Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, December 29, 2008

Afifa Ayu, Violinis Muda yang Tengah Beranjak Dewasa

Sebagai ruang apresiasi yang bersifat terbuka, memang kerap menjadi kendala untuk mengidentifikasi siapa sesungguhnya ”anggota” KlabKlassik (KK). Meski demikian, KK tak pernah lupa pada orang-orang yang –sesedikit apapun- pernah bersentuhan dengan kegiatan KK. Mereka-mereka itu yang barangkali bisa disebut ”anggota” KK.













Afifa Ayu adalah salah seorang yang cukup sering berinteraksi dengan KK. Awal perkenalan violinis muda ini dengan KK ada pada sekitar pertengahan tahun 2006. Kala itu KK mengadakan pertemuan ketika masih di Kyai Gede Utama no. 8. Sebagai pemanis suasana, KK mengundang violinis Ammy C. Kurniawan dan murid-muridnya, yang mana salah satunya adalah Afifa ini. Duet Ammy dan Afifa mengundang decak kagum. Lewat karya Korobushka, Afifa, yang kala itu barangkali masih kelas 1 SMA, mampu mengimbangi kecepatan permainan gitar Ammy (yang memang pandai juga bermain gitar). Sejak saat itu, Afifa nyaris tidak pernah luput mengikuti kegiatan klab. Kalaupun sesekali absen, ijin dan permintaan maaf yang tulus darinya selalu membuat awak KK terharu. Maklum, Afifa muda tak selamanya muda. Ia kini beranjak dewasa, kesibukan meningkat, tuntutan membanyak. Berikut petikan wawancara KK dengan Afifa yang lahir di Bandung, 27 Juni 1991 dan sekarang sudah duduk di kelas 3, SMAN 3 Bandung.


KK: Halo Afifa, sekarang lagi sibuk apa?

Afifa Ayu (AA): Sekolah mempersiapkan diri untuk UN dan ujian masuk universitas. Selain itu saya juga les biola, mengikuti Twilite Youth Orchestra, Bandung String Ensemble, Angsa dan Serigala Band, serta tentu saja, aktif di Klabklassik.

KK: Eh, Afifa, langsung aja yah, sebenarnya awal ketertarikan pada violin itu bagaimana mulanya?
AA: Awalnya tidak ada alasan khusus yang melatarbelakangi ketertarikan pada violin, awalnya hanya ingin mencoba. Namun setelah itu menjadi sangat mencintai violin, karena bagi saya violin itu alat musik yang unik dan menyenangkan untuk dimainkan. Bunyi yang dihasilkan begitu manis, bentuknya yang begitu artistik dan tingkat kesulitan yang cukup menantang mungkin menjadi awal ketertarikan kepada violin.

KK: Lantas, siapa guru yang berkesan untuk kamu?
AA: Setiap guru yang pernah mengajar saya telah memberikan kesan-kesan yang berbeda. Guru musik yang memberikan kesan paling dalam bagi saya ialah Ammy Ch. Kurniawan, guru biola saya. Disanalah saya pertama kali mengenal biola dan mulai belajar untuk memainkan musik dari hati serta untuk selalu menghargai permainan kita dengan segala style dan keunikan kita sendiri-sendiri. Bagi saya, Kak Ammy bukanlah sekedar guru biola namun sudah menjadi seorang kakak tempat saya bernaung dalam hal musik ataupun hal yang lainnya.

KK: Apa makna violin untuk Afifa?
AA: Bagi saya violin ialah cara untuk mengekspresikan diri saya. Semua orang pasti mempunyai media yang berbeda-beda untuk mengekspresikan dirinya, dan saya merasa violin ialah hal yang paling tepat untuk mengekspresikan diri saya, berbagai macam perasaan yang saya rasakan dapat dituangkan dalam nada-nada lagu yang saya mainkan melalui violin. Violin juga merupakan media bagi saya untuk membuka lingkup pergaulan yang baru, bertemu dan berkenalan dengan orang-orang yang baru. Melalui violin saya juga menjadi sering berusaha untuk menjadi lebih baik, melihat permainan orang-orang yang begitu pandai bermain violin memang bagi saya sangatlah menggugah, ingin rasanya bisa seperti itu. Singkatnya violin sangat bermakna bagi hidup saya, sebagai pelepas lelah, pemanis hari, dan juga suatu tantangan dalam hidup.

KK: Waw, cukup dalam yah (sambil mengelus dada). Oke, kita sedikit membahas dalam negeri. Menurut kamu, perkembangan musik klasik di Bandung saat ini sudah seperti apa?
AA: Musik klasik di Bandung saat ini menurut saya perkembangannya cukup baik, ditandai dengan banyaknya digelarnya resital-resital musik klasik baik dari musisi Bandung sendiri, luar kota maupun dari luar negeri, yang mendapatkan apresiasi yang baik dari warga Bandung. Bentuk resital maupun konser yang ada pun sudah bermacam-macam, dari orkestra, chamber music, trio gitar, solo, dan masih banyak lagi. Perkembangan musik klasik di Bandung ini harus dipertahankan dan kalau bisa ditingkatkan lagi.

KK: Baiklah, maaf nih, pertanyaannya mencla-mencle. Bagi Afifa, apa pentingnya orang mengenal musik klasik?
AA: Menurut saya semua orang perlu mengenal musik klasik. Pertama musik klasik sangatlah baik untuk didengarkan bila dilihat hubungannya dengan kesehatan, singkatnya musik klasik dapat digunakan untuk mereleksasi tubuh kita. Kedua, mengenal pengetahuan musik klasik dan apresiasi terhadap musik klasik dapat memperluas wawasan kita. Ketiga, bila anak-anak dari kecil telah dikenalkan dan belajar musik klasik pastilah kreativitas mereka pun menjadi bertambah. Keempat, musik klasik pun bisa digunakanan sebagai wadah bagi kita untuk berekspresi dan menyalurkan perasaan yang kita rasakan.

KK: Dalam perjalanan musik Afifa, mana yang paling berkesan?
AA: Satu hal yang paling berkesan dalam perjalanan musik saya ialah bermain dalam Persembahan Ammy untuk Bandung di Aula Barat ITB 2006. Konser itu ialah konser besar pertama yang pertama saya ikuti, saat itu ialah perubahan terbesar dalam perjalanan musik saya dimana saya mulai mengenal dunia luar dan mengenali panggung. Mungkin bisa dikatakan itu perubahan dari pembelajaran musik saya dimana awalnya saya belum mempunyai keinginan dari diri sendiri untuk bermain musik sehingga menjadi seperti sekarang, ketika saya sudah merasa termotivasi untuk bermain musik dengan dorongan dari dalam diri sendiri, dengan hati, dan berusaha untuk menjadi musisi yang baik.

KK: Terakhir, apa makna KlabKlassik untuk Afifa?
AA: Klabklassik itu merupakan sesuatu hal yang berarti dalam perjalanan musik saya. Dimana saya banyak belajar berbagai hal mengenai musik klasik, bertemu dengan berbagai orang yang sama-sama mencintai musik klasik, memperluas wawasan musik klasik dan menambah pengalaman bermain musik bersama.

Dalam rangka tiga tahun KlabKlassik, Afifa dengan baik hati menuliskan memoar untuk KK. Hangat, bermakna, dan banyak memberikan refleksi. Klik di sini untuk membaca persembahan sang violinis muda.


The Miracle of Finger

Konser Amal Jubing Kristianto
(Istana Muara, 5 Desember 2008)














Luar biasa, mungkin apresiasi itu cukup pantas untuk diberikan kepada seorang Jubing Kristianto ketika ia memainkan gitar akustik dalam konser tunggalnya yang bertajuk 1001 face of guitar di Gedung Istana Muara, Bandung pada hari Jumat, 5 Desember 2008. Permainan gitar akustik yang dinamis dan penuh dengan teknik-teknik gitar klasik yang memukau ditampilkan Jubing dengan sangat apik dan ekspresif. Penonton yang hadir pada saat itu juga dibuat berdecak kagum dengan permainan gitar akustik Jubing yang pada saat itu membawakan lagu-lagu dari dua album solo gitarnya, Becak Fantasy (2007) dan Hujan Fantasy (2008). Selain dari dua album solonya tersebut, malam itu juga ia membawakan komposisi-komposisi lain baik dari musisi dalam negeri mau pun luar negeri dengan dipandu secara interaktif dan menghibur oleh Ananda Buddhisuharto. Lagu-lagu dalam negeri seperti lagu anak-anak Hujan Fantasy ciptaan ibu Soed yang sangat sederhana, dibuat komposisinya sendiri oleh Jubing menjadi begitu variatif dan ceria, dengan beberapa tehnik-tehnik gitar klasik yang begitu terlatih. Sementara itu, lagu Becak Fantasy sendiri yang merupakan jagoan dari album solo Jubing yang pertama, ia mainkan duet bersama bintang cilik Cha-Cha yang merupakan juara Bintang Cilik RCTI 2004. Juga lagu-lagu tradisional daerah seperti beungong jeumpa dari Nangroe Aceh Darussalam dan Ayam den Lapeh lagu pop dari Minang, dimainkan Jubing dengan sangat unik dan terasa sekali sentuhan-sentuhan melodi bernuansa kedaerahan yang begitu harmoni.

Konser amal Jubing, yang juga merupakan acara amal untuk lembaga sosial SOS Kinderdorf-Desa Taruna Indonesia ini, turut juga dimeriahkan oleh hadirnya bintang tamu yang dihadirkan secara khusus dari solo yaitu Suryadi Plente Percussion, cucu dari Gesang, yang malam itu tampil berduet bersama Jubing membawakan lagu Gundul-Gundul Pacul , cukup membuat penonton terkesiap dan mendapat sambutan yang cukup meriah, terbukti dengan beberapa kali penonton bersorak dan bertepuk tangan di sela-sela lagu tersebut sebagai apresiasi terhadap permainan mereka. Selain lagu-lagu diatas, Jubing juga membawakan lagu-lagu hasil ciptaannya sendiri diantaranya yaitu Song for Reny sebuah karya Jubing yang diperuntukkan bagi istrinya sendiri Renny Yaniar, seorang penulis cerita anak-anak, yang pada malam itu hadir dan menyempatkan diri untuk naik keatas panggung, juga Once Upon a Rainy Day yang dibawakan jubing dengan melodi-melodi yang mengalun romantis dengan tempo yang lambat.

Untuk lagu-lagu dari musisi luar negeri, lagu Bohemian Rhapsody dan Mission Impossible tentunya merupakan lagu-lagu yang cukup kompleks dan sedikit rumit untuk memainkannya, Jubing sendiri mengakui bahwa dia perlu sedikit konsentrasi untuk memainkannya terutama pada lagu Bohemian Rhapsody yang merupakan karya dari Queen, dan memang luar biasa hasilnya, Jubing memainkan lagu-lagu tersebut dengan sangat rapi, megah dan begitu jelas petikan demi petikan dengan tempo yang dinamis menyuguhkan sebuah komposisi musik yang sangat indah, sampai-sampai penonton yang hadir saat itu berdecak kagum dan memberikan tepuk tangan sambil berdiri setelah ia selesai membawakan lagu-lagu tersebut.

Yah, tidak mudah memang untuk menjadikan sosok Jubing Kristianto hingga sampai seperti saat ini, segala sesuatunya butuh proses dan tidak instan dibutuhkan ketekunan, kesabaran, rajin berlatih dan tentunya juga didampingi oleh seorang pembimbing pada saat belajar bermain gitar klasik untuk mencapai hasil yang optimal, walau pun bisa seseorang memainkan gitar klasik secara otodidak, akan tetapi dengan adanya seorang pembimbing maka diharapkan pencapaian seseorang untuk bisa memainkan gitar klasik hasilnya akan lebih cepat, begitu menurut Jubing ketika menjawab sebuah pertanyaan dari peserta Coaching Clinic Guitar yang diadakan di Student Lounge SBM-ITB Bandung, sehari sebelum Jubing mengadakan konser amalnya.

Sulit dipercaya memang bahwa dalam satu gitar yang terdiri dari enam senar mampu menghasilkan suara yang sangat beragam dengan petikan-petikan yang bersahutan antara bas, melodi dan akord yang menjadikan sebuah gitar sebagai layaknya sebuah mini orkestra. Tapi Jubing Kristianto adalah salah satu dari musisi gitar klasik tanah air yang sudah membuktikan bahwa hanya dengan satu gitar akustik saja sudah cukup untuk menampilkan sebuah orkestra gitar tunggal. Keberanian Jubing Kristianto untuk mengeksplorasi kemampuannya dengan beberapa konser baik di dalam maupun diluar negeri juga karya-karya lain yang dibuat olehnya baik dari buku maupun CD, mudah-mudahan dan berharap optimis dapat menjadi awal yang baik bagi musisi-musisi gitar klasik lainnya mengikuti jejak langkah sang maestro gitar tersebut untuk mensosialisasikan kepada masyarakat luas tentang potensi keindahan seni bermain gitar akustik tunggal.

dr. Hengki Stepanus Ranjabar


Sunday, December 28, 2008

Kacamata Klasik si Biang Polemik









Pernahkan terpikir apa yang membuat musik klasik terkesan begitu menutup diri? Barangkali gambar di atas salah satunya. Jari jemari itu bukan tanpa alasan. Hanya musik jazz yang mampu membuatnya demikian. Gitaris klasik manapun tentu setuju bahwa yang diajarkan gurunya tidaklah seperti itu. Teknik barre (untuk menekan beberapa senar dalam satu kolom sekaligus) seyogianya dilakukan oleh cara-cara yang efektif dan sebisa mungkin tidak menyakiti jemari. Tengok jari manis dari setiap gambar tersebut, terkesan dipaksakan membengkok, padahal ada solusi yang lebih sederhana, yang tersedia bagi mereka yang sempat menggeluti dunia musik klasik.

Urusannya memang cuma jari, tapi seringkali soal inilah yang membuat hubungan jazz dan klasik seperti politik Indonesia dan Malaysia, panas dingin. Kacamata orang jazz terhadap musik klasik biasanya seperti ini: kuno, konservatif, kaku, tak kreatif. Sebaliknya, orang klasik memandang jazz dengan stereotip: liar, gamang, tak beraturan, kurang menghormati leluhur. Anggapan-anggapan yang penuh kontradiksi ini membuat seberang-menyeberang aliran antara musik klasik dan jazz bak pindah agama: efeknya dikucilkan dari habitat asal. Ketika seorang murid klasik menyatakan dirinya ingin belajar jazz, seringkali sang guru terkejut dan khawatir. Yang dikhawatirkan biasanya si murid ogah kembali, karena jari jemari sudah didekonstruksi, serta pikiran sudah terlampau liar, balik ke klasik berarti membiarkan dirinya dipenjara lagi. Namun sekedar celetukan, tidakkah justru, kepanikan ini biasanya datang cuma dari kelompok klasik? Karena seorang guru jazz justru menyarankan anak didiknya belajar musik klasik terlebih dahulu.

Orang jazz biasanya membatasi kontradiksinya terhadap musik klasik hanya sebatas kacamata stereotip pola pikir orang-orangnya. Di luar itu, ia masih punya pengakuan terhadap efektifitas teknik musik klasik. Tidakkah jari jemari di atas, jika memang itu dekonstruksi, berarti harus ada konstruksinya, toh? Konstruksi itu ada di musik klasik, yang sebagian besar orang jazz meyakininya baik-baik. Dalam workshop Ananda Sukarlan, saya pernah mendengar pertanyaan dari seorang anak: katanya pindah ke musik jazz itu akan merusak jari, bagaimana pendapat Pak Ananda? Lalu sang virtuoso menjawab: rusak itu kalau jarimu dipalu.

Jawaban sederhana, tapi sungguh bermakna. Artinya, jazz mestinya tak usah dicap sebagai biang destruksi. Orang klasik mestinya mensyukuri kehadiran jazz sebagai oase di tengah dahaga konservativitas dirinya. Belajar jazz, bagi saya, justru menggiring pada kekritisan baru yang sehat dan membangun. Saya jadi tahu nama-nama dari setiap harmoni, macam-macam beat, improvisasi, progresi, hingga cara bermain bersama. Adakah klasik punya semua itu? Ada. Hanya saja kerangka ajarannya kaku dan terkadang jumawa. Tidakkah semua komposer klasik yang menciptakan mahakarya hebat itu, semuanya berawal dari semacam eksperimen yang merupakan turunan dari improvisasi? Mungkinkah kebakuan musik klasik itu justru datang dari penerusnya, yang membuat karya-karya musik klasik menjadi semacam ”improvisasi yang baku? Ketika menyadari hal ini, musik klasik tak perlu lagi menjaga gengsi berlebihan. Jikalau keduanya punya unsur yang sama, tidakkah jazz, klasik, adalah cuma masalah nama?

Dalam sebuah kuliah filsafat, Bambang Sugiharto pernah menukas begini: masalah manusia jangan-jangan diawali dari pembagian nama-nama; aku-kamu, Tuhan-manusia, lelaki-perempuan, meja-kursi, atas-bawah, dsb. Pernahkah terpikir, bahwa realitas sejati, adalah hidup itu sendiri?

Syarif Maulana

Tuesday, December 23, 2008

Musik Barok : Sebuah Introduksi

Jika ada satu era dalam peradaban barat dimana detail, ornamen, serta virtuositas adalah gagasan utamanya; maka era tersebut tidak diragukan lagi adalah era Barok. Dengan rentang waktu sekitar satu setengah abad, dari tahun 1600 – 1760, daya cipta manusia seolah dipacu hingga batas tertingginya dalam menghasilkan karya – karya yang brilian.
Barok, secara etimologis, berarti “berlian dengan bentuk yang tidak biasa”. Istilah yang dilabelkan pada era ini diperkenalkan pada tahun 1919 oleh Curt Sachs, seorang musikologis berkebangsaan Jerman. Penggunaan istilah ini mengacu kepada keadaan sosiokultural pada masa itu. Setelah era pencerahan Renaisans, eksplorasi kebudayaan seolah terus mencari bentuk kesempurnaannya, hingga melahirkan karakteristik yang bizarre dalam segala bidang kebudayaannya.
Detail yang luar biasa, ornamen – ornamen penghias, emosi yang menggelora, serta tuntutan kemampuan yang tinggi dalam menghasilkan karya menjadi ciri utama era ini. Hal ini dapat kita lihat langsung dari lukisan – lukisan, karya arsitektur, pakaian – pakaian, seni patung, hingga – tidak terkecuali - musik. Kecintaan akan kekayaan nada, keindahan, serta emosi; bercampur dengan logika serta hitungan matematis menghasilkan sebuah musik dengan kompleksitas tinggi dan tuntutan kapabilitas seorang virtuoso.

Batu Rosetta Musik Barat
Ada dua hal yang menyebabkan masa ini menjadi sangat penting dalam sejarah musik barat: pertama, pada masa ini lahir para komposer – komposer jenius yang menghasilkan sebagian karya – karya musik yang luar biasa; kedua, inilah masa dimana teknik serta teori musik lahir dan menjadi dasar musik barat seterusnya. Teori tentang musik sebenarnya sudah lahir sejak zaman Renaisans. Namun, di era Barok inilah terjadi proses pembakuan tentang teori yang ada.
Elemen penting pembentuk musik Barok adalah Polyphony dan Counterpoint. Kedua unsur tersebut sudah dikenal sejak zaman Renaisans dalam bentuk yang sangat sederhana. Polyphony adalah sebuah tekstur dimana terdapat dua suara atau lebih yang bersifat independen. Ini dapat dibayangkan seperti mendengar sebuah paduan suara. Terdapat beberapa jalur suara yang berbeda, yang masing – masing dapat dinyanyikan masing – masing. Namun, tetap membentuk sebuah paduan yang harmonis pada saat digabungkan.
Bentuk evolusi dari Polyphony ini adalah Counterpoint. Counterpoint berasal dari kata latin: contra (lawan) dan punctus (nada). Sebuah punctus contra punctus: “nada melawan nada”. Jadi, Counterpoint adalah hubungan antara dua suara atau lebih yang independen dalam hal kontur dan ritmik, namun saling bergantung dalam aturan harmoni. Kembali bayangkan tentang sebuah paduan suara. Tetapi kali ini, masing – masing line suara memiliki ritmiknya masing – masing. Sehingga apabila dinyanyian satu per satu seolah – olah merupakan terdiri dari beberapa lagu yang berbeda. Dan sekali lagi, saat digabungkan, tetap membentuk keutuhan yang harmonis.
Akibat utama dari kehadiran counterpoint adalah kekayaan melodi serta kompleksivitas struktur musiknya. Agar benar – benar dapat merepresentasikan sebuah karya barok dengan baik, setiap pemain instrumen maupun seorang penyanyi sangat dituntut virtuositasnya. Tuntutan ini mendorong lahirnya teknik – teknik baru, para virtuoso, serta kelahiran kaum prodigy di bidang musik. Musik vokal kalah popularitasnya dibandingkan dengan musik instrumental. Hal ini disebabkan batas suara manusia yang tidak lebih kaya dalam menghasilkan melodi dibandingkan instrumen musik menurut ukuran zaman itu.
Pada masa ini juga, berkembang sebuah doktrin yang dikenal dengan Doctrine of the Affection. Doktrin inilah yang digunakan dalam estetika musikal saat itu. Isinya menyatakan bahwa hanya boleh terdapat sebuah kesatuan dan kerasionalitasan afeksi dalam sebuah karya atau sebuah movement musik. Apabila lebih, maka yang akan timbul adalah kebingungan dan kekacauan. Definisi afeksi disini, mengacu pada Lorenzo Giacomini dalam Orationi e Discorsi (1597), adalah sebuah pergerakan atau operasi spiritual yang diakibatkan oleh ketertarikan atau penolakan terhadap sebuah objek yang telah diidentifikasi, sebagai akibat ketidakseimbangan nafsu hewani dan gas alami yang mengalir secara terus menerus di badan manusia. Kata – kata nafsu hewani dan gas alami, tentu saja, adalah satu bentuk hipotesis terhadap sumber perasaan manusia yang sudah tidak relevan lagi.
Berhubungan dengan penggunaan doktrin ini, maka musik barok umumnya hanya memiliki satu jenis afeksi (emosi) dalam satu buah movement atau sebuah lagu (apabila hanya terdapat satu movement saja). Hal ini mendorong timbulnya gaya bermain yang lebih ekspresif dibandingkan era Renaisans. Sehingga, dikenal apa yang disebut notes inégales : memainkan not tidak sesuai dengan nilai yang seharusnya. Hal ini untuk menciptakan sebuah delay, berimplikasi dengan timbulnya tension dan aksen yang ekspresif. Salah satunya adalah cara bermain saat akan mengakhiri suatu lagu atau frase, yang cenderung ditahan sebelum nada terakhir.
Ornamen – ornamen, tumbuh dan menghias setiap sudut kehidupan masyarakat. Begitu pula dalam musik, mulai timbul ornamen – ornamen tambahan yang membuat kesan ‘centil’. Yang dimaksud dengan ornamen musik yaitu penggunaan nada yang tidak terlalu berpengaruh terhadap keseluruhan melodi atau harmoni, umumnya dimainkan cepat, dengan tujuan untuk menghias bagian atau keseluruhan lagu. Ornamen – ornamen musikal ini memiliki beberapa bentuk. Yang umum kita kenal hingga kini yaitu trill dan mordent.
Genre – genre musik yang ada, menjadi cetak biru perkembangan masa – masa selanjutnya. Di masa inilah opera, sebuah drama musical, diperkenalkan. Oratorio, opera religius, diperkenalkan sebagai tandingan opera sekuler. Bentuk – bentuk lain yang umum digunakan pada masa ini yaitu cantata, toccata, fugue, sonata, dance suite, concerto, dan French ouverture. Penjelasannya adalah sebagai berikut :
Cantata, merupakan komposisi antara vocal dan instrumen. Umumnya bentuk ini bertema religi. Sebagai lawannya, Sonata, adalah music instrumental. Bentuk sonata ini, mengalahkan popularitas musik vokal.
Fugue bisa diartikan sebagai sebuah teknik komposisi maupun sebuah komposisi kontrapungtal untuk sejumlah suara yang telah ditetapkan. Suara disini dapat berupa suara instrument atau vokal
Tocatta, adalah komposisi untuk music keyboard. Biasanya sangat menonjolkan teknik bermain para performernya.
Dance Suite, suatu bentuk kesatuan musical yang umumnya dipentaskan dengan sekali duduk, pada perkembangannya lebih dikenal dengan suite saja. Dance suite merupakan satu set tarian yang populer di abad 17. Biasanya terdiri dari Prelude, Allemande, Courante, Sarabande, dan Gigue; masing – masing mewakili jenis tarian dengan birama tertentu.
Concerto mengacu pada sebuah pertunjukan instrument solo dengan iringan sebuah orkestra. Berkembang dengan beberapa gaya dibawahnya, seperti concerto grosso, sebuah concerto kecil yang terdiri atas para solois.

Alur Sejarah Kultur Raksasa
Periodisasi musik Barok terbagi dalam tiga bagian: awal, pertengahan, dan akhir. Masing – masing memiliki sumbangannya tersendiri dalam perkembangan keilmuan dan khasanah musik barat. Kejadian – kejadian historis sosiokultural turut membentuk karakter music pada era Barok ini.
Masa Barok awal terbentang dari tahun 1600 – 1654. Ditandai dengan pencetusan suatu bentuk disiplin ilmu musik baru oleh Claudio Monteverdi, dikenal dengan istilah seconda practica. Ilmu musik ini, yang penerapannya hanya untuk murid dan relasi Monteverdi pada awalnya, mencakup evolusi polyphony music Renaisans dan suatu bentuk disiplin tonality sederhana. Seconda practica merupakan dasar dari ilmu harmoni, tonality, dan menjadi cikal bakal lahirnya musik homophony disamping counterpoint. Penerapan seconda practica digunakan seutuhnya dalam karya music opera Orfeo karya Monteverdi ini. Kemunculan opera Orfeo, kemudian merangsang berkembangnya genre opera dan mengangkat popularitasnya di dataran Eropa. Disiplin ilmu Monteverdi, diteruskan serta dikembangkan oleh muridnya, Heinrich Schütz.
Musik, seiring dengan jenis kesenian lainnya, tumbuh mekar dengan tidak terkendali dan luar biasa pesat. Hal ini merupakan efek dari euforia masyarakat yang tumbuh sejak masa pencerahan Renaisans. Namun, disamping itu, efek reformasi gereja memiliki dampak yang signifikan dalam memacu pertumbuhan tersebut.
Sejak dipelopori oleh Marthin Luther satu abad sebelumnya, reformasi protestan ini menyebabkan jurang antar pemeluk agama Kristen. Di satu sisi, Katolik dengan segala kekuasaannya menjadi pilihan kaum bangsawan dan di sisi yang lain Protestan bagi rakyat biasa. Timbul persaingan antara kedua kubu ini dalam mencari umat, sehingga seni dan budaya pun dijadikan suatu sarana komersil bagi aliran religi ini. Persaingan ini, mendorong para seniman dari masing – masing kepercayaan untuk terus berlomba – lomba menghasilkan karya yang dilirik oleh massa. Sebagai lawan dari reformasi Protestan, timbul gerakan revival of Catholism. Di bidang musik, gerakan ini dipelopori oleh Giovanni Gabrielli.
Masa pertengahan Barok dicirikan oleh berkembangnya genre – genre music ke dalam bentuk – bentuk yang lebih baku beserta aturannya. Tahun 1654 – 1707, dikenal sebagai age of absolutism. Hal ini dikarenakan, pada masa ini kerajaan – kerajaan semakin mempertebal keabsolutannya, membentuk sebuah monarki yang menjurus tirani. Personifikasi yang tepat adalah Louis XIV dari Perancis. Sentralisasi kekuatan kerajaan, menyebabkan timbulnya budaya court, yaitu menjadikan istana sebagai pusat pemerintahan sekaligus tempat tinggal. Hal ini mendorong terbentuknya court musician, atau musisi istana, yang menjadi wadah sekaligus lahan potensial bagi para musisi maupun komposer diseluruh Eropa. Sebuah pekerjaan terhormat, bersifat lebih permanen, dengan penghasilan baik dan terjaga alirannya. Sesuatu yang sangat menggiurkan bagi musisi manapun di dunia. Selain itu, berkembangnya gereja dan instansi pemerintahan lain menyebabkan timbulnya kebutuhan akan sebuah musik publik yang terorganisasi.
Di masa ini, musik – musik instrumental meraih pamor di kalangan masyarakat, terutama kaum bangsawan. Kelahiran jenis – jenis instrumental untuk chamber music serta keyboard menunjukkan betapa besar tuntutan akan kekayaan harmoni instrumental. Teori – teori permusikan, lebih terstruktur dan menjadi suatu acuan yang formal serta baku. Seluruh karya musik pada masa ini, mengacu kepada satu jenis teori serta struktur yang sama. Dieterich Buxtehude adalah salah seorang penggagas mengenai struktur musik.
String atau instrumen gesek adalah kekuatan utama musik pada era ini. Ia merupakan kebutuhan primer genre – genre utama bahkan hingga sekarang. Hal ini dipelopori oleh Jean – Baptiste Lully. Bentuk Concerto Grosso mulai dipopulerkan, terutama oleh Arcangelo Corelli. Concerto Grosso, merupakan sebuah reduksi orkestra, yang biasanya terdiri dari sekelompok solois. Dan lagi – lagi, string tetap merupakan komponen utamanya.
Penghargaan tertinggi di masa ini, jatuh pada seorang komposer bernama Henry Purcell. Dengan usia yang sangat pendek, 36 tahun, ia menghasilkan sekitar 800 karya musikal. Ia adalah seorang komposer yang terkenal mampu menghasilkan melodi – melodi indah. Selain itu, Purcell dikenal sebagai komposer pertama yang menggubah musik – musik untuk instrumen keyboard.
Masa keemasan Barok, berada di akhir rentang hidupnya, pada tahun 1680 – 1750. Di masa ini, bentuk – bentuk musical seperti binary (AABB), 3 parts (ABC), serta bentuk rondo menjadi struktur formal hingga saat ini. Ilmu mengenai tonality, menjadi teori baku musik barat, digagas oleh Rameau. Yang menjadi tonggak sejarah masa ini adalah, kelahiran para komposer – komposer luar biasa yang memiliki karya – karya yang sangat menakjubkan.
Diantara nama – nama para komposer dari era ini, Antonio Vivaldi adalah salah satu komposer dengan karya abadi yang tetap populer hingga sekarang. Sebagian besar orang tentu kenal dengan nada – nada dari Four Seasons. Vivaldi adalah seorang maestro di violino di sebuah panti asuhan di Venice. Karya – karyanya selalu menggunakan atuiran 3 movement, yang terdiri dari dari bentuk cepat – lambat – cepat. Dalam kancah music untuk keyboard, Alessandro Scarlatti dengan sonata – sonata Harpsichord-nya menjadi trademark tersendiri. Komposer kelahiran Italia ini menghasilkan ratusan karya untuk keyboard dan memiliki ciri Spanish – nya dalam karya – karyanya.
Tidak akan lengkap membicarakan musik Barok, jika tidak menyinggung tentang dua raksasa Barok ini: Johan Sebastian Bach dan George Friderich Handel. Keduanya adalah maestro yang mampu menghasilkan beratus – ratus karya dengan kekayaan nada yang melimpah. Keduanya, sayangnya, tidak pernah bertemu satu kalipun walau saling mengetahui. Handel dikenal sebagai ahli melodi serta improvisasi. Kebanyakan karyanya memiliki emphasis pada dua hal tersebut. Handel terkenal oleh oratorionya yang berjudul Messia. Sementara Bach, adalah seorang jenius counterpoint sejati. Karya – karyanya merupakan perpustakaan tentang ilmu counterpoint serta berbagai bentuk, jenis, dan kombinasinya. Bradenburg Concertos, merupakan salah satu karya gemilangnya.

Tertidurnya Para Raksasa, Menyongsong Era Klasik

Raksasa sekalipun, tetap mematuhi aturan alam mengenai kelahiran dan kematian. Musik Barok pada akhirnya perlahan – lahan tenggelam dan mengalami suatu bentuk simplifikasi di era selanjutnya. Era klasik adalah masa dimana hal – hal yang dianggap berlebihan atau tidak manusiawi mengalami pemangkasan. Hal ini dapat dilihat dari penurunan penggunaan counterpoint serta ornamentasi. Selain itu, jenis music mulai mengarah kepada bentuk homophonic, dibandingkan polyphonic. Doctrine of Affection pun dilawan, karena dianggap terlalu mekanistik serta tidak alami. Demikian pada akhirnya, raksasa yang kokoh itu mulai tertidur kembali selama beberapa ratus tahun, hingga kembali di apresiasi di masa selanjutnya.

Bilawa A. Respati

Tuesday, December 16, 2008

Kuliah Adam Gyorgy

(Studio Musik Melodia, 12 Desember 2008)


Adam Gyorgy adalah pianis muda asal Hungaria yang kini tengah menapaki kariernya sebagai pianis internasional. Selain memberikan konser di berbagai tempat di dunia, Adam yang juga tengah menempuh studi doktoral di Franz Liszt Academy di Budapest ini aktif membagi pengetahuannya melalui seminar, kuliah maupun master class.

Pada Jumat lalu Adam berbicara di hadapan sekira 30 peserta kuliah di Studio Musik Melodia mengenai pendidikan musik di negara asalnya. Hungaria merupakan salah satu negara dengan sistem pendidikan musik terbaik di dunia, dan ini disebabkan karena secara geografis, Hungaria terletak di antara Rusia yang terkenal akan kehebatan teknik pianistik dengan negara-negara Eropa Barat seperti Jerman dan Perancis yang memiliki musikalitas yang tinggi. Ini menyebabkan sistem pendidikan Hungaria yang komprehensif dan bisa menghasilkan musisi-musisi, terutama pianis-pianis, yang memiliki kemampuan all-round.

Selain menjelaskan mengenai pendidikan musik di tempat dia belajar, Adam Gyorgy juga membahas mengenai beberapa aspek teknis dalam permainan piano, seperti pentingnya memiliki jari-jari yang aktif, bagaimana menyalurkan suara ke dalam piano, cara bermain oktaf, cara menghasilkan warna suara yang berbeda di piano, pentingnya memiliki gerakan tubuh yang proporsional, pentingnya berlatih dengan lambat dan membagi cara sesi latihan ke dalam sesi analisis dan sesi bermain, cara menghafal, serta perlunya menjaga tempo permainan.

Secara keseluruhan, kuliah kali ini masih terasa terlalu singkat dan pembahasan yang diberikan pun kurang mendalam. Terlalu banyaknya tema yang ingin dibahas dalam jangka waktu yang pendek (hanya 2 jam) membuat Adam terasa meloncat-loncat dari satu tema ke tema lainnya dengan cepat. Namun demikian, dari pendapat beberapa guru musik yang hadir di dalam seminar kemarin, kegiatan seperti ini tampaknya harus lebih banyak diadakan, terutama mungkin untuk guru-guru piano yang notabene memiliki jumlah murid terbanyak di Bandung.

Di ujung ceramahnya Adam membuka sesi tanya-jawab, sebelum akhirnya memainkan beberapa karya pendek serta sebuah komposisi yang ditulisnya sendiri.

Mutia Dharma
Managing Director
Classicorp Indonesia

Sunday, December 14, 2008

Gathering Walagri Classical Club

(Aula RS Santo Borromeus, 11 Desember 2008)


Ketika konser musik klasik di Bandung berkembang pesat bak jamur di musim hujan, tiba-tiba saja Walagri mengambil “jalur sepi”. Walagri, stasiun radio yang bertemakan kesehatan tersebut, menyelenggarakan semacam kumpul-kumpul (gathering) yang diisi berbagai acara yang cukup berbobot seperti talk show dan apresiasi musik klasik. Jenis acara seperti ini terang saja tak sepopuler konser. Selain karena konser cenderung lebih simpel dan mudah dicerna, juga kebebasan yang tersisa jauh lebih banyak. Dalam sebuah konser, banyak penonton yang merasa selesai menunaikan tanggung jawabnya setelah membayar tiket masuk. Di dalam ruangan, ia seolah punya hak istimewa untuk menonton, mengkritisi, tidak mendengarkan, ngobrol, atau pacaran sekalipun. Acara gathering seperti kemarin tentu saja lain. Setelah disajikan sesuatu, penonton tak lagi diam dengan fungsinya yang sebatas “menonton”, ia fleksibel berubah bentuk, ikut berperan pada kelangsungan acara, dan bahkan menjadi sentral.
Gathering Walagri Classical Club (WCC) bukan yang pertama kali diselenggarakan. Kalau tidak salah, ini adalah yang ketiga kalinya dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Format acaranya mirip dengan seminar, ada pembicara dan ada yang dinamakan peserta. Bedanya, dalam WCC, performansi adalah bagian acara yang cukup khas. Fun-tastic String Ensemble (FSE) didaulat tampil di pembuka dan pertengahan acara dengan lagu-lagu klasik yang relatif familiar seperti William Tell Overture dan Variations on “Ah Vous Dirou Je Maman”. Berhubung orkes mini tersebut diisi oleh anak-anak dari usia SD hingga SMP, maka berbagai kesalahan not dan fals masih bisa dimaafkan. Bahkan hampir semua peserta WCC merasa geli sekaligus kagum dengan penampilan FSE ini. Ketika anak-anak seusianya barangkali sedang mengerjakan PR atau berusaha tidur, FSE keluar dari zona nyaman, dan mau diapresiasi terang-terangan.
Di sela-sela penampilan tersebut, Pak Tono Rachmad selaku narasumber tunggal, hadir memberikan apresiasi dan tanggapannya. Pak Tono yang sehari-harinya merupakan dosen UPI Jurusan Seni Musik itu, memang salah satu teoretisi musik klasik yang konsisten di Kota Bandung, yang -sekali lagi- mengambil ”jalur sepi” di luar orang kebanyakan yang berkutat di wilayah paktis. Pembahasan Pak Tono di WCC kemarin, cukup menyegarkan dan sesuai dengan tema kumpul-kumpulnya: ”Be Healthy with Musical World”. Walhasil, karena temanya cukup umum dan pembawaan Pak Tono sangat baik, peserta WCC seolah tak mau berhenti berinteraksi. Tanya-jawab berlangsung aktif dan sulit dihentikan moderator Grace Pieters. Acara yang berlangsung singkat dari pukul 18.00-20.00 itu pun menjadi padat, hidup, berisi, dan –sesuai harapan panitia- menyehatkan.

Sedikit Catatan Subjektif
Jika melihat ide dan konsep acaranya, terang saja WCC adalah terobosan penting dalam agenda permusikan di Kota Bandung. Acara semacam ini seolah menyadarkan bahwa pemahaman atas musik tak hanya terbatas pada teknik, musikalitas, dan interpretasi saja. Ada hal-hal yang lain daripada itu, yang lebih analitik dan terejawantahkan, yang membuat musik tak hanya berkomunikasi lewat telinga, tapi juga sisi-sisi indrawi yang lain. Pada tahap pemahaman yang kompleks tersebut, penilaian aspek musikal yang terbatas pada ”benar” dan ”salah” dapat dihindari lebih jauh. Maklum, persoalan ”kebenaran” pada musik secara keseluruhan memang telah mendarah daging dan kerap memicu konflik. Maka itu ruang-ruang gathering, komunitas, dan diskusi, adalah medium untuk menyadarkan pentingnya ”kebenaran subjektif”, yang mana diproduksi lewat toleransi, kebersamaan, dan penekanan egosentrisme.
Di luar niat baik WCC yang patut diacungi jempol, ada beberapa catatan subjektif dari segi penyelenggaraan. Misalnya, rentang WCC ini rencananya adalah tiga bulan sekali. Konsistensi yang patut dihargai tentunya. Meski demikian, tiga bulan adalah waktu yang cukup bagi seseorang untuk kehilangan mood. Jika WCC kemarin dianggap sukses, maka penantian yang terlalu lama kelak hanya menempatkan WCC sebagai momentum semata. Pembawaan WCC ini juga agak kurang jelas. Ada upaya dari panitia untuk menempatkan acara ini dengan format santai, namun dengan mempertahankan eksklusitivitas musik klasik, yang justru berujung pada keseriusan tersendiri. Yang membuat acara ini sedikit tergiring pada kesantaian malah disebabkan oleh penampilan jenaka dari FSE.
Terakhir, untuk WCC berikutnya, barangkali penting untuk diadakannya sosialisasi yang lebih baik. Cukup disayangkan untuk ide acara terobosan macam ini, yang hadir hanyalah orang-orang pilihan, tamu undangan, serta pihak-pihak yang dianggap sudah fasih mengapresiasi musik klasik. Stereotip ketertutupan musik klasik macam ini barangkali lambat laun mesti ditinggalkan, terutama jika melihat dinamika sosial posmodern belakangan ini yang akrab dengan perubahan tak menentu. Musik klasik mesti rajin melakukan auto-kritik, berinteraksi secara terbuka, dan mengajak berbagai elemen masyarakat, untuk saling berkembang. Sifat semacam itu niscaya tak akan menurunkan derajat dan harkat musik klasik, melainkan justru menempatkannya dalam wilayah sosial yang lebih tinggi, dengan ukuran-ukuran kerendahan hati dan kebersahajaan. WCC, diluar segala catatannya, menyimpan potensi besar mewujudkan hal tersebut.


Syarif Maulana

Friday, December 12, 2008

Johann Kaspar Mertz dan Era Romantik yang Hilang


Era yang Hilang?
Saat mengucapkan kata ‘gitar’, apa yang mungkin muncul di benak banyak orang adalah ‘Spanyol’, ‘Rock’, ‘Satriani’, atau mungkin ‘Fender’. Sempitkan lagi kata tersebut menjadi ‘gitar klasik’ dan mungkin kita dapatkan ‘Tarrega’, ‘Flamenco’, ‘Romance de Amor’, atau ‘Segovia’. Pemain gitar klasik pada umumnya lebih familiar dengan repertoire yang berbau Spanish, dari sekian banyak repertoire yang tersedia untuk dimainkan. Pada urutan berikutnya, musik - music modern a la Dyens dan York, lalu komposer baroque dan era klasik seperti Bach, Scarlatti, dan Sor. Musik bergaya romantic seolah tidak demikian populer dan pada akhirnya menenggelamkan sejumlah karya - karya hebat. Musik gitar untuk abad ke-19 seolah menjadi periode yang hilang dan jarang dikenal orang kecuali dalam pilihan yang demikian sempit.
Saya pernah berhadapan dengan situasi dimana kejenuhan menyerang saat bermain. Saya banyak memainkan lagu, baik secara serius dipelajari ataupun sekedar sight reading untuk kesenangan saja. Namun pilihan yang saya hadapi saat itu mendorong saya untuk menemui jenis musik yang - katakanlah - bentuknya lagi - lagi seperti itu. Entah dia terdengar sangat Spanish, musik dengan melodi dan progresi chord yang sangat predictable, atau musik - musik modern yang bermain dengan nada - nada disonan serta sejumlah efek, dan yang terakhir bentuk baroque yang pada saat itu membuat kejenuhan saya semakin menjadi - jadi.
Sampai suatu hari, saya menemukan sebuah perpustakaan digital yang memuat setumpuk repertoire musik gitar abad ke-19. Di sana, saya mulai menyingkirkan nama - nama seperti Dyens, York, Bach, Scarlatti, Albeniz, Tarrega, Barrios, dan Villa-Lobos. Apa yang ada di dalam perpustakaan tersebut mengubah cara pandang saya terhadap komposer - komposer yang sampai saat itu saya remehkan: Sor, Aguado, Giulliani. Dan menambah sederet nama lain yang menarik perhatian saya seperti Regondi, Matiegka, dan Coste. Namun, dari sekian banyak nama dan musik yang saya coba mainkan, seorang komposer dengan setumpuk karyanya berhasil membuat saya begitu tertarik untuk mengenalnya lebih jauh: Johann Kaspar Mertz.
Mertz, sebelumnya, hanya saya kenal dari sebuah karyanya yang berjudul Fantaisie Hongroise (Hungarian Fantasy). Musiknya sangat virtuoso: penggunaan chord, interval, appergio, dan scale yang begitu rapat. Alunan nadanya pun terdengar sangat berbeda dari music - music Spanish atau music era klasik khas repertoire standar untuk gitar. Ia terdengar lebih ‘penuh’, lebih emosional, dan arah musiknya sangat tidak tertebak, sesuatu yang belum pernah saya dengar. Untuk pertama kalinya, saya melihat gitar sebagai sebuah instrumen solo yang benar - benar layak konser dan mampu menandingi kompleksitas piano. Gitaris yang memainkannya adalah seorang wanita bernama Xuefei Yang, seorang gitaris dari China.
Sampai sekarang, saya masih kesulitan untuk tahu lebih banyak tentang Mertz. Kebanyakan informasi yang beredar umumnya hanya memuat biografi singkat yang kurang lebih sama. Akhirnya saya menemukan sebuah situs yang sangat membantu, yaitu Early Romantic Guitar (www.earlyromanticguitar.com). Di sana terdapat banyak informasi mengenai musik gitar abad ke - 19, juga memberikan informasi mengenai instrumen dan panduan mengenai repertoire. Selain itu masih banyak lagi situs - situs yang memberikan informasi, namun tidak selengkap alamat yang disebut sebelumnya.
Sebuah introduksi yang menarik, ditulis oleh seorang gitaris dan bangsawan Rusia, Nicholas Makaroff. Dari The Memoirs of Makaroff (diambil dari Early Romantic Guitar):
”…Mertz, whose manuscripts, not in my possession, represent the precious pearls of guitar repertoire! …
Mertz was a tall man, about 50, neither fat nor thin, very modest and with no hint of a pretense to greatness about him. As soon as it was feasible, I offered him my guitar and asked him to play something. He took it readily and immediately began to play. It was a fascinating large work.
“By whom is this piece written?” I asked.
“By me,” was the answer. “It has not been published yet.” Then he played another piece, and still another. Each one better than the last — all magnificent. I was dumbfounded with surprise and admiration. I felt like a Columbus discovering a new America, for here was the great guitar composer I had long given up hope of finding. I had been searching for him everywhere, among the countless pieces of music I bought throughout Russia and Europe. Afterwards, I had thrown them away in despair, finding them worthless rubbish, cooked up by talentless modern composers such as Padovetz, Carcassi, Bobrovich, Bayer, Soussman, Kuffner, etc..
In contrast, the music played by Mertz, to which I listened with ever-growing rapture, contained everything — rich composition, great musical knowledge, excellent development of an idea, unity, novelty, grandeur of style, absence of trivial expression and multiplicity of harmonic effects.
At the same time, there was the clear basic melody, which kept surging above the surface of arpeggios and chords. The effects were brilliant and daring. Basic to all this, he had a deep understanding of the instrument with all its possibilities and hidden secrets. In his full-hearted compositions, I liked the finales and introductions especially well, because they were unusual and were wonderfully developed. They could be removed from the rest and played separately without losing their power and musical significance. Thus, they could give full satisfaction to any listener. “

Sedikit yang Dapat Ditemukan Tentang Sang Komposer
Johann Kaspar Mertz lahir di Pressburg, Hungaria pada 17 Agustus 1806 dan meninggal di Vienna pada 14 Oktober 1856. Terlahir dalam kemiskinan, namun sempat mengenyam pendidikan dasar instrumen gitar dan flute. Mertz terlahir sebagai seorang prodigy. Demi membantu keadaan finansial keluarga, ia sudah harus memberikan les gitar dan flute pada usia 12 tahun.
Mertz menyempurnakan tekniknya secara otodidak. Pada usia 34 tahun ia pindah ke Vienna. Di sana, ia menjadi seorang guru gitar dan seorang solois di Court Theatre di bawah patronasi Empress Carolina Augusta. Kesuksesannya tiba dengan begitu cepat, membuatnya menjadi court guitarist untuk sang Empress. Selama 2 tahun berikutny, Mertz melakukan serangkaian tour ke Moravia, Polandia, Rusia, Stettin, Dresdan, Berlin, Breslau, Chemnitz, Leipzig, dan Prague.
Di salah satu rangkaian konser tersebut, Mertz bertemu seorang pianis, Josephine Plantin. Sebuah kebetulan, dimana keduanya tampil pada program konser yang sama. Keduanya menjalin persahabatan yang berujung pada sebuah concert tour berikutnya yang menyebabkan keduanya memperoleh ketenaran karena penampilan yang brilian serta artistik dan juga menghasilkan kesuksesan finansial. Pada akhirnya, 14 Desember 1842 keduanya menikah di Prague. Sekembalinya ke Vienna, keduanya menjadi terkenal di kalangan bangsawan dan banyak diminta untuk mengajarkan instrumen mereka ke kalangan elit tersebut. Murid - murid Mertz yang paling terkenal adalah Johann Dubez - yang nantinya dikenal sebagai seorang gitaris virtuoso dari Eropa - dan Duchess Ledochofska - yang lebih dikenal sebagai seorang virtuoso mandolin. Selain menjadi seorang gitaris terkemuka di zamannya, ia juga seorang musisi yang mampu memainkan flute, violoncello, dan mandolin dengan tidak kalah baiknya. Walau bukan bidang yang ia tekuni, Mertz juga membuat komposisi untuk instrument - instrument tersebut.
Kesibukannya pada akhirnya terhenti oleh sakit yang dideritanya. Selama 2 tahun, dari 1845-1847 ia tidak dapat tampil dalam pertunjukan apapun. Sebuah kecelakaan memperburuk kondisi kesehatannya, yaitu saat ia mengalami overdosis strychnine akibat kesalahan takaran yang dilakukan oleh istrinya. Strychnine adalah obat yang digunakan untuk perawatan neuralgia, penyakit yang kemungkinan diderita Mertz saat itu. Selama masa penyembuhan, Josephine banyak memainkan musik - musik romantik (musik pada zaman itu) di piano untuk menghibur suaminya. Hal ini banyak mempengaruhi karya - karyanya setelah itu, terutama dalam karakter suara yang dihasilkan oleh lagu - lagunya, serta teknik tangan kanan yang digunakan untuk memainkan komposisi - komposisi tersebut.
Pada musim semi tahun 1848, Mertz kembali mengadakan konser. Apresiasi publik begitu luar biasa. Sampai - sampai pada hampir setiap pertunjukan gedung pertunjukan selalu digunakan hingga kapasitas maksimumnya dan banyak penonton yang ditolak masuk karena sudah tidak tersisa ruang lagi.
Di tahun 1856, seorang bangsawan Rusia, Nicholas Makaroff mengadakan sebuah kompetisi internasional dalam komposisi. Hal ini dimaksudkan untuk merangsang lahirnya karya - karya baru dan memperluas popularitas gitar sebagai instrumen konser. Kompetisi ini diikuti 31 kontestan dan para juri menerima 64 komposisi. Diantaranya merupakan karya musisi ternama era itu seperti Leonard (seorang violinist), Servais, Demunck (keduanya adalah violoncellist), dan beberapa lagi adalah orang - orang dari Brussels Conservatoire of Music. Mertz mengirimkan Opus 65: Trois Morceaux pour Guitarre untuk kompetisi tersebut. Komposisi ini adalah karya terakhir Mertz. Tekanan kesibukan serta penyakit yang mendera tubuhnya akhirnya mencabut nyawanya pada 14 Oktober 1858. Opus 65 mendapat juara pertama dalam kompetisi Makaroff, namun sayang sang komposer tidak sempat mengetahui kabar tersebut.

Permata yang Tersembunyi
Musik - music karya Mertz sangat kental pengaruh romantiknya. Sebuah suguhan yang melankolis, emosional, kompleks, serta membutuhkan keahlian virtuoso pada sebagian besar komposisinya. Model musiknya dapat dikelompokan dalam kategori yang sama dengan music - music Chopin, Schubert, Mendelssohn, dan Schumann. Sangat berbeda dengan model ‘klasik’ Mozart atau Haydn seperti yang dimiliki juga oleh Fernando Sor dan Aguado. Juga sangat berbeda dengan gaya Italia seperti Rosinni dan Giulliani.
Dalam konser, Mertz menggunakan gitar 10 senar. Kemungkinan besar adalah sebuah gitar Stuffer, seorang luthier dari Vienna. Seringkali Josephine, istrinya, melakukan duet bersama Mertz dalam konser. Pada masa itu, kombinasi piano dan gitar masih menjadi hal yang umum dan mungkin dilakukan (tidak seperti sekarang). Hal ini disebabkan oleh karakteristik gitar era romantic yang memiliki pitch yang lebih tinggi, karakter timbre yang lebih kuat, serta tambahan 4 dawai yang memungkinkan terjadinya resonansi penguat. Selain itu, pianoforte (piano di zaman tersebut) bentuknya pun berbeda dari piano modern: lebih kecil, karakter suara yang lebih lembut, dan timbre yang sangat mirip dengan gitar. Hal ini menyebabkan piano dan gitar pada masa itu dapat menjadi partner yang seimbang.
Karya - karya Mertz, dapat dikatakan sebuah permata yang terlupakan. Banyak karyanya yang sangat pantas untuk kembali dihidupkan di ruang - ruang konser. Opera Revue Op.8 adalah salah satu karya yang layak ditampilkan. Merupakan kumpulan 33 lagu berdasarkan tema opera dari opera - opera terkenal di zamannya. Mirip dengan Rossiniana karya Giuliani, Opera Revue membutuhkan teknik yang demikian tinggi dan mendorong posibilitas gitar hingga ke batas tertingginya. Setipe dengan transkripsi orchestra kepada piano atau gitar solo oleh Listz atau Yamashita. Il Trovatore dan Rigoletto adalah favorit saya dari Op.8 ini (keduanya adalah opera karya Verdi).
Bardenklang Op.13 berisi 13 lagu - lagu pendek dengan tingkat kesulitan yang bervariasi. Setiap lagu menceritakan sebuah cerita atau mood/afeksi tertentu. Liebeslied, Romanze, dan Fingal’s Cave menjadi pilihan pribadi saya. Menantang untuk dimainkan, namun sebagai gantinya alunan music indah yang begitu khas “Mertz” akan menghilangkan penat akibat berusaha berlatih bersusah payah.
Karya - karya lain yang saya anjurkan untuk dengarkan atau coba mainkan adalah Harmonie du Soiree, Concierto, Trois Nocturne Op.4 (tidak terlalu sulit dimainkan dan sangat mengalun), dan Op.65 (terutama Fantaisie Hongroise). Lalu Elegie, yang merupakan lagu yang paling saya senangi secara pribadi, sebuah syair ratapan dengan gaya yang sangat romantic.
Beberapa gitaris yang merekam music - music Mertz yaitu David Leisner, David Russell, Pepe Romero, dan Pavel Steidl. Manuskrip - manuskrip Mertz dapat ditemukan di The Royal Library (rex.kb.dk) atau di The Music Library of Sweeden (http://www.muslib.se/ebibliotek/boije/).

Bilawa A. Respati

Jakarta Enam Senar

(Auditorium CCF, 2 Desember 2008)


Baru kali ini saya melihat segerombolan gitaris bermain dalam satu panggung secara bersamaan. Untuk kalangan gitaris klasik (mungkin istilah Jubing Kristianto lebih tepat, meski belum populer, fingerstyle guitarist) yang lebih umum adalah bermain secara solo, dan kalaupun agak banyak mungkin hanya sekitar 3-4 orang saja. Jakarta Enam Senar (JES) yang tampil di Auditorium CCF, 2 Desember lalu tersebut memberikan sebuah suguhan baru dalam khazanah musik Indonesia khususnya gitar. Hal itu disebabkan oleh penampilannya yang mirip dengan format orkestra, karena menampilkan dua puluh orang langsung di panggung untuk memainkan repertoar-repertoarnya. Gitaris-gitaris yang berkolaborasi di JES rata-rata merupakan mahasiswa atau lulusan dari jurusan musik dengan mayor gitar klasik di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ataupun Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

JES sendiri sebenarnya pernah tampil di Bandung ketika KlabKlassik mengadakan acara Classical Guitar Fiesta pada tahun 2006. Sialnya, karena saya saat itu menjadi panitia, akhirnya penampilan JES pada saat itu tidak bisa saya lihat. Beruntung pada kemarin, JES bukan sekedar menjadi pengisi acara seperti di Classical Guitar Fiesta, tetapi memang mengadakan konser khusus di Bandung untuk memperkenalkan JES.

Ekspektasi saya cukup berlebihan karena dari luarnya, JES menjanjikan sesuatu yang berbeda yang belum pernah disajikan di Indonesia. Ketika penampilan mereka di buka dengan lagu Halo-Halo Bandung yang diawali dengan bunyi-bunyian perkusif, ekspektasi yang muncul semakin besar, karena saya yakin bahwa konser JES akan saya jadikan sebagai referensi ketika mengajar di kelas. Tetapi ekspektasi saya berhenti saja sampai disitu, karena aransemen Halo-Halo Bandung yang mereka sajikan tidak bisa dibilang luar biasa, despite bagian intro yang memang cukup mengundang rasa penasaran. Memang ada beberapa bagian yang cukup bersemangat, tetapi sayangnya aransemen kemarin tidak membuat lagu Halo-Halo Bandung mencapai klimaksnya. Sehingga ketika lagu itu selesai, ada perasaan nanggung di kuping, karena merasa ada yang belum selesai (padahal sudah).

Di lagu-lagu berikutnya, hampir tidak ada keunggulan yang dapat disajikan oleh JES dalam aransemennya. Jadi tidak ada bedanya ketika saya mendengar John Williams dengan orkestra pengiringnya dan JES. Bahkan menurut saya, JES tidak berhasil menampilkan power yang pas, ketika misalnya membawakan Sevilla karya dari Isaac Albeniz. Pada saat mereka membawakan lagu Kereta Apiku, lagi-lagi nuansa perkusif disajikan dengan berbagai metode mengetuk-ngetuk gitar ataupun menggosok-gosok senar. Cara ini sebenarnya sangat bagus, karena orang memang mendapatkan suasana bebunyian kereta baik di stasiun ataupun ketika menunggu kereta lewat. Tetapi lagi-lagi JES terlihat hanya menonjolkan suasana perkusifnya saja, yang akhirnya membuat melodi dan hype dari lagu Kereta Apiku tidak bisa dirasakan. Padahal kalau JES mau membuat aransemen diluar bebunyian perkusif yang lebih menitikberatkan pada lagunya, sajian kemarin pasti akan jauh lebih menarik. Lagu Mission Impossible pun seperti tidak disajikan dengan greget, karena suara gitar-gitar yang ada di JES tidak campur sehingga seperti banyak orang memainkan lagu yang sama namun dibawah koordinasi yang berbeda.

Mungkin ada beberapa permasalahan yang bisa diidentifikasi. Pertama, masalah kualitas gitar yang berbeda-beda. Ini memang merupakan sebuah kewajaran, karena gitar yang memiliki kualitas suara yang baik biasanya membanderol harga yang cukup tinggi, yaitu diatas 5 juta rupiah. Dengan adanya perbedaan kualitas gitar ini, maka karakter dan jenis sound yang dihasilkan pun akan serta merta berbeda, belum lagi ditambah penggunaan senar yang tentunya berbeda-beda dan juga memberikan sound yang berbeda pula. Tentunya masalah ini bisa diatasi dengan menggunakan gitar dan senar yang sama untuk semua gitaris. Apabila JES dapat lebih berkembang lagi, pasti tidak akan sulit membeli gitar yang lebih baik dari sekedar Yamaha, ataupun di-endorse oleh salah satu pabrikan gitar akustik. Permasalahan kedua adalah penempatan microphone yang menurut saya tidak pas apabila JES bermain dalam dua tumpuk seperti kemarin, ada barisan depan dan barisan belakang, sehingga hanya gitaris-gitaris yang di barisan depan yang terdengar. Mungkin kalau mikrofon yang dipakai berasal dari kualitas yahud, masalah ini tidak akan muncul. Alangkah lebih tepatnya ketika penampilan JES yang dua baris seperti kemarin diakali dengan penempatan mikrofon yang digantung, sehingga suara dari gitaris-gitaris di bagian belakang tetap dapat masuk ke mikrofon dan tidak terhalang oleh gitaris di barisan depan.

Meski demikian, sajian kemarin tetap memberikan sebuah warna baru bagi musik Indonesia yang belakangan ini cukup monoton bahkan cenderung mundur dengan diadaptasinya musik-musik aneh dari negara tetangga di Semenanjung Malaka.

Pirhot Nababan
diambil dari http://i-yok.blogspot.com/

Tuesday, December 09, 2008

KlabKlassik 2009: Mau ke Mana?

Secara komunitas, KlabKlassik (KK) telah berusia tiga tahun. Sepanjang itu pula, KK sibuk mencari pijakan. Pertanyaan ”mau dibawa kemana klab ini?” sungguh tak mudah untuk dijawab. Menilik sejarah klab sepanjang tiga tahun tersebut, KK memang berkegiatan kesana kemari. Yang pasti adalah nongkrong-nongkrong di Tobucil, sebuah toko buku yang menampung berbagai jenis komunitas, sebulan dua kali. Di sela-sela nongkrong itu, KK menyisipkan diskusi dari mulai yang ringan hingga serius. Ringan dalam artian mendengarkan musik bersama-sama atau membicarakan topik tertentu secara santai dan cenderung ngalor-ngidul. Diskusi serius berarti mendatangkan narasumber dan mengkondisikan komunitas layaknya peserta seminar. Adapun klab tiba-tiba berubah wujud menjadi semacam event organizer. Dalam kurun waktu tiga tahun, sudah sekitar lima belasan konser kami selenggarakan, yang mana bagi KK bukan sebuah pencapaian yang mudah, terutama jika mengingat dapur KK yang semuanya berstatus relawan. Umur tiga tahun tentunya masih amat singkat, namun tetap mumpuni menjadi referensi untuk membangun arah dan tujuan. Sebelum akhir tahun ini, KK berencana mengadakan kumpul-kumpul khusus untuk mendiskusikan garis besar kegiatan klab sepanjang tahun 2009. Berikut gambaran singkat opsi yang akan dipilih KK sebagai kegiatan inti di tahun 2009.
  • Diskusi Sosio-Kultural. Pembahasan musik klasik biasanya tak pernah jauh dari urusan teknis, historis, dan interpretasi. Perlu diakui bahwa kegemarannya berkutat di ranah tersebut justru membuat musik klasik selalu dicap sebagai wilayah yang eksklusif, konservatif, dan jauh dari keluwesan. Tantangan seriusnya ada pada kenyataan bahwa dinamika sosio-kultural dewasa ini berubah dengan sangat cepat. Jika musik klasik tidak rajin melakukan auto-kritik, bukan tak mungkin karisma dan reputasinya akan pudar dan ketinggalan. Musik klasik mesti dengan gagah mengumandangkan, bahwa dirinya tak pernah lekang oleh jaman. Contoh topik: Musik Klasik dan Relevansinya di Tengah Generasi MTv, Kompetisi Musik Klasik: Perlukah?, Interpretasi Musik Klasik: Teks vs Konteks, dsb.
  • Apresiasi Bersama. Tuntutan industri dewasa ini ternyata hanya fokus pada bagaimana mencetak musisi-musisi yang handal. Padahal, layaknya dua sisi mata uang, keberadaan para apresiator jempolan adalah sama pentingnya. Terbayang jika yang muncul kebanyakan adalah para musisi-musisi hebat, sedangkan para apresiator hanyalah sebatas pengagum semu yang ikut arus atau malah tukang kritik yang membabi buta. Kegiatan apresiasi bersama KK adalah upaya untuk membangun kesadaran mengapresiasi, yang mana jika dilakukan dengan kritis, analitis, dan rendah hati, maka akan membantu dinamika permusikan ke arah yang lebih sehat. Contoh kegiatan: masing-masing peserta membawa satu lagu favoritnya ke forum, untuk lalu diapresiasi bersama. Berbagai topik nantinya diawali dari apresiasi tersebut.

Kedua pilihan gagasan tersebut akan digodok lewat rapat KK, sebelum resmi dimulai secara rutin pada Januari 2009 di Tobucil, Jl. Aceh no. 56, Bandung. KK sebagai penyelenggara konser sengaja tidak dijadikan opsi karena ada upaya untuk lebih fokus pada kegiatan komunitas. Terlebih jika mengingat setiap konser perlu tenaga ekstra yang seringkali malah membuat pertemuan rutin menjadi terbengkalai. Tak lupa kami juga mengajak para pengunjung blog untuk ikut berpartisipasi terkait dengan kedua gagasan tersebut, boleh lewat comment, vote, e-mail ke klabklassik@yahoo.com atau milis ke klabklassik@yahoogroups.com.

Profil KlabKlassik

KlabKlassik (KK) adalah komunitas dan ruang apresiasi musik klasik yang berdiri di Bandung pada tanggal 9 Desember 2005. Dasar kemunculannya tidak lepas dari stereotip orang kebanyakan yang menganggap musik klasik sebagai musik yang eksklusif, kompleks, berat, dan serius. Meski stereotip itu terkadang ada benarnya, namun musik klasik ternyata bisa “terjangkau”, santai, sederhana, dan membumi juga, jika berhasil memilah mana yang menjadi inti, dan mana kemasannya. Sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, KK mencobanya lewat berbagai acara diskusi santai, konser musik klasik yang jauh dari kesan eksklusif, serta keterbukaan tukar pikiran via milis maupun blog.

Pada awal didirikannya, KK hanya diniatkan sebagai kelompok musik insidental yang tampil pada acara JazzAid: Jazz untuk Korban Tsunami pada Februari 2005. Kala itu yang tampil adalah empat gitar yang terdiri dari Royke Ng, Christian Reza Erlangga, Ahmad Indra dan Syarif Maulana. Setelah penampilan tersebut, timbul dorongan dari Dwi Cahya Yuniman, koordinator KlabJazz (komunitas musik jazz), untuk membangun sebuah komunitas. Dorongan tersebut akhirnya dicoba direalisasikan setelah mendapat kesempatan berkumpul sebulan sekali di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Akumulasi dari kumpul-kumpul tersebut salah satunya berhasil mencetuskan ide untuk membuat sebuah pagelaran musik klasik bernama Classicares. Penyelenggaraan Classicares yang diadakan pada 9 Desember 2005 di Gedung Asia Africa Cultural Center (sekarang Majestic), dianggap sebagai titik tolak kelahiran KK sebagai komunitas yang mandiri. Sejak saat itu, penyelenggaraan konser secara berkala menjadi agenda rutin KK disamping acara kumpul-kumpul yang terus berjalan.

Sejak pertengahan tahun 2007, KK resmi berkomunitas di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Kepindahan tersebut juga menandai munculnya beberapa agenda baru KK, yang lahir dari proses evaluasi dan auto-kritik tiada henti. Agenda baru tersebut menggiring KK untuk tidak melulu berkutat di ranah komunitas, melainkan juga ruang apresiasi, yang mana mendorong KK untuk semakin membuka diri. Berikut acara-acara yang pernah melibatkan KK, baik dalam format penyelenggara maupun pemberi dukungan.


Classicares : Classical Concert for Charity
9 Desember 2005, Gedung Asia Africa Cultural Center
(Status KK: Penyele
nggara)
Sadaya Chamber Orchestra, Bandung String Duo, Ammy String Section, Tiwi Shakuhachi, Anime String Quartet, Kanisius Kevin Suherman, Yohannes Siemandinata, Ridwan B. Tjiptahardja, Royke Ng, Rara Utami, KlabKlassik Guitar Ensemble.


Soiree Francaise : Malam Pagelaran Karya-Karya Komponis Prancis
(Penyelenggara bersama Radio Mara dan CCF)
31 Maret 2006, Auditorium Centre Culturel Francaise.
Anggita Tantri, Malvin Yurie Sugiri, Brigitta Sistha Kama
djaja, Rara Utami, Isyana Sarasvati, Bilawa A. Respati, Melissa
Dyandra, Aldi Wijaya Hutani,. Royke Ng, Elsa Angelie, Nathania Limando, Syarif Maulana, Dina Mariana Sari, Stephen Haw, Leonard R. Aditya.

Classical Guitar Fiesta 2006
(Penyelenggara bersama Radio Mara dan CCF)
28 Juli 2006, Auditorium Centre Culturel Francaise.
Royke B. Koapaha, KlabKlassik String Duo, Jakarta Enam Senar, John Vincent Hardijanto, Serafim, Hendy Reinaldo, Duette Retjeh, Tesla Manaf Effendi, Roy Thaniago, Willy April Prayoga, Jeffrey Fernando Ngantung, Oktafianto Adhi Nugroho, Rinaldi Alfin Yonathan, Priya Uthama, Amabile, Steven
Reinaldo Rusli, Panji Fortuna, A. Lukman Nul Hakim, Fauzie Wiriadisastra.

Resital Duet Gitar Klasi
k: Yogyakarta Guitar Duo
(Penyelenggara)
1 Agustus 2006, Auditorium Centre Culturel Francaise.
Yogyakarta Guitar Duo, Bilawa A. Respati, Christian Reza Erlangga, Royke Ng.

Resital Gitar Klasik Syarif Maulana
(Penyelenggara)
10 November 2006, Auditorium Centre Culturel Francaise.
Syarif Maulana, If String Quartet, Ah
mad Ramadhan, Tesla Manaf Effendi.


Konser Piano Ananda Sukarlan
(Panitia pendukung)
22 Desember 2006, Ballroom Grand Hotel Preanger.
Ananda Sukarlan
Seminar Musik Kontemporer
(Penyelenggara bersama Universitas Pendid
ikan Indonesia)
2 Januari 2007, Galeri Esp’Art CCF.
Dieter Mack, Royke B. Koapaha.

April String Festival
(Penyelenggara bersama Radio Mara dan CCF)
13 April 2007, Auditorium Centre Culturel Francaise
Bandung String Chamber, ITB Student Orchestra, Ammy String Section, Eya Grimonia, Bohemian String Quintet, Yohannes & Bagus, Fun-tastic String Ensemble, Petite String Quartet.

Resital Gitar Klasik Alessio Nebiolo
(Penyelenggara bersama Guitar Maestros)
21 April 2007, Auditorium Centre Culturel Francaise.
Alessio Nebiolo 

Resital Gitar Klasik Thibault Cauvin
(Panitia pendukung)
1 Desember 2007, Hotel SanGria.
Thibault Cauvin

Konser Gitar Klasik Syarif Maulana & Johan Yudha Brata
(Penyelenggara)9 November 2007, Auditorium Centre Culturel Francaise.
Syarif Maulana, Johan Yudha Brata

Cello Talks: The Emmotional Connection
(Penyelenggara bersama Tiga Warna)
31 Maret 2008, Auditorium Centre Culturel Francaise.
Unung Supardi dan kawan-kawan, Asep Hidayat dan murid-murid

Classical Guitar Fiesta 2008
(Penyelenggara)30 Agustus 2008, Gedung Majestic.
Jubing Kristianto, Bilawa A. Respati, KlabKlassik Duo, Akmal & Reyno, Felix Christopher, Ryan Alden, Steven Reinaldo Rusli, Hin Hin Agung Daryana, Andra
de Mikraj Rijkia, Fildza A. Nasution, Devin Sugiharto, Stefanus B. Sutrisno, Jakarta Enam Senar, Gentra Sora Rasa Sunda, R. Lutfi Latifullah


Resital Tiga Gitar
(Penyelenggara)
17 Oktober 2008, Grha Kompas GramediaBilawa A. Respati, Syarif Maulana, Widjaja Martokusumo.











Resital Ensembel Gitar: Jakarta Enam Senar(Penyelenggara bersama Universitas Negeri Jakarta dan Jakarta Enam Senar)
2 Desember 2008, Auditorium Cent
re Culturel Francaise.Jakarta Enam Senar









Resital D'Java String Quartet
(Penyelenggara)
17 April 2009, Auditorium Centre Culturel Francaise.
 
D'Java String QuartetResital Tiga Gitar Plus Satu: Trio dan Kuartet 
(Penyelenggara)
9 Agustus 2009, Auditorium Centre Culturel Francaise. 
Bilawa A. Respati, Syarif Maulana, Widjaja Martokusumo, Royke Ng
Flute & Piano Recital: Fauzie Wiriadisastra & Andrew Sudjana
(Penyelenggara)
20 Agustus 2009, Auditorium Centre Culturel Francaise.
 
Fauzie Wiriadisastra, Andrew Sudjana


Ririungan Gitar Bandung: Maen!
(Penyelenggara)
20 November 2009, Auditorium Centre Culturel Francaise.
Bernadette Yodia, Royke D-K-K, Pirhot & Elisa, ISO Guitar Ensemble, Yunus Suhendar, KlabKlassik String Trio, Ririungan Gitar Bandung

Let's Play Violin!
(Penyelenggara)
23 Desember 2009, Auditorium Centre Culturel Francaise
Ammy Alternative Strings

The Sound of Flute #3
(Panitia Pendukung)
23 Juli 2010, Auditorium Centre Culturel Francaise.
Andika Candra, Yuty Lauda

Resital Gitar Johan Yudha Brata: First Thing First
(Penyelenggara)
2 Agustus 2010, Auditorium Centre Culturel Francaise.
Johan Yudha Brata

Piano and Chamber Recital by Andrew Sudjana
(Penyelenggara)
5 & 6 Agustus 2010, Auditorium Centre Culturel Francaise.
Andrew Sudjana, Fauzie Wiriadisastra, Yofe Maria


Classical Guitar Fiesta 2010
(Penyelenggara)
8 Oktober 2010, Auditorium Centre Culturel Francaise
Phoa Tjun Jit, KlabKlassik Duo, Mulix Cabrera, Ririungan Gitar Bandung, A. Dennis Morgan Permana, Caesario Toga Sakti Muda Perkasa, Dicky Salam, Jardika Eka Tirtana, Luthfi Farabi, Kristianus Tri Adisusanto, R. Lutfi Latiful
lah, Kevin Cahyady, Kelvin Budiman


Trumpet-Piano Recital: Iswargia R. Sudarno - Eric Awuy
(Penyelenggara bersama Jakarta Conservatorium of Music)
24 November 2010, Auditorium Centre Culturel Francaise
Iswargia R. Sudarno, Eric Awuy


Four Hands Piano Recital: Iswargia R. Sudarno - Glenn Bagus
(Penyelenggara bersama Jakarta Conservatorium of Music)
12 Maret 2011, Auditorium Centre Culturel Francaise
Iswargia R. Sudarno, Glenn Bagus

Violin & Viola Recital: Satryo Aryobimo Yudomartono
(Penyelenggara bersama Studio Musik Melodia)
13 Juli 2011, Auditorium Centre Culturel Francaise
Satryo Aryobimo Yudomartono, Fero Aldiansya Stefanus, Fiola C. Rondonuwu, Dina Kamalita



Resital D’Java String Quartet
(Penyelenggara)

7 Oktober 2011, Auditorium Centre Culturel Francaise
D'Java String Quartet


Resital Urs Brugger – Ratna Sari Tjiptorahardjo 
(Penyelenggara bersama Studio Musik Melodia)

25 November 2011, Lembaga Indonesia Prancis (LIP) Yogyakarta
30 November 2011, Auditorium Centre Culturel Francaise
3 Desember 2011 di Pusat Kebudayaan Prancis – Surabaya (CCCL) Surabaya.
Urs Brugger, Ratna Sari Tjiptorahardjo


Resital Empat Gitar
(Penyelenggara)

26 Januari 2012, Auditorium IFI-Bandung (Eks CCF)
Bilawa Ade Respati, Royke Ng, Syarif Maulana, Widjaja Martokusumo

Anime String Orchestra 2nd Concert
(Penyelenggara)
9 April 2012, Auditorium IFI-Bandung
Anime String Orchestra 


Resital Piano Levi Gunardi
(Penyelenggara)
1 Juni 2012, Gedung Yayasan Dana Mulia
Levi Gunardi 

Classical Guitar Fiesta 2012 
( Penyelenggara)
13 Juli 2012, Auditorium IFI-Bandung
Jubing Kristianto, Dennis Hadrian, Dicky Salam, Donny Dwiputra, Febian Natanael, Gregorius Jovan Krisnadi, Henry Dimas Krishnanda, Kevin Cahyady, LEonardus Satriyo Wicaksono, Maria Elsa, Ryan Sentosa, Teja Kesuma, Rimmie Reynaldi, William Ryan, Rendy Lahope, Joseph Sinaga, Ririungan Gitar Bandung.