Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, June 07, 2009

Diskusi Musik Kontemporer: Sebuah Introduksi

Sudah lama KlabKlassik tidak mengadakan diskusi-diskusi yang sifatnya serius. Setiap bersua, biasanya nongkrong dan bercanda. Meski demikian, KK tidak menganggap kegiatan itu sia-sia. Selama ujung-ujungnya menguatkan silaturahmi, cara apapun boleh. Hanya saja, belakangan awak KK mulai mengeluh, tentang kejenuhan mereka tertawa-tawa. Akhirnya sebagai selingan, bolehlah kegiatan serius jadi ajang silaturahmi. Setelah menimbang-nimbang topik, akhirnya diputuskanlah untuk mengadakan diskusi musik kontemporer. Apa itu musik kontemporer? justru itu, kami mengadakannya, karena kami tak tahu jawabannya. Dalam rapat juga tanggal diputuskan, yakni 14 Juni jam 3 sore, tempatnya di Tobucil, Jl. Aceh no. 56.
Hanya saja begini, berlagak sok tau, kami akan coba memberikan pengantar, sebelum diskusi nantinya. Kontemporer adalah istilah yang sangat cair dan fleksibel. Alih-alih definisi ketat, kami cuma sanggup memberikan beberapa contoh penggunaan terminologi. Dalam obrolan kami dengan Pak Tono, dosen UPI, kami diberi pengetahuan bahwa yang membedakan "modern" dan "kontemporer" adalah sebagai berikut: "modern itu kekinian, kontemporer adalah sesuatu yang akan datang." Di kesempatan lain, jika anda sering buka wikipedia, maka akan ada kalimat yang jika diterjemahkan kira-kira akan berbunyi seperti ini, "Ludwig van Beethoven adalah seorang komposer kontemporer pada jamannya." Dalam obrolan lain lagi, dengan Dieter Mack, seorang komponis Jerman, kami malah tak diberi definisi atau contoh penggunaan kata kontemporer dalam sebuah kalimat, ia hanya menggunakan metafor, "memahami kontemporer adalah seperti mencicipi nasi goreng".
Jadi apa sebenarnya kontemporer itu? kekinian atau kemasadepanan? Jika memang kekinian, apa yang membedakannya dari musik populer? Jika memang kemasadepanan, lantas apa yang membedakannya dari avantgardisme? Adakah andil musik klasik dalam kemunculan musik kontemporer? Ikuti diskusi bersama kami, tidak perlu bayar, hanya perlu datang dengan sikap kritis dan terbuka. Oia, ada peserta diskusi tamu juga, yang kami anggap ahli di bidang kontemporer ini, yakni Royke B. Koapaha (dosen ISI Yogya), dan Diecky Kurniawan Indrapradja (Komponis). Jangan lupa, 14 Juni pukul tiga, Tobucil Jl. Aceh 56. Bach Memberkati.

No comments: