Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, June 22, 2009

Walagri Classic Club: Kala Komunitas dan Akademisi Bertukar Pengetahuan



Sabtu (20/6) itu, boleh dibilang sebagai hari yang penting bagi KlabKlassik. Untuk pertama kalinya, sejak tiga setengah tahun berdiri, KK dipercaya sebagai pemateri dalam sebuah seminar musik klasik. Ini jelas membanggakan, karena basis KK sungguh bukanlah akademik. Sepanjang KK berdiri, yang ada hanyalah saling berbagi tentang pengalaman masing-masing. Ketika membahas sesuatu yang berbau akademis pun, setiap orang nyaris tak ada yang dominan, hanya menyumbang sedikit yang diketahuinya, namun ternyata lama-lama menjadi bukit.
Demikianlah, kala KK didaulat berbagi materi, artinya ada kepercayaan disana. Kepercayaan yang tentu tidak KK sia-siakan, karena sesuai dengan misinya untuk bergerak secara total di bidang edukasi. Pada hari itu, acara digelar di Aula RS Borromeus. Ini wajar, mengingat penyelenggara adalah Radio Walagri, yang notabene merupakan bagian dari RS Borromeus. KK mengirimkan dua wakilnya untuk berbicara dalam seminar yang bertajuk "Peran Gitar dalam Musik Klasik" itu, yakni Bilawa Ade Respati dan Syarif Maulana.
Setelah dibuka oleh penampilan Ensembel Mawar Music Course, acara dilanjutkan dengan seminar yang membahas sejarah gitar. Moderator adalah Pak Tono Rachmad, seorang dosen Seni Musik di UPI. Syarif dan Bilawa bergantian tampil sebagai penyaji. Syarif berbagi tentang sejarah gitar pra-Renaisans, sedangkan Bilawa memulai gitar dari sejak Renaisans hingga Modern. Pemaparan tersebut cukup menyita waktu, dan terpaksa dipotong oleh moderator karena melebihi waktu yang ditentukan. Intinya, sejarah gitar ini sangat panjang dan tidak bisa digambarkan secara linear. Ada banyak versi tentang bagaimana gitar ini dimunculkan. Apa yang ditampilkan oleh KK adalah salah satu versinya saja.
Sebelum dilanjutkan pada sesi seminar berikutnya, KK menyempatkan untuk menampilkan satu buah karya dari Mozart berjudul Eine Kleine Nachtmusic bagian Allegro dalam format trio gitar. Setelah itu, barulah tampil akademisi dalam definisi sebenarnya, yang oleh standar tertentu dianggap lebih layak untuk terlibat dalam penyajian edukasi macam ini. Namanya Pak Hendry Nusantara, seorang dosen yang juga dari UPI Jurusan Seni Musik. Topiknya lepas dari yang pertama, yakni Strategi Pembelajaran Gitar. Dengan waktu sekitar empat puluh menit, Pak Hendry dengan lugas menceritakan situasi belajar gitar jaman sekarang, suka duka, dan solusi untuk memecahkannya. Pak Hendry juga dengan cerdik mengilustrasikan berbagai strateginya dengan penampilan beberapa anak didiknya. Anak didiknya terbagi atas dua kuartet gitar. Yang pertama, yang beliau sebut dengan "Geng Malas Baca", menampilkan karya-karya komposisinya. Sedangkan yang kedua, yang disebut sebagai "Geng Rajin Baca", menampilkan dua karya, yang pertama adalah karya Vivaldi berjudul Spring, yang berikutnya adalah karya populer Pergi untuk Kembali yang dinyanyikan oleh Ello.
Di akhir penyajian, ada dua penampil lagi. Yang pertama adalah penampilan dadakan dari Al Kautsar, seorang gitaris cilik berusia sebelas, yang sebetulnya rajin mengikuti kegiatan Ririungan Gitar Bandung dari KK. Penampilannya dengan karya Villa-Lobos berjudul Choros no. 1 menuai kekaguman. Acara lalu ditutup oleh kuartet gitar dari KK yang memainkan lagu Cannon in D karya Johann Pachelbel.
Seminar tersebut berlangsung baik, meski ada kemoloran jadwal sekitar satu jam, yang mana disebabkan oleh terlalu lamanya KK tampil sebagai pembicara juga. Namun yang terpenting, adanya dialog antara UPI yang berbasis akademik, dengan KK yang berbasis komunitas serta hobi. Ternyata, pada saat keduanya dipersatukan dalam satu acara, dikotomi tersebut tak lagi berlaku ketat. Di satu sisi, karena hobi, KK melengkapi pengetahuannya dengan kesenangan yang bersumber dari hati. Hobi, bagaimanapun juga, mestilah sebuah kesenangan. Komunitas lalu memperkuat distribusi pengetahuan yang diperoleh masing-masing individu KK. Di sisi lain, UPI dengan basis akademik, tak bisa lepas juga dari kehobian. Agar seluruh pengetahuan dapat diserap dan diaplikasikan, maka ada baiknya semangat hobi yang diusung. Pertukaran inilah yang membuat masing-masing kita menjadi kaya. Terima kasih Walagri! Terima kasih UPI!

*Makalah dari seminar ini akan dimuat di blog minggu depan

1 comment:

asep said...

kapan ada lagi acara tsb ?