric Clapton, Jeff Beck, dan Jimmy Page. Inovasi-inovasi untuk kekayaan suara pada gitar mulai dikenalkan di masa band ini populer. The Yardbirds merupakan cikal berdirinya band legendaris dunia, Led Zeppelin. Reza menjelaskan bahwa psikedelik juga mengusung kekayaan musikal dari negara-negara hasil jajahan kolonial, sebut saja India, Marroko, Jamaika, dan sebagainya. Sehingga tak heran jika lagu “For your love” yang melibatkan suara perkusi yang mirip dengan “Ketipung”.
Bincang-bincang semakin seru ketika dua lagu dari Soft Machine diputar, yaitu “Save Yourself” dan “Priscilla”. Soft Machine bisa disebut sebagai band psikedelik generasi awal yang beraliran rock. Reza membuka paparan tentang band ini melalui pilihan nama Soft Machine sebagai nama band. Soft Machine adalah nama dari buku yang ditulis oleh William Burroughs, yang konon merupakan salah satu penulis beraliran psikedelik. Pembicaraan makin menghangat ketika peserta bincang-bincang mempertanyakan kembali, sebenarnya apa sih psikedelik itu? Aliran kah? Gaya kah? Atau?. Memang, psikedelik merupakan sebuah budaya (culture), sehingga kalau dikaitkan ke dalam ranah musik disebut Psikedelik Musik, dalam ranah visual disebut Psikedelik Rupa (Surialisme), dalam ranah sastra disebut Psikedelik Sastra, dan seterusnya. Theo, salah satu peserta bincang-bincang mendefinisikan psikedelik sebagai “sikap” seorang kreator. Sementara Reza mendefinisikan psikedelik sebagai “ideologi” dalam berkarya. Artinya, psikedelik bukanlah aliran ataupun gaya dalam berkesenian. Sehingga psikedelik bisa mewujud sebagai musik Blues, Rock, Pop, Jazz, Progressive, hingga Kontemporer sekalipun. Kembali pada Soft Machine, emosi musikal yang ditawarkan oleh band ini sangatlah kuat, namun diendapkan. Menurut Budi Waskito, salah satu peserta bincang-bincang, penahanan emosi tersebut sebagai bagian dari pilihan estetik dalam bermusiknya.
Belum afdol rasanya jika belum mendengarkan band Inggris yang sangat kental aroma psikedeliknya, Pink Floyd. Reza memilihkan lagu Pink Floyd yang diambil dari album pertamanya yaitu “Interstellar Overdrive”. Lagu instrumental berdurasi hampir 10 menit ini menawarkan bebunyian unik, aneh, janggal dan liar, khususnya pada eksplorasi gitar yang dimainkan oleh Syd Barrett. Nuansa space out yang membawa pendengar pada dimensi dunia lain. Kekayaan imajinasi bunyi seolah menciptakan mimesis-mimesis alam dan mahluk yang mendiami di dalamnya. Seperti munculnya suara binatang yang entah itu ayam atau apa, dan pada akhirnya setiap bunyi akan menghadirkan tafsir yang tidak sekedar multi, tapi juga bertabir dan berlipat-lipat. Lagu ini lebih bersifat improvisatif, punctual dengan dukungan bentuk lagu yang free form, namun tetap menjaga tema musikalnya.
Setelah menyimak lagu-lagu dari Amerika dan Inggris, giliran band Jerman yang dipilihkan oleh Reza. Can dan Faust merupakan band Jerman menyikapi psikedelik dengan caranya sendiri: Jerman!. Baik Can maupun Faust, mereka mencoba keluar dari psikedelik yang mainstream dan lebih eksperimental. Can misalnya, lewat lagu “Oh Yeah”, namun dalam lirik lagunya tidak ditemukan kalimat “oh yeah” tersebut. Proses rekaman pun cukup unik, khususnya pada bagian vokal, yaitu setelah bagian vokal direkam, maka diputar kembali secara terbalik dari belakang ke depan (backwards). Selanjutnya digabungkan dalam bagian lagu secara utuh. Persoalan bagaimana mensiasati progresi akord, aksentuasi ritme, dan struktur atau bentuk lagu setelah proses backwards tersebut merupakan kecerdasan musikal tersendiri dari aspek komposisinya. Tidak cuman itu, lirik lagu juga terdiri dari dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Vokalis Can (Damo Suzuki) pada lagu ini memang orang Jerpang yang ditemukan oleh para personil Can di sebuah cafe di Jerman. Masih tentang lirik lagu yang berbahasa Inggris, susah sekali mencari makna apa yang hendak di sampaikan oleh band ini. Meskipun lirik lagu tersebut termasuk lirik yang singkat atau tidak panjang. Lagu “Oh Yeah” merupakan lagu dari album ketiga Can yang diabadikan dalam buku berjudul “1001 Albums You Must Hear Before You Die”. Tak kalah uniknya, Faust dalam lagu “Why Don’t You Eat Carrot” juga menyuguhkan komposisi yang lebih avantgarde untuk dunia industri musik. Lagu yang berdurasi hampir 10 menit ini menguras energi pendengaran peserta bincang-bincang sore ini. Lagu “Why don’t you eat carrot” ini melibatkan unsur-unsur musik elektronik khas Jerman dalam komposisinya. Teknik kolase atau teknik penggabungkan bagian per bagian lagu yang sangat radikal, hingga benturan kontras berbagai gaya musik terkombinasi dengan sangat vulgar. Seperti halnya Can, lirik lagu “Why don’t you eat carrot” susah dipahami maknaknya. Korelasi kata wortel (carrot) pun tidak jelas merujuk pada apa. Liriknya juga terdiri dari dua bahasa, Inggris dan Jerman. Album dari lagu ini memang tidak cukup laku di masanya, namun selalu diperbincangkan dan menjadi perdebatan yang tak pernah habis oleh para seniman musik dan kritikus musik kala itu.
Antusias Reza sebagai narasumber masih membara, masih banyak lagu-lagu yang dia siapkan sebagai stimulus memahami psikedelik lebih dalam. Namun demikian waktu yang tersedia tidak sebanding dengan ulasan yang hendak diperbincangkan. Akhirnya dua lagu terakhir yaitu dari Sly and The Family Stone berjudul  “I Want To Take You Higher” dan dari musisi kawan Miles Davis berjudul “Black Satin” menutup bincang-bincang sore kali ini. Bulan depan, di hari yang sama minggu keempat akan disuguhkan bincang-bincang dengan topik yang berbeda, yaitu ”Musik Blues”.

“Sesungguhnya musik telah mencintai kita abadi, bahkan sebelum kita bisa memahaminya” ~papameong
 Diecky K. Indrapraja


Foto-foto suasana pertemuan psikedelik oleh Ismail Reza

I

Friday, February 24, 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Musik Psikedelik bersama Ismail Reza


Minggu, 26 Februari 2012
Jam 15.00 - 17.00
Tobucil & Klabs, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum
Psikedelik Musik: Spiritualisme dan Budaya
oleh Diecky K. Indrapraja
Psikedelik atau Psychedelic (dalam bahasa inggris), berasal dari akar kata bahasa Yunani psihi (psyche, soul), dan dilosi (manifest), atau secara harfiah bisa disebut manifestasi dari jiwa-jiwa manusia. Manifestasi psikedelik berasar dari pengalaman, pengetahuan, dan pemahaman manusia terhadap sesuatu yang tanpa sadar tidak disadarai (unknowing). Ketidaksadaran atas sesuatu tersebut sebenarnya ada dan tertanam dalam memori, hanya saja beragam belenggu (norma, adat, agama, logika, dsb) yang mengikatnya. Psikedelik memberi ruang kreatif untuk membebaskan belenggu tersebut. Psikedelik membuka seluas-luasnya persepsi manusia melalui halusinasi, trans, ataupun sinestesia, sebagai bentuk perlawanan dan penyanding akan kesadaran imajinasi yang terkekang.
Psikedelik Musik digandang-gandang sebagai respon dari fenomena budaya yang terjadi di Amerika dan Inggris, selanjutnya ditumpahkan dalam bahasa yang lebih musikal. Psikedelik musik dikenal pada akhir tahun 1960-an atau awal 1970-an, bahkan hingga kini. Istilah Psychedelic Folk, Psychedelic Rock, Psychedelic Electronic Music, Trance, New Wave, Space Rock, Glam Rock, hingga Neo-Psychedelia, dan masih banyak lagi sub-genre yang melingkupinya, akan terus dan tetap berkembang sesuai dengan konteks budaya zamannya.
Diskusi musik kali ini akan membedah aspek sejarah Psikedelik sebagai ranah kreatif di dunia musik dan rupa? Bagaimana Psikedelik menstimulus manusia menjadi fana dan peka atas imajinasi dan intuisinya? Apakah Psikedelik musik itu gaya, genre, ataupan cara dalam bermusik? Musik seperti apa yang melingkupi Psikedelik? Mari berbagi, berdiskusi, dan menyimak obrolan sore bersama kami.
Narasumber dalam diskusi sore kali ini adalah Ismail Reza, senior urban desainer, konsultan urban desainer, kolektor piringan hitam, penggemar musik yang jarang digemari orang, dan psikedelik!
Jika realitas begitu menyedihkan dan menakutkan, serta rasionalitas yang ternyata bisa begitu dingin dan kejam, maka marilah kita cari kebenaran dan ketenangan di "alam lain", psikedelik!

KlabKlassik Edisi Playlist #10 - Blacklist Wedding Song: Dari Sonata Artica hingga Kamelot

Minggu, 19 Februari 2012

KlabKlassik Edisi Playlist seperti biasa menghadirkan orang-orang yang mengitari laptop dan speaker. Mereka hendak apa lagi selain mendengarkan musik yang dibawa oleh masing-masing peserta. Musik yang dibawa kali ini mempunyai tema besar yaitu Blacklist Wedding Song. Artinya, ini lagu-lagu yang sekiranya tidak cocok atau tidak pantas dimainkan dalam pesta pernikahan manapun. Lagu yang diputar kemarin adalah ini dia (diurut berdasarkan urutan diputar):
  1. Kingdom of A Heart - Sonata Artica (Diputar oleh Rahardianto)
  2. Mighty and Love - Zeke and the Popo (Laressa Amaly)
  3. Nicole - Etron fou Leloublan (Ismail Reza)
  4. Love Story - Frank Zappa (Diecky K. Indrapraja)
  5. The Face of Love - Nusrat Fateh Ali Khan (Tarlen Handayani)
  6. Love you to Death - Kamelot (Rahardianto)
Dari keseluruhan lagu yang diputar ini, alasan ketidakbolehan untuk diputar di pernikahan beragam. Lagu pertama dari Rahar misalnya, dianggap tidak pantas karena iramanya yang ganjil. Hal yang berlaku juga bagi lagu dari Ismail Reza berjudul Nicole. Bahkan ketika lagu tersebut selesai diputar dan Diecky memberitahukannya via twitter, ada akun dari Prancis yang membalas: foufoufou yang artinya gila gila gila!
Sedangkan Laressa dengan Mighty and Love-nya, lebih meragukan untuk tampil di pesta pernikahan oleh sebab liriknya. Lain halnya dengan Mba Tarlen dengan The Face of Love yang dinyanyikan duet Nusrat Fateh Ali Khan dengan Eddie Vedder. Katanya, ini sangat tidak cocok karena bayangan Mba Tarlen pada lagu ini adalah sama ketika menonton film Dead Man Walking dimana ada adegan Sean Penn mendekati kursi listrik menjelang eksekusi mati. Sedangkan alasan sentimentil justru datang dari Diecky yang memutar Love Story, lagu berdurasi lima puluh tujuh detik saja. Katanya, "Jika aku menikah nanti, aku ingin agar orang mendoakanku dengan cara sejenak hening mendengarkan lagu ini." Loh, katanya jangan diputar di pernikahan? Memang iya, karena hanya pernikahan Diecky yang pantas diputarkan lagu Zappa ini.

Friday, February 17, 2012

Laporan edisi nobar: "Manuel Barruecco A gift and a life"

Edisi nobar film Manuel Barruecco (MB) A gift and a life kali ini dihadiri Beben, Kang Tikno, Aka Patra Suwanda, Royke Ng, Desy, dan komposer Diecky sebagai narasumber. Durasi 59 menit memang jadi terasa lama karena film ini lebih banyak interview daripada performance-nya yang kalau bagi saya pribadi rada membosankan :). Setelah pemutaran film kelar, pertemuan dilanjut dengan diskusi. Royke menggulirkan isu gitaris barat dan non-barat yang memainkan musik eropa. Menurutnya, MB yang dari Kuba bisa menginterpretasikan musik eropa terutama karya Bach sangat fasih. Saya menduga mungkin inilah yang dimaksud dengan universalitas dalam musik walaupun diecky mendebat hal itu: universal dalam hal apanya? tanya diecky...

Kang Tikno sebagai luthier (pembuat) gitar mengulas hal teknis dalam performance gitar klasik panggung profesional, seperti pertimbangan akustika gedung, kualitas gitar yang dipakai, senar, dan semua tools yang sangat penting untuk suatu kualitas performance yang maksimal. Desy cukup menikmati sajian musiknya walaupun bergelut sendiri dengan kesibukannya sambil memotong2 kertas entah dibuat untuk apa saya tidak tahu. Namun ia juga menceritakan pengalamannya ketika menonton suatu konser piano jazz klasik di sebuah hotel yang meski auranya sangat serius, tapi pada saat itu ia cukup menikmatinya. Beben sebagai sebagai penyanyi mengamati adegan ketika MB memberikan masterclass yang terkadang selalu menghentikan studentnya hanya untuk memberikan interpretasi dinamika, menurut beben ini kerap terjadi juga dalam teknis musik vokal, bertujuan frase yang dijalin agar terasa lebih musikal.

Aka sebagai penggiat seni rupa berbagi cerita persiapan pameran instalasinya yang baru beres minggu sebelumnya. Ia menunjukan sketsa gambar kerja rancangan instalasinya meyakinkan kami semua jika persiapan pamerannya kali ini cukup matang, dihubungkan dengan persiapan sebuah resital gitar klasik hal ini sepertinya harus lebih diperhatikan. Bagaimana dekorasi sebagai elemen visual juga penting untuk mendukung kualitas acara serta totalitas sebuah entertainment. Disini Diecky menambahkan ketika ia mengobrol dengan seniman boneka dari Eropa yang manggung di STSI, untuk lampu sorot, kursi ataupun benda-benda yang dianggap tidak penting si seniman itu membawa sendiri karena menurutnya lampu tersebut sudah menjadi bagian dari pertunjukkannya tak tergantikan. Maka saya pikir wajarlah jika band sekelas L'arc en ciel misalnya ingin membawa sound system, tim kreatif visual, dekorasi panggung sendiri, karena bagi mereka performance musik bukanlah bertumpu dengan musiknya saja, tapi seluruh elemen dibelakangnya ialah bagian yang tak tergantikan dari performance tersebut.

Akhirnya diskusi yang berjalan melebihi durasi filmnya ini harus selesai juga bersamaan dengan adzan maghrib berkumandang :)

Yunus Suhendar

KlabKlassik Edisi Playlist #10: Blacklist Wedding Song

 

Tentang Edisi Playlist

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.

Tatacara

Peserta kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Latar Belakang Edisi Kali Ini

Bulan Februari adalah bulan cinta, katanya. Penyebabnya sudah jelas, adanya perayaan hari Valentine pada tanggal 14 lalu. Berbicara cinta dan musik, playlist kali ini hendak menyikapinya dengan sedikit berbeda.

Ada yang berpendapat bahwa acara pernikahan adalah perayaan cinta (sah-sah saja jika anda hendak didebat). Musik pun jadi bagian penting, terlihat dari populernya "genre" Wedding Song. Namun apa sejatinya wedding song? Mengapa dalam sejumlah pernikahan yang penulis hadiri dalam beberapa tahun terakhir selalu lagu yang sama dimainkan terus menerus? "L - O - V - E", "The Prayer", "Cinta", dan sejumlah lagu wajib lainnya. Apakah memang ada norma yang harus dipatuhi?

Nah, dalam edisi playlist kali ini, peserta diwajibkan membawa sebuah lagu yang menurut peserta pas untuk dimainkan dalam sebuah pernikahan, namun karena berbagai alasan, tidak bisa dimainkan begitu saja.

Silakan! Mari kita rayakan dengan musik-musik yang kita bawa!


Friday, February 10, 2012

KlabKlassik Edisi Film: Manuel Barruecco “A Gift and a life”


Minggu, 12 Februari 2012
Pk. 15.00 - 18.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis!

Alangkah indahnya ketika di masa tua bisa berbagi pengalaman hidup, romantika, karir, itulah yang disajikan di film kali ini: Manuel Barruecco “A Gift and a life” sebuah dokumentasi perjalanan karir gitaris klasik dari kuba Manuel Barruecco yang harus eksodus ke amerika sejak berumur 6 tahun, kuba di masa itu ialah negara dibawah kepemimpinan rezim fidel castro, barruecco berkisah bahwa hidup di negaranya sangatlah tidak bebas dan terintimidasi sehingga keluarganya memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahirannya kuba.

Berkarir sebagai gitaris klasik profesional di amerika tidaklah mudah, barruecco harus menjajal kemampuannya dalam berbagai kompetisi gitar klasik, barruecco muda perlahan mendekati ketenaran John Williams gitaris australia yang skil dan tekniknya mendekati sempurna saat itu berdasarkan interview David Tannenbaum teman sesama gitaris.

Kini di usianya yang flamboyant barruecco menikmati karirnya sebagai gitaris konser, artist recording dan pengajar masterclass, juga collaborator music yang sukses, kolaborasinya dengan seniman diluar ranah klasik antara lain dengan gitaris jazz Al dimeola mengikuti jejak Kazuhito Yamashita yang pernah berkolaborasi dengan Larry Coryell, kemudian dengan former The Police Andy Summer, dan album non klasiknya yang sukses ialah “Manuel Barruecco Plays Lennon and McCartney” direkam di studio yang sama dengan the Beatles di Abbey Road, barruecco ialah fans The Beatles sejak kecil ia sangat menyukai lagu Penny Lane, tetapi di negaranya Kuba dilarang keras untuk mendengarkan The Beatles. Scene yang sangat menarik ialah ketika kunjungan gitaris klasik David Russell, Assad Brothers dan David Tannenbaum ke rumahnya di Baltimore, para gitaris ini ber jam session ria dan memainkan Etude No.1 villa lobos berlima dalam satu gitar.
Film besutan Michael Lawrence ini berdurasi 59 menit, dan didalamnya banyak berisikan interview, rekaman masterclass dan sesekali diselingi dengan footage konser.

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Shoegaze, Sikap atau Style?

Minggu, 29 Januari 2012


KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang hari itu diisi oleh sebuah topik tentang musik shoegaze. Diecky K. Indrapraja selaku koordinator mengundang Riyan Hidayat untuk membicarakan topik yang bagi sebagian dari anak-anak KlabKlassik tergolong asing. Yang hadir pada diskusi itu ada sekitar enam orang.
My Bloody Valentine, contoh band shoegaze yang melakukan gaya khas "melihat sepatu". Gambar diambil dari sini.
Riyan yang cukup aktif di komunitas KlabJazz ini, memulai presentasinya dengan membicarakan sejarah shoegaze itu sendiri. Riyan menyebutkan awal berkembangnya shoegaze dimulai dari sekelompok band yang tampil dalam satu kafe. Seorang pengamat yang duduk di antara penonton dengan jeli melihat kesamaan diantara kelompok band yang tampil tersebut, yaitu: Semuanya beraksi panggung dengan diam, melihat ke bawah, seolah pada sepatunya sendiri! Itulah cikal bakal kenapa disebut dengan shoegaze. Pertanyaan berikutnya: Apakah shoegaze itu sikap (melihat sepatu) atau suatu style (punya ciri musikal)?
Pertanyaan ini mengemuka setelah Riyan menemukan bahwa band shoegaze kontemporer tidak lagi bersikap "melihat sepatu", artinya suatu musik disebut shoegaze pastilah punya ciri khas musikal. Untuk mendiskusikan ini, Riyan memutar empat contoh musik shoegaze dari empat kelompok yang berbeda, salah satunya yang terkenal adalah My Bloody Valentine. Berdasarkan apa yang didengarkan, diperoleh beberapa kesimpulan tentang apakah shoegaze itu, misalnya Diecky, "Ada riff gitar yang diulang-ulang.", lalu Afifa, "Vokal yang terdengar seperti mengawang-awang," Galih menyebutkan, "Sedikit monoton."
Apapun itu, tapi setidaknya pengetahuan tentang shoegaze mulai terfondasikan pada para peserta. Sebelum datang ke tempat diskusi, Rahar dan Afifa mengeluhkan hal yang sama, "Pengetahuan tentang shoegaze nol banget nih." Loh, bukannya hanya gelas kosong yang bisa diisi?
Syarif Maulana

Monday, January 23, 2012

Resital Empat Gitar


Kamis, 26 Januari 2012
Auditorium IFI - Bandung
Jl. Purnawarman no. 32
Jam 19.30 - 21.00
Info Tiket:
Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548)
Syarif (0817-212-404)

Program acara:

Polonaise Concertante Op. 137 no. 2 (Mauro Giuliani) - Royke, Syarif
Brandenburg Concertos no.3 BWV 1048 (Johann Sebastian Bach, arr. Jeremy Sparks) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja
Danza Espanola no. 2 "Oriental" (Enrique Granados) - Bilawa, Widjaja
La Cumparsita (Matos Rodrigues, arr. Diecky K. Indrapraja) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja

Interval

Carawitta & Fugue (Fauzie Wiriadisastra) - Royke, Syarif
Danza de "La Vida Breve" (Manuel de Falla) - Bilawa, Widjaja
Carmen Suite: Introduction, Habanera, Entr'act (George Bizet) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja
Obituari (Bilawa Ade Respati) - Bilawa, Royke, Syarif, Widjaja



Profil pemain:

Bilawa Ade Respati (Balikpapan, 24 Mei 1987) mulai belajar gitar klasik pada Benjamin Limanauw di sekolah musik Dita Corona Balikpapan dari tahun 2000-2002. Sempat belajar secara otodidak dan kemudian melanjutkan belajar gitar pada Ridwan B. Tjiptahardja di Bandung tahun 2005-2010. Selain belajar gitar, juga sempat mempelajari komposisi musik pada Fauzie Wiriadisastra. Beberapa kali mengadakan resital bersama grup trio Tiga Gitar dalam Resital Tiga Gitar (Bandung, 2008), dan kuartet Tiga Gitar Plus Satu dalam Resital Tiga Gitar Plus Satu (Bandung, 2009), dan duet dengan Widjaja Martokusumo dalam Romantic Music at Kerkhoven (Bandung, 2009). Bilawa juga sering berpartisipasi dalam konser di Bandung maupun Jakarta baik sebagai solois atau duet dengan violinis Fiola Christina Rondonuwu. Masterclass yang pernah diikuti yaitu dengan Iwan Tanzil (2006) dan Miguel Trapaga (2010). Baru saja menyelesaikan studinya di Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung tahun 2011, kini aktif di komunitas Klabklassik Tobucil, Ririungan Gitar Bandung, sebagai program manager Garasi 10 dan mengajar gitar klasik.

Royke Ng (Bandung, 11 Januari 1982) pertama kali belajar gitar klasik kepada Bapak Joko. Lalu ia belajar pula kepada Bapak John Korompis, Bapak Krishnan Mohammad, Bapak Kadar, dan Bapak Ridwan B. T. Prestasi yang pernah diraih oleh lulusan Matematika ITB ini adalah: Juara I BTC Guitar Competition kategori klasik senior (2003), Juara I BTC Guitar Competition kategori pop (2003 & 2005), Juara I Pesta Musik Yamaha Tingkat Jawa Barat (2003 & 2004), Juara I Pesta Musik Yamaha Tingkat Nasional (2004). Selain itu, ia adalah semifinalis Spanish Guitar Awards (2001) dan Singapore International Guitar Competition (2006). Selain mengajar gitar, ia juga menjadi juri di beberapa kompetisi musik dan penguji. Masterclass oleh gitaris dalam dan luar negeri pun ia ikuti. Royke Ng juga tampil dalam Acara Beasiswa Nias, ITB Untuk Indonesia, dan lain-lain. Pada tahum 2009, dia bersama rekan-rekannya malam ini menggelar Konser Tiga Gitar Plus Satu. Di tahun 2011 Royke Ng dan rekan-rekan mendirikan Stretto (klab hobi bermain musik klasik) dan Musici Parvi (2012, wadah untuk pemusik klasik anak dan remaja).

Syarif Maulana (Bandung, 30 November 1985), belajar gitar klasik sejak usia tiga belas tahun pada Kwartato Prawoto. Pada usia delapan belas, Syarif melanjutkan belajar gitar klasik pada Ridwan B. Tjiptahardja. Prestasi yang pernah diraih antara lain Juara III BTC Guitar Competition Kategori Pop (2005), Semifinalis Festival Gitar Nasional Yogyakarta (2006), Juara III Yamaha Student Contest Tingkat Sekolah Musik (2007), dan Juara III Bandung Spanish Guitar Festival Kategori Senior (2007). Syarif juga sempat mengikuti masterclass oleh Iwan Tanzil dan Alessio Nebiolo. Aktif di komunitas KlabKlassik sejak 2005 dan mengajar gitar klasik di beberapa tempat. Syarif pernah mengadakan empat kali resital, yaitu Resital Gitar Klasik Syarif Maulana (2006), Konser Gitar Klasik Syarif Maulana & Johan Yudha Brata (2007), Resital Tiga Gitar (2008) dan Resital Tiga Gitar plus Satu (2009). Syarif juga lulus dari grade 8 ABRSM untuk praktek dan grade 5 ABRSM untuk teori.

Widjaja Martokusumo (Jakarta, September 1966) belajar gitar klasik pertama kali tahun 1978, kemudian 1979-1982 berguru pada David H. di Yayasan Pembinaan Musik Indonesia, Jakarta. 1982-1984 melanjutkan pendidikan musik di Sekolah Musik Yayasan Pendidikan Musik (YPM) yang dikelola oleh pianis Rudi Laban. Di sini, dia belajar gitar pada Adis Sugata dan teori/sejarah musik pada Alex Paat, dan ikut pagelaran Konser 30 Tahun berdirinya YPM dan Sekolah YPM (Jakarta, 1983) dan Konser Musik Remaja YPM I (RRI Bandung, 1984). 1984-1986 ia belajar privat gitar klasik dengan Reiner Chaidir Wildt dan mengikuti beberapa masterclass gitaris Suzuki dan Julian Byzantine. Bergabung dengan Klabklassik sejak Classical Guitar Fiesta (CGF) Agustus 2006 dan menjadi anggota juri dalam CGF 2008. Sejumlah resital yang dilakukan meliputi Resital Tiga Gitar (Gramedia, Bandung, 2008), Quintet Gitar (acara International Year of Astronomy 2009) dan Resital Tiga Gitar plus Satu (CCF Bandung, 2009). Ia juga bermain duet bersama Bilawa Ade Respati (Wisma Kerkhoven, Lembang, 2009) dan acara pembukaan Pameran Dua Arsitektur Jerman 1949-1989 (Campus Centre ITB, September 2011). Widjaja Martokusumo adalah dosen pada Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB, dan saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Akademik SAPPK.