Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, May 17, 2009

Ahmad Ramadhan: Biola itu Seksi, Manis, dan Genit


Ahmad Ramadhan alias Rama, baru saja melangsungkan resital bersama kuartetnya, tepat sebulan lalu. Violinis yang lahir pada tanggal 17 Desember 1989 ini, awalnya merupakan aktivis KlabKlassik (KK) yang cukup militan. Hanya saja, demi karir musiknya, selepas SMA ia memutuskan sekolah di ISI Yogya, yang menyebabkan KK tidak lagi menjadi prioritas. Benarkah begitu? Berikut petikan wawancara dengan Rama via facebook:

KK : Rama oh Rama, belajar biola sama siapa?
Rama (R) : Mulainya tahun 1998, sama Bu Yalezh. Waktu itu belajar dua tahunan sebelum pindah ke Pak Nyoman selama tiga tahun. Setelah itu saya belajar sendiri, sampai akhirnya dibimbing oleh Pak Pipin Garibaldi di ISI Yogya hingga sekarang.

KK : Eh, Ram, kenapa memilih biola sebagai instrumen favorit?
R :Awalnya saya gak terlalu ngerti soalnya masih polos.
Kalo sekarang, saya punya alasan: soalnya biola itu seksi, tonenya manis dan genit, trus di warna nada bawahnya bikin grrrr..gitu. Disamping itu, kita juga bisa banyak eksplor warna nada di biola.

KK : Kalo gak salah ya, awalnya kamu ini kan ada rencana resital solo biola aja di Bandung, kok malah jadi bareng D'Java Quartet?
R : Saya kurang latihan, terus kepentok masalah teknis juga. Banyak juga hal-hal mendasar yang harus diperbaiki, dan itu ketahuannya waktu baru balik dari Thailand (Rama sempat menjadi anggota orkestra Asia Tenggara yang berlatih dan konser di Thailand –red). Jadi setelah dipikir-pikir, mending nguatin basic dulu biar lebih joss..gitu. Kalo ama D'Java, soalnya emang lagi enjoy2nya maen quartet, jadi kenapa tidak kita sekalian ngadain konser? Daripada tidak berbuat sama sekali.

KK : Oh, ya, kemarin kan main di Bandung tuh (17 April). Adakah suka dukanya?
R : Moodnya naik turun, soalnya capek. Trus agak stress juga, terutama gara-gara bahan duet nya. Wah itu sampe jungkir balik gila deh. Kalo bahan-bahan quartetnya sih udah lumayan enjoy, malahan waktu itu kita pernah ngelakuin latihan yang ga perlu lama banget ampe jam satu pagi, padahal biasanya latihan yang serius sekitar 1-2 jam. Demi nge-refresh mood sih..hehe.
Terus aku juga pas maen di radio itu pas lagi sakit perutnya, bahkan dah sampai di ujung tanduk. Wah, konsentrasinya kebagi dua antara maen quartet ma menahan agar tembakan-tembakan nan nista dari belakang tidak keluar dan mengisi ruangan dengan wewangian semerbak khas bunga rafflesia..hehe
Tapi pas hari H, liat penontonnya penuh, moodnya langsung naik 300 %, ampe rasanya mo terbang. Pas di panggung meski ngomong keplintat plintut, tapi yang penting enjoy deh, konser di bandung emang paling asik

KK : Wah, wah, siapa dulu dong manajernya hehe.. =p jadi ada rencana maen lagi di Bandung ga?
R : Tergantung yang ngundang deh.. hehe. Tapi kita ada rencana mau konser di Bandung lagi sih, mungkin akhir tahun kalo enggak tahun depan. Ya tunggu aja deh infonya.

KK : Oke, kita ganti topik sejenak. Apa perbedaan atmosfer bermusik di Bandung dan di Yogya?
R : Kalo untuk atmosfer bermusik seni, kayaknya lebih kena di Yogya yah, soalnya tingkat apresiasi terhadap musik seninya lebih tinggi. Mungkin ini karena di Jogja, institut maupun sekolah kejuruan yang bernafaskan seni sudah ada sejak lama jadinya apresiasinya sudah terbentuk dengan sendirinya. Kemudian banyak seniman yang pada gila (dalam arti karya-karyanya mulai mencari bentuk-bentuk baru atau sesuatu yang berbeda). Bahkan di Yogya konser musik kontemporer boleh dibilang udah jadi hal yang biasa.
Kalo di Bandung sepertinya musik seni lagi pada tahap perkembangan dan apresiasinya masih awam, tapi sudah mulai terlihat adanya arah apresiasi yang lebih tinggi lagi. Seharusnya sekolah-sekolah tinggi musik yang ada di Bandung bisa mendorong apresiasi ini, tapi ya mungkin butuh waktu. Tapi aku pikir kinerja KlabKlassik untuk hal ini sudah luar biasa, tinggal terus berjuang jangan pantang menyerah, karena peran kalian di wilayah ini sangat penting..hehe.
Tapi kalo dari segi penonton/ penikmat musik, yang aku rasain sih lebih sip di Bandung, soalnya kalo di jogja kesannya yang nonton ya “dia artis, aku juga artis “ sama-sama artis gitu kasarnya, jadinya animonya biasa-biasa aja. Tapi kalo di Bandung, banyak yang datang sebagai pure penikmat musik, jadi penghargaan yang diberikan terhadap yang di panggung itu terdengar lebih ikhlas dan lebih dari sanubari gitu.

KK : Trus sekarang lagi sibuk apa, Ram?
R : Sekarang ya lagi sibuk mempersiapkan ujian mayor nih,
terus di sela-sela waktunya juga ikut orkes-orkes seperti NSO dan Yogya Philharmonic Orchestra, terus juga lagi ngebantuin anak-anak komposisi di ISI bwat pergelaran komposisinya sebagai yang maenin karya-karya mereka, konsernya tanggal 26-28 mei ini, udah deket nih. Sekedar info tambahan, komunitas ini namanya 6,5 Composers.

KK : Ngomong-ngomong, Rama latihan berapa lama sih per harinya?
R : Rata-rata 2- 3 jam, tapi targetnya pingin ampe 6-8 jam perharinya.

KK : Trus ngomong-ngomong lagi, apa pesan dan kesan selama di KlabKlassik?
R : Asik tenan, soalnya komunitas ini punya satu kelebihan: keintiman di dalam maupun di luar pertemuan musik itu sendiri, klab ini seakan-akan bisa membuat orang-orang yang berada di dalamnya nyaman untuk show apapun..hehe. Tapi, sayangnya, kenapa orang-orang string-nya malah jarang yang bergabung ya? ini juga dilema yang dirasakan di Yogya juga, dimana pemain orkes kesannya lebih angkuh untuk bergabung dengan komunitas rendah hati semacam ini. Kebanyakan yang bergabung adalah dari kalangan gitar. Di Yogya juga loh, aneh tapi nyata. Padahal di komunitas seperti inilah kita bisa berbagi pengalaman atau saling bertukar pikiran, sedikit menyentuh ranah intelektual atau sekedar perang pendapat atau menunjukkan keahlian, tapi itu positif
pokoknya jangan berpikir instrumen anda paling dahsyat deh, instrumen sekedar pilihan, tapi ’bagaimana memainkannya’, itulah perjuangan sebenarnya.

KK : Oke, terakhir, Ram, ada pesan-pesan yang mau kamu bagikan?
R : Apa ya?
You will never make music without enjoying every single note that you play.
Buat pemain biola ataupun instrumen lainnya, inti dari semua teknik bermain musik adalah rileks. Buat diri kita senyaman mungkin dengan alat kita, kalau kita sendiri tidak nyaman, apalagi suara yang kita hasilkan.

KK : Amin, nuhun ah, Ram! Maturnuwun!
Rama : Same-same!

Kronologi para Komposer berdasarkan Periodisasi (Dari Era Polifoni hingga Romantik)

ERA POLIFONI (1200-1650)

Era Polifoni identik dengan penggunaan kontrapung. Kontrapung secara sederhana dapat diartikan sebagai dua atau lebih melodi yang independen, namun tetap harmoni jika dimainkan secara bersamaan –meski independensinya masih terasa-. Gaya polifoni ini awalnya lebih sering digunakan untuk karya-karya koral yang tidak diiringi instrumen (a capella).

Periode Gothik (1200-1550):

Periode ini merupakan awal mula bentuk dan teknik polifoni dikembangkan. Musik jaman itu disebut juga Ars Antiqua (Ancient Art – Musik Purba).

Ars Nova (Abad ke-14):

Pada era ini, teknik dan ritmik baru menjadikan ekspresi musik polifoni menjadi lebih berkembang. Periode Ars Nova atau New Art ini juga menjadi landasan yang kuat bagi terbentuknya berbagai sekolah, aliran dan mazhab musik polifoni di periode-periode berikutnya.

Awal Mula Sekolah Polifoni (Abad ke-15 dan 16):

Sekolah polifoni awalnya berdiri di Belanda (Abad ke-15) dengan tokohnya yaitu Dufay (1400-1474), Josquin de Pres (c. 1445-1521) dan Orlando di Lasso. Setelah itu muncul hampir bersamaan di Venezia dan Roma pada abad ke-16. Venezia terkenal dengan Willaert (c. 1488-1562) dan Giovanni Gabrieli (c. 1557- c. 1612), sedangkan Roma dengan Palestrina (c. 1525-1592) dan Victoria (c-1557-1612). Adapun di abad ke-16 tersebut, sekolah polifoni tidak selalu berkaitan dengan musik-musik religius, melainkan ada juga yang sekuler, dengan tokoh-tokoh seperti Monteverdi (1567-1643), Byrd (1543-1623), Morley (1557-1603), dan Gibbons (1583-1625).

Periode Barok (Abad ke-17 dan Awal Abad ke-18):

Pada periode ini, kontrapung lebih berkembang, dramatis, dan sering dikombinasikan dengan bentuk-bentuk seperti aria, duet, dan kuartet. Musik koral sudah mulai diiringi oleh instrumen dan tidak selalu dalam bentuk a capella. Bentuk-bentuk musik gereja dikembangkan, seperti oratorio, passion, dan cantata. Tokoh-tokohnya antara lain: Carissimi (1605-1674), Schutz (1585-1672), J.S. Bach (1685-1750) dan Handel (1685-1759).

ERA HOMOFONI (ABAD KE-17)

Era Homofoni secara sederhana dapat diartikan sebagai periode dimana musik dengan melodi tunggal disertai iringan menjadi populer. Ini melahirkan musik-musik semacam opera dan art-song. Instrumen-instrumen seperti organ, clavier, dan violin juga muncul pada era ini. Berikut akan disebutkan komposer-komposer berdasarkan instrumen atau jenis musik yang sering digubah untuk karya-karyanya.

Opera : Monteverdi (1567-1643), Lully (1632-1687), Purcell (1659-1695)
Organ : Sweelinck (1562-1621), Frescobaldi (1583-1643), Buxtehude (1637-1707), Froberger (1616-1667), J.S. Bach (1685-1750)
Clavier : Couperin le Grand (1668-1733), J.S. Bach (1685-1750), Domenico Scarlatti (1685-1757), Handel (1685-1759)
Violin : Corelli (1653-1713), Vivaldi (1678-1757), Tartini (1692-1770), J.S. Bach (1685-1750)
Art Song : Purcell (1659-1695), J.S. Bach (1685-1750)

PERIODE KLASIK (ABAD KE-18 DAN AWAL ABAD KE-19)

Pada periode ini, musik instrumental yang homofonik mendominasi, mengalahkan musik koral dan polifoni. Berbagai bentuk berkembang dan mengkristal, seperti sonata, concerto, dan overture. Ada juga kelompok-kelompok musik seperti string quartet dan simfoni orkestra berkembang di era ini. Komposer-komposer yang terkenal dengan musik instrumentalnya pada periode ini antara lain, K. P. E. Bach (1714-1788), Boccherini (1743-1805), Johann Stamitz (1717-1757), Mozart (1756-1791), Haydn (1732-1809), dan Beethoven (1770-1827). Sedangkan untuk musik opera, yang terkenal antara lain Rameau (1683-1762), Gluck (1714-1787), dan Pergolesi (1710-1736).

PERIODE ROMANTIK (ABAD KE-19)

Periode Romantik memberi penekanan pada emosi dan berbagai perasaan subjektif sang komposer. Melodi dikembangkan; harmoni mejadi lebih ekspresif; ritmik menjadi variatif; dan instrumentasi menjadi lebih kaya dan brilian, seiring dengan para komposer berpikir banyak hal tentang artikulasi nada dan bunyi. Bentuk-bentuk lama peninggalan Periode Klasik seperti simfoni, sonata, concerto, dsb, menjadi lebih fleksibel. Di sisi lain, berbagai bentuk baru juga lahir, seperti karya kecil untuk piano dan violin; serta media orkestra baru seperti konser overture dan puisi simfoni. Ciri lain dari Periode Romantik adalah mulai bermunculannya artis konser dan resitalis, serta penggunaan lebih banyak nada-nada kromatik. Berikut akan disebutkan komposer-komposer berdasarkan instrumen atau jenis musik yang sering digubah untuk karya-karyanya:

Musik Instrumental : Beethoven (1770-1827), Berlioz (1803-1869), Schubert (1797-1828), Schumann (1810-1856), Mendelssohn (1809-1847), Chopin (1810-1849), Paganini (1782-1840), Liszt (1811-1886), Lalo (1823-1892), Brahms (1833-1897), Chausson (1855-1899), Vieuxtemps (1820-1881), Wieniawski (1835-1880), Sarasate (1844-1908), Bruch (1838-1920), K. Goldmark (1830-1915), Franck (1820-1890)
Art Song : Schubert (1797-1828), Schumann (1810-1856), Brahms (1833-1897), Franck (1822-1890), Faure (1845-1924), Richard Strauss (1864-1949), Hugo Wolf (1860-1903)
Opera : Weber (1786-1826), Cherubini (1760-1842), Donizetti (1797-1848), Bellini (1801-1835), Rossini (1792-1868), Verdi (1813-1901), Bizet (1838-1875), Gounod (1818-1893), Massenet (1842-1912), Thomas (1811-1896), Offenbach (1819-1880), Ponchielli (1834-1886), Mayerbeer (1791-1864), Halevy (1791-1864), Wagner (1813-1883), Humperdinck (1854-1921)

Periode Romantik juga terbagi pada beberapa aliran, berikut komposer beserta alirannya.

Realisme dan Naturalisme

Paham yang menyatakan bahwa musik sebaiknya dibuat sedemikian rupa agar dapat diinterpretasi secara lebih realistik. Tokoh-tokohnya antara lain: Mussorgsky (1839-1881), Charpentier (1860- ), Leoncavallo (1863-1919), Mascagni (1863-1945), Puccini (1858-1924)

Neo-Romantisisme

Paham ini ditularkan salah satunya oleh Richard Wagner. Neo-Romantisisme menekankan penggunaan instrumen orkestra yang lebih besar dan megah. Aspek-aspek mistik dan filosofis mulai dipergunakan. Ini kebalikan dari realisme dan naturalisme. Tokoh-tokohnya antara lain: Bruckner (1824-1896), Mahler (1860-1911), Scriabin (1872-1915), Richard Strauss (1864-1949).

Nasionalisme

Paham yang menekankan penggunaan lagu-lagu atau tarian daerah sebagai pijakan untuk membuat karya yang merepresentasi kebudayaan, sejarah atau latar belakang sebuah negara. Tokoh-tokohnya yakni: Glinka (1804-1857), ”The Russian Five”: Balakirev (1837-1910); Borodin (1833-1887); Cui (1835-1918); Mussorgsky (1839-1881); Rimsky Korsakov (1844-1908), Tchaikovsky (1840-1893), Grieg (1843-1907), Dvorak (1841-1904), Smetana (1824-1884), Albeniz (1860-1909).


Diterjemahkan dari: Ewen, David. The Home Book of Musical Knowledge. Prentice-Hall, Inc. 1960, hal: 7-14.

Sunday, May 10, 2009

Edvard Grieg, Chopin dari Utara


Edvard Grieg lahir di Bergen, Norwegia, pada 15 Juni 1843. Sejak usia sekolah, Grieg telah menulis beberapa komposisi untuk variasi piano, yang dikagumi oleh violinis terkenal di Norwegia, Ole Bull. Bull kemudian menyuruh Grieg untuk mengkonsentrasikan dirinya di musik saja. Pada tahun 1858, Grieg masuk konservatori Leipzig, dimana ia dibimbing oleh beberapa guru yaitu Reinecke, Moscheles dan Richter. Dari Leipzig, ia kemudian pergi ke Kopenhagen, dan bertemu Richard Nordraak, seorang musisi dan nasionalis muda, yang kemudian menjadi sahabatnya. Pertemanan ini menulari Grieg untuk menulis komposisi untuk lagu-lagu nasional. Pada tahun 1865, Nordraak meninggal muda, dan Grieg bertekad untuk terus membawa idealisme kawannya itu. Ia kemudian membentuk orkestra di Christiana (sekarang menjadi Oslo) dan memimpinnya untuk beberapa karya musik nasional Norwegia.
Pada tahun 1867, Grieg menikahi Nina Hagerup, yang menginspirasinya untuk menulis komposisi berjudul "I Love You". Sejak menikah, produktivitasnya bertambah, ia menulis Sonata in F Major for Violin and Piano dan Piano Concerto yang mana Franz Liszt pun mengakuinya. Liszt berkata, "Teruskan, Temanku, kamu punya talenta yang luar biasa." Konserto tersebut sukses ditampilkan secara perdana di tahun 1870 di Oslo, dengan Edmund Neupart sebagai solis.
Pada tahun 1874, Grieg kembali ke kota kelahirannya. Saat itu juga, Henrik Ibsen, seorang dramawan terkenal, meminta dia menulis musik untuk dramanya yang berjudul Peer Gynt. Musik tersebut muncul pertama kali pada 24 Februari 1876 dan mendapat banyak pujian.
Grieg merupakan salah satu komposer Norwegia yang terpenting. Pada masanya, pemerintah sering sekali memberikan penghargaan dan pendanaan untuk proyek-proyeknya. Penghargaan itu tidak hanya datang dari negerinya, tapi juga di luar seperti Swedia, Prancis, Inggris dan Austria. Karena sensitivitas, musikalitas, dan gaya musiknya yang puitis seperti Chopin, ia sering dijuluki "Chopin dari Utara". Grieg meninggal di kota kelahirannya, pada 4 September 1907.

Diterjemahkan dari:
Ewen, David. The Home Book of Musical Knowledge. Prentice-Hall, Inc. 1960. Hal 62-63.

Istilah dalam Musik Vokal dan Koral (bagian 1)

Berikut ini akan dibahas beberapa istilah dalam bentuk dasar musik vokal dan koral:

Aria : Lagu yang menjadi salah satu bagian dari opera atau oratorio. Claudio Monteverdi adalah orang pertama mengembangkan lirik dari Aria. Aria banyak berkembang dan disempurnakan oleh komposer-komposer Italia macam Alessandro Scarlatti yang populer dengan da capo aria-nya (terdiri dari tiga bagian, dimana bagian ketiga adalah pengulangan bagian yang pertama), serta Bellini, Donizetti, dan Verdi. Adapun istilah lain seperti aria cantabile, yakni lagu yang dinyanyikan secara mengalir dan emosional, dimana penyanyi punya kebebasan untuk berimprovisasi di ornamen-ornamen tertentu. Lalu ada aria di bravura, yang lebih menitikberatkan pada kemampuan teknis. Aria parlente, yang lebih mendekati deklamasi ketimbang melodi.

Carol : Lagu natal, biasanya dengan karakter yang religius. Diyakini bahwa karol diawali di gereja St. Francis, yakni di Gresia, dekat Assisi, Italia. Tidak ada keterangan waktu kapan St. Francis memulainya, namun diyakini bahwa karol paling tua yang pernah ditulis adalah "The Boar's Head" pada tahun 1521. Karol berkembang tidak hanya sebatas di lingkup gereja, melainkan juga menjadi musik rakyat bagi beberapa komunitas tertentu. Seperti di Chester, Inggris, pada abad ke-14, pernah warga lokal mengusir beberapa musisi dalam sebuah acara umum. karena tidak mampu memainkan karol dengan baik.
Karol bisa berupa lirik atau narasi. Lagunya seringkali tentang segala hal yang transenden. Adapun ia bisa mengadaptasi melodi-melodi dari lagu sekular, untuk kemudian diubah menjadi lirik yang religius, dan bahkan sebaliknya, seperti The Beggar's Opera-nya Pepusch.
Beberapa karol yang terkenal adalah "Wassail Song", "Down in Yon Forest", "We've Been Awhile Awandering", dan "Silent Night, Holy Night".

Elegy : Lagu yang biasa ditujukan untuk kematian seseorang. Elegi yang populer adalah "Elegie" karya Jules Massenet.

Mattinata : Disebut juga sebagai "lagu selamat pagi", lagu penuh cinta yang digambarkan dinyanyikan oleh seseorang dari jendela. Sangat disenangi oleh banyak komposer Italia seperti Leon-cavallo dan Tosti.

Serenade : "Lagu cinta di malam hari", digambarkan dinyanyikan oleh seorang pria yang berada di bawah jendela kamar seorang wanita. Contoh serenade yang terkenal adalah karya Schubert, "serenade" yang diambil dari Schwanengesang. Selain itu ada pula karya-karya dari Brahms, Richard Strauss, dan Tosti. Selain itu ada pula yang dinamakan serenata, bentuk komposisi vokal yang populer di abad ke-18, kadang disebut juga sebagai kantata sekular.



Liputan Konser D'Java String Quartet

Diambil dari www.tobucil.blogspot.com


“Dilarang memotret dengan menggunakan blitz, memotretlah dengan menggunakan kamera atau hape yang berkamera. Dilarang berbicara ketika lagu berlangsung, apalagi membicarakan kejelekan orang lain. Dilarang tepuk tangan sebelum lagu berakhir, apalagi jika cinta bertepuk sebelah tangan.”

Itu jelas bukan cuap cuap MC yang sedang membacakan protokol pertunjukkan musik klasik. Itu cuma khayalan Tobuciler yang berharap kadang-kadang boleh juga si MC berkata demikian. Biar suasana konser musik klasik lumayan cair lah, jangan terlalu tegang dan bikin gusar sana sini. Namun tanpa paragraf itu pun, resital D’Java String Quartet yang diselenggarakan 17 April kemarin ternyata tak sedemikian menegangkannya. Jika menengok blog Tobucil setidaknya dua tiga minggu ke belakang, nama grup tersebut sering disebut. Namun baru kali inilah, acara puncaknya alias pamungkas, diliput oleh Tobuciler.

Jadi begini, hari Jumat itu tanggal 17 April. Di Auditorium CCF mereka tampil. Mulai jam 19.30, penonton sudah memadati kursi sejak pukul tujuhnya. Ini luar biasa untuk sebuah pertunjukkan musik klasik, yang banyak musisinya menganut paham “setengah kapasitas pun udah syukur”. Memang, musik klasik seringkali identik dengan keseriusan dan keribetan, maka tak banyak orang mau sengaja datang, kecuali benar-benar orang yang serius dan ribet. Namun kebanyakan yang datang tahu, para penampil ini tidak murni demikian. Kuartet gesek yang diisi oleh Rama (biola), Dani (biola), Ade (cello) dan Dwi (biola alto) ini punya selera humor yang baik di atas panggung. Sebelum karya-karya mulai dimainkan, mereka seringkali memulainya dengan penjelasan. Penjelasan ini sungguh polos dan gamblang, dibawa santai dan ringan. Penonton pun senang aduhai bukan kepalang.

D’Java String Quartet membukanya dengan sebuah karya Mozart yang genit. Setiap nada seolah memanggil para penonton, “hay, godain kita dong.” Ini serius, menampilkan Mozart, seorang komposer besar era Klasik, memang mesti segenit mungkin. Setelah aplaus, keempat pemuda tak bertato itu giliran menampilkan karya seorang komposer yang suka galau, yakni Beethoven. Judulnya String Quartet no. 18, gerakan pertama. Jreeet tedodet tot tet tot tet jrooot. Tobuciler ingat betul nadanya. Memukau.

Sesi pertama ditutup dengan penampilan dua dua. Apa itu dua dua? Dari empat orang itu dibagi dua. Jadilah dua orang dua orang, alias dua dua. Yang pertama Rama dan Dwi bermain Passacaglia karya Handel, yang berikutnya Dani dan Ade memainkan lagu kontemporer karya Zoltan Kodaly, yang membuat penonton berkerut kerut penuh makna dan arti.

Selesai break, mereka tiba-tiba sumringah menghadapi sesi dua. Kenapa? Setelah ditanya, katanya mereka senang sudah melewati sesi pertama. Katanya sesi pertama lagunya berat-berat, yang sesi dua ringan-ringan. Dibukalah dengan karya Claude Debussy, seorang komposer Impresionis asal Prancis. Tet tot tot tet todedot tet tot tet. Luar biasa.

Setelah itu keempat pemuda belum menikah tapi ingin itu menampilkan lagu karya komposer asal Georgia (Tobuciler sempat mendengarnya seperti Yogya), bernama Tsintsadze. Empat bagian karya itu dibawakan D’java dengan apik, termasuk bagian akhirnya yang diceritakan Ade sebagai: lagu pengantar Hitler tidur.

Masuklah lagu terakhir, karya Antonin Dvorak (baca: Forzak). Berjudul “The American”. Panjang nian lagu itu. Mendayu-dayu. Kadang mengeras dan berteriak bagai orang teriak maling. Hingga akhirnya dengan cerdas mereka menutup lagu terakhir dengan bagian yang keras menggelora. Penonton pun bertepuk tangan panjang. Riuh. Bahkan hingga D’Java meninggalkan panggung. Eh penonton masih tepuk tangan juga. Sehingga keempatnya mesti naik lagi untuk meredakan tepuk tangan. ”Stop stop, eh udah tepuk tangannya, ga capek kalian?” itu Tobuciler berandai-andai mereka berkata demikian. Tapi tentu saja tidak. Mereka meredakannya dengan cara yang elegan, yakni: menampilkan Eine Kleine Nachtmusic-nya Mozart bagian keempat. Meski wajah lelah, tubuh lemah. Tapi Tobuciler tampaknya tahu bahwa hatinya cerah. Karena penonton terus memperhatikan dengan wajah antusias. Seolah lupa bahwa malam terus larut, besok anaknya harus sekolah, di rumah pembantu ditinggal sendirian, mobil yang parkir di BEC tutup jam sembilan, dan lain sebagainya. Lagu berakhir, acara pun berakhir, karena tepuk tangan sudah reda. Ada yang langsung pulang ada yang tidak. Yang tidak, masuk ke ruang ganti: menyalami mereka satu per satu, mengajak berfoto, dan bertanya-tanya entah apa, mungkin apakah kamu sudah punya pacar atau belum?

Demikianlah cerita dari konser D’Java String Quartet. Mari berharap kapan-kapan mereka bisa kembali lagi. Mencerah ceriakan Bandung yang sudah cerah ceria tapi belum terlalu. Keep Bandung Beautiful, euy!


foto dok. Tarlen

Seminggu Bersama D'Java String Quartet

diambil dari www.tobucil.blogspot.com

Tanggal 17 April di Auditorium CCF kemarin, Bandung disuguhi gelaran istimewa, yaitu konser D’Java String Quartet (DSQ). Kuartet gesek asal Yogya ini tampil memukau dan membuat CCF penuh sesak bagaikan antrian sembako. DSQ, kala di panggung tampil perkasa dan nyaris tanpa cela. Penonton pun di penghujung konser melakukan tepuk tangan panjang yang artinya minta tambah lagu lagi. Lalu sesudahnya, grup yang terdiri dari Danny (biola), Rama (biola), Ade (cello), dan Dwi (biola alto) itu dikerubuti penggemar yang ingin berfoto, bersalaman, minta tanda tangan, atau mungkin juga menusuk dari belakang. Intinya, hari itu DSQ menjadi bintang dalam semalam. Tobuciler, yang membantu mempersiapkan konser mereka, senang dengan hal ini. Karena apa? Karena Tobuciler kurang lebih tahu bahwa persiapannya sungguh tak mudah. Dalam persiapan itu pula, Tobuciler menemukan bahwa musisi klasik juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati. Berikut petikan agenda yang sempat dicatat Tobuciler tentang keseharian mereka baik sebelum maupun sesudah konser:

Minggu (12/04): Menurut jadwal kereta, mereka mestinya datang pukul enam pagi. Tobuciler yang takut kebablasan kala menjemput mereka, memilih untuk begadang main kartu bersama teman-temannya. Ketika main kartu ini, Tobuciler kaget karena temannya, Karel, ternyata punya paket fullhouse. Namun tak penting untuk membahasnya karena ini sedang membicarakan DSQ. Akhirnya entah karena masinisnya kenapa atau apa, kereta baru datang pukul sembilan. Tobuciler menggerutu dalam hati, ”tau gitu gw tidur dulu, euy!” Tapi tak apa, dijemputlah mereka, bersiap-siap sejenak di kediaman orangtua Tobuciler, lalu diantarkanlah DSQ ke Tobucil untuk tampil di Musik Sore Tobucil yang terkenal itu. Selagu dua lagu, sepukau dua pukau, pulang juga mereka ke peraduan. Namun sebelumnya, DSQ diwawancara dulu di Radio Mara. Sebelumnya lagi, DSQ makan dulu. Sebelumnya pula, mereka naik mobil dan jalan-jalan barang sejenak.



Senin (13/04): Tobuciler bangun pagi jam delapan. Lalu sarapan dan jalan pagi keliling komplek. Setelah itu kembali tidur. Tobuciler bingung karena hari itu tidak bertemu DSQ. Mereka numpang tidur, makan, dan buang air di rumah Rama. Jadi Tobuciler bercerita kegiatannya sendiri saja.

Selasa (14/04): Malam setelah Tobuciler melaksanakan kegiatan hariannya, DSQ datang jua. Ada apa kenapa? Mereka mau diwawancara oleh radio Walagri yang terletak di jalan dago seberang Borromeus. Dipandu penyiar Grace dan musikolog Pak Tono, DSQ pun membawakan selagu dua lagu. Sesudahnya Rama sakit perut.

Rabu (15/04): Kalau tidak bertemu mereka mau cerita apa?

Kamis (16/04): Tobuciler cetak buklet untuk konser mereka. Awalnya harganya dikira murah, taunya seawan (tidak sampai langit). Setelah bertukar pesan dengan Rama, akhirnya disepakati buklet di print digital saja biar bagus biarpun mahal. Setelah itu Tobuciler mengajar gitar, lalu pulang ke rumah. Cuci kaki, gosok gigi, minum susu sebelum tidur.

Jumat (17/04): Konser tiba juga. Liputannya minggu depan ya..

Sabtu (18/04): Prahara ternyata tak serta merta berakhir bagi Tobuciler. Setelah lega akibat penampilan semalam, Tobuciler berharap bisa mengerjakan UAS sekolahnya dengan tenteram loh jenawi. Tahu-tahu bos Tobucil menelepon di tengah UAS:

Mba Tarlen : ”Halo Syarif, sedang apa kamu?”

Tobuciler : ”Eh Mba, lagi UAS nih” (bisik-bisik)

Mba Tarlen : ”Oh, gitu.. ya udah atuh”

Tobuciler : ”Eh, tapi da dosennya ga ada” (bicara keras)

Mba Tarlen : ”Oh, jadi gapapa nih? Gini, kan Tanto ulang tahun, kita gak tau mau ngasih kado apa, nah gimana kalo D’Java disuruh maen?”

Tobuciler : ”Waduh? Eh? Bentar yah?” (sambil melihat deretan soal UAS yang masih menumpuk)

Tobuciler lagi : “Ntar deh dikabarin yah, Mba” (telepon ditutup sambil terdengar Mba Tarlen bilang oke di seberang sana)


Untungnya UAS hari itu kurang jelas apa maksudnya. Sehingga Tobuciler tak terlalu merasa bersalah ketika meninggalkannya. Jadilah DSQ tampil juga di acara ulang tahun Tanto itu. Yang mana oleh Tanto disebut-sebut sebagai ”kado yang berbudaya”. Beres main selagu dua lagu, sepukau dua pukau, Danny kehilangan satu dari sepasang sepatunya. Entah kemana sepatu itu, mungkin diambil orang yang kesengsem dengan penampilan mereka. Yang pasti Danny nampak bingung, ngambil sepatu kok satu doang? Sepasang aja sekalian! Akhirnya DSQ pun pulang nebeng Tobuciler, yang mana di rumah Tobuciler kembali mereka dieksploitasi bagaikan bangsa Indonesia di bawah penjajahan kumpeni Belanda. Ditampilkanlah mereka lagi barang selagu dua lagu tiga lagu. Beres itu mereka ambruk total, capek dan tepar. Tapi sebelumnya mereka makan dulu.

Minggu (19/04): Bangun jam tujuh pagi karena mau naik kereta jam delapan, mereka memilih untuk tidak mandi. Tapi mereka tetap memilih makan dan naik mobil. Pamitlah Rama dan ketiga temannya pada pemilik rumah. Berpelukanlah mereka seperti lebaran telah tiba. Tobuciler memberi DSQ kenang-kenangan poster mereka sendiri. Tobuciler juga pegang, dan ingin mereka tandatangan, tapi tidak jadi karena tidak ada pulpennya. Diantarlah mereka ke stasiun Bandung, tempat kereta berseliweran dan mereka telah memilih keretanya sendiri. Waktu itu sudah jam delapan kurang lima, kereta belum datang juga. Mereka mau tanya orang-orang masinisnya sudah sampai di mana, tapi tidak ada yang jadi bertanya. Akhirnya kereta datang jua, dan kami mau berpelukan tapi tidak jadi karena tidak ada satupun yang sudah mandi. Tapi tak apa, teman, hati kita toh tetap bersalaman bagaikan Zainuddin M.Z. dan jemaatnya. Naiklah mereka ke dalam kereta, meninggalkan Bandung yang gundah gulana.

Ayo Minta Maaf (Lagi) dan Balas Dendam



Ibarat Lebaran, baru saja meminta maaf, biasanya kesalahan datang lagi di waktu dekat. Inilah nasib blog KlabKlassik. Baru saja beberapa minggu lalu minta maaf karena blog jarang di-update, eh sehabis itu hilang entah kemana. Sebenarnya tidak entah kemana juga, tapi akibat sumber daya manusia yang terbatas untuk melaksanakan tugas ini. Daripada habis untuk meminta maaf dan menjelaskan alasannya, lebih baik disajikan saja edisi balas dendam ini. Kenapa balas dendam? Karena artikel yang dimuat akan banyak sekalian, ibarat shalat yang dijama' karena darurat. Apakah senin depan akan hilang lagi? kami usahakan tidak ya. Bach memberkati!