Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, January 25, 2009

Latihan RGB (Ririungan Gitar Bandung)

Latihan perdana RGB (Ririungan Gitar Bandung) akan dilaksanakan pada tanggal 8 Februari 2009, pkl.13.00 WIB, bertempat di Tobucil, Jl. Aceh No.56. Membawa gitar akustik nilon sendiri, dan peralatan penunjang lain yang dibutuhkan (foot stool, stand partitur, etc).

Bahan untuk latihan perdana adalah karya dari Georg Philip Telemann, yang berjudul "Canon & Menuet".

Transkrip :
Guitar I : http://www.geocities.com/klabklassik/telemann_CanonMenuet_guitar01.pdf
Guitar II : http://www.geocities.com/klabklassik/telemann_CanonMenuet_guitar02.pdf

(link dapat di-copy-paste ke internet browser; maaf jadi merepotkan)

Sunday, January 11, 2009

Misteri Kehebatan Paganini


Niccoló Paganini adalah virtuoso violin yang hebat tidak hanya pada jamannya saja, teknik dan kemampuannya masih relevan hingga sekarang. Begitu menawannya permainan Paganini, hingga masyarakat pada jamannya berspekulasi mengenai keterkaitan Paganini dengan iblis. Rumor ini didasari oleh banyak hal, diantaranya kebiasaan Paganini yang selalu tampil di konser dengan mengenakan baju hitam. Sebelumnya, ia datang dengan kereta kuda dimana baik kereta maupun kudanya berwarna hitam pula. Penampilan Paganini semakin mengerikan dengan rambutnya yang hitam panjang, tampangnya yang pucat dan gigi-giginya yang tanggal di tahun 1828.
Paganini yang kemudian dijuluki Hexensohn atau Anak Penyihir itu juga memiliki teknik diluar jangkauan manusia normal. Pernah dalam suatu konser, tiga senarnya yang paling atas putus dan menyisakan hanya senar G, namun Paganini tetap mampu memainkannya secara gemilang. Momen lainnya, yaitu ketika Paganini ditantang “duel” oleh Lafont, violinis asal Prancis. Lafont yang juga cukup terkenal, kala itu menawarkan diri untuk ikut konser bersama Paganini. Penonton yang memprediksikan pertemuan keduanya akan berlangsung alot dan menarik ternyata salah. Paganini “menang mudah” dengan improvisasi yang mencapai tiga hingga enam oktaf. Dalam kesempatan lain di sebuah konser di Paris (1832), Paganini mampu memainkan sebuah sonata dengan 12 not per detik! Hal yang sulit dibayangkan bahkan hingga kini.
Paganini juga memiliki aura yang aneh, membuat penonton tercengang luar biasa kala menyaksikan dia tampil. Aura tersebut tidak hanya datang dari kemampuan “ajaib”nya, melainkan ada “sesuatu” yang sulit dipahami. Sebuah kesaksian menyatakan, "It was more than technical wizardry that attracted the masses: there was a demonic quality as well as an enticing poetry in his playing". "It was a heavenly and diabolical enthusiasm, I have never seen or heard its like in my life," menurut kesaksian lainnya.
Menjelang kematiannya, Paganini bahkan menolak melakukan sakramen terakhir, yang berbuntut pada jasadnya yang tidak dikuburkan. Jasad tersebut akhirnya dikubur atas desakan pihak keluarganya setelah lima tahun tersimpan. Isu yang beredar ada dua versi, Paganini menolak sakramen karena ia tidak percaya akan mati, satu lagi karena Paganini tidak mempercayai Tuhan.
Rumor bahwa Paganini telah menjual jiwanya pada iblis untuk ditukar dengan kemampuan bermain violin tersebut memang masih diperdebatkan hingga sekarang. Namun di luar segala kejanggalan tersebut, Paganini tetap merupakan legenda yang memberikan sumbangsih luar biasa bagi dunia violin.

Violin: The King of Instruments


“The Violin has been called the King of Instruments and, in the hands of a fine player, it is certainly worth of the name. As a solo instrument, accompanied by the piano, it is well known for its expressive beauty: it leads the string quartet, and it is the most important instrument in the orchestra.” – Palmer, King (Associate of the Royal Academy of Music): Teach Yourself Music

Violin yang memiliki penalaan E-A-D-G termasuk dalam “keluarga instrumen gesek” beserta viola, cello, dan double bass. Violin memiliki ukuran yang paling kecil diantara anggota keluarganya yang lain, namun mampu menghasilkan nada yang paling tinggi. Karya-karya yang dikomposisi untuk violin selalu ditulis dalam G clef (treble clef). Pemain violin populer dengan sebutan violinis.

1. Sejarah Singkat

Violin pertama muncul ke permukaan di Italia bagian utara pada awal abad ke-16. Violin diduga mengadopsi tiga macam instrumen: rebec, yang digunakan sejak abad ke-10 (diadopsi dari rebab [Arab]), Renaissance fiddle , dan lira da braccio. Deskripsi cukup detil dari violin beserta penalaannya diperkenalkan pertama kali oleh Jambe de Fer di Lyons pada tahun 1556. Sejak saat itu, violin mulai dikenal di seantero Eropa.
Violin yang bentuknya dikenal hingga sekarang diciptakan pertama kali oleh Andrea Amati di pertengahan abad ke-16 atas permintaan keluarga Medici . Keluarga tersebut meminta Amati untuk menciptakan instrumen yang mampu dimainkan oleh musisi jalanan, namun berkualitas setara dengan lute , instrumen yang populer di kalangan bangsawan kala itu. Amati, yang pada zamannya dikenal sebagai luthier (pembuat lute) yang mahir, memutuskan untuk menciptakan instrumen yang mampu menghasilkan suara yang lebih indah dari alat musik manapun pada zaman tersebut. Hasilnya, violin menjadi sangat populer. Dari awalnya ditujukan bagi musisi jalanan, menjadi instrumen yang juga diminati kalangan bangsawan. Fakta tersebut diketahui ketika Raja Prancis, Charles IX meminta Amati untuk membuat violin dengan jumlah yang cukup untuk membangun sebuah orkestra.
Busur (bow) modern untuk violin disempurnakan oleh François Tourte (1774-1835). Tourte menyimpulkan bahwa pernambuco adalah bahan terbaik yang bisa memberikan berat, kekuatan dan elastisitas yang ideal bagi busur. Pernambuco sendiri adalah sejenis kayu yang biasa dipakai untuk pewarna dan banyak ditemukan di negara bagian Pernambuco, Brasil. Lewat saran beberapa virtuoso violin seperti Viotti, Kreuzer, dan Rode, Tourte membuat standar panjang busur yang baik bagi violin adalah 74 atau 75 cm, viola 74 cm, dan cello 72-73 cm.

2. Luthier

Walaupun pada awalnya luthier merupakan sebutan yang terbatas bagi pembuat lute, namun akhirnya pembuat violin juga mendapat sebutan serupa. Dalam sejarah penciptaan violin, terdapat tiga luthier yang secara turun temurun berjaya menciptakan violin yang berkualitas:

a. Amati

Keluarga ini adalah luthier dari Italia, yang berkembang di kawasan Cremona dari tahun 1550 hingga 1740. Andrea Amati (1500 - 1577) adalah pembuat violin pertama yang kemudian mewariskan kemampuannya tersebut pada kedua anaknya: Antonio Amati (lahir 1540) dan Girolamo Amati (1561-1630). Amati bersaudara kemudian menciptakan banyak inovasi baru tentang desain violin, termasuk penyempurnaan bentuk soundhole violin yang terkenal. Mereka juga menjadi pionir dalam pembuatan viola yang bersuara alto.
Niccolo Amati (3 September 1596 – 12 Agustus 1684) yang merupakan anak dari Girolamo Amati mengembangkan model yang telah dibuat oleh para pendahulunya, sehingga menghasilkan suara yang lebih kuat. Modelnya ini terkenal dengan sebutan “Grand Amatis”. Murid-murid Nicolo yaitu Antonio Stradivari dan Andrea Guarneri kelak menjadi luthier handal yang terkenal hingga saat ini.
Dinasti Amati tidak bertahan lama setelah meninggalnya anak dari Niccolo, Girolamo Amati, yang dikenal dengan nama Hieronymous II di tahun 1740. Kendati ia juga mewarisi bakat luthier ayahnya, model violin Hieronymous II sudah mampu ditandingi oleh Antonio Stradivari. Meninggalnya Hieronymous II adalah pertanda berakhirnya dominasi keluarga Amati, dan dimulainya Dinasti Stradivarius.

b. Stradivarius

Walaupun model ini ini juga dijalankan secara turun temurun, namun dinasti ini hanya mencatat satu nama dominan, yaitu sang pencetus, Antonio Stradivari (1644-1737). Antonio menciptakan violin yang kemudian dinamai dengan “Stradivarius” (bahasa latin dari Stradivari) dan biasa disingkat dengan “Strad”. Anak dari pasangan Alessandro Stradivari dan Anna Moroni yang lahir di Cremona ini bekerja pada perusahaan Amati di sekitar tahun 1667 hingga 1679.
Di tahun 1680, Antonio mendirikan perusahaannya sendiri di Piazza San Domenico, dan ketenarannya sebagai luthier mulai mencuat. Ia selalu berusaha menunjukkan orisinalitas dan meninggalkan pengaruh model Amati sedikit demi sedikit. Perubahan –atau lebih tepatnya perombakan- yang dilakukan Antonio pada fingerboard, neck, bass bar, urutan pengeleman, bahkan hingga vernis yang lebih indah, menjadikan violin semakin diposisikan sebagai instrumen yang nyaris sempurna. Teknik Stradivarius menjadi dasar pembuatan violin bagi para luthier hingga sekarang.
Violin Stradivarius yang orisinil diciptakan oleh Antonio dapat dikenali dengan tulisan dalam bahasa latin: Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno ….. (artinya: Antonio Stradivari, Cremona, dibuat pada tahun …. ). Stradivarius dengan suara yang paling dahsyat dibuat antara tahun 1698 hingga 1730 ketika Stradivari berada dalam masa produktif (golden age). Setelah tahun 1730, Stradivarius diteruskan oleh generasi berikutnya, yaitu anak dari Antonio, Omobono dan Francesco.
Selain violin, Stradivarius juga memproduksi gitar, harpa, viola dan cello. Dari 1100 instrumen yang pernah diproduksi Strad, 650 diantaranya masih bertahan hingga sekarang. Rekor terbaru penjualan Strad dicatat di tahun 2005 kemarin, “The Lady Tennant” buatan tahun 1699 terjual seharga US$ 2,032,000! Virtuoso violin Itzhak Perlman adalah salah satu pemakai setia Strad (Soil Strad – 1714), selain cellis Yo-Yo Ma yang menggunakan Davidov Strad. Antonio Stradivari meninggal di Cremona, Italia, pada 18 Desember, 1737 dan dimakamkan di Basilica of San Domenico, Cremona.

c. Guarneri

Seperti luthier-luthier hebat lainnya, keluarga Guarneri berasal dari Cremona, Italy pada abad ke-17 dan 18. Andrea Guarneri (1626-1698), generasi pembuat violin pertama dari keluarga ini awalnya bekerja untuk Nicolo Amati dari sejak 1641 hingga 1646. Setelah sempat berhenti, Guarneri kembali bekerja pada Amati dari tahun 1650 hingga 1654. Instrumen buatan Guarneri awalnya banyak meniru model “Grand Amatis” yang mahsyur diciptakan oleh Nicolo Amati, sebelum akhirnya Guarneri menciptakan ciri khasnya tersendiri. Andrea saat itu lebih pintar membuat viola yang baik, salah satunya dipakai oleh William Primrose.
Setelah Andrea meninggal, dua anaknya meneruskan bakat ayahnya. Pietro Giovanni Guarneri (18 Februari 1655 – 26 Maret 1720) yang dikenal dengan Peter of Mantua (Pietro da Mantova) -untuk membedakannya dengan kemenakannya, Pietro Guarneri- bekerja pada bengkel ayahnya dari sekitar 1670 hingga ia menikah di tahun 1677. Peter of Mantua yang juga seorang musisi itu mampu membuat violin yang lebih baik dari ayahnya. Joseph Szigeti adalah salah satu pemain yang memakai violin buatannya.
Anak bungsu Andrea, Giuseppe Giovanni Battista Guarneri (25 November 1666- 1739/1740) mewarisi bisnis ayahnya pada tahun 1698. Ia dikenal mampu membuat violin yang baik, walaupun saat itu itu harus bersaing ketat dengan Stradivarius. Giuseppe kemudian mewariskan bakatnya pada dua anaknya, Pietro Guarneri (14 April 1695 – 7 April 1762) dan Giuseppe Guarneri (21 Agustus 1698 – 17 Oktober 1744). Nama yang terakhir inilah yang kemudian sangat diperhitungkan dalam dunia violin. Giuseppe yang terkenal dengan labelnya yang bertulisnya I.H.S (iota-eta-sigma) dan salib Roma itu, violin buatannya dipakai oleh virtuoso abadi, Niccolò Paganini (Cannone Guarnerius – 1743). Yehudi Menuhin juga memiliki “Lord Wilton” ciptaan Guarneri tahun 1742. Masih banyak virtuoso violin yang memakai instrumen ciptaannya, diantaranya Corey Cerovsek, Arthur Grumiaux, Jascha Heifetz, Leonid Kogan, Isaac Stern dan Henryk Szeryng. Violin Guarneri ini hingga merupakan pesaing ketat Stradivarius hingga saat ini.
Sayangnya, sejak dahulu label-label violin tersebut telah mengalami pembajakan serius. Cukup banyak violin-violin yang menggunakan label dari luthier handal, meski pada kenyataannya tidak ada sangkut pautnya dengan luthier tersebut. Namun saking miripnya violin tiruan tersebut dengan aslinya, dibutuhkan keahlian khusus untuk meneliti orisinalitas sebuah violin yang dilabeli luthier ternama.

3. Virtuoso Violin

Dalam perjalanannya, violin melahirkan segudang virtuoso yang beberapa diantaranya juga merangkap sebagai komponis handal. Raksasa-raksasa tersebut antara lain:

a. Niccolò Paganini

Niccolò Paganini lahir di Genoa, Italia pada 27 Oktober 1782 dan merupakan anak dari pasangan Antonio dan Teresa Paganini. Menurut Peter Lichtenthal, orang yang menulis biografinya, Paganini awalnya mempelajari mandolin dari ayahnya pada umur lima tahun, sebelum akhirnya mempelajari violin ketika umurnya tujuh. Paganini bahkan mulai menulis lagu sebelum usianya delapan dan tampil di konser umum pertama kalinya di umur 12 tahun. Paganini belajar violin pada beberapa guru, diantara Giovanni Servetto dan Alessandro Rolla. Rolla yang diminta untuk mengajar Paganini kala berusia 13 tahun, kemudian menyarankan Paganini untuk berhenti menimba ilmu darinya, karena Paganini terlalu berbakat dan Rolla tidak mampu mengajarkannya apa-apa lagi. Padahal, kala itu Rolla adalah salah satu guru violin yang terkenal.
Di usia 16, Paganini menjadi senang berjudi dan mabuk, namun karirnya selamat oleh seorang wanita tak dikenal, yang kemudian mengajarinya violin selama tiga tahun. Pada saat itu, ia juga mempelajari gitar. Paganini mencuat kembali pada usia 23 tahun, menjadi direktur musik bagi adik dari Napoleon, Elisa Baciocchi, ketika ia tidak sedang melakukan tur. Segera setelah itu, Paganini menjadi legenda violin baru, lewat debutnya di Milan (1813), Vienna (1828), London dan Paris (1831). Paganini adalah salah satu musisi pertama yang tur sebagai solois, tanpa musisi-musisi pendukung. Paganini yang selalu menjadi bintang pada setiap konser, memiliki kemampuan luar biasa untuk membuat audiens terpesona. Kehebatan Paganini lalu dihubungkan rumor “aktivitasnya” dengan iblis (lihat: Misteri Kehebatan Paganini). Violin yang dimiliki Paganini bernama Cannone Guarnerius buatan Giuseppe Guarneri tahun 1743. Nama itu diberikan karena suaranya yang merefleksikan cannon (meriam). Suara dahsyat itu dihasilkan ketika Paganini menggesek tiga hingga empat senar sekaligus.
Paganini menjadi pencetus beberapa teknik baru yang mengagumkan. Diantaranya adalah scordatura, yakni merubah penalaan violin yang berpengaruh pada kemudahan permainan untuk lagu-lagu tertentu. Paganini juga menciptakan teknik left hand pizzicato, yaitu memetik senar violin dengan tangan kiri dimana yang lazim digunakan adalah tangan kanan. Selain itu, teknik-teknik lainnya seperti double stop harmonics dan parallel octaves termasuk keahlian yang dianggap mendekati mustahil bahkan hingga sekarang. Paganini menulis karya-karya untuk violin dengan eksplorasi yang lebih luas dan mengharuskan setiap pemain untuk memiliki teknik diatas rata-rata. Penggunaan kombinasi staccato, harmonics, dan pizzicato (untuk kedua tangan) yang jarang terlihat intensif pada karya-karya untuk violin jaman itu, ditulis oleh Paganini dalam karya-karyanya yang elegan.
Semasa hidupnya, Paganini cukup produktif dalam mengomposisi. Masterpiece yang paling terkenal adalah 24 caprices for solo violin, Op.1. Paganini juga menulis enam komposisi violin concerto, beberapa sonata, karya-karya untuk string quartet, lebih dari 200 komposisi untuk gitar, dan repertoar-repertoar lainnya yang beberapa diantaranya ia tulis bagi violin dan gitar sekaligus.
Kesehatannya memburuk ketika ia mengidap kanker larink yang membuatnya tidak bisa berbicara. Namun Paganini tetap bermain violin hingga saat-saat terakhir menjelang kematiannya di Nice pada 27 Mei 1840. Paganini diklaim sebagai virtuoso pertama dalam permainan violin dan menjadi legenda yang dikenang hingga saat ini.

b. Pablo Sarasate

Pablo Martín Melitón de Sarasate y Navascues lahir di Pamplona, proponsi Navarre, Spanyol pada 10 Maret 1844. Sarasate mulai mempelajari violin di usia lima tahun pada ayahnya sendiri yang merupakan bandmaster di kesatuan artileri. Sarasate melakukan performance pertama kali di depan publik La Caruña pada usianya yang ke-8. Tak lama setelah itu, Sarasate mempelajari violin pada Manuel Rodriquez Saez di kota Madrid.
Saat berumur 12 tahun, Sarasate yang telah memiliki banyak penggemar termasuk Ratu Isabel II, dibawa oleh ibunya ke Paris untuk belajar pada Jean Alard di Paris Conservatoire. Namun malang menimpa, ibu Sarasate terkena serangan jantung dan meninggal sebelum sampai di Paris. Bersamaan dengan itu, Sarasate juga didiagnosis menderita kolera. Akhirnya, Sarasate terpaksa mengurungkan niatnya ke Paris hingga dirinya pulih.
Setelah sembuh dari penyakitnya beberapa waktu kemudian, Sarasate bertemu Jean Alard di Paris. Alard yang mencium bakat violinis muda ini, mengikutsertakan Sarasate yang berusia 17 tahun pada kompetisi Premiere Prix, yang langsung dijuarainya dengan mudah. Sejak momen tersebut, Sarasate mulai meniti karirnya sebagai penampil profesional.
Walaupun Sarasate memainkan karya-karya concerto dari Beethoven dan Mendelsohn, namun secara umum ia dikenal sebagai violinis yang sering tampil membawakan karyanya sendiri. Komposisi Sarasate amat kental dengan aroma Spanyol dimana ia mampu mentransfer kultur dansa negerinya dalam karya-karya violin. Pada zaman itu, karya untuk violin dengan gaya Spanyol masih sangat langka. Komposisi-komposisi Sarasate yang mahsyur antara lain Zigeneurweisen yang ia tulis untuk violin dan orkestra pada tahun 1878, dan Carmen Fantasy (1883) yang mengambil tema dari opera Carmen karya George Bizet –juga untuk violin dan orkestra-. George Bernard Shaw pernah berkomentar atas kehebatan Sarasate: “There were many composers of music for the violin, but there were few composers of violin music,” pernyataan yang menyiratkan kelangkaan figur macam Sarasate. Shaw juga menambahkan, kejeniusan Sarasate membuat “para kritikus tertinggal jauh di belakangnya”.
Sarasate memiliki kepribadian yang menarik. Walaupun semasa hidupnya ia menerima ratusan surat cinta dari penggemar wanitanya, tidak ada satupun yang ia balas. Pikirnya, dengan memiliki kekasih atau menikah, Sarasate akan melukai hati fansnya. Prinsip untuk terus melajang ia pegang teguh hingga akhir hayatnya. Sarasate juga adalah seorang kaya raya yang rendah hati. Walaupun ia memiliki vila mewah di Biarritz, namun tiap tahun Sarasate selalu menyempatkan diri pulang ke kampung halamannya untuk mengikuti Fiesta.
Sarasate meninggal di Biarritz pada 20 September 1908 karena penyakit bronchitis yang kronis. Banyak karya-karya dari komposer terkenal didedikasikan untuknya, diantaranya: Violin Concerto No. 2 karya Henryk Wieniawski, Symphonie Espagnole karya Édouard Lalo, Violin Concerto No. 3 dan Introduction and Rondo Capriccioso karya Camille Saint-Saëns serta Scottish Fantasy ciptaan Max Bruch.

c. Yehudi Menuhin

Yehudi Menuhin yang lahir pada 22 April 1916 di New York, AS, adalah putra dari pasangan Russia-Yahudi yang berimigrasi ke Amerika. Dalam usia yang amat belia (7 tahun), Menuhin sudah mampu memainkan Violin Concerto karya Mendelssohn, yang langsung mengantarkannya pada ketenaran. Menuhin menghabiskan masa muda untuk tur keliling dunia memamerkan kemampuan bermusiknya. Hebatnya lagi, semua itu dilakukan sebelum usianya genap 20 tahun.
Menuhin memperdalam kemampuan violin di Paris pada George Enesco, violinis dan komposer yang kemudian sangat mempengaruhi gaya permainannya. Saat Perang Dunia II meletus, Menuhin memainkan lebih dari 500 konser bagi pasukan sekutu. Bersama komponis Benjamin Britten, Menuhin juga bermain bagi tawanan-tawanan kamp konsentrasi yang telah dibebaskan oleh Jerman.
Sebagai seorang musisi berdarah Yahudi, Menuhin memiliki keterikatan khusus dengan Jerman. Di tahun 1947, Menuhin “kembali” ke Jerman, dan menjadi musisi Yahudi pertama yang menginjakkan kakinya di tanah Bravaria setelah holocaust. Di Jerman, Menuhin bekerjasama dengan konduktor terkenal di Jerman, Wilhelm Furtwängler. Walaupun Furtwängler adalah seorang pro-Nazi, Menuhin tetap melanjutkan kerjasamanya. Di masa-masa ini, Menuhin harus menjalani kehidupan yang dilematis. Saat bermusik, ia harus menanggalkan identitasnya sebagai Yahudi agar tetap eksis, namun ketika Menuhin masuk pada lingkungan “asal”-nya, ia mesti bersikap antipati pada ras Aria yang pernah membantai bangsanya.
Memasuki tahun 1940an dan 1950an, Menuhin memainkan banyak karya klasik yang agung. Penghargaan terbesarnya datang ketika ia menampilkan karya Sonata for Solo Violin dari Bella Bartók. Bagi Menuhin, Bartok adalah sosok komponis yang mampu menampilkan emosi mendalam serta teknik-teknik yang menantang dalam karyanya. Bagi Bartók, karya tersebut menjadi lebih indah di tangan Menuhin, bahkan lebih indah dari yang ia imajinasikan sebelumnya. Kolaborasi Bartók-Menuhin disebut-sebut sebagai salah satu kekayaan terbesar dunia musik klasik abad ke-20.
Pada tahun 1952, Menuhin berkenalan dengan yogi terkenal, B.K.S. Iyengar yang kemudian diminta ikut tur dengannya untuk mengajari yoga. Menuhin dianggap salah seorang pencetus dimulainya perhatian Barat terhadap Yoga, terutama bagi kalangan musisi. Mulai tahun 1960, Menuhin memperluas keterlibatannya dalam dunia musik. Tahun 1963, ia membuka Sekolah Yehudi Menuhin, sekolah yang ditujukan bagi anak-anak berbakat di bidang musik. Menuhin juga memulai karir sebagai konduktor, yang kelak akan terus dilakoninya hingga wafat. Menuhin menjadi konduktor banyak orkestra besar di dunia, dan tampil di festival-festival musik akbar. Menuhin yang kental dengan klasik sejak kecil, mulai meningkatkan ekspolarinya ke dunia di luar klasik. Kolaborasinya yang terkenal adalah bersama sitaris Ravi Shankar dan violinis jazz Stephane Grapelli pada tahun 1980an.
Dalam 20 tahun terakhir sisa hidupnya, Menuhin sangat aktif dalam permusikan dunia. Ia adalah penampil, konduktor, guru, dan pembicara yang berpengaruh di zamannya. Muridnya yang terkenal diantaranya Nigel Kennedy dan violis Hungaria, Csaba Erdelyi. Di tahun 1985, Menuhin dianugerahi kewarganegaraan Inggris dan berhak atas gelar bangsawan. Lord Menuhin meninggal di Berlin, Jerman pada 12 Maret 1999 akibat komplikasi.

d. Itzhak Perlman

Itzhak Perlman lahir pada 31 Agustus 1945 di Jaffa, Israel. Pada usia empat tahun, Perlman terserang penyakit polio yang menyebabkan ia harus berjalan dengan menggunakan kruk seumur hidupnya. Perlman belajar violin pertama kali di Tel Aviv setelah mendengar suara instrumen tersebut pada sebuah radio. Setelah menamatkan training-nya di akademi musik Tel Aviv, Perlman lalu melanjutkan studinya ke Julliard School di AS. Hampir bersamaan dengan itu, pada tahun 1964, ia memenangkan kejuaraan bergengsi Levetritt Competition, sebuah penghargaan yang mengantarkan Perlman menjadi violinis yang diperhitungkan di dunia.
Sejak itu, Perlman tampil hampir di setiap orkestra besar dan resital serta festival di seluruh dunia. Di tahun 1970an, ia mulai mengisi beberapa rekaman dan menjadi tamu pada beberapa acara televisi favorit di Amerika seperti The Tonight Show dan Sesame Street. Pada bulan November 1987, Perlman bergabung dengan Israel Philharmonic Orchestra untuk mengikuti konser bersejarah di Budapest dan Warsawa, sebagai penampilan pertama dari orkes tersebut di wilayah Blok Timur kala Perang Dingin. Perlman kemudian membuat sejarah lagi, dengan tampil bersama orkes yang sama, ia mengunjungi Uni Soviet pada April/Mei 1990 dan memukau audiens di Moskow dan Leningrad.
Pada bulan Desember tahun 1990, Perlman yang menggunakan violin Soil Strad yang terkenal ini kembali ke Leningrad dalam rangka memperingati 150 tahun Tchaikovsky. Konser yang juga menghadirkan Yo-Yo Ma, Jessye Norman, dan Yuri Temirkanov dalam Leningrad Orchestra tersebut disiarkan langsung ke seluruh Eropa dan dikemas dalam video. Pada Desember 1993, Perlman berangkat ke Praha, Republik Ceko untuk tampil pada konser yang ditujukan bagi Dvorak. Dalam konser tersebut, ia tampil bersama Yo-Yo Ma, Frederica von Stade, Rudolf Firkusny dan Boston Symphony Orchestra yang dipimpin oleh Seiji Ozawa. Sama halnya dengan penampilan di Leningrad, konser tersebut juga disiarkan langsung dan diedarkan dalam bentuk home video.
Perlman dianugerahi empat Emmy Awards untuk berbagai film dokumenter yang salah satunya menceritakan aktivitasnya untuk Perlman Summer Music Program. Penghargaan Emmy lainnya ditujukan atas dedikasinya pada musik Klezmer , yang ditampilkan di stasiun televisi PBS. Berbagai rekaman yang dilakukannya juga menuai sukses, violinis yang selalu tampil dengan posisi duduk ini meraih 15 Grammy Awards. Bersama perusahaan rekaman raksasa Sony Classical, ia pernah melakukan kolaborasi dengan violinis Isaac Stern, gitaris John Williams, konduktor Seiji Ozawa dan Zubin Mehta, serta Juiliard String Quartet.
Perlman juga adalah solois bagi beberapa soundtrack film. Permainan violinnya yang khas dapat didengar dalam theme song Schindler’s List karya John T. Williams. Film yang bercerita tentang holocaust tersebut disutradai oleh Steven Spielberg dan meraih Academy Awards untuk kategori Best Score. Film yang belum lama ini hadir di Indonesia, Memoirs of a Geisha juga menggunakan jasa Perlman dan Yo-Yo Ma untuk lagu temanya.
Perlman telah meraih banyak penghargaan, salah satunya Kennedy Center Honors pada tahun 2003. Perlman yang disebut-sebut sebagai violinis terbaik abad ke-20 tersebut hingga saat ini aktif sebagai solois dan konduktor orkestra-orkestra besar khususnya di AS.

Memoar untuk KK

Sejujurnya, menjelang ultah ke-3 KK yang jatuh pada 9 Desember 2008, KK meminta tolong beberapa untuk menuliskan semacam memoar tentang KK dan aktivitasnya. Janji KK, memoar ini akan diterbitkan dalam bentuk buku kecil untuk dibagikan secara gratis. Namun janji tinggal janji, mengingat besarnya ongkos penerbitan (meskipun buku kecil), KK memutuskan untuk mencantumkannya secara berkala dalam blog ini. Meski demikian, jalan tersebut bukan berarti KK tidak menghargai teman-teman penulis yang sudah rela meluangkan waktunya demi reflektivitas KK. Dari sudut pandang tertentu, media blog malah lebih praktis dan efektif ketimbang media cetak (baca: buku). Pencantuman memoar ini akan dilakukan satu per satu setiap minggunya, dalam format yang berbeda-beda. Setelah versi Afifa Ayu dalam bentuk wawancara dua minggu yang lalu, kali ini KK akan langsung mengopi tulisan Royke B. Koapaha ke postingan blog ini. Sekedar berita tak penting, beberapa awak KK sempat amat sangat terharu (kalau boleh dibilang menitikkan air mata T_T) membaca tulisan (dan puisi!) Dosen ISI Yogya dan STiMB Bandung ini. Terima kasih Pak Roy!



KLABKLASSIK

Ini dapat dikatakan sebagai komunitas anak muda dalam arti yang sebenarnya. Dari nama KLABKLASSIK terasa aroma anak muda jaman sekarang yang ‘nakal’, ‘ingin tampil beda’, seperti pada umumnya anak muda jaman sekarang dalam memberi nama kelompok, komunitas atau bandnya. Dari tampilan visual anggotanyapun seperti anak muda pada umumnya, ganteng-ganteng, cantik-cantik dengan dandanan yang mengikuti tren dan sudah tentu segar dipandang mata. Tidak berbeda dengan anak muda-anak muda pada umumnya. Lalu, apa maksudnya tulisan di atas, komunitas anak muda dalam arti yang sebenarnya?
Begini, sejarah sudah mencatat begitu banyak cerita tentang anak muda, entah para pahlawan, komponis, sastrawan, dan lain-lain, yang menggerakkan roda jaman. Contoh secara acak saja, peserta atau aktifis peristiwa Sumpah Pemuda waktu dulu itu banyak yang belum menginjak usia 20 tahun; pada usia 20 tahunan Bung Karno sudah dikenal sebagai orator yang hebat dan karismatis di hadapan ribuan orang; Leo Brouwer dan segudang komponis lainnya sudah aktif berkarya pada usia yang sangat muda. Semua itu menunjukan bahwa pada pemuda tersimpan semangat berbuat, semangat berkreasi, dinamis, berani ‘menabrak arus’, maupun tidak sekedar ikut-ikutan.
KLABKLASSIK ini dapat dikatakan unik dan dinamis. Pengurusnya banyak yang beraktifitas sebagai pemain juga, para anggotanyapun dengan latar belakang profesi yang cukup heterogen. Aktifitas-aktifitasnya dapat dikatakan bervariasi, dari konser gitar klasik, entah yang diisi oleh pemain yang sekaligus menjadi pengurus, atau mengundang gitaris dari luar daerah bahkan luar negeri; menjalin konser dengan instrumen-instrumen lain seperti piano, cello, ensembel gesek; mengadakan kegiatan yang sesungguhnya agak ‘di luar area’ seperti diskusi musik kontemporer; mereka juga tidak selalu bergerak sendiri, tapi bekerjasama dengan pembuat acara-pembuat acara lainnya.
Ada semacam semangat pangguyuban yang tinggi dalam komunitas ini. Hal ini sepertinya merupakan salah satu kekuatan utama. Aksi dalam sebuah pangguyuban yang tidak selalu berpegang pada hubungan hirarkis formal semata, namun toleransi akan kondisi yang situasional, rasa gotong-royong, rasa saling percaya, saling mengisi menjadi bagian yang penting. Dalam KLABKLASSIK dimensi ini sepertinya cukup terjalin.
Selain itu ada semacam semangat untuk ‘mencari terobosan-terobosan baru’. Adalah upaya meluaskan cakrawala untuk tidak hanya pada area ‘dunia gitar’, namun mencoba ‘meraih ilmu’ sampai ‘ke negeri instrumen-instrumen lainnya’, ‘negeri penciptaan’, atau mungkin saja ‘negeri lainnya lagi yang belum terpikirkan’.
Hal lainnya lagi, KLABKLASSIK ini dapat dikatakan berani. Berani mengambil resiko beraktifitas yang lebih mengikuti kata hati, walaupun ini bukan arus umum (mainstream). Jalan yang ditempuh sepertinya tidak menjanjikan mimpi dikejar-kejar penggemar di Mall untuk dimintai tandatangan; juga tidak menjanjikan dunia gegap gempita, dimana pemain melambai-lambaikan tangan dihadapan puluhan ribu penggemar yang histeris…. Ini mungkin hanya sebuah ‘jalur sepi’, namun ini bukan berarti sepi dari semangat untuk maju, bukan berarti sepi dari semangat untuk menjadi berarti untuk orang lain, dan juga bukan sepi dari semangat untuk lebih memaknai kehidupan. Bukankah hidup ini tidak hanya untuk sekedar hura-hura, tapi pada suatu tingkat dimana setiap manusia sewajarnya bersinggungan dengan dimensi yang lebih kontemplatif?
Kembali seperti dikatakan di atas, KLABKLASSIK dapat dikatakan sebagai komunitas anak muda dalam arti yang sebenarnya. Ini sebuah ikon tentang semangat dan harapan. Disana ada semangat berbuat, semangat berkreasi, dinamis, tidak sekedar ikut-ikutan, berani ‘menabrak arus’ atau mungkin lebih tepatnya, ‘mencoba mengalir, tetapi berusaha untuk tidak hanyut’ di jaman yang hiruk pikuk ini.

Akhir kata, ada sebuah pertanyaan yang mungkin terlalu mudah untuk dijawab. Pertanyaannya: Haruskah kita harus sedih atau bangga? …. walaupun promosi musik-musik dalam arus umum yang begitu kuat (promosi musik x di TV, di radio, di flashdisk, di mp3 player, di HP, dan entah dimana lagi, 24 jam dalam sehari tanpa henti), ternyata tidak mampu menutup hati untuk memilih musiknya sendiri. Dengan kata lain, dawai sudah didentingkan, bukan karena dipengaruhi media-media promosi dengan segala janji trennya, tapi karena keputusan hati yang berkata jujur, sekalipun tidak menapak jalan yang ramai…. Sepertinya ini mahal.

Lingkari jawabannya:
a. Bangga
b. Bangga dong
c. Bangga, tapi jangan bilang-bilang ya
d. Tidak sedih, tapi bangga

Salam dan selamat berprestasi untuk KLABKLASSIK


ini cerita lama
mengikatkan tali pada sebatang kayu dari ujung ke ujung
di salah satu sisinya diberi tempurung kura-kura
menggugah hati untuk bertutur
menggerakkan jari untuk membuat nada-nada
nada-nada yang konon meluruhkan kegundahan dewata

mengalir dalam alur waktu yang demikian panjang
nyaris selalu dalam kesendiriannya
hingga kini
suara denting merambati udara
tidak menggelagar, hanya berbisik
sepertinya itu sudah cukup untuk hati

adalah beberapa lilin yang mulai menyala
api lilin menari-nari membuat cahaya
cahaya yang bertemu gelap
disitu ada galau
bukan karena gelap
tapi karena ada hiruk pikuk
hiruk pikuk yang aneh

ini memang cerita tentang pasar
pasar yang menjual segala mainan dengan label mulia
pasar yang menjual hal mulia sekalipun dalam kemasan mainan
ini memang cerita tentang pasar
pasar yang menjual semua
termasuk keindahan hati yg bertutur nada

api lilin menari-nari membuat cahaya
berteman suara denting merambati udara
kalau saja cahaya lebih bermakna dalam gelap
denting nada yang berbisik mungkin menjadi lebih berarti dalam hiruk pikuk
kalau sudah demikian
tidak ada alasan untuk mencegah harapan yang mulai merambati hati

…waktu itu tanggal 9 desember 2005…



Royke B. Koapaha

Sunday, January 04, 2009

Selamat Tahun Baru 2009

Jika seseorang butuh waktu untuk istirahat sejenak demi mengambil jarak dari keseharian, barangkali awal tahun adalah salah satu momen yang tepat. Di awal tahun itulah, kita semua bak Janus, si dewa bermuka dua dari Romawi, yang mampu memandang ke belakang maupun ke depan. Demikian halnya dengan KlabKlassik (KK), yang melihat tahun 2009 ini sebagai harapan. Harapan, tentu saja, diawali dari sisi belakang wajah Janus yang melihat masa lalu. Segera setelah evaluasi tentang kegiatan yang sudah dilakukan pada tahun 2008, KK merasa tak salah-salah amat untuk membangun harapan di masa datang. Meski harapan tidak memberi kepastian, tapi setidaknya, kemampuan berharap, barangkali adalah keberhasilan tersendiri.
Pertemuan penuh harapan itu dilakukan hari Minggu, tanggal 4 Januari kemarin. Bertempat di Tobucil, Jl. Aceh no. 56, enam orang awak KK merumuskan beberapa rencana untuk tahun 2009:

1. Pertemuan KK pertama akan diadakan pada tanggal 25 Januari jam 15.00-17.00 di Tobucil. Temanya digabung baik diskusi sosio-kultural maupun apresiasi bersama. Pematerinya sementara ditunjuk Bilawa A. Respati. Namun akan dikonfirmasikan kemudian beserta topiknya. Sementara pertemuan kedua akan dilakukan pada 8 Februari dengan pemateri A.K. Patra Suwanda. Topiknya adalah Musik dan Masyarakat. Live music ataupun pemutaran CD akan menjadi hal yang kemudian diapresiasi bersama

2. KK juga memantapkan ide pembentukan ensembel gitar Bandung yang terbuka untuk umum. Dinamai dengan Ririungan Gitar Bandung (RGB). Persyaratannya adalah sebagai berikut:
a. Mampu membaca not balok dengan baik dan benar
b. Mampu memainkan gitar akustik nilon
c. Mampu berkomitmen
d. Mampu bekerjasama dalam tim
e. Mau belajar
f. Mempunyai gitar akustik nilon sendiri
Pendaftaran gratis dilakukan dengan cara mengirimkan biodata dan CV singkat ke klabklassik@yahoo.com. Pendaftar nantinya akan diseleksi dengan materi sebagai berikut:
a. Sight reading
b. Sight playing dengan format duet
c. Lagu wajib: Romance de Amor (trad. Spanyol)
d. Wawancara
Seleksi dilakukan tanggal 25 Januari di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 pukul 13.00. (Jam bisa berubah tergantung pada jumlah pendaftar)

3. KK akan melakukan road show ke Cahaya Bangsa Classical School di Kota Baru Parahyangan pada pertengahan Februari 2009. Ini tentu saja pengalaman baru untuk KK. Ketika edukasi menjadi salah satu kampanye yang rajin diangkat oleh KK, maka undangan langsung ke “markas edukasi” adalah semacam berkah tersendiri.

4. Penyelenggaraan konser tidak lagi menjadi agenda prioritas KK di 2009. Tapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Resital D’Java String Quartet (kuartet gesek dari Yogyakarta), resital Tiga Gitar (Bilawa A. Respati, Syarif Maulana, Widjaja Martokusumo), dan resital Fauzie Wiriadisastra adalah bagian dari rencana klab tahun ini. Ini belum termasuk dari kerjasama KK dengan Classicorp Indonesia dan Guitar Maestros yang rajin menggelar konser karena sifatnya yang memang Event Organizer.

Demikian beberapa rencana KK di tahun 2009. Harapan memang cuma harapan, di tengah jalan terjadi banyak penyesuaian barangkali adalah lumrah. Selama hal itu tidak keluar dari koridor visi dan misi KK. Berbagai partisipasi dari teman-teman atas berbagai kegiatan tersebut akan KK sambut dengan tangan terbuka. Selamat tahun baru 2009, selamat membumbungkan harapan demi harapan. Viva la musica. =)

J.S. Bach, Raksasa Barok dari Eisenach


Johann Sebastian Bach adalah organis dan komposer legendaris asal Jerman. Karya-karyanya abadi dan masih terus dimainkan hingga saat ini. Komposisi-komposisinya mewakili suatu era bernama barok, periode dimana masyarakatnya sangat mengagungkan seni dan keindahan. Di sisi lain, rakyat pada jaman barok juga akrab dengan kemewahan dan “pernak-pernik”. Hal tersebut nampak pada lukisan-lukisan dari jaman tersebut. Umumnya, masyarakatnya mengenakan wig dan pakaian yang dihinggapi berbagai macam aksesoris. Musik yang dilahirkan pada era barok cenderung kompleks dan berat. Prinsip kontrapung melekat erat. Sebaliknya, dinamika justru menjadi hal yang asing.
Seperti orang besar lainnya, Bach mesti mengarungi badai prahara dalam perjalanan hidupnya. Pada jaman itu, musisi bukan dianggap sebagai seniman bebas, melainkan semacam abdi raja atau gereja. Untuk itu, mereka membuat musik berdasarkan pesanan, bukan atas kemauannya sendiri. Bach yang terkenal keras kepala dan berkepribadian baja, seringkali berselisih pendapat dengan majikan-majikannya. Karena itu, ia tak pernah betah tinggal di satu tempat saja. Berbagai kota di Jerman ia lakoni demi memenuhi panggilan jiwanya, yang ternyata lebih condong ke sisi religius. Pada banyak karya Bach, kandungan nilai Ketuhanan terbilang menonjol walaupun tak jarang komposisi-komposisi sekulernya juga menggugah. Perjalanan karir Bach adalah inspirasi, kepribadiannya merupakan teladan, dan musiknya adalah “harta karun yang tak ternilai”.

Eisenach

Johann Sebastian Bach lahir di Eisenach, Jerman pada 21 Maret 1685. Bach yang dibaptis dua hari setelah kelahirannya di Gereja St. Georgia merupakan putra kedelapan dari pasangan Johann Ambrosius Bach (1645-1695) dan Maria Elisabeth Lammerhirt (1644-1694). Bach kehilangan orangtuanya hanya dalam rentang waktu satu tahun. Ibundanya meninggal di tahun 1694, dan kemudian ayahnya menyusul setahun kemudian. Dengan usianya yang baru sepuluh pada 1695, Bach beserta kakaknya, Johann Jacob, pergi untuk tinggal dengan kakaknya, Johann Cristoph, yang bekerja sebagai organis gereja di kota Ohrdruf.

Ohrdurf
Di Ohrdurf, Bach bertemu Johann Christoph yang kala itu bersama istrinya tengah bersiap untuk merayakan kelahiran anaknya yang pertama. Walaupun dari segi finansial keluarga Johann Christoph akan terbebani dengan hadirnya dua anggota keluarga baru sekaligus, namun ia tetap menyambut Bach dengan baik. Dari Johann Christoph ini Bach diajari keyboard untuk pertama kalinya. Walaupun Johann Christoph termasuk musisi yang baik, namun hingga akhir hayatnya ia tidak setenar adiknya. Di kota tersebut Bach belajar bahasa Latin dan aktif di paduan suara sekolahnya. Setelah dianggap mandiri dan dewasa, Bach meninggalkan Ohrdurf dan berangkat ke Lüneburg pada 15 Maret 1700 beserta teman sekolahnya, Georg Erdmann.

Lüneburg
Keberangkatan Bach ke Lüneburg sebenarnya didorong juga oleh guru teologinya, Herda. Herda yang mengagumi kemampuan vokal Bach, memberikan beasiswa baginya untuk bersekolah di Michaelisscule atau Sekolah St. Michael. Di Michaelisscule, siswa miskin seperti Bach dan Erdmann bisa mendapatkan hak-hak yang sama dengan siswa kaya. Syaratnya, mereka harus bisa menyanyi di paduan suara dengan baik, serta mampu memenuhi jadwal panggilan di Hari Minggu untuk mengisi acara-acara pernikahan, pemakaman, dan festival. Namun sayang, syarat berikutnya sungguh berat bagi Bach. Michaelisscule mengharuskan siswa miskin tersebut memiliki suara trebel yang baik. Padahal, sebentar lagi Bach akan mengalami masa pubertas yang berpengaruh terhadap pita suaranya. Beruntung, sebelum Bach benar-benar kehilangan suara soprannya, ia sudah mampu mengumpulkan uang untuk menghidupi perjalanan selanjutnya. Sedangkan temannya, Erdmann, mampu bernyanyi sopran hingga usianya 18 tahun.
Walaupun karirnya di Kota Lüneburg tergolong singkat, namun Bach menemukan pelajaran berharga. Di kota tersebut, terdapat perpustakaan yang sangat dikagumi Bach. Perpustakaan yang dibuat tahun 1555 itu memuat lebih dari 1000 manuskrip yang ditulis oleh 180 komposer seperti Buxtehude, Carissimi, Hammerschmidt, Kerll, Lassus, Monteverdi, Schutz, Scheidt, Schein dan Tunder. Setiap ada kesempatan, Bach selalu membaca dan menyalin setiap manuskrip tersebut dengan teliti. Bach diketahui juga sebagai pribadi yang gemar membaca dan memiliki daya ingat yang kuat. Selain itu, Sekolah St. Michael juga memiliki Ritteracademie, semacam institusi kecil tempat belajar bahasa dan kebudayaan Prancis. Bagi Bach, setiap kunjungannya ke Ritteracademie dimanfaatkannya dengan baik untuk mendengarkan musik-musik Prancis lewat penampilan reguler sebuah grup yang dipimpin oleh Duke Wilhelm of Brunswick-Lüneburg. Musik-musik Prancis tersebut sedikit banyak memiliki pengaruh dalam karya-karyanya kemudian. Bach juga memiliki keuntungan dengan kedekatan jarak antara Lüneburg dan Kota Hamburg. Di kota tersebut tinggal Johann Ernst, sepupu dari Bach. Kedua kota yang hanya berjarak 30 mil, memungkinkan Bach untuk sering mengunjungi Johann Ernst. Johann Ernst kemudian mengenalkannya pada organis terkemuka di kota tersebut, Georg Bohm dan Jan Adams Reincken. Kedekatan dengan Reincken berlanjut hingga kematiannya di umur 99. Sedangkan hubungannya dengan Bohm membuat Bach terinspirasi untuk menelurkan dua karya variasi koral yaitu Christ der du bist der helle Tag dan O Gott du Frommer Gott. Lewat dua karya itu Bach mulai mengembangkan kemampuannya sebagai komposer handal.

Weimar I

Setelah lulus dari sekolahnya di Lüneburg, tepatnya tahun 1703, Bach berangkat ke Kota Weimar. Di kota ini, Bach yang juga seorang protestan yang taat itu untuk pertama kalinya menjalani pekerjaan sebagai musisi profesional. Ia direkrut oleh Duke Johann Ernst of Saxony-Weimar-Eisenach untuk menjadi violinis di gerejanya. Bach yang lebih tertarik kepada organ, merasa terganggu dengan pekerjaannya sebagai violinis. Terlebih lagi, di jaman itu musisi memiliki derajat hampir setara dengan pesuruh. Mereka mendapat perlakuan semena-mena dengan gaji yang seadanya. Tapi untuk Bach, seorang pemuda 17 tahun yang sebatang kara, tawaran tersebut terpaksa ia terima untuk menyambung kehidupannya. Beruntung, Bach tidak berlama-lama menjalani kehidupan yang berat tersebut. Tidak sampai setahun di Weimar, Bach mendapat tawaran untuk menjadi organis di Kota Arnstadt. Tanpa pikir panjang, Bach menerimanya dan meninggalkan kehidupan yang kelam di Weimar.

Arnstadt

Di Kota Arnstadt, Bach menjadi organis di Gereja St. Boniface dengan bayaran dua kali lipat dari yang pernah ia dapatkan di Weimar. Namun ternyata karirnya tidak semulus yang ia duga. Bach yang hanya terobsesi dengan organ, tidak mengira bahwa ia diharuskan mengurusi paduan suara juga. Bahkan kekesalannya ini berbuntut pada perkelahian dengan salah seorang musisi gereja di musim panas 1705. Pada musim gugur di tahun yang sama, Bach meminta ijin pergi ke Kota Lubeck untuk bertemu organis mahsyur yang terkenal dengan Abendmusiken-nya, Dexter Buxtehude. Lubeck yang berjarak 200 mil dari Arnstadt ditempuh Bach dengan berjalan kaki selama 10 hari. Walaupun Buxtehude sangat terbuka pada Bach, namun ia mengajukan syarat yang membuat Bach harus berpikir ulang. Buxtehude memiliki seorang anak perempuan berusia 30 tahun yang belum menikah. Apabila terdapat pria yang dianggap Buxtehude memiliki kemampuan musik istimewa, maka ia berhak menikahi anaknya. Walaupun Bach termasuk dalam hitungan Buxtehude, namun ia menolaknya dengan halus. Hal serupa juga pernah dialami Georg Friedrich Handel beberapa tahun sebelumnya, dan jawabannya pun sama dengan Bach. Bach kembali lagi ke Arnstadt di awal tahun 1706 dan melanjutkan pekerjaan lamanya yang sempat tertunda.
Di Kota Arnstadt ini Bach berhasil menunjukkan produktivitasnya dalam berkarya. Karya paling terkenal yang dihasilkan di Arnstadt adalah Capriccio sopra la lontananza del suo fratello dilettissimo (Caprice untuk Keberangkatan Saudara Laki-Lakinya yang Tercinta), BWV 992 untuk harpsichord. Karya tersebut ditujukan sebagai perpisahan bagi Johann Jacob, saudara laki-laki Bach yang bekerja sebagai pemain oboe pada tentara Raja Swedia, Charles XII. Karya koral Wie schön leuchtet der Morgenstern, BWV 739 dan versi awal dari Prelude and Fugue in G Minor, BWV 535a adalah contoh karya-karya lain yang dihasilkan di Arnstadt. Walaupun tidak terlalu banyak, namun kemampuan Bach sebagai komposer yang produktif mulai terlihat.

Mühlhausen

Akibat hubungan Bach dengan gereja yang sudah mulai kurang akrab, ia pergi meninggalkan Arnstadt pada tahun 1707. Persinggahan berikutnya adalah Kota Mühlhausen, dimana Bach ditawari sebagai organis di Gereja St. Blasius. Hal itu berkaitan dengan meninggalnya organis gereja tersebut, Johann Georg Ahle pada 2 Desember 1706. Di awal kedatangannya, Bach menjalani kehidupan di Mühlhausen dengan lancar. Ia kemudian jatuh cinta pada sepupunya sendiri yaitu Maria Barbara. Pada 17 Oktober 1707, Johann Sebastian Bach dan Maria Barbara menikah di sebuah gereja di Kota Dornheim, tidak jauh dari Arnstadt.
Di Kota Mühlhausen, Bach memiliki minat khusus pada vokal gereja. Ketertarikan ini diduga akibat pengaruh Abendmusiken dari Buxtehude. Gereja St. Blasius juga memiliki perpustakaan raksasa dimana Bach sering mengunjunginya untuk mendapatkan literatur musik-musik tradisional gereja. Di kota ini pula, Bach membuat karya kantata-nya yang pertama yaitu Gott ist mein König (God is My King), BWV 71. Selain itu, ia juga menghasilkan beberapa karya organ yang terkenal seperti Toccata and Fugue in D Minor, BWV 565, Prelude and Fugue in D Major, BWV 532 dan Passacaglia in C Minor, BWV 582. Namun ternyata Bach kembali dirundung masalah. Bach yang taat sebagai protestan, berseberangan pendapat mengenai musiknya dengan kaum gereja penganut pietisme. Buntutnya, di tahun 1708 Bach -yang terkenal berkepribadian baja- angkat kaki dari Mühlhausen dan kembali ke Weimar. Keputusan Bach yang kala itu berusia 23 tahun dianggap sangat tepat. Comeback-nya ke Kota Weimar membawa ia pada awal masa keemasannya.

Weimar II
Weimar yang berjarak 40 mil ke arah utara dari Mühlhausen adalah kota yang memberikan perubahan signifikan baik dari segi keuangan maupun karir Bach. Kedatangan Bach ke Weimar adalah yang kedua kalinya setelah tahun 1703 ia menginjakkan kaki sebagai violinis yang bekerja pada Duke Johann Ernst. Weimar, kala itu sedang terjadi perpecahan dimana dua adipati (duke) sekaligus memimpin kota tersebut yaitu Wilhelm Ernst (1662-1728) dan Ernst August (1688-1748). Wilhelm adalah penguasa kelompok Lutheran, ia merekrut Bach untuk datang ke Weimar sebagai organis dan anggota orkestra. Wilhelm juga memberi kebebasan bagi Bach untuk berkarya dan mengeksplorasi kemampuan bermain organnya –hal yang tidak ia dapatkan di kota-kota sebelumnya-. Namun di sisi lain, Bach juga berteman baik dengan adipati rivalnya yaitu Ernst August dan adiknya, Johann Ernst Jr. (1696-1715). Johann Ernst Jr. yang meninggal dalam usia 19 tahun telah banyak membantu Bach. Ia membawakan Bach beragam musik Italia dari Amsterdam tahun 1713 termasuk koleksi karya Vivaldi seperti L’Estro armonico. Sejak itu, Bach siap mengembangkan kombinasi jenius antara kontrapung dengan pengaruh musik Jerman Utara dan Prancis, serta tambahan harmonisasi ala Vivaldi.
Untuk ukuran seseorang yang baru berusia 23 tahun, Bach dianggap sudah makmur dan bahagia. Dengan gaji cukup, pasangan Bach-Barbara dikaruniai tiga orang anak dalam kurun waktu enam tahun yaitu Catharina Dorothea (lahir 1708), Wilhelm Friedemann (lahir 22 November 1710) dan Carl Philipp Emmanuel (8 Maret 1714). Dua nama terakhir ini kemudian meneruskan jejak sang ayah menjadi komposer handal. Selain memperoleh sebutan sebagai “Organis Termahsyur di Weimar”, Bach juga mulai kebanjiran orang-orang yang ingin berguru dengannya seperti Johann Tobias Krebs dan J.M. Schubart. Di Kota Weimar, Bach menghasilkan banyak karya kantata. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh keharusan pekerjaannya untuk menulis kantata minimal satu buah per bulannya. BWV 132, 152, 155, 80a, 31, 165, 185, 262, 162, dan 153 adalah contoh sebagian kecil kantata yang ia produksi di Weimar. Di kota tersebut pula, Bach aktif menulis komposisi-komposisi organ dan harpsichord. Orgel Buchlein dan Well Tempered Clavier edisi pertama adalah contohnya.
Amat disayangkan, perjalanan karir Bach yang gemilang di Weimar mesti berakhir dengan pahit. Kedekatannya dengan adipati Ernst August membuat penguasa Weimar satunya, Wilhelm Ernst berang. Wilhelm Ernst kemudian menutup segala akses musik antara Bach dan Ernst August. Bach yang keras kepala kemudian memboikot dengan menolak untuk memproduksi kantata lagi bagi Wilhelm Ernst sepanjang tahun itu (1716). Beruntung, penguasa Kota Köthen bernama Leopold von Anhalt-Köthen tertarik untuk merekrut Bach sebagai Capellmeister di kotanya. Setelah sempat mendekam di penjara selama satu bulan (6 November-2 Desember 1717) karena pembangkangan, Bach akhirnya pergi ke Cothen memenuhi panggilan Leopold.

Köthen
Bach memulai kerjanya di Köthen sebagai Capellmeister pada bulan Desember 1717. Majikannya yang baru adalah Pangeran Leopold von Anhal-Köthen (1694-1728), pemuda berusia 23 tahun yang baik hati, agak feminin, dan sangat mengagumi Bach. Pangeran Leopold juga seorang pemain musik, ia memainkan violin, viola de gamba, serta clavier. Di Köthen ini, Bach memulai produktifitasnya dalam menulis komposisi-komposisi untuk musik chamber. Köthen dianggap sebagai kota dimana Bach mengalami masa paling gemilang. Dalam sekejap, musik-musik Bach dicintai warga setempat. Mereka rela seharian menyaksikan dari dekat bagaimana Bach secara ajaib menghasilkan musik-musik tersebut yang secara ajaib mampu keluar dari benaknya dengan cepat. Tentu saja pengaruhnya sangat besar bagi keuangan Bach, yang sering mendapat uang ekstra dari sang pangeran. Kebahagiaan Bach nampak berjalan sebagaimana mestinya, hingga ia kembali menemukan prahara.
Maria Barbara, sang istri, meninggal dunia mendadak dan meninggalkan Bach empat orang anak yang masih kecil yaitu Catherina Dorohea (12 tahun), Wilhelm Friedemann (10), Carl Philipp Emanuel (6) dan Johann Gottfried Bernhard (5). Kepergian Barbara untuk selamanya sempat membuat Bach bimbang. Ia tidak bisa mengurusi keempat anaknya sendirian di tengah karirnya yang sedang gemilang. Pada jaman itu, posisi wanita masih sangat rendah. Mereka hanya dianggap sebagai pendamping atau pengasuh anak, belum memiliki hak untuk dominan di dunia kerja maupun pemerintahan. Atas dasar itu, Bach berusaha mencari wanita baru secepat mungkin yang mau diperistri dan rela mengurusi keempat anaknya. 18 bulan setelah kematian tragis istrinya, Bach menikah dengan Anna Magdalena Wilcken, seorang soprano, pada 3 Desember 1721. Bach kala itu berusia 35 tahun, sedangkan Magdalena baru 19 tahun. Sebelumnya, mereka telah bekerja bersama selama kurang lebih satu tahun.
Kemunduran karir Bach berlangsung tak lama setelah ia menikah. Seminggu kemudian, Pangeran Leopold menikahi Friederica Henrietta von Anhalt-Bernburg yang merupakan seorang amusa (anti-musical persona), yang berarti “pribadi anti-musik”. Sejak saat itu, pikiran Pangeran Leopold tidak lagi tertuju sepenuhnya pada musik. Ia lebih senang mengalokasikan anggaran negara untuk membangun militer. Perubahan sifat ini membuat Bach gerah. Bach yang sebelumnya begitu menyukai Pangeran Leopold, mulai melamar ke berbagai gereja di kota-kota lainnya. Bach juga tidak henti-hentinya menyalahkan perbuatan istri Sang Pangeran dalam “mencuci otak” suaminya. Dengan perasaan kecewa, Bach sekeluarga pindah ke Leipzig pada tahun 1723.
Kothen dianggap sebagai kota yang menjadi saksi atas masa keemasan Bach. Di sana, ia menghasilkan karya-karya gemilang yang sebagian besar diantaranya ditujukan untuk musik chamber. Komposisinya yang mahsyur antara lain enam nomor Brandenburg Concertos, BWV 1046 dan 1051. Selain itu, Bach juga menghasilkan komposisi masterpiece untuk solo instrumen seperti sonata dan partita untuk violin (BWV 1001-1006) serta suita untuk cello (BWV 1007-1012). Violin Concertos in A Minor (BWV 1041), E Major (BWV 1042), dan The Double Concert in D Minor (BWV 1043) juga diciptakan pada periode Kothen. Komposisi harpsichord yang dahsyat juga ditulis oleh Bach dalam edisi lengkap Well Tempered Clavier jilid 1, BWV 846-879 yang berisi 24 prelude dan fuga. Kedekatannya dengan Pangeran Leopold di Kothen membuat Bach lebih banyak membuat musik-musik sekuler ketimbang gereja.

Leipzig

Kedatangannya ke Leipzig pada 1723 disambut dengan jabatan yang menggiurkan. Bach menjadi direktur musik di Gereja Lutheran St. Thomas. Bagi Bach, ini kali pertama baginya duduk sebagai pejabat pemerintahan. Posisi tersebut otomatis mendekatkan Bach pada kaum aristokrat. Secara umum, kewajiban Bach di Leipzig adalah sebagai instruktur bagi siswa-siswi St. Thomas dalam bidang menyanyi dan bahasa latin. Selain itu, ia juga mesti menyajikan musik mingguan pada gereja selain St. Thomas, yaitu St. Nicholas. Setelah lebih dari enam tahun mengomposisi kantata dan menciptakan banyak repertoar bagi kedua gereja tersebut, Bach mencoba melebarkan sayapnya ke luar gereja. Pada Maret 1729, Bach menjadi direktur bagi Collegium Musicum, sebuah kelompok ensembel sekuler asuhan kawannya yang juga komposer hebat, Georg Philipp Telemann. Collegium Musicum menjadi hal yang terbilang baru bagi Bach yang hampir sepanjang hidupnya berkutat dengan gereja. Kelompok tersebut tampil di kerumunan kota atau kedai-kedai kopi dimana pemain-pemainnya banyak diambil dari para mahasiswa atau masyarakat umum, berbeda dengan ensembel gereja yang personilnya merupakaan umat gereja setempat. Pada era 1730 hingga 1740 adalah periode dimana Bach banyak menulis untuk Collegium Musicum, diantaranya beberapa bagian dari Clavier-Ubung (latihan keyboard) dan banyak karya-karya untuk violin dan harpsichord dalam format concerto.
Dalam periode tersebut, Bach juga menyelesaikan karyanya yang terkenal yaitu Mass in B Minor. Pada 1735, Bach mempersembahkan komposisi agungnya itu pada Frederick August II sebagai tanda terima kasih karena telah merekrut Bach menjadi seorang komposer istana. Di Leipzig ini, Bach telah menjelma menjadi sosok yang terkenal di kalangan istana, memiliki kekuasaan, dan menjadi anggota dewan kota tersebut. Ironisnya, Mass in B Minor tidak pernah ditampilkan hingga akhir hayat sang komposer. Salah satu karya koral terbaik sepanjang masa itu baru ditampilkan kurang lebih satu abad kemudian oleh komposer hebat lainnya, Felix Mendelssohn. Pada 1747, Bach mendapat tantangan menarik dari Frederick Agung di istananya di Postdam. Sang raja kala itu membuat sebuah tema dan Bach diminta untuk membuat variasinya dengan gaya fuga. Hebatnya, Bach mampu membuat enam variasi fuga dari tema yang diberikan sang raja. Sebulan sebelum kematiannya, Bach menulis sebuah kumpulan karya berjudul Art of Fugue. Isinya adalah 18 variasi fuga dan cannon yang diambil dari tema-tema yang sederhana. Sayangnya, karya tersebut tidak sempat diselesaikan Bach. Karya yang paling akhir ditulis Bach adalah Vor deinen Thron tret ich hiermit yang ditulis untuk anak angkatnya, Johann Cristoph Altnikol. Karya yang ditulis di ranjang kematiannya itu biasa ditampilkan setelah fuga ke-14 dari Art of Fugue sebagai penyempurna komposisi yang unfinished tersebut. Bach meninggal di Leipzig, 28 Juli 1750 dalam usia 65 tahun.

Bach yang menulis lebih dari 1000 karya selama hidupnya itu meninggal dalam sebuah penyesalan yang mendalam. Ia tidak pernah bertemu ikon jaman Barok lainnya, Georg Friedrich Handel. Padahal, Handel lahir di tahun yang sama dengan Bach. Namun dari segala perjalanan yang dilalui baik oleh Bach maupun Handel, nasib tidak mempertemukan keduanya. Gaya kontrapung, harmoni, dan fuganya yang khas menjadi role model yang terus dipakai di jaman-jaman berikutnya. Mozart, Beethoven, Schumann dan Mendelssohn dengan terang-terangan mengakui pengaruh Bach dalam musik-musik mereka. Beethoven bahkan menyebut Bach sebagai Urvater der Harmonie atau Godfather of Harmony.

A.K. Patra Suwanda, Pembawa Panji di Medan Perang

Giatnya KlabKlassik (KK) mengampanyekan musik klasik mesti rajin melakukan auto-kritik dan keterbukaan, bisa jadi cuma koar-koar belaka, jika KK tak mengenal A.K. Patra Suwanda. Lajang berusia 29 tahun yang senang dipanggil Aka ini adalah salah satu dari segelintir aktivis KK, yang mana latar belakangnya tak seberapa akrab dengan musik klasik. Sejak kecil, Aka biasa menggeluti dunia visual, mulai dari menggambar hingga rancang pentas. Namun “ketidaknyambungan”-nya itu justru menjadi berkah bagi KK. Bukti sederhananya ada pada logo KK di pembuka blog ini. Ketika sebagian besar awak KK sibuk menggeluti partitur dan interpretasi permainan, Aka bak pembawa panji di medan perang. Ia tak menjadi prajurit pembunuh lawan atau perancang strategi mematikan, tapi keberadaannya dibutuhkan untuk melipatgandakan semangat.
Berbagai kegiatan KK menjadi lebih manis dan bernilai seni lewat kreativitas konseptualnya. Barangkali inilah wujud dari auto-kritik dan keterbukaan. Ketika eksklusivitas ditanggalkan dan berbagai latar belakang saling berangkulan. Selain logo, Aka juga punya banyak andil pada desain publikasi kegiatan klab (Classical Guitar Fiesta 2008 dan Resital Tiga Gitar) plus dokumentasi serta dekorasi pentas. Berikut petikan wawancara dengan alumni Jurusan Seni Rupa pertunjukkan spesialisasi rancang pentas STSI Bandung yang mulai berinteraksi dengan KK pada pertengahan tahun 2007 ini. Obrolan dilakukan Selasa sore di Tobucil, Jl. Aceh no. 56.

KK: Assalamualaikum, Kang Aka. Lagi sibuk apa nih belakangan?

Aka: Waalaikumsalam. Yah begitu aja, intinya praktisi pertunjukan. Tapi sekarang-sekarang lagi senang menggambar komik.

KK: Kenapa sih menyenangi musik, padahal kan latar belakangnya menggambar?

Aka: Selain untuk memenuhi kebutuhan batin. Musik juga bisa sebagai wahana untuk bergaul dan belajar.

KK: Apa sih bedanya menggambar dan mendengarkan musik?
Aka:Ketimbang membedakan, saya lebih senang untuk mempersamakannya: keduanya adalah hal yang tidak bisa dilepaskan seumur hidup saya. Menggambar bagi saya, mesti sambil mendengarkan musik. Musik menstimulus mewujudkan gambar-gambar yang di imajinasikan.

KK: Pernah terlibat apa saja di bidang musik?
Aka: Saya mengawali aktivitas di tahun 1997 kala menjadi panitia parade band di ruang lingkup kecamatan. Namun saya mulai serius dari tahun 1999, saat itu saya menyelenggarakan Gelar Kreasi Musik, semacam parade band dari berbagai genre. Banyaknya band yang tampil membuat durasi acara menjadi cukup panjang, dari jam sembilan pagi sampai dua belas malam. Animo yang sangat baik membuat saya ketagihan. Tahun 2001, acara tersebut digelar kembali. Kali ini sponsor rokok ambil bagian. Demikian juga tahun 2003, yang dibuat lebih eksklusif dan teratur. Pada tahun 2005, saya mulai menggagas musik yang lebih menantang, unik dan eksotis. Akhirnya jatuh pilihan pada musik klasik. Pada dasarnya, dari kecil saya sudah menyenangi musik klasik. Meski demikian, realisasinya baru bisa diwujudkan pada tahun 2007 dengan nama Bandung Spanish Guitar Festival (BSGF). Di musik klasik, ternyata saya menemukan sesuatu yang unik, punya makna yang lebih luhur dan sarat nilai-nilai estetis.

KK: Ada rencana bikin event lagi dalam waktu dekat?

Aka: Insya Allah ada. Kita lagi dalam tahap brainstorming dan persiapan-persiapan lainnya untuk even musik klasik. Ada rencana untuk menggelar BSGF kembali. Itu juga pertengahan tahun 2009. Karena Gelar Kreasi Musik baru akan berlangsung 2010.

KK: Bisa memainkan alat musik?
Aka: Pertanyaan yang sulit dijawab he he he..Di musik, saya lebih senang diposisikan sebagai apresiator dan pendengar setia. Saya juga memiliki obsesi untuk menciptakan ruang-ruang pertunjukkan musik sesuai dengan basic saya di rancang pentas.

KK: Terus, kenapa dong mau aktif di KlabKlassik?

Aka: Ketertarikan terhadap musik klasik, personilnya tidak kaku, banyak tipe-tipe orang petarung dalam penyelenggaraan even. Itulah yang menarik buat saya.

KK: Musik di Bandung itu sekarang seperti apa?

Aka: Dalam kurun waktu 10 tahun, dari yang saya perhatikan, perkembangannya lumayan bagus. Untuk urusan skill dan trend setting, Bandung masih di jajaran depan. Penonton di Bandung juga sekarang lebih tertib, terutama sejak tragedi AACC. Meski demikian, banyak yang harus diperbaiki, terutama dari sisi kreativitas, penciptaan lagu, visualisasi kostum artis dan lain-lain.

KK: Terakhir, Apa harapan A.K. untuk musik di Bandung berikutnya, terutama musik klasik?

Aka: Saya berharap ada wahana apresiasi untuk berbagai musik, karena di Bandung banyak orang-orang berbakat yang berasal dari latar belakang musik yang berbeda-beda. Meskipun sekarang indie label sedang marak, namun bagi saya belum cukup. Untuk musik klasik, memang masih ada pandangan tentang eksklusivitas, segmented, dan terkesan konservatif. Solusinya, menurut saya, harus banyak even musik klasik yang mampu merangkul atau menarik hati publik pencinta musik yang lebih luas. Karena pada dasarnya, di Bandung masyarakatnya mencintai musik, apalagi kalau musik klasik disajikan secara terkonsep untuk khalayak, saya kira bisa menjadi hal yang sangat menarik dan mendidik.

KK: Wah wah menarik juga ya, pertanyaan yang tadi bukan yang terakhir deh. Lantas, bagaimana pendapat A.K. tentang gedung-gedung pertunjukkan musik klasik di Bandung?

Aka: Tentang gedung, di Bandung boleh dibilang masih terbatas dan minim kualitas. Ruang akustiknya belum memadai, begitu juga dari sisi artistik penunjang. Kalaupun ada, harganya sangat mahal. Perlu memaksimalkan ruang-ruang alternatif seperti Tobucil supaya bisa dibuat pementasan musik klasik. Artinya, musik klasik tidak perlu identik dengan gedung-gedung besar dan megah. Musik klasik harus membumi dan merakyat, karena kita beda dengan Eropa. Tapi untuk wawasan dan skill, kita harus berani lebih.

KK: Oke, yang ini beneran pertanyaan terakhir nih. Menurut Kang Aka, jika masyarakat sebuah kota mempunyai citarasa seni yang tinggi, apa yang terjadi?
Aka: Kota itu bisa disebut kota berperadaban dan berbudaya tinggi. Terhindar lebih jauh dari sifat-sifat destruktif dan masyarakatnya cenderung lebih arif dan berjiwa estetis.

Aka oh Aka Patra Suwanda, sang pembawa panji di medan laga.
Tetaplah berjiwa militan, mumpung tubuh ini masih kuat menanggung beban.
Karena jika nanti tua menghadang, tubuh hanya sebatas tempat berbagi pikiran.