Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Thursday, August 06, 2009

Diecky K. Indrapradja: Mengomposisi dan Memainkan Musik itu Sama


Nama lengkapnya Diecky Kurniawan Indrapradja. KlabKlassik (KK) ingat kapan awal mula mengenalnya. Waktu itu sekitar tahun 2006, ada semacam gathering musik klasik di Aula RS Borromeus. Pembicaranya seorang komposer ternama, Dieter Mack. KK menjadi peserta, Diecky menjadi pengisi acara. Ia dan teman-temannya, bermain gitar secara ensembel, dan KK tertarik untuk mengenalnya pasca acara. Oh, nama ensembelnya kala itu, Classical Guitar Community (CGC). Perkenalan itu tumbuh dan berkembang, hingga akhirnya KK tahu bahwa Diecky tak hanya bermain gitar, tapi juga mengomposisi. Selain komposisi, Diecky yang kelahiran Malang 16 Oktober 1979 yang juga lulusan Sekolah Tinggi Musik Bandung (StiMB) itu juga senang membuat even-even musik klasik. Keseluruhan aspek yang dimiliki Diecky inilah yang membuat ia sejalan dengan semangat KK, terutama oleh pendiriannya yang juga komit terhadap kemajuan musik klasik di Indonesia. Seperti apa orangnya? Mari.

KlabKlassik (KK): Hai Dik, sibuk apa nih sehari-harinya?
Diecky (D): Sebagian besar waktu saya habis untuk berfikir dan berbicara dalam ranah musik. Berfikir dalam arti menggali ide-ide baru untuk kemudian diaplikasikan dalam sebuah karya musik, selanjutnya disajikan kepada publik, sedangkan berbicara maksudnya mentransver pengetahuan-pengetahuan musik yang saya miliki kepada teman-teman yang membutuhkan siraman rohani baru dalam bermusik, baik secara formal institusi, maupun secara non-formal, seperti forum-forum diskusi, private lessson, dan sebagainya. Selebihnya, menonton konser, mendengar musik, browsing, dan bermain-main dengan kucing-kucing peliharaan.

KK : Waduh, berat juga yah, Dik. Bicara musik, ada gak instrumen musik yang dikuasai?
D : Dari kecil sudah belajar gitar, karena konon gitar itu instrumen yang paling romantis. Kemudian piano, karena range suaranya yang lebar bisa mewakili instrumen lainnya. Terakhir kacapi dan gamelan, karena warna suaranya yang brilliance dan mendamaikan.

KK : Oke, lalu, mengapa tertarik komposisi? Dan mengapa mengambil jalur kontemporer?
D : Karena komposisi memacu saya untuk terus belajar hal-hal baru, membaca pergerakan zaman, dan mengaktualisasikannya ke dalam karya, syukur-syukur kelak bisa bermanfaat bagi kemaslahatan seni musik ke depannya. Kontemporer itu hanya sikap saya dalam berkarya, semangat untuk tidak terpenjara terlalu lama dalam kamar estetis tertentu dan cara pandang dalam melepaskan diri dari keangkuhan zaman yang terlanjur membentuk kita.

KK : Bicara komposisi, sejauh ini udah berapa komposisi yang ditulis?
D : Tidak terlalu hafal secara angka, tapi yang jelas kalau untuk katagori karya-karya komposisi sampai saat ini relatif tidak terlalu banyak, selebihnya karya-karya aransemen dan ilustrasi musik pesanan. Kalau saran saya sih jangan pernah menghitung berapa banyak karya yang sudah kita buat, tapi seberapa besar kualitas karya kita, baik secara kesegaran ide/konsepnya, originalitasnya, sisi filosofisnya, dan manfaat bagi perkembangan dunia musik. Setelah itu baru produktivitas berkaryanya harus tetap dijaga.

KK : Memangnya, siapa sih guru komposisi kamu?
D : Kalau secara formal, belajar komposisi musik dengan Royke B. Koapaha. Kemudian pernah belajar world music dengan Deni Hermawan, musik-musik Sunda dengan Heri Herdini, short lecture dengan Shin Nakagawa, Dieter Mack, Jody Diamont, dan Roderik de Man. Selebihnya sering sharing dan diskusi dengan beberapa komposer Senior, baik dari Indonesia maupun dari Luar Indonesia.

KK : Oke, sekarang, bicara pengaruh, siapa dan apa sajakah yang mempengaruhi komposisi kamu?
D : Yang mempengaruhi komposisi saya adalah lingkungan dimana saya berkarya, karena hampis setiap karya saya adalah aktualisasi musikal dari lingkungan itu sendiri. Tidak harus manusia, gonggongan anjing-pun bisa mempengaruhi, tidak harus mendengar salah satu symphony yang terkenal, tangisan bayi pun-bisa mempengaruhi, bahkan

KK : Masih tentang komposisi ya, menurut kamu, sejauh ini, apakah komposisi kamu punya karakter? kalau punya, apakah yang kamu tonjolkan?
D : Karya-karya komposisi musik semakin ke sini, semakin individual dan otonom. Artinya setiap komponis bukan lagi mewakili zamannya, melainkan mewakili dirinya sendiri. Begitu juga komposisi saya, tidak mewakili zaman(saat) saat ini. Dari keseluruhan komposisi saya, antara karya yang satu dengan karya lainnya memiliki kemerdekaan dan kemandirian sendiri-sendiri, baik kemandirian ide/konsep, aspek filosofis, teknik komposisi (composition tools), dan lain-lain. So, semuanya punya sesuatu yang menonjol, hanya dari sudut mana kita melihat tonjolan itu.

KK : Adakah pesan khusus yang mau disampaikan lewat komposisi-komposisi kamu?
D : Waktu berubah dan zaman berganti, disadari ataupun tidak, kita sebenarnya ikut berubah didalamnya. Bukan kita harus terhanyut, bukan pula harus berganti arah. Namun yang pasti sadari dimana kita berdiri dan bersikap.

KK : Oke, sedikit mengaitkan dengan yang lain, apa bedanya memainkan musik dan mengomposisi?
D : Mengkomposisi itu juga memainkan musik, namun dalam ranah imajinasi dan privasi (musik). Sedangkan memainkan musik itu juga mengkomposisi, namun dalam ranah interpretasi dan eksekusi (musik). Artinya baik mengkomposisi maupun memainkan musik, sama-sama memiliki peran yang penting dalam lingkaran seni pertunjukan, disamping peran musikolog, edukator, dan publik sendiri.

KK : Bagaimana sikap kamu terhadap interpretasi orang-orang yang mencoba memahami karya kamu? apakah ketat atau fleksibel? bagaimana juga tanggapan kamu terhadap konflik yang biasa terjadi dalam musik klasik karena urusan interpretasi?
D : Setiap pemain yang memainkan karya saya, mereka adalah eksekutor sekaligus apresiator pertama. Untuk itu dituntut harus benar-benar tahu ide/konsep setiap karya tersebut dan memahani naskah/score dengan baik. Selanjutnya pada saat pertunjukan, apresiator yang sebenarnya adalah publik/audience. Bagi saya mereka punya kebebasan menginterpretasikan karya yang baru saja mereka dengar/lihat.

Konflik interpretasi dalam musik klasik itu sangatlah wajar, karena karya-karya yang dimainkan dalam repertoar klasik (secara umum) tersebut adalah karya warisan, dimana naskah/score yang beredar saat ini sudah di campuri ribuan “tangan”, yaitu munculnya banyak versi, transkripsi, edited by, fingering by, dan sebagainya. Sementara para komponisnya sendiri sudah tidak bisa mempertanggungjawabkan kekaryaannya tersebut, karena memang sudah meninggal.

KK : Terakhir, Dik, apa arti Klabklassik buat kamu?
D : Bagi saya klabklassik adalah wadah bertemunya para seniman-seniman musik, pemain musik, komponis, pengamat musik, pengajar musik, bahkan publik secara umum. Sarana untuk berapresiasi, mengedukasi, memprovokasi (secara positif), hingga oborlan omong kosong yang setengah kosong setengah isi.

KK : Oh, sepertinya ada pesan yang ingin Diecky sampaikan, apa itu?
D : Kompleksitas sebuah karya seni (musik) terkadang membuat kita lebih memilih menghindar menikmati daripada mencoba memahami. Sementara laju budaya instan yang serba cepat dan serba mudah terlanjur ditawarkan di zaman ini. Pesan saya khusus buat klabklassik, semoga bisa menjadi harapan yang patut dicatat, atas segala kreativitas dan aktivitas yang menjembatani keduanya. Semangat terus Klabklassik!

No comments: