Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, June 01, 2009

Tesla Manaf Effendi, Kacang Tidak Lupa Kulitnya



Ketika Tesla aktif di KlabKlassik, dia memang seorang gitaris klasik handal. Tekniknya mumpuni, keberaniannya tinggi. Yang berbeda adalah, tak seperti stereotip musisi klasik pada umumnya: dia sedikit ”nakal”. Nakal dari sudut pandang apa? Yakni ketika bermain, ia tak melulu fokus pada teknik dan kesempurnaan. Sedikit ”main kotor” tak apa, asalkan menghibur. Keliaran ini agaknya mendorong Tesla untuk beradaptasi dengan jazz, yang memang liar adalah bagian dari kesempurnaannya. Belajar pada Venche Manuhutu, seorang guru jazz berpengalaman, gitaris kelahiran Jakarta 22 tahun lalu ini segera berkembang menjadi gitaris jazz handal. Sekarang nyaris seluruh panggung jazz di Bandung dilahapnya. Meski demikian, evolusi ini tak membuatnya melupakan sang akar, yakni musik klasik. Ia mengaku berhutang budi pada musik klasik, bahkan sedang berupaya menjamah kembali. Tesla Manaf Effendi, kacang yang tidak lupa akan kulitnya.

Halo Tesla, lagi sibuk apa nih?

Aktivitas saya bermacam-macam, tapi yang paling mendominasi sih bermain musik dan kuliah. Saya amat jarang berpergian bila itu tidak berhubungan dengan musik atau kuliah. Dalam sehari saya banyak menghabiskan waktu berjam-jam untuk latihan musik, dan sedikit sekali waktu untuk belajar, hehe.

Trus Tes, gimana sih perjalanan belajar gitar kamu?

Awal belajar gitar tuh tepatnya 11-12 tahun yang lalu yaitu pada saat saya berumur sembilan tahun. Saya diajari oleh ayah saya yang mana beliau pernah bermain gitar juga pada masa mudanya. Awalnya sih hanya iseng, demi memenuhi tugas akademis sekolah dasar yang diwajibkan harus bisa memainkan instrumen musik apapun demi pelajaran kesenian, eh jadi keterusan deh sampai sekarang.
Perjalanan belajar gitar saya itu dimulai dari les gitar klasik di Bekasi, guru pertama saya adalah Ismail, beliau masih mengajar di Nuansa Musik Kalimalang. Lalu guru kedua saya di bekasi itu adalah Agus, beliau juga masih mengajar di Nuansa Musik Kalimalang. Selain itu, saya sempat belajar atau lebih tepatnya sharing dengan Jubing Kristianto di Kebon Jeruk, kami bertemu di berbagai festival gitar klasik tingkat wilayah dan nasional. Setelah saya kuliah di Bandung, saya belajar gitar klasik pada Karsono, oleh beliau saya mendapat banyak pencerahan dari segi aransemen lagu menjadi solo gitar klasik, yang dimana ilmu itu amat berguna untuk mengiringi orang bernyanyi secara spontanitas biarpun kita tidak tahu lagu yang akan dinyanyikan. Setelah belajar gitar klasik, saya ‘mangkir’ menjadi belajar gitar dengan spesialisasi jazz ke Venche Manuhutu, selama 2,5 tahun saya total belajar jazz, hingga benar-benar total meninggalkan gitar klasik saya (sekarang sih sudah mulai belajar main klasik lagi nih). Dari ketotalan itu akhirnya berbuah manis, banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang saya dapatkan dari kemaksimalan itu.

Terus mengapa memilih jazz setelah bisa main klasik?

Mengapa saya memilih jazz setelah bisa main klasik? sebenarnya saya tidak bisa main klasik, tapi bisa memainkan karya orang dalam aransemen gitar klasik. Dimana teorinya selama saya belajar sembilan tahun tidak pernah saya dapatkan. Dalam klasik, hanya teknik saja yang dijelaskan di buku-buku gitarnya. Bagi saya, itu membosankan, karena sejago-jagonya saya memainkan lagu klasik, labih jago lagi orang yang telah membuat lagu tersebut. Jadi, selama sembilan tahun, saya hanya menjadi orang lain yang dimana interpretasi, improvisasi, dan ekspresi dari seorang musisi itu tertahan oleh karya itu sendiri (itu yang dialami pemain gitar klasik pada umumnya). Biarpun pada zaman klasik entah itu romantik, kontemporer dan lain-lain (tidak hapal saya, hehe) belum diajarkan apa yang dinamakan dengan reharmonisasi, chordal, modes dan lain-lain, tapi komposer yang tinggal di zaman itu sudah tidak bisa diragukan lagi kejeniusannya dalam bermusik. Bagi saya, itu yang amat sulit kita kejar di zaman sekarang, dengan adanya teori-teori dasar dalam bermusik yang semuanya tertera dalam musik jazz, sedikit demi sedikit saya mulai mengerti teori musik klasik yang sebenarnya (saya banyak menganalisis teori karena solfeggio atau pendengaran saya lemah). Bosan akan ketidaktahuan dan dibatasinya segala interpretasi itulah yang membuat saya lebih memilih konsentrasi di dunia jazz.

Belajar dan bermain musik klasik itu, penting ga sih?

Wah, itu penting sekali. Di dalam klasik, itu semua bentuk harmoni yang ingin dan belum kita dengar sudah tertera dalam bentuk komposisi yang indah, percakapan antar harmonisasi di sebuah aransemen lagu klasik dalam bentuk orkestra itu membuat kita tahu betapa kayanya musik ini. Charlie Parker seorang saxophonis legendaris jazz bahkan mengatakan bahwa dia banyak mendengar harmoni dari musik klasik demi menciptakan lagu Be Bop ciptaannya (Be Bop adalah cabang dari musik jazz seperti swing, bossanova, fusion dan lain-lain). Dan yang pentingnya lagi, sebagai seorang musisi kita dituntut untuk bisa memahami not balok, biarpun hanya mengeja, setidaknya mengerti dan memahami.

Ada anggapan bahwa belajar jazz bisa merusak permainan klasiknya, bener ga tuh?

Haha, bener banget tuh, dari segi teknik ya, karena bermain gitar klasik itu kita cenderung diarahkan bagaimana semestinya yang benar, bahkan di partiturpun ditulis penjarian apa saja yang harus kita pakai. Pakem sekali memang, dan tentunya merusak teknik permainan tangan kanan karena musisi jazz cenderung menggunakan ‘picking style’ bukan ‘classic style’. Tapi dari segi teori, keluasan pendengaran, range yang kita dapat dari perpaduan antara klasik dengan jazz itu tak akan rusak, melainkan membuatnya semakin sempurna dan kaya. Terlatihnya solfeggio, aransemen, respon sesama pemain, respon sepersekian detik untuk apa yang akan kita mainkan, semua itu akan makin terasah selama kita konsisten mengapresiasi musik klasik dan jazz.

Siapa gitaris favoritmu? Dari genre manapun loh ya..


Sebenarnya saya lebih suka banyak pemain piano dibandingkan pemain gitar. Kalo saya disuruh menyebutkan musisi favorit saya, pasti pemain piano semua, tapi kalo gitaris, dari berbagai gitaris yang saya dengar, saya ulik permainannya, saya tiru tekniknya, saya analisis pendekatannya, dari puluhan gitaris tereliminasi hanya menjadi satu saja, yaitu Pat Metheny. Pat Metheny tidak hanya seorang gitaris jazz dengan aransemen dan teknik yang luar biasa, tetapi respon antar pemain bandnya dan antar penonton lah yang membuat saya takjub, dalam berbagai karyanya dia lebih memilih jenis musik ‘world music’, di karya-karya-nya itulah dia menghadirkan orkestra dengan aransemen khas klasik yaitu dengan teknik kontrapung atau percakapan antar harmoni di aransemennya.

Jika orang yang telah lama belajar klasik, lalu ingin mencoba main jazz, hal-hal apa yang menjadi hambatan, dan bagaimana cara mengatasinya?

Hambatan biasanya ada dalam diri sendiri, yaitu mulai bosannya belajar ketika kita hanya sekedar mengiringi permainan orang lain (tetapi itu dasar yang amat penting). Hambatan lainnya, yakni ketidakmauan mengapresiasi musik jazz standar (standar maksudnya, lagu-lagu yang harus wajib bisa dimainkan oleh musisi jazz), ketidakmauan dalam berkarya, membuat aransemen sendiri, lagu sendiri, improvisasi, mengiringi, diiringi, sosialisasi antar pemain, menunjukkan ekspresi, itulah kendala yang akan dihadapi oleh musisi yang transit tersebut. Hanya ada satu cara yang tepat, yaitu apresiasi musik jazz, cari tahu pesannya dari permainannya, baru kita pelajari teori dan tekniknya.

Trus Tesla, apa pengalaman paling menarik baik ketika bermain klasik maupun jazz?

Pengalaman paling menarik adalah menghibur banyak orang. Karena saya seorang entertainer, saya paling takut bila orang yang saya hibur itu tidak puas. Saya paling grogi bermain bila yang nonton sedikit, makin banyak dan makin berkualitas orang yang mengapresiasi saya, makin semangat saya menyajikan sesuatu yang belum pernah saya sajikan sebelumnya atau bisa disebut spontanitas di atas panggung (biasa terjadi pada musisi jazz). Tapi itu dibutuhkan pengalaman bertahun-tahun untuk mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh apresiator dan dibutuhkan ‘jam terbang’ yang amat tinggi untuk membaca dinamika apresiator.

Hmmmm.. Baiklah, sekarang, apa pendapat kamu tentang Klabklassik?

Waduh, kalo gak ada klab ini, saya gak mungkin sesukses sekarang. Saya membangun berbagai koneksi dalam bermusik dan dalam berkeluarga yaitu di Klabklassik ini, klab yang dimana komunitas pertama sejak saya melabuhkan diri saya di Kota Kembang. Sayangnya, intensitas pertemuan dan acara masih amat sedikit, begitu pula apresiatornya. Tapi saya yakin itu proses kedewasaan, bagaimanapun juga kalian adalah payung terhangat yang melindungi saya dari air hujan kesepian teman bermain musik awal hidup saya di kota Bandung, hehe.

Oke, terakhir nih, musik itu apa sih buat kamu?

Wah, musik itu segalanya bagi saya, saya tumbuh oleh musik, dikelilingi musik, dipengaruhi musik, dihargai orang karena musik, disayangi orang karena musik, eksistensi saya meningkat tajam karena musik, saya cinta orang dipengaruhi musik, saya cinta keluarga dipengaruhi musik, saya mencintai alam dipengaruhi musik, karena musik juga saya jadi banyak bersyukur kepada-Nya karena bisa mencintai dan mempertahankan apa yang saya punya selama ini dan bakat untuk mencintai dan tidak mudah melepaskan sesuatu (berat euy).

No comments: