Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, December 14, 2008

Gathering Walagri Classical Club

(Aula RS Santo Borromeus, 11 Desember 2008)


Ketika konser musik klasik di Bandung berkembang pesat bak jamur di musim hujan, tiba-tiba saja Walagri mengambil “jalur sepi”. Walagri, stasiun radio yang bertemakan kesehatan tersebut, menyelenggarakan semacam kumpul-kumpul (gathering) yang diisi berbagai acara yang cukup berbobot seperti talk show dan apresiasi musik klasik. Jenis acara seperti ini terang saja tak sepopuler konser. Selain karena konser cenderung lebih simpel dan mudah dicerna, juga kebebasan yang tersisa jauh lebih banyak. Dalam sebuah konser, banyak penonton yang merasa selesai menunaikan tanggung jawabnya setelah membayar tiket masuk. Di dalam ruangan, ia seolah punya hak istimewa untuk menonton, mengkritisi, tidak mendengarkan, ngobrol, atau pacaran sekalipun. Acara gathering seperti kemarin tentu saja lain. Setelah disajikan sesuatu, penonton tak lagi diam dengan fungsinya yang sebatas “menonton”, ia fleksibel berubah bentuk, ikut berperan pada kelangsungan acara, dan bahkan menjadi sentral.
Gathering Walagri Classical Club (WCC) bukan yang pertama kali diselenggarakan. Kalau tidak salah, ini adalah yang ketiga kalinya dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Format acaranya mirip dengan seminar, ada pembicara dan ada yang dinamakan peserta. Bedanya, dalam WCC, performansi adalah bagian acara yang cukup khas. Fun-tastic String Ensemble (FSE) didaulat tampil di pembuka dan pertengahan acara dengan lagu-lagu klasik yang relatif familiar seperti William Tell Overture dan Variations on “Ah Vous Dirou Je Maman”. Berhubung orkes mini tersebut diisi oleh anak-anak dari usia SD hingga SMP, maka berbagai kesalahan not dan fals masih bisa dimaafkan. Bahkan hampir semua peserta WCC merasa geli sekaligus kagum dengan penampilan FSE ini. Ketika anak-anak seusianya barangkali sedang mengerjakan PR atau berusaha tidur, FSE keluar dari zona nyaman, dan mau diapresiasi terang-terangan.
Di sela-sela penampilan tersebut, Pak Tono Rachmad selaku narasumber tunggal, hadir memberikan apresiasi dan tanggapannya. Pak Tono yang sehari-harinya merupakan dosen UPI Jurusan Seni Musik itu, memang salah satu teoretisi musik klasik yang konsisten di Kota Bandung, yang -sekali lagi- mengambil ”jalur sepi” di luar orang kebanyakan yang berkutat di wilayah paktis. Pembahasan Pak Tono di WCC kemarin, cukup menyegarkan dan sesuai dengan tema kumpul-kumpulnya: ”Be Healthy with Musical World”. Walhasil, karena temanya cukup umum dan pembawaan Pak Tono sangat baik, peserta WCC seolah tak mau berhenti berinteraksi. Tanya-jawab berlangsung aktif dan sulit dihentikan moderator Grace Pieters. Acara yang berlangsung singkat dari pukul 18.00-20.00 itu pun menjadi padat, hidup, berisi, dan –sesuai harapan panitia- menyehatkan.

Sedikit Catatan Subjektif
Jika melihat ide dan konsep acaranya, terang saja WCC adalah terobosan penting dalam agenda permusikan di Kota Bandung. Acara semacam ini seolah menyadarkan bahwa pemahaman atas musik tak hanya terbatas pada teknik, musikalitas, dan interpretasi saja. Ada hal-hal yang lain daripada itu, yang lebih analitik dan terejawantahkan, yang membuat musik tak hanya berkomunikasi lewat telinga, tapi juga sisi-sisi indrawi yang lain. Pada tahap pemahaman yang kompleks tersebut, penilaian aspek musikal yang terbatas pada ”benar” dan ”salah” dapat dihindari lebih jauh. Maklum, persoalan ”kebenaran” pada musik secara keseluruhan memang telah mendarah daging dan kerap memicu konflik. Maka itu ruang-ruang gathering, komunitas, dan diskusi, adalah medium untuk menyadarkan pentingnya ”kebenaran subjektif”, yang mana diproduksi lewat toleransi, kebersamaan, dan penekanan egosentrisme.
Di luar niat baik WCC yang patut diacungi jempol, ada beberapa catatan subjektif dari segi penyelenggaraan. Misalnya, rentang WCC ini rencananya adalah tiga bulan sekali. Konsistensi yang patut dihargai tentunya. Meski demikian, tiga bulan adalah waktu yang cukup bagi seseorang untuk kehilangan mood. Jika WCC kemarin dianggap sukses, maka penantian yang terlalu lama kelak hanya menempatkan WCC sebagai momentum semata. Pembawaan WCC ini juga agak kurang jelas. Ada upaya dari panitia untuk menempatkan acara ini dengan format santai, namun dengan mempertahankan eksklusitivitas musik klasik, yang justru berujung pada keseriusan tersendiri. Yang membuat acara ini sedikit tergiring pada kesantaian malah disebabkan oleh penampilan jenaka dari FSE.
Terakhir, untuk WCC berikutnya, barangkali penting untuk diadakannya sosialisasi yang lebih baik. Cukup disayangkan untuk ide acara terobosan macam ini, yang hadir hanyalah orang-orang pilihan, tamu undangan, serta pihak-pihak yang dianggap sudah fasih mengapresiasi musik klasik. Stereotip ketertutupan musik klasik macam ini barangkali lambat laun mesti ditinggalkan, terutama jika melihat dinamika sosial posmodern belakangan ini yang akrab dengan perubahan tak menentu. Musik klasik mesti rajin melakukan auto-kritik, berinteraksi secara terbuka, dan mengajak berbagai elemen masyarakat, untuk saling berkembang. Sifat semacam itu niscaya tak akan menurunkan derajat dan harkat musik klasik, melainkan justru menempatkannya dalam wilayah sosial yang lebih tinggi, dengan ukuran-ukuran kerendahan hati dan kebersahajaan. WCC, diluar segala catatannya, menyimpan potensi besar mewujudkan hal tersebut.


Syarif Maulana

No comments: