Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Saturday, August 29, 2009

Fauzie Wiriadisastra, Multi-Instrumentalis yang Multi-Sumbangsih




Fauzie Wiriadisastra namanya. Ia baru saja melangsungkan debut resitalnya pada 20 Agustus lalu. Berduet dengan pianis Andrew Sudjana, resital berjudul Flute & Piano Recital itu sukses menampilkan karya-karya dari Bach, Debussy, Rutter, Chaminade, dan Ananda Sukarlan. Di akhir resital tersebut, kami menyempatkan berbincang-bincang. Fauzie bukanlah orang baru bagi KlabKlassik (KK), sejak partisipasinya di Classical Guitar Fiesta (CGF) 2006 sebagai pemain, ia nyaris tak pernah absen memberikan dukungannya dalam berbagai bentuk. Di tahun 2007, pada Konser Gitar Klasik Syarif Maulana & Johan Yudha Brata, Fauzie menyumbangkan satu karya komposisi duet yang jenius, berjudul Carawitta & Fugue. Lalu di CGF 2008, Fauzie kembali berpartisipasi sebagai pemain. Jika di pagelaran CGF sebelumnya ia tampil sebagai gitaris, di 2008 itu ia bermain flute, berduet dengan Widjaja Martokusumo. Di tahun yang sama, pada konser Resital Tiga Gitar, pria yang juga bertindak sebagai konduktor di Gereja St. Laurentius ini kembali menyumbangkan komposisinya untuk trio, lagi-lagi sebuah karya yang unik dan "penuh selera humor", berjudul Irregular Waltz. Sumbangsihnya di tahun ini, adalah komposisinya untuk kuartet, berjudul Pela Yangan, yang ditampilkan perdana di Resital Tiga Gitar Plus Satu tanggal 9 Agustus kemarin. "Partisipasi" terbarunya, tentu saja, resital debutnya, bukan cuma bagi KK, tapi bagi masyarakat Bandung pada umumnya, yang mendapat masukan berharga tentang instrumen flute yang masih langka. Mari simak obrolan KK dengan Fauzie yang lahir pada 17 Oktober 1981 dan lulusan University of Illinois jurusan Mechanical Engineering ini.

KK: Hai Fauzie, ngobrol-ngobrol yuk, dengar-dengar anda ini multiinstrumentalis, instrumen apa sajakah itu? Lalu, diantara semuanya, instrumen mana yang paling dikuasai?

F : Kalau diurut dari yang paling bisa ke paling tidak bisa untuk instrumen klasik: flute, gitar, saxophone, oboe, trumpet, kontrabas, piano. Selain itu saya juga main instrumen tradisional, khususnya dhizhi (seruling china) dan tentu saja suling sunda. Saya juga suka membuat alat-alat musik aneh-aneh.

KK: Oke, pertanyaan berikutnya. Memainkan instrumen dan mengomposisi, berbedakah? Apa perbedaan esensialnya?
F: Sebuah lagu yang biasa saja, jika dimainkan oleh seorang performer yang baik, akan terdengar baik. Sebuah lagu yang baik, jika dimainkan oleh seorang performer yang kurang baik, tidak akan menjadi baik. Saya rasa pemain musik memiliki porsi tanggung jawab yang lebih besar, karena ialah yang memainkan musik. Ketika saya menulis sebuah notasi balok di atas kertas, apakah saya sudah menghasilkan musik?

KK: Lah, kok malah bertanya balik. Oke, perihal interpretasi. Bagaimana anda menyikapi para pemain yang menginterpretasi karya anda? Apakah ketat atau boleh bebas?
F: Saya rasa perubahan dinamika, artikulasi, dan tempo terhadap sebuah karya komposisi adalah hal yang sah, selama kita menambahkannya secara sadar dan bertanggung jawab, maksudnya, perubahan itu harus membuat musik yang dihasilkan menjadi lebih baik.

KK: Lebih spesifik lagi. Karya anda pernah dimainkan oleh pianis kelas dunia Ananda Sukarlan, bagaimana perasaan anda?
F: Sungguh suatu pengalaman yang sangat berharga. Saya belajar banyak sekali dari perjumpaan kami yang tidak terlalu lama.

KK: Lalu, setelah mengetahui kemampuan komposisi dan permainan anda. Akan kemanakah cita-cita anda nantinya? Pemain atau komposer?
F: Di masa lalu, semua pemain musik adalah komposer. Saya rasa kedua hal itu tidak perlu dipisahkan.

KK: Oke, pertanyaan terakhir. Apakah penting komunitas semisal KlabKlassik ini? Apa pentingnya?
F: Dalam sejarah musik, kita mengenal kelompok Camerata dan kontribusi mereka terhadap perkembangan seni. Saya rasa keberadaan komunitas seperti Klabklassik telah menunjukkan kontribusi yang cukup jelas terhadap perkembangan musik di kota Bandung.

KK: Adakah pesan-pesan untuk disampaikan pada khalayak musik klasik di kota Bandung? Silakan.
F: Dukunglah para musisi kita. Jika menurut anda tidak ada yang layak didukung, jadilah musisi.

No comments: