Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, February 08, 2009

Latihan Perdana Ririungan Gitar Bandung (RGB)

“Pengen maen aja.”

Kalimat di atas adalah jawaban dari Alka atas pertanyaan dari kawan-kawan Ririungan Gitar Bandung (RGB) yang bertanya: “Alka kenapa ikut RGB?”. Alka baru berusia sepuluh tahun. Paling muda dari enam anggota RGB lainnya yang rata-rata berumur dua puluhan. Jawaban polos ini mencengangkan bagi Bilawa, salah seorang RGB-ers. Katanya, “Lihat tuh, orang dewasa sesekali mesti mencontoh pola pikir anak kecil. Kita sering banget merumit-rumitkan jawaban, seperti ‘pengen eksistensi diri lah’, ‘pengen silaturahmi lah’, ‘pengen mengembangkan pendidikan musik klasik lah’, dsb. Tapi intinya, ’kita semua pengen maen kan?’ hayo.” Royke, Trisna, Hin Hin, dan Yunus mengiyakan sambil terbahak-bahak.
RGB adalah proyek baru KlabKlassik (KK). Jika biasanya KK berkutat dengan nongkrong-nongkrong dan sesekali mengadakan konser, sekarang KK berinisiatif membuat latihan bersama. Ini konon dipicu oleh dua acara yang dibuat KK dengan judul Classical Guitar Fiesta. Dari acara tersebut, terlihat potensi gitaris-gitaris klasik Bandung yang cukup besar. Daripada terbuang percuma untuk bermain solo semata, ada bagusnya jika bersatu dalam satu kelompok ensembel besar. Di Jakarta telah berkembang Jakarta Enam Senar (JES) yang anggotanya dua puluhan orang, maka setidaknya Bandung merintis RGB ini. Meski baru terkumpul sekitar sepuluh orang (empat tidak datang ketika latihan minggu), namun keanggotaan RGB ini masih akan terus dibuka.
Latihan pertama RGB berlangsung cukup baik, setidaknya bagi pendengaran Tobuciler. Alka sebagai gitaris paling muda, tak sungkan bermain bersama rekan-rekan lainnya yang lebih muda. Bahkan ia menjadi penghangat suasana. Tak jarang sesekali kalimat polos meluncur darinya, seperti: “Kapan nih udahannya?”. Yang lain selalu terbahak mendengarkan celotehan anak itu. Hari itu lagu perdana karya Georg Philipp Telemann yang berjudul Canon and Minuett itu pun beres tuntas dimainkan.
Kehadiran RGB ini barangkali siap menggoyang kemapanan Tobucil. Hal tersebut disebabkan pemainnya yang sebagian besar baru bisa datang di atas jam 12. Ini jelas berbeda dengan yang dijadwalkan yakni pukul 10. Walhasil, kehadirannya terpaksa bentrok dengan Klab Rajut. Beruntung, di latihan perdana kemarin, Klab Rajut sedang tak banyak yang datang. Jadinya, RGB mendominasi bangku-bangku beranda Tobucil. Hal yang mesti dipikirkan RGB nantinya adalah: bagaimana jika Klab Rajut berjalan normal? Bilawa sempat mengusulkan untuk disinergikan saja. Musik dari RGB yang relatif tenang katanya cocok digunakan sebagai pengiring kegiatan rajut merajut. Lalu timbal balik dari Klab Rajut? Semuanya sempat mengerutkan kening hingga beberapa lama, hingga Bilawa mendapat ilham, katanya, ”Stik rajut itu kan persis tongkat konduktor. Nah bagaimana jika gerakan rajut merajut dijadikan patokan penjaga tempo kita?” jrek nong!