Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, March 22, 2009

Selamat Berbahagia, Kang!


Subang, 7 Maret 2009

Sejak awal mula klab dimulai sekitar tiga tahun lalu, Sutrisna sudah rajin menghadiri. Bagi kami, keberadaannya cukup mengherankan. Sutrisna tak pernah berkata apa-apa, hanya diam di sudut ruangan, dan sesekali tertawa bersama jika diantara kami ada yang melontarkan candaan. Setelah dikorek dan digali dengan susah payah, barulah kami tahu bahwa ia adalah orang Subang yang tengah mencari pencerahan. Sulit dipercaya bahwa klab kami yang kegiatannya ngalor ngidul ini dianggapnya sebagai tempat yang mungkin mencerahkan. Tapi kegiatan pencariannya ternyata bukan main-main, ia memang sengaja datang dari Subang, mengikuti acara klab selama dua atau tiga jam, lantas pulang lagi, semuanya dengan kendaraan umum! Ini jelas nonsens buat sebagian besar orang dari kami.
Namun entah bagaimana, namun kami tak yakin bahwa kamilah penyebabnya, bahwa pencerahan itu terasa bagi kami yang sering bersamanya. Sutrisna yang tadinya pendiam, sekarang jadi ceria dan malah cerewet =). Ia semakin aktif dalam kegiatan kami, dan tak pernah berhenti memberikan sumbangsih tenaga serta pikiran. Bahkan ia ditunjuk secara aklamasi sebagai ketua Ririungan Gitar Bandung (RGB) Ini jelas kontras kala ia masih rajin bergumul sendirian di sudut ruangan. Selidik punya selidik, Sutrisna memang sempat punya persoalan yang sangat pribadi, yang membuatnya sering minder dan sulit bergaul. Tak etis tentunya jika persoalannya dipaparkan di blog ini, tapi setidaknya kekontrasan yang kami lihat hingga hari ini, terasa sekali merupakan efek dari keterlepasan dirinya dari beban hidup yang sudah lama ia tanggung.
Akhirnya, kabar yang mengharukan bagi kami pun tiba: Sutrisna akan menikah. Sesuatu yang ia deskripsikan sebagai ”tidak terpikir sedikit pun oleh saya untuk sampai pada fase ini”. Kalimat tersebut tidak muncul dari pesimisme yang sembarangan, tapi serius dan mendalam. Maka ketika kami mendapati undangan warna pink itu, tak ada sedikit pun keraguan untuk datang, biarpun undangan nun jauh di Subang. Izinkan kami menyapamu, kawan, saudara, atau apapun nama-nama yang menunjukkan kedekatan, karena kami ingin sekedar merangkum seserpih kebahagiaan yang kau rasakan. Selamat berbahagia, Kang! Selamat menempuh hidup baru! Selamat menempuh “sesuatu yang tak terpikirkan sebelumnya”, itulah misteri hidup!

No comments: