Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, June 15, 2009

Pow Ensemble: Kala Segala Bunyi adalah Harmoni

,

Pada hari Kamis (11/6) kemarin, di Auditorium CCF diadakan pertunjukkan musik elektronik dari Pow Ensemble. Siapakah gerangan mereka? Dalam buku programnya, dijelaskan bahwa mereka-mereka ini menyebut dirinya sebagai "ensembel abad 21". Ditemukan pada tahun 2001 oleh Luc Houtkamp, ensembel ini mendasarkan kekuatan instrumennya pada bunyi-bunyian elektronik (baca: komputer). Pow Ensemble beranggotakan Wiek Hijmans (gitar elektrik), Luc Houtkamp (komputer, elektronik), dan Guy Harries (komputer, elektronik).
Konser dibuka dengan penampilan resital Wiek Hijmans pada sesi pertama. Pertunjukkan gitar tunggal biasanya akrab dilakukan di acara-acara musik klasik. Tapi Hijmans mendobraknya, ia mengatakan bahwa memainkan karya-karya klasik tak mesti menggunakan gitar akustik. Dengan gitar elektrik, ada kekayaan bunyi yang baru. Lagu pertama yang ia bawakan adalah Soneto 1 karya Enriquez de Valderrabano dengan gaya Renaisans yang kental. Lagu kedua barulah ia membawakan sebuah karya kontemporer, yang mana mengandalkan sensasi bunyi-bunyian alih-alih nada, judulnya Nightaway karya Betsy Jolas. Lagu berikutnya, ia ingin bercerita tentang perjalanan dari Yogya ke Bandung lewat kereta, dan terciptalah satu karya pendek. Terampil menggunakan efek delay, Hijmans menyuguhkan sensasi derak kereta bak kuda sedang dihela. Lagu berikutnya kembali ke karya kontemporer dari Maraatsj berjudul Happy End, Happy Beginning. Setelah itu Hijmans kembali mempertontonkan kehebatannya memainkan delay dalam lagu bernuansa jazz, judulnya Round Trip karya Ornette Coleman. Ia memainkan sekaligus walking bass, akord, dan melodi seorang diri. Sesi pertama ditutup dengan karyanya sendiri yang tanpa judul, masih dengan pertunjukkan kehebatan delay.
Sesi kedua barulah mereka tampil komplit. Bertiga mereka membawakan karya-karya dalam balutan musik elektronik yang amat kuat. Kira-kira mekanismenya seperti ini: Gitar elektrik Hijmans disambungkan pada peralatan elektronik yang dipunyai Harries dan Houkamp, lalu bunyi-bunyian dari gitar ditransformasi menjadi bunyi-bunyian baru lewat proses elektronis. Terkadang juga komputer (baca: laptop) yang mereka punyai, mengeluarkan bunyi-bunyi independen. Berturut-turut mereka menampilkan karya-karya Guy Harries (Safari TV), alalu Luc Houtkamp (Uiterste Staat), Wiek Hijmans (Wiipap), dan Gabriel Prokofiev (Stolen Guitars).
Secara subjektif, musik mereka sulit dicerna. Ini wajar, mengingat sikap kontemporer yang mereka usung. Ada unsur kebaruan dan perlawanan terhadap kemapanan. Bagi mereka, ensembel tak mesti berkaitan dengan instrumen konvensional, tapi juga boleh elektronis, atau dalam hal ini komputer. Apa yang mereka sajikan juga bukanlah sajian nada-nada atau harmoni-harmoni yang "wajar", melainkan bunyi-bunyian yang kadang absurd dan nakal. Mungkin ada benarnya jaman ini seringkali disebut pos-estetis. Karena estetika tak mesti indah dan menenangkan. Ada kalanya ia absurd, tak terpahami, dan membingungkan.

No comments: