Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, December 28, 2008

Kacamata Klasik si Biang Polemik









Pernahkan terpikir apa yang membuat musik klasik terkesan begitu menutup diri? Barangkali gambar di atas salah satunya. Jari jemari itu bukan tanpa alasan. Hanya musik jazz yang mampu membuatnya demikian. Gitaris klasik manapun tentu setuju bahwa yang diajarkan gurunya tidaklah seperti itu. Teknik barre (untuk menekan beberapa senar dalam satu kolom sekaligus) seyogianya dilakukan oleh cara-cara yang efektif dan sebisa mungkin tidak menyakiti jemari. Tengok jari manis dari setiap gambar tersebut, terkesan dipaksakan membengkok, padahal ada solusi yang lebih sederhana, yang tersedia bagi mereka yang sempat menggeluti dunia musik klasik.

Urusannya memang cuma jari, tapi seringkali soal inilah yang membuat hubungan jazz dan klasik seperti politik Indonesia dan Malaysia, panas dingin. Kacamata orang jazz terhadap musik klasik biasanya seperti ini: kuno, konservatif, kaku, tak kreatif. Sebaliknya, orang klasik memandang jazz dengan stereotip: liar, gamang, tak beraturan, kurang menghormati leluhur. Anggapan-anggapan yang penuh kontradiksi ini membuat seberang-menyeberang aliran antara musik klasik dan jazz bak pindah agama: efeknya dikucilkan dari habitat asal. Ketika seorang murid klasik menyatakan dirinya ingin belajar jazz, seringkali sang guru terkejut dan khawatir. Yang dikhawatirkan biasanya si murid ogah kembali, karena jari jemari sudah didekonstruksi, serta pikiran sudah terlampau liar, balik ke klasik berarti membiarkan dirinya dipenjara lagi. Namun sekedar celetukan, tidakkah justru, kepanikan ini biasanya datang cuma dari kelompok klasik? Karena seorang guru jazz justru menyarankan anak didiknya belajar musik klasik terlebih dahulu.

Orang jazz biasanya membatasi kontradiksinya terhadap musik klasik hanya sebatas kacamata stereotip pola pikir orang-orangnya. Di luar itu, ia masih punya pengakuan terhadap efektifitas teknik musik klasik. Tidakkah jari jemari di atas, jika memang itu dekonstruksi, berarti harus ada konstruksinya, toh? Konstruksi itu ada di musik klasik, yang sebagian besar orang jazz meyakininya baik-baik. Dalam workshop Ananda Sukarlan, saya pernah mendengar pertanyaan dari seorang anak: katanya pindah ke musik jazz itu akan merusak jari, bagaimana pendapat Pak Ananda? Lalu sang virtuoso menjawab: rusak itu kalau jarimu dipalu.

Jawaban sederhana, tapi sungguh bermakna. Artinya, jazz mestinya tak usah dicap sebagai biang destruksi. Orang klasik mestinya mensyukuri kehadiran jazz sebagai oase di tengah dahaga konservativitas dirinya. Belajar jazz, bagi saya, justru menggiring pada kekritisan baru yang sehat dan membangun. Saya jadi tahu nama-nama dari setiap harmoni, macam-macam beat, improvisasi, progresi, hingga cara bermain bersama. Adakah klasik punya semua itu? Ada. Hanya saja kerangka ajarannya kaku dan terkadang jumawa. Tidakkah semua komposer klasik yang menciptakan mahakarya hebat itu, semuanya berawal dari semacam eksperimen yang merupakan turunan dari improvisasi? Mungkinkah kebakuan musik klasik itu justru datang dari penerusnya, yang membuat karya-karya musik klasik menjadi semacam ”improvisasi yang baku? Ketika menyadari hal ini, musik klasik tak perlu lagi menjaga gengsi berlebihan. Jikalau keduanya punya unsur yang sama, tidakkah jazz, klasik, adalah cuma masalah nama?

Dalam sebuah kuliah filsafat, Bambang Sugiharto pernah menukas begini: masalah manusia jangan-jangan diawali dari pembagian nama-nama; aku-kamu, Tuhan-manusia, lelaki-perempuan, meja-kursi, atas-bawah, dsb. Pernahkah terpikir, bahwa realitas sejati, adalah hidup itu sendiri?

Syarif Maulana

1 comment:

NdReaZ said...

yah, memang demikian sih realitas yang terjadi di lapangan, para musisi klasik cenderung memiliki arogansi yang kurang seharusnya. mungkin kalau ada banyak dialog musisi antar jenis musik akan bisa dihasilkan suatu produk kolaboratif baru.

terima kasih untuk tulisan ini, mas!