Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, January 04, 2009

J.S. Bach, Raksasa Barok dari Eisenach


Johann Sebastian Bach adalah organis dan komposer legendaris asal Jerman. Karya-karyanya abadi dan masih terus dimainkan hingga saat ini. Komposisi-komposisinya mewakili suatu era bernama barok, periode dimana masyarakatnya sangat mengagungkan seni dan keindahan. Di sisi lain, rakyat pada jaman barok juga akrab dengan kemewahan dan “pernak-pernik”. Hal tersebut nampak pada lukisan-lukisan dari jaman tersebut. Umumnya, masyarakatnya mengenakan wig dan pakaian yang dihinggapi berbagai macam aksesoris. Musik yang dilahirkan pada era barok cenderung kompleks dan berat. Prinsip kontrapung melekat erat. Sebaliknya, dinamika justru menjadi hal yang asing.
Seperti orang besar lainnya, Bach mesti mengarungi badai prahara dalam perjalanan hidupnya. Pada jaman itu, musisi bukan dianggap sebagai seniman bebas, melainkan semacam abdi raja atau gereja. Untuk itu, mereka membuat musik berdasarkan pesanan, bukan atas kemauannya sendiri. Bach yang terkenal keras kepala dan berkepribadian baja, seringkali berselisih pendapat dengan majikan-majikannya. Karena itu, ia tak pernah betah tinggal di satu tempat saja. Berbagai kota di Jerman ia lakoni demi memenuhi panggilan jiwanya, yang ternyata lebih condong ke sisi religius. Pada banyak karya Bach, kandungan nilai Ketuhanan terbilang menonjol walaupun tak jarang komposisi-komposisi sekulernya juga menggugah. Perjalanan karir Bach adalah inspirasi, kepribadiannya merupakan teladan, dan musiknya adalah “harta karun yang tak ternilai”.

Eisenach

Johann Sebastian Bach lahir di Eisenach, Jerman pada 21 Maret 1685. Bach yang dibaptis dua hari setelah kelahirannya di Gereja St. Georgia merupakan putra kedelapan dari pasangan Johann Ambrosius Bach (1645-1695) dan Maria Elisabeth Lammerhirt (1644-1694). Bach kehilangan orangtuanya hanya dalam rentang waktu satu tahun. Ibundanya meninggal di tahun 1694, dan kemudian ayahnya menyusul setahun kemudian. Dengan usianya yang baru sepuluh pada 1695, Bach beserta kakaknya, Johann Jacob, pergi untuk tinggal dengan kakaknya, Johann Cristoph, yang bekerja sebagai organis gereja di kota Ohrdruf.

Ohrdurf
Di Ohrdurf, Bach bertemu Johann Christoph yang kala itu bersama istrinya tengah bersiap untuk merayakan kelahiran anaknya yang pertama. Walaupun dari segi finansial keluarga Johann Christoph akan terbebani dengan hadirnya dua anggota keluarga baru sekaligus, namun ia tetap menyambut Bach dengan baik. Dari Johann Christoph ini Bach diajari keyboard untuk pertama kalinya. Walaupun Johann Christoph termasuk musisi yang baik, namun hingga akhir hayatnya ia tidak setenar adiknya. Di kota tersebut Bach belajar bahasa Latin dan aktif di paduan suara sekolahnya. Setelah dianggap mandiri dan dewasa, Bach meninggalkan Ohrdurf dan berangkat ke Lüneburg pada 15 Maret 1700 beserta teman sekolahnya, Georg Erdmann.

Lüneburg
Keberangkatan Bach ke Lüneburg sebenarnya didorong juga oleh guru teologinya, Herda. Herda yang mengagumi kemampuan vokal Bach, memberikan beasiswa baginya untuk bersekolah di Michaelisscule atau Sekolah St. Michael. Di Michaelisscule, siswa miskin seperti Bach dan Erdmann bisa mendapatkan hak-hak yang sama dengan siswa kaya. Syaratnya, mereka harus bisa menyanyi di paduan suara dengan baik, serta mampu memenuhi jadwal panggilan di Hari Minggu untuk mengisi acara-acara pernikahan, pemakaman, dan festival. Namun sayang, syarat berikutnya sungguh berat bagi Bach. Michaelisscule mengharuskan siswa miskin tersebut memiliki suara trebel yang baik. Padahal, sebentar lagi Bach akan mengalami masa pubertas yang berpengaruh terhadap pita suaranya. Beruntung, sebelum Bach benar-benar kehilangan suara soprannya, ia sudah mampu mengumpulkan uang untuk menghidupi perjalanan selanjutnya. Sedangkan temannya, Erdmann, mampu bernyanyi sopran hingga usianya 18 tahun.
Walaupun karirnya di Kota Lüneburg tergolong singkat, namun Bach menemukan pelajaran berharga. Di kota tersebut, terdapat perpustakaan yang sangat dikagumi Bach. Perpustakaan yang dibuat tahun 1555 itu memuat lebih dari 1000 manuskrip yang ditulis oleh 180 komposer seperti Buxtehude, Carissimi, Hammerschmidt, Kerll, Lassus, Monteverdi, Schutz, Scheidt, Schein dan Tunder. Setiap ada kesempatan, Bach selalu membaca dan menyalin setiap manuskrip tersebut dengan teliti. Bach diketahui juga sebagai pribadi yang gemar membaca dan memiliki daya ingat yang kuat. Selain itu, Sekolah St. Michael juga memiliki Ritteracademie, semacam institusi kecil tempat belajar bahasa dan kebudayaan Prancis. Bagi Bach, setiap kunjungannya ke Ritteracademie dimanfaatkannya dengan baik untuk mendengarkan musik-musik Prancis lewat penampilan reguler sebuah grup yang dipimpin oleh Duke Wilhelm of Brunswick-Lüneburg. Musik-musik Prancis tersebut sedikit banyak memiliki pengaruh dalam karya-karyanya kemudian. Bach juga memiliki keuntungan dengan kedekatan jarak antara Lüneburg dan Kota Hamburg. Di kota tersebut tinggal Johann Ernst, sepupu dari Bach. Kedua kota yang hanya berjarak 30 mil, memungkinkan Bach untuk sering mengunjungi Johann Ernst. Johann Ernst kemudian mengenalkannya pada organis terkemuka di kota tersebut, Georg Bohm dan Jan Adams Reincken. Kedekatan dengan Reincken berlanjut hingga kematiannya di umur 99. Sedangkan hubungannya dengan Bohm membuat Bach terinspirasi untuk menelurkan dua karya variasi koral yaitu Christ der du bist der helle Tag dan O Gott du Frommer Gott. Lewat dua karya itu Bach mulai mengembangkan kemampuannya sebagai komposer handal.

Weimar I

Setelah lulus dari sekolahnya di Lüneburg, tepatnya tahun 1703, Bach berangkat ke Kota Weimar. Di kota ini, Bach yang juga seorang protestan yang taat itu untuk pertama kalinya menjalani pekerjaan sebagai musisi profesional. Ia direkrut oleh Duke Johann Ernst of Saxony-Weimar-Eisenach untuk menjadi violinis di gerejanya. Bach yang lebih tertarik kepada organ, merasa terganggu dengan pekerjaannya sebagai violinis. Terlebih lagi, di jaman itu musisi memiliki derajat hampir setara dengan pesuruh. Mereka mendapat perlakuan semena-mena dengan gaji yang seadanya. Tapi untuk Bach, seorang pemuda 17 tahun yang sebatang kara, tawaran tersebut terpaksa ia terima untuk menyambung kehidupannya. Beruntung, Bach tidak berlama-lama menjalani kehidupan yang berat tersebut. Tidak sampai setahun di Weimar, Bach mendapat tawaran untuk menjadi organis di Kota Arnstadt. Tanpa pikir panjang, Bach menerimanya dan meninggalkan kehidupan yang kelam di Weimar.

Arnstadt

Di Kota Arnstadt, Bach menjadi organis di Gereja St. Boniface dengan bayaran dua kali lipat dari yang pernah ia dapatkan di Weimar. Namun ternyata karirnya tidak semulus yang ia duga. Bach yang hanya terobsesi dengan organ, tidak mengira bahwa ia diharuskan mengurusi paduan suara juga. Bahkan kekesalannya ini berbuntut pada perkelahian dengan salah seorang musisi gereja di musim panas 1705. Pada musim gugur di tahun yang sama, Bach meminta ijin pergi ke Kota Lubeck untuk bertemu organis mahsyur yang terkenal dengan Abendmusiken-nya, Dexter Buxtehude. Lubeck yang berjarak 200 mil dari Arnstadt ditempuh Bach dengan berjalan kaki selama 10 hari. Walaupun Buxtehude sangat terbuka pada Bach, namun ia mengajukan syarat yang membuat Bach harus berpikir ulang. Buxtehude memiliki seorang anak perempuan berusia 30 tahun yang belum menikah. Apabila terdapat pria yang dianggap Buxtehude memiliki kemampuan musik istimewa, maka ia berhak menikahi anaknya. Walaupun Bach termasuk dalam hitungan Buxtehude, namun ia menolaknya dengan halus. Hal serupa juga pernah dialami Georg Friedrich Handel beberapa tahun sebelumnya, dan jawabannya pun sama dengan Bach. Bach kembali lagi ke Arnstadt di awal tahun 1706 dan melanjutkan pekerjaan lamanya yang sempat tertunda.
Di Kota Arnstadt ini Bach berhasil menunjukkan produktivitasnya dalam berkarya. Karya paling terkenal yang dihasilkan di Arnstadt adalah Capriccio sopra la lontananza del suo fratello dilettissimo (Caprice untuk Keberangkatan Saudara Laki-Lakinya yang Tercinta), BWV 992 untuk harpsichord. Karya tersebut ditujukan sebagai perpisahan bagi Johann Jacob, saudara laki-laki Bach yang bekerja sebagai pemain oboe pada tentara Raja Swedia, Charles XII. Karya koral Wie schön leuchtet der Morgenstern, BWV 739 dan versi awal dari Prelude and Fugue in G Minor, BWV 535a adalah contoh karya-karya lain yang dihasilkan di Arnstadt. Walaupun tidak terlalu banyak, namun kemampuan Bach sebagai komposer yang produktif mulai terlihat.

Mühlhausen

Akibat hubungan Bach dengan gereja yang sudah mulai kurang akrab, ia pergi meninggalkan Arnstadt pada tahun 1707. Persinggahan berikutnya adalah Kota Mühlhausen, dimana Bach ditawari sebagai organis di Gereja St. Blasius. Hal itu berkaitan dengan meninggalnya organis gereja tersebut, Johann Georg Ahle pada 2 Desember 1706. Di awal kedatangannya, Bach menjalani kehidupan di Mühlhausen dengan lancar. Ia kemudian jatuh cinta pada sepupunya sendiri yaitu Maria Barbara. Pada 17 Oktober 1707, Johann Sebastian Bach dan Maria Barbara menikah di sebuah gereja di Kota Dornheim, tidak jauh dari Arnstadt.
Di Kota Mühlhausen, Bach memiliki minat khusus pada vokal gereja. Ketertarikan ini diduga akibat pengaruh Abendmusiken dari Buxtehude. Gereja St. Blasius juga memiliki perpustakaan raksasa dimana Bach sering mengunjunginya untuk mendapatkan literatur musik-musik tradisional gereja. Di kota ini pula, Bach membuat karya kantata-nya yang pertama yaitu Gott ist mein König (God is My King), BWV 71. Selain itu, ia juga menghasilkan beberapa karya organ yang terkenal seperti Toccata and Fugue in D Minor, BWV 565, Prelude and Fugue in D Major, BWV 532 dan Passacaglia in C Minor, BWV 582. Namun ternyata Bach kembali dirundung masalah. Bach yang taat sebagai protestan, berseberangan pendapat mengenai musiknya dengan kaum gereja penganut pietisme. Buntutnya, di tahun 1708 Bach -yang terkenal berkepribadian baja- angkat kaki dari Mühlhausen dan kembali ke Weimar. Keputusan Bach yang kala itu berusia 23 tahun dianggap sangat tepat. Comeback-nya ke Kota Weimar membawa ia pada awal masa keemasannya.

Weimar II
Weimar yang berjarak 40 mil ke arah utara dari Mühlhausen adalah kota yang memberikan perubahan signifikan baik dari segi keuangan maupun karir Bach. Kedatangan Bach ke Weimar adalah yang kedua kalinya setelah tahun 1703 ia menginjakkan kaki sebagai violinis yang bekerja pada Duke Johann Ernst. Weimar, kala itu sedang terjadi perpecahan dimana dua adipati (duke) sekaligus memimpin kota tersebut yaitu Wilhelm Ernst (1662-1728) dan Ernst August (1688-1748). Wilhelm adalah penguasa kelompok Lutheran, ia merekrut Bach untuk datang ke Weimar sebagai organis dan anggota orkestra. Wilhelm juga memberi kebebasan bagi Bach untuk berkarya dan mengeksplorasi kemampuan bermain organnya –hal yang tidak ia dapatkan di kota-kota sebelumnya-. Namun di sisi lain, Bach juga berteman baik dengan adipati rivalnya yaitu Ernst August dan adiknya, Johann Ernst Jr. (1696-1715). Johann Ernst Jr. yang meninggal dalam usia 19 tahun telah banyak membantu Bach. Ia membawakan Bach beragam musik Italia dari Amsterdam tahun 1713 termasuk koleksi karya Vivaldi seperti L’Estro armonico. Sejak itu, Bach siap mengembangkan kombinasi jenius antara kontrapung dengan pengaruh musik Jerman Utara dan Prancis, serta tambahan harmonisasi ala Vivaldi.
Untuk ukuran seseorang yang baru berusia 23 tahun, Bach dianggap sudah makmur dan bahagia. Dengan gaji cukup, pasangan Bach-Barbara dikaruniai tiga orang anak dalam kurun waktu enam tahun yaitu Catharina Dorothea (lahir 1708), Wilhelm Friedemann (lahir 22 November 1710) dan Carl Philipp Emmanuel (8 Maret 1714). Dua nama terakhir ini kemudian meneruskan jejak sang ayah menjadi komposer handal. Selain memperoleh sebutan sebagai “Organis Termahsyur di Weimar”, Bach juga mulai kebanjiran orang-orang yang ingin berguru dengannya seperti Johann Tobias Krebs dan J.M. Schubart. Di Kota Weimar, Bach menghasilkan banyak karya kantata. Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh keharusan pekerjaannya untuk menulis kantata minimal satu buah per bulannya. BWV 132, 152, 155, 80a, 31, 165, 185, 262, 162, dan 153 adalah contoh sebagian kecil kantata yang ia produksi di Weimar. Di kota tersebut pula, Bach aktif menulis komposisi-komposisi organ dan harpsichord. Orgel Buchlein dan Well Tempered Clavier edisi pertama adalah contohnya.
Amat disayangkan, perjalanan karir Bach yang gemilang di Weimar mesti berakhir dengan pahit. Kedekatannya dengan adipati Ernst August membuat penguasa Weimar satunya, Wilhelm Ernst berang. Wilhelm Ernst kemudian menutup segala akses musik antara Bach dan Ernst August. Bach yang keras kepala kemudian memboikot dengan menolak untuk memproduksi kantata lagi bagi Wilhelm Ernst sepanjang tahun itu (1716). Beruntung, penguasa Kota Köthen bernama Leopold von Anhalt-Köthen tertarik untuk merekrut Bach sebagai Capellmeister di kotanya. Setelah sempat mendekam di penjara selama satu bulan (6 November-2 Desember 1717) karena pembangkangan, Bach akhirnya pergi ke Cothen memenuhi panggilan Leopold.

Köthen
Bach memulai kerjanya di Köthen sebagai Capellmeister pada bulan Desember 1717. Majikannya yang baru adalah Pangeran Leopold von Anhal-Köthen (1694-1728), pemuda berusia 23 tahun yang baik hati, agak feminin, dan sangat mengagumi Bach. Pangeran Leopold juga seorang pemain musik, ia memainkan violin, viola de gamba, serta clavier. Di Köthen ini, Bach memulai produktifitasnya dalam menulis komposisi-komposisi untuk musik chamber. Köthen dianggap sebagai kota dimana Bach mengalami masa paling gemilang. Dalam sekejap, musik-musik Bach dicintai warga setempat. Mereka rela seharian menyaksikan dari dekat bagaimana Bach secara ajaib menghasilkan musik-musik tersebut yang secara ajaib mampu keluar dari benaknya dengan cepat. Tentu saja pengaruhnya sangat besar bagi keuangan Bach, yang sering mendapat uang ekstra dari sang pangeran. Kebahagiaan Bach nampak berjalan sebagaimana mestinya, hingga ia kembali menemukan prahara.
Maria Barbara, sang istri, meninggal dunia mendadak dan meninggalkan Bach empat orang anak yang masih kecil yaitu Catherina Dorohea (12 tahun), Wilhelm Friedemann (10), Carl Philipp Emanuel (6) dan Johann Gottfried Bernhard (5). Kepergian Barbara untuk selamanya sempat membuat Bach bimbang. Ia tidak bisa mengurusi keempat anaknya sendirian di tengah karirnya yang sedang gemilang. Pada jaman itu, posisi wanita masih sangat rendah. Mereka hanya dianggap sebagai pendamping atau pengasuh anak, belum memiliki hak untuk dominan di dunia kerja maupun pemerintahan. Atas dasar itu, Bach berusaha mencari wanita baru secepat mungkin yang mau diperistri dan rela mengurusi keempat anaknya. 18 bulan setelah kematian tragis istrinya, Bach menikah dengan Anna Magdalena Wilcken, seorang soprano, pada 3 Desember 1721. Bach kala itu berusia 35 tahun, sedangkan Magdalena baru 19 tahun. Sebelumnya, mereka telah bekerja bersama selama kurang lebih satu tahun.
Kemunduran karir Bach berlangsung tak lama setelah ia menikah. Seminggu kemudian, Pangeran Leopold menikahi Friederica Henrietta von Anhalt-Bernburg yang merupakan seorang amusa (anti-musical persona), yang berarti “pribadi anti-musik”. Sejak saat itu, pikiran Pangeran Leopold tidak lagi tertuju sepenuhnya pada musik. Ia lebih senang mengalokasikan anggaran negara untuk membangun militer. Perubahan sifat ini membuat Bach gerah. Bach yang sebelumnya begitu menyukai Pangeran Leopold, mulai melamar ke berbagai gereja di kota-kota lainnya. Bach juga tidak henti-hentinya menyalahkan perbuatan istri Sang Pangeran dalam “mencuci otak” suaminya. Dengan perasaan kecewa, Bach sekeluarga pindah ke Leipzig pada tahun 1723.
Kothen dianggap sebagai kota yang menjadi saksi atas masa keemasan Bach. Di sana, ia menghasilkan karya-karya gemilang yang sebagian besar diantaranya ditujukan untuk musik chamber. Komposisinya yang mahsyur antara lain enam nomor Brandenburg Concertos, BWV 1046 dan 1051. Selain itu, Bach juga menghasilkan komposisi masterpiece untuk solo instrumen seperti sonata dan partita untuk violin (BWV 1001-1006) serta suita untuk cello (BWV 1007-1012). Violin Concertos in A Minor (BWV 1041), E Major (BWV 1042), dan The Double Concert in D Minor (BWV 1043) juga diciptakan pada periode Kothen. Komposisi harpsichord yang dahsyat juga ditulis oleh Bach dalam edisi lengkap Well Tempered Clavier jilid 1, BWV 846-879 yang berisi 24 prelude dan fuga. Kedekatannya dengan Pangeran Leopold di Kothen membuat Bach lebih banyak membuat musik-musik sekuler ketimbang gereja.

Leipzig

Kedatangannya ke Leipzig pada 1723 disambut dengan jabatan yang menggiurkan. Bach menjadi direktur musik di Gereja Lutheran St. Thomas. Bagi Bach, ini kali pertama baginya duduk sebagai pejabat pemerintahan. Posisi tersebut otomatis mendekatkan Bach pada kaum aristokrat. Secara umum, kewajiban Bach di Leipzig adalah sebagai instruktur bagi siswa-siswi St. Thomas dalam bidang menyanyi dan bahasa latin. Selain itu, ia juga mesti menyajikan musik mingguan pada gereja selain St. Thomas, yaitu St. Nicholas. Setelah lebih dari enam tahun mengomposisi kantata dan menciptakan banyak repertoar bagi kedua gereja tersebut, Bach mencoba melebarkan sayapnya ke luar gereja. Pada Maret 1729, Bach menjadi direktur bagi Collegium Musicum, sebuah kelompok ensembel sekuler asuhan kawannya yang juga komposer hebat, Georg Philipp Telemann. Collegium Musicum menjadi hal yang terbilang baru bagi Bach yang hampir sepanjang hidupnya berkutat dengan gereja. Kelompok tersebut tampil di kerumunan kota atau kedai-kedai kopi dimana pemain-pemainnya banyak diambil dari para mahasiswa atau masyarakat umum, berbeda dengan ensembel gereja yang personilnya merupakaan umat gereja setempat. Pada era 1730 hingga 1740 adalah periode dimana Bach banyak menulis untuk Collegium Musicum, diantaranya beberapa bagian dari Clavier-Ubung (latihan keyboard) dan banyak karya-karya untuk violin dan harpsichord dalam format concerto.
Dalam periode tersebut, Bach juga menyelesaikan karyanya yang terkenal yaitu Mass in B Minor. Pada 1735, Bach mempersembahkan komposisi agungnya itu pada Frederick August II sebagai tanda terima kasih karena telah merekrut Bach menjadi seorang komposer istana. Di Leipzig ini, Bach telah menjelma menjadi sosok yang terkenal di kalangan istana, memiliki kekuasaan, dan menjadi anggota dewan kota tersebut. Ironisnya, Mass in B Minor tidak pernah ditampilkan hingga akhir hayat sang komposer. Salah satu karya koral terbaik sepanjang masa itu baru ditampilkan kurang lebih satu abad kemudian oleh komposer hebat lainnya, Felix Mendelssohn. Pada 1747, Bach mendapat tantangan menarik dari Frederick Agung di istananya di Postdam. Sang raja kala itu membuat sebuah tema dan Bach diminta untuk membuat variasinya dengan gaya fuga. Hebatnya, Bach mampu membuat enam variasi fuga dari tema yang diberikan sang raja. Sebulan sebelum kematiannya, Bach menulis sebuah kumpulan karya berjudul Art of Fugue. Isinya adalah 18 variasi fuga dan cannon yang diambil dari tema-tema yang sederhana. Sayangnya, karya tersebut tidak sempat diselesaikan Bach. Karya yang paling akhir ditulis Bach adalah Vor deinen Thron tret ich hiermit yang ditulis untuk anak angkatnya, Johann Cristoph Altnikol. Karya yang ditulis di ranjang kematiannya itu biasa ditampilkan setelah fuga ke-14 dari Art of Fugue sebagai penyempurna komposisi yang unfinished tersebut. Bach meninggal di Leipzig, 28 Juli 1750 dalam usia 65 tahun.

Bach yang menulis lebih dari 1000 karya selama hidupnya itu meninggal dalam sebuah penyesalan yang mendalam. Ia tidak pernah bertemu ikon jaman Barok lainnya, Georg Friedrich Handel. Padahal, Handel lahir di tahun yang sama dengan Bach. Namun dari segala perjalanan yang dilalui baik oleh Bach maupun Handel, nasib tidak mempertemukan keduanya. Gaya kontrapung, harmoni, dan fuganya yang khas menjadi role model yang terus dipakai di jaman-jaman berikutnya. Mozart, Beethoven, Schumann dan Mendelssohn dengan terang-terangan mengakui pengaruh Bach dalam musik-musik mereka. Beethoven bahkan menyebut Bach sebagai Urvater der Harmonie atau Godfather of Harmony.

1 comment:

Steven Hasan Pangestu said...

Bach, komposer terbesar sepanjang abad. Nice info