Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, January 11, 2009

Memoar untuk KK

Sejujurnya, menjelang ultah ke-3 KK yang jatuh pada 9 Desember 2008, KK meminta tolong beberapa untuk menuliskan semacam memoar tentang KK dan aktivitasnya. Janji KK, memoar ini akan diterbitkan dalam bentuk buku kecil untuk dibagikan secara gratis. Namun janji tinggal janji, mengingat besarnya ongkos penerbitan (meskipun buku kecil), KK memutuskan untuk mencantumkannya secara berkala dalam blog ini. Meski demikian, jalan tersebut bukan berarti KK tidak menghargai teman-teman penulis yang sudah rela meluangkan waktunya demi reflektivitas KK. Dari sudut pandang tertentu, media blog malah lebih praktis dan efektif ketimbang media cetak (baca: buku). Pencantuman memoar ini akan dilakukan satu per satu setiap minggunya, dalam format yang berbeda-beda. Setelah versi Afifa Ayu dalam bentuk wawancara dua minggu yang lalu, kali ini KK akan langsung mengopi tulisan Royke B. Koapaha ke postingan blog ini. Sekedar berita tak penting, beberapa awak KK sempat amat sangat terharu (kalau boleh dibilang menitikkan air mata T_T) membaca tulisan (dan puisi!) Dosen ISI Yogya dan STiMB Bandung ini. Terima kasih Pak Roy!



KLABKLASSIK

Ini dapat dikatakan sebagai komunitas anak muda dalam arti yang sebenarnya. Dari nama KLABKLASSIK terasa aroma anak muda jaman sekarang yang ‘nakal’, ‘ingin tampil beda’, seperti pada umumnya anak muda jaman sekarang dalam memberi nama kelompok, komunitas atau bandnya. Dari tampilan visual anggotanyapun seperti anak muda pada umumnya, ganteng-ganteng, cantik-cantik dengan dandanan yang mengikuti tren dan sudah tentu segar dipandang mata. Tidak berbeda dengan anak muda-anak muda pada umumnya. Lalu, apa maksudnya tulisan di atas, komunitas anak muda dalam arti yang sebenarnya?
Begini, sejarah sudah mencatat begitu banyak cerita tentang anak muda, entah para pahlawan, komponis, sastrawan, dan lain-lain, yang menggerakkan roda jaman. Contoh secara acak saja, peserta atau aktifis peristiwa Sumpah Pemuda waktu dulu itu banyak yang belum menginjak usia 20 tahun; pada usia 20 tahunan Bung Karno sudah dikenal sebagai orator yang hebat dan karismatis di hadapan ribuan orang; Leo Brouwer dan segudang komponis lainnya sudah aktif berkarya pada usia yang sangat muda. Semua itu menunjukan bahwa pada pemuda tersimpan semangat berbuat, semangat berkreasi, dinamis, berani ‘menabrak arus’, maupun tidak sekedar ikut-ikutan.
KLABKLASSIK ini dapat dikatakan unik dan dinamis. Pengurusnya banyak yang beraktifitas sebagai pemain juga, para anggotanyapun dengan latar belakang profesi yang cukup heterogen. Aktifitas-aktifitasnya dapat dikatakan bervariasi, dari konser gitar klasik, entah yang diisi oleh pemain yang sekaligus menjadi pengurus, atau mengundang gitaris dari luar daerah bahkan luar negeri; menjalin konser dengan instrumen-instrumen lain seperti piano, cello, ensembel gesek; mengadakan kegiatan yang sesungguhnya agak ‘di luar area’ seperti diskusi musik kontemporer; mereka juga tidak selalu bergerak sendiri, tapi bekerjasama dengan pembuat acara-pembuat acara lainnya.
Ada semacam semangat pangguyuban yang tinggi dalam komunitas ini. Hal ini sepertinya merupakan salah satu kekuatan utama. Aksi dalam sebuah pangguyuban yang tidak selalu berpegang pada hubungan hirarkis formal semata, namun toleransi akan kondisi yang situasional, rasa gotong-royong, rasa saling percaya, saling mengisi menjadi bagian yang penting. Dalam KLABKLASSIK dimensi ini sepertinya cukup terjalin.
Selain itu ada semacam semangat untuk ‘mencari terobosan-terobosan baru’. Adalah upaya meluaskan cakrawala untuk tidak hanya pada area ‘dunia gitar’, namun mencoba ‘meraih ilmu’ sampai ‘ke negeri instrumen-instrumen lainnya’, ‘negeri penciptaan’, atau mungkin saja ‘negeri lainnya lagi yang belum terpikirkan’.
Hal lainnya lagi, KLABKLASSIK ini dapat dikatakan berani. Berani mengambil resiko beraktifitas yang lebih mengikuti kata hati, walaupun ini bukan arus umum (mainstream). Jalan yang ditempuh sepertinya tidak menjanjikan mimpi dikejar-kejar penggemar di Mall untuk dimintai tandatangan; juga tidak menjanjikan dunia gegap gempita, dimana pemain melambai-lambaikan tangan dihadapan puluhan ribu penggemar yang histeris…. Ini mungkin hanya sebuah ‘jalur sepi’, namun ini bukan berarti sepi dari semangat untuk maju, bukan berarti sepi dari semangat untuk menjadi berarti untuk orang lain, dan juga bukan sepi dari semangat untuk lebih memaknai kehidupan. Bukankah hidup ini tidak hanya untuk sekedar hura-hura, tapi pada suatu tingkat dimana setiap manusia sewajarnya bersinggungan dengan dimensi yang lebih kontemplatif?
Kembali seperti dikatakan di atas, KLABKLASSIK dapat dikatakan sebagai komunitas anak muda dalam arti yang sebenarnya. Ini sebuah ikon tentang semangat dan harapan. Disana ada semangat berbuat, semangat berkreasi, dinamis, tidak sekedar ikut-ikutan, berani ‘menabrak arus’ atau mungkin lebih tepatnya, ‘mencoba mengalir, tetapi berusaha untuk tidak hanyut’ di jaman yang hiruk pikuk ini.

Akhir kata, ada sebuah pertanyaan yang mungkin terlalu mudah untuk dijawab. Pertanyaannya: Haruskah kita harus sedih atau bangga? …. walaupun promosi musik-musik dalam arus umum yang begitu kuat (promosi musik x di TV, di radio, di flashdisk, di mp3 player, di HP, dan entah dimana lagi, 24 jam dalam sehari tanpa henti), ternyata tidak mampu menutup hati untuk memilih musiknya sendiri. Dengan kata lain, dawai sudah didentingkan, bukan karena dipengaruhi media-media promosi dengan segala janji trennya, tapi karena keputusan hati yang berkata jujur, sekalipun tidak menapak jalan yang ramai…. Sepertinya ini mahal.

Lingkari jawabannya:
a. Bangga
b. Bangga dong
c. Bangga, tapi jangan bilang-bilang ya
d. Tidak sedih, tapi bangga

Salam dan selamat berprestasi untuk KLABKLASSIK


ini cerita lama
mengikatkan tali pada sebatang kayu dari ujung ke ujung
di salah satu sisinya diberi tempurung kura-kura
menggugah hati untuk bertutur
menggerakkan jari untuk membuat nada-nada
nada-nada yang konon meluruhkan kegundahan dewata

mengalir dalam alur waktu yang demikian panjang
nyaris selalu dalam kesendiriannya
hingga kini
suara denting merambati udara
tidak menggelagar, hanya berbisik
sepertinya itu sudah cukup untuk hati

adalah beberapa lilin yang mulai menyala
api lilin menari-nari membuat cahaya
cahaya yang bertemu gelap
disitu ada galau
bukan karena gelap
tapi karena ada hiruk pikuk
hiruk pikuk yang aneh

ini memang cerita tentang pasar
pasar yang menjual segala mainan dengan label mulia
pasar yang menjual hal mulia sekalipun dalam kemasan mainan
ini memang cerita tentang pasar
pasar yang menjual semua
termasuk keindahan hati yg bertutur nada

api lilin menari-nari membuat cahaya
berteman suara denting merambati udara
kalau saja cahaya lebih bermakna dalam gelap
denting nada yang berbisik mungkin menjadi lebih berarti dalam hiruk pikuk
kalau sudah demikian
tidak ada alasan untuk mencegah harapan yang mulai merambati hati

…waktu itu tanggal 9 desember 2005…



Royke B. Koapaha

1 comment:

Yuns said...

dahsyat..