Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, January 04, 2009

A.K. Patra Suwanda, Pembawa Panji di Medan Perang

Giatnya KlabKlassik (KK) mengampanyekan musik klasik mesti rajin melakukan auto-kritik dan keterbukaan, bisa jadi cuma koar-koar belaka, jika KK tak mengenal A.K. Patra Suwanda. Lajang berusia 29 tahun yang senang dipanggil Aka ini adalah salah satu dari segelintir aktivis KK, yang mana latar belakangnya tak seberapa akrab dengan musik klasik. Sejak kecil, Aka biasa menggeluti dunia visual, mulai dari menggambar hingga rancang pentas. Namun “ketidaknyambungan”-nya itu justru menjadi berkah bagi KK. Bukti sederhananya ada pada logo KK di pembuka blog ini. Ketika sebagian besar awak KK sibuk menggeluti partitur dan interpretasi permainan, Aka bak pembawa panji di medan perang. Ia tak menjadi prajurit pembunuh lawan atau perancang strategi mematikan, tapi keberadaannya dibutuhkan untuk melipatgandakan semangat.
Berbagai kegiatan KK menjadi lebih manis dan bernilai seni lewat kreativitas konseptualnya. Barangkali inilah wujud dari auto-kritik dan keterbukaan. Ketika eksklusivitas ditanggalkan dan berbagai latar belakang saling berangkulan. Selain logo, Aka juga punya banyak andil pada desain publikasi kegiatan klab (Classical Guitar Fiesta 2008 dan Resital Tiga Gitar) plus dokumentasi serta dekorasi pentas. Berikut petikan wawancara dengan alumni Jurusan Seni Rupa pertunjukkan spesialisasi rancang pentas STSI Bandung yang mulai berinteraksi dengan KK pada pertengahan tahun 2007 ini. Obrolan dilakukan Selasa sore di Tobucil, Jl. Aceh no. 56.

KK: Assalamualaikum, Kang Aka. Lagi sibuk apa nih belakangan?

Aka: Waalaikumsalam. Yah begitu aja, intinya praktisi pertunjukan. Tapi sekarang-sekarang lagi senang menggambar komik.

KK: Kenapa sih menyenangi musik, padahal kan latar belakangnya menggambar?

Aka: Selain untuk memenuhi kebutuhan batin. Musik juga bisa sebagai wahana untuk bergaul dan belajar.

KK: Apa sih bedanya menggambar dan mendengarkan musik?
Aka:Ketimbang membedakan, saya lebih senang untuk mempersamakannya: keduanya adalah hal yang tidak bisa dilepaskan seumur hidup saya. Menggambar bagi saya, mesti sambil mendengarkan musik. Musik menstimulus mewujudkan gambar-gambar yang di imajinasikan.

KK: Pernah terlibat apa saja di bidang musik?
Aka: Saya mengawali aktivitas di tahun 1997 kala menjadi panitia parade band di ruang lingkup kecamatan. Namun saya mulai serius dari tahun 1999, saat itu saya menyelenggarakan Gelar Kreasi Musik, semacam parade band dari berbagai genre. Banyaknya band yang tampil membuat durasi acara menjadi cukup panjang, dari jam sembilan pagi sampai dua belas malam. Animo yang sangat baik membuat saya ketagihan. Tahun 2001, acara tersebut digelar kembali. Kali ini sponsor rokok ambil bagian. Demikian juga tahun 2003, yang dibuat lebih eksklusif dan teratur. Pada tahun 2005, saya mulai menggagas musik yang lebih menantang, unik dan eksotis. Akhirnya jatuh pilihan pada musik klasik. Pada dasarnya, dari kecil saya sudah menyenangi musik klasik. Meski demikian, realisasinya baru bisa diwujudkan pada tahun 2007 dengan nama Bandung Spanish Guitar Festival (BSGF). Di musik klasik, ternyata saya menemukan sesuatu yang unik, punya makna yang lebih luhur dan sarat nilai-nilai estetis.

KK: Ada rencana bikin event lagi dalam waktu dekat?

Aka: Insya Allah ada. Kita lagi dalam tahap brainstorming dan persiapan-persiapan lainnya untuk even musik klasik. Ada rencana untuk menggelar BSGF kembali. Itu juga pertengahan tahun 2009. Karena Gelar Kreasi Musik baru akan berlangsung 2010.

KK: Bisa memainkan alat musik?
Aka: Pertanyaan yang sulit dijawab he he he..Di musik, saya lebih senang diposisikan sebagai apresiator dan pendengar setia. Saya juga memiliki obsesi untuk menciptakan ruang-ruang pertunjukkan musik sesuai dengan basic saya di rancang pentas.

KK: Terus, kenapa dong mau aktif di KlabKlassik?

Aka: Ketertarikan terhadap musik klasik, personilnya tidak kaku, banyak tipe-tipe orang petarung dalam penyelenggaraan even. Itulah yang menarik buat saya.

KK: Musik di Bandung itu sekarang seperti apa?

Aka: Dalam kurun waktu 10 tahun, dari yang saya perhatikan, perkembangannya lumayan bagus. Untuk urusan skill dan trend setting, Bandung masih di jajaran depan. Penonton di Bandung juga sekarang lebih tertib, terutama sejak tragedi AACC. Meski demikian, banyak yang harus diperbaiki, terutama dari sisi kreativitas, penciptaan lagu, visualisasi kostum artis dan lain-lain.

KK: Terakhir, Apa harapan A.K. untuk musik di Bandung berikutnya, terutama musik klasik?

Aka: Saya berharap ada wahana apresiasi untuk berbagai musik, karena di Bandung banyak orang-orang berbakat yang berasal dari latar belakang musik yang berbeda-beda. Meskipun sekarang indie label sedang marak, namun bagi saya belum cukup. Untuk musik klasik, memang masih ada pandangan tentang eksklusivitas, segmented, dan terkesan konservatif. Solusinya, menurut saya, harus banyak even musik klasik yang mampu merangkul atau menarik hati publik pencinta musik yang lebih luas. Karena pada dasarnya, di Bandung masyarakatnya mencintai musik, apalagi kalau musik klasik disajikan secara terkonsep untuk khalayak, saya kira bisa menjadi hal yang sangat menarik dan mendidik.

KK: Wah wah menarik juga ya, pertanyaan yang tadi bukan yang terakhir deh. Lantas, bagaimana pendapat A.K. tentang gedung-gedung pertunjukkan musik klasik di Bandung?

Aka: Tentang gedung, di Bandung boleh dibilang masih terbatas dan minim kualitas. Ruang akustiknya belum memadai, begitu juga dari sisi artistik penunjang. Kalaupun ada, harganya sangat mahal. Perlu memaksimalkan ruang-ruang alternatif seperti Tobucil supaya bisa dibuat pementasan musik klasik. Artinya, musik klasik tidak perlu identik dengan gedung-gedung besar dan megah. Musik klasik harus membumi dan merakyat, karena kita beda dengan Eropa. Tapi untuk wawasan dan skill, kita harus berani lebih.

KK: Oke, yang ini beneran pertanyaan terakhir nih. Menurut Kang Aka, jika masyarakat sebuah kota mempunyai citarasa seni yang tinggi, apa yang terjadi?
Aka: Kota itu bisa disebut kota berperadaban dan berbudaya tinggi. Terhindar lebih jauh dari sifat-sifat destruktif dan masyarakatnya cenderung lebih arif dan berjiwa estetis.

Aka oh Aka Patra Suwanda, sang pembawa panji di medan laga.
Tetaplah berjiwa militan, mumpung tubuh ini masih kuat menanggung beban.
Karena jika nanti tua menghadang, tubuh hanya sebatas tempat berbagi pikiran.

No comments: