Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, March 22, 2009

Antara Menikmati Musik, Merajut Bangku, dan Mendengarkan Gemuruh Hujan


-Tobucil, 22 Februari 2009-

Hari Minggu itu ada yang lain di Tobucil. Jika biasanya kelompok rajut asuhan Mba Upi adem ayem menjalin benang hingga matahari terbenam, kali ini mereka mesti merasa tidak nyaman oleh kegiatan merajut yang lain. Ya, menjelang jam tiga sore, Tobuciler beserta Mas Wiku, Chris, Aka, dan Mas Yunus, jadi pria-pria yang merajut seperti halnya liputan Trans TV minggu sebelumnya. Namun yang dirajut bukanlah benang, melainkan deretan kursi panjang yang akrab menyesaki beranda Tobucil. Ibarat gulungan benang, dari tadinya kusut kala diurai, rajutan kemudian membentuknya menjadi rapi berpola membentuk sesuatu. Tepat jam tiga, kursi-kursi panjang Tobucil menjadi pola yang belum pernah ada sebelumnya. Maklum saja, yang kelak menduduki para bangku itu juga belum seberapa akrab dengan gaya Tobucil. Tobuciler dan kawan-kawan pun sempat deg-degan.

Lalu datanglah satu per satu anak-anak seusia SMP. Tiga, empat, sepuluh, dua belas. Sekonyong-konyong Tobucil jadi dipenuhi anak-anak berbaju biru muda. Uniknya lagi, mereka semua membawa biola. Lantas ada yang sempat bertanya, Tobuciler lupa namanya, ”Kita maen dimana, Kak?” Tobuciler hanya menunjuk deretan bangku berpola tadi, dan menjawab singkat, ”Disini.” Ekspresi mereka pun beragam. Ada yang tampak adem-adem saja, tapi ada juga yang kaget, ”Loh kok konser kayak gini?”

Demikianlah, adik-adik. Tobucil jelas bukanlah gedung konser yang kalian bayangkan. Tempatnya mungil, kursinya tak empuk, duduknya berjejalan, ruangannya tak berpendingin, terbuka pula. Tapi tak ada salahnya dicoba sejenak.

Minggu itu adalah debut dari acara Musik Sore Tobucil (MST) yang rencananya akan digelar dua bulan sekali. Acara perdana itu diisi oleh empat grup, yaitu Fun-tastic String Ensemble (FSE), KlabKlassik String Trio, Baby Eats Crackers, dan Jack and Sally. Meski di bawah naungan KlabKlassik, tapi pengisi acara MST tak melulu menampilkan klasik. Contohnya dua grup yang disebut terakhir, memainkan musik masa kini yang pastinya tak masuk dalam kategori Renaissans hingga Romantik.

Seyogianya yang tampil sebagai pembuka adalah anak-anak berbaju biru muda yang dinamakan FSE tadi. Tapi berhubung ada keterlambatan salah seorang personel, KlabKlassik String Trio didaulat tampil duluan. Dua lagu awal terdengar biasa-biasa saja. Namun memasuki lagu ketiga, hawa ke-Tobucil-an mendadak terasa. Lagu berjudul Canon in D karya Johann Pachelbel tiba-tiba direspons oleh anak-anak FSE yang berjumlah lima belas itu menjadi semacam aransemen orkestrasi yang cukup menarik. Tobuciler sampai merinding mendengarnya. Tak hanya karena kemegahan suasana orkes yang jarang terjadi di tempat semungil Tobucil, tapi juga merinding oleh interaksi spontan yang membuat Tobuciler merenung: mungkinkah dialog penampil dan penonton secair ini bisa terjadi di gedung konser? Karena jelas, sebelum terjadi interaksi itu, KlabKlassik String Trio berperan sebagai penampil, dan FSE hanya duduk-duduk menikmati.

Selesai itu giliran FSE yang benar-benar jadi penampil. Penonton yang hadir cukup banyak untuk sebuah acara debut yang terganggu hujan yang kadang reda kadang deras. Suasana orkestrasi yang megah disertai keluguan para personelnya menjadi kombinasi hiburan yang sukses mendukung apresiasi terhadap empat lagu yang dibawakan mereka. Setelah FSE selesai tampil, hujan yang tadinya rintik-rintik mendadak deras. Membuat dua penampil terakhir harus mengeraskan volume vokal dan instrumennya agar mampu didengar para pengunjung. Baby Eats Crackers tampil manis dengan lagu-lagu yang dinyanyikan dengan format storytelling. Lalu Jack and Sally menutup MST dengan penampilan hangat yang membuat hawa dingin dari hujan deras tak mampu mencapai Tobucil. Meski keduanya berjuang keras agar mampu mengimbangi suara hujan, tapi sepertinya penonton tak masalah. Ditemani kopi dan kebersamaan, telinga mereka terlihat nyaman dengan jalinan musik yang riuh dan harmonis. Bagaimanapun juga, bunyi hujan adalah musik tersendiri. Mereka punya harmoni, juga ritmik. Maka jika harus menempatkan dimana posisi Baby Eats Crackers dan Jack and Sally, maka mereka adalah melodinya. Melodi, harmoni, ritmik: jadilah musik. Sampai bertemu di MST selanjutnya!

No comments: