Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Sunday, June 21, 2009

Musik Kontemporer: Sebuah Introduksi

(diambil dari makalah Diskusi Musik Kontemporer [14/6/09])

Istilah kontemporer sering kali kita dengar, istilah tersebut biasanya melekat dengan idiom musik, tari, teater, lukisan, dan bidang seni lainnya. Dalam tulisan ini pemahaman kontemporer dibatasi dalam ranah musik, musik kontemporer.
Istilah kontemporer (contemporary) bukan merupakan produk budaya masyarakat Indonesia, sehinga sering kali diadopsi berdasarkan pemahaman yang beragam. Secara spesifik, musik kontemporer hanya dapat dipahami dalam hubungannya dengan perkembangan sejarah musik Barat di Eropa dan Amerika . Meskipun dapat mengacu pada pengertian yang spesifik, sesungguhnya label kontemporer yang dibubuhkan pada kata musik, sama sekali tidak menunjuk pada sebuah pengertian yang per-definisi bersifat normatif. Sehingga pada kenyataannya bagi mereka yang awam, sering terjebak (bahkan dijebak) dalam kredo kontemporer yang salah kaprah, hingga berlarut-larut.
Musik kontemporer memiliki benang merah yang cukup erat dengan perkembangan musik di Barat. Kendatipun demikian, musik kontemporer bukanlah sebuah aliran musik, genre musik, zaman, sebagaimana kita memahami dalam konotasi zaman Barok, Klasik, Romantik.
Beberapa catatan tentang peristilahan kontemporer:
• Dr. Fuad Hasan berpendapat, bahwa seni kontemporer adalah seni yang menggambarkan “zeitgeist” atau jiwa waktu masa kini .
• Dr. Umar Kayam berpendapat, bahwa seni kontemporer menunjukkan kondisi kreatif dari masa terakhir .
• Kontemporer berarti kejadian, keberadaan, kehidupan, yang ditandai oleh karakteristik periode sekarang .
• Musik kontemporer di Barat adalah perkembangan karya seni otonom, dalam hal ini musik seni (art music) di Eropa dan Amerika sejak awal abad ke-20, sebagai suatu sikap seniman dalam menggarap di ujung perkembangan seni yang digeluti, hal ini merupakan reaksi atas dipandangnya musik seni sebelumnya yang tidak lagi sesuai dengan tuntutan zaman .

Kontemporer, kekinian, dan akan datang
Tahun 1910 dianggap sebagai ancar-ancar tonggak sejarah musik baru abad ke-20 (musik kontemporer) . Pada sekitar tahun tersebut kejayaan masa lampau dianggap berakhir, bersamaan dengan munculnya gerakan-gerakan musik baru secara yang secara signifikan membedakan dengan musik-musik abad sebelumnya. Namun demikian, sebuah karya (seni) seharusnya memiliki sifat-sifat ke-kontemporerannya. Artinya, karya-karya cantata-nya Bach (sebagai contoh) adalah karya kontemporer di zamannya, begitu juga dengan karya-karya Sonata Mozart dizamannya.
Slamet Abdul Sjukur mengemukakan, bahwa setiap karya musik (art music) itu memiliki ide-ide baru yang ditawarkan (contemporary idea) pada zamannya, maka tidak mengherankan kalau Bach ditinggalkan jemaah gereja St. Thomas, karena musiknya dikecam sebagai karya yang “norak” pada saat itu .
Ontologi yang berubah merupakan hasil dari tindakan mengubah, tetapi setelah hasil tersebut terbentuk sebagai suatu entitas, maka padanya tidak melekat lagi perubahan. Ia telah menetap menjadi sesuatu (dalam hal ini karya seni musik).
Kita sebagai orang Indonesia, terkadang mengetahui dan menerima salah satu karya John Cage dan salah satu karya Beethoven secara bersamaan (dalam waktu yang relatif sama), sehingga menganggap karya Cage dan Beethoven adalah sama saja dirasakan kebaruannya (kekiniannya). Kemudian bagi orang Indonesia tersebut, merasa punya hak untuk menciptakan karya musik ala Beethoven, lantas kemudian menganggap karya ciptaannya tersebut adalah karya modern, kontemporer, atau karya musik saat ini. Sebuah fenomena salah kaprah mengartikan konteks kekinian dalam sebuah karya. Hal ini sering kali terjadi dan bisa dimaklumi?.
Kontemporer memang memiliki hubungan erat dengan masa kini (dalam konteks ruang), sekaligus memiliki cita-cita tinggi di masa yang akan datang (dalam konteks waktu). Masa yang akan datang diartikan sebagai suatu sikap (being) avantgarde , maksudnya memiliki daya melintasi estetika seni dan budaya yang berlaku pada saat ini.

Kekinian dalam musik populer
Lantas apakah istilah kontemporer dan kekiniannya bisa melekat pada musik popular (pop, jazz, rock) yang aktual sekalipun? Kenyataanya banyak orang yang melontarkan pendapat demikian. Permasalahan ini harus segera diluruskan, agar kita tidak terjebak berlarut-larut dan mendapatkan penyelesaian yang memadai.
Musik popular (pop, jazz, rock) pada hakekatnya adalah musik hiburan. Musik yang diangkat oleh system kapitalisme dan berorientasi pada komersialisme. Artinya, karya-karya yang dibuat dalam musik popular, haruslah bersandar pada pasar. Kualitas karya tersebut tidak dinilai dari ide atau konsep kekaryaan, tidak pula dinilai dari aspek musikalnya, melainkan dinilai dari seberapa banyak diminati orang. Di satu sisi, orang bisa menikmati karena biasa. Merubah pakem-pakem yang biasa dalam musik popular adalah melawan musik popular itu sendiri.
Kekinian dalam musik popular tidak berarti kontemporer. Untuk disebut kontemporer, masih harus dikaji dan dianalisa lebih dalam lagi.

Diecky K. Indrapradja

No comments: