Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Tuesday, August 25, 2009

Latar Belakang dan Permulaan Masa Barok (Bagian III - Selesai)


III. Giovanni Gabrieli dan Seconda Prattica di Venezia

Sampai tahun 1565, jabatan pemimpin musik di Katedral Santo Marco, di Venezia, dipegang oleh para komponis Belanda yang melanjutkan tradisi polifoni Josquin. Adrian Willaert (1490-1562) dan Cipriano del Rore (1516-1565) mengakhiri tradisi tersebut. Di antara karya Willaert ada sebuah kumpulan susunan mazmur, khusus untuk dua kor (Cori Spezzati) yang diciptakan sekitar tahun 1550 dan menjadi terkenal. Mungkin ide memakai dua kor ini didapat Willaert dari Ruffino d'Assisi, seorang komponis dari Padua, yang menciptakan mazmur-mazmur untuk dua kor, sekitar tahun 1524. Karya ini sebenarnya lebih mendekati gaya Venezia akhir abad ke-16, dari musik Willaert.
Katedral Santo Marco menjadi tempat yang ideal untuk perkembangan musik untuk dua kor karena di dalam gedung gereja tersebut ada dua balkon, masing-masing lengkap dengan satu organ. Balkon-balkon ini menjadi tempat untuk dua kor yang bernyanyi secara bersahut-sahutan dari satu balkon ke balkon lain, seperti sejenis dialog. Karena ruang katedral pada umumnya begitu besar dan jarak di antara balkon-balkon cukup jauh, bunyi musik pun bergema. Untuk mencegah hal ini, disusun lagu-lagu untuk dua kor, gubahan homofonik lebih sering digunakan daripada yang biasa.
Setelah Wilaert meninggal, seorang komponis Italia yang belajar dari Rore, Andrea Gabrieli (1520-1586), menjadi pemain organ di Santo Marco. Sebelum Andrea Gabrieli mendapat jabatan ini, ia bertugas untuk pangeran Albrecht V di Kota Munchen, tempat ia dipengaruhi oleh musik Orlandu Lassus.
Gabrieli mengembangkan teknik cori spezzati tersebut dengan memasukkan alat-alat musik yang mendobel suara-suara dari kor. Sering kali kor pertama terdiri dari suara-suara dan alat-alat yang lebih tinggi, dibandingkan kor kedua yang bersuara rendah. Dengan demikian, ia mendapat suatu kontras yang jelas di antara kedua kelompok ini.
Pengganti Andrea Gabrieli sebagai pemain organ di Santo Marco pada tahun 1585 adalah kemenakannya, bernama Giovanni Gabrieli (sekitar tahun 1555-1612). Dia membawa tradisi cori spezzati pada puncaknya. Pamannya mendidik Giovanni dalam musik. Kemudian, seperti pamannya ia pun bertugas di istana Munchen di bawah pimpinan Lassus, lalu kembali ke Venezia dan berhasil dalam ujian untuk mendapat jabatan sebagai pemain organ pertama di Santo Marco. Pada saat itu, ia masih sangat muda untuk mendapat suatu posisi yang begitu bergengsi.
Setelah Andrea Gabrieli meninggal pada tahun 1586, Giovani mengedit dan menerbitkan sebagian besar dari karya pamannya. Ia juga menggantikan pamannya sebagai komponis utama untuk Santo Marco, khususnya musik untuk hari-hari besar dalam tahun gerejawi. Ia menerbitkan kumpulan dari musiknya pada tahun 1597, dengan judul Sacrae Symphoniae. Minat untuk mendengarkan musik Gabrieli menjadi sangat kuat di Jerman dan Austria, sehingga beberapa pangeran dari Jerman mengirim murid-murid kepadanya dengan harapan mereka kembali dan dapat menciptakan musik dalam gaya Venezia.
Pengajaran Gabrieli berpusat pada tradisi lama, begitu juga pada gaya madrigal Italia yang paling modern. Muridnya yang paling berhasil dan paling penting adalah Heinrich Schutz, komponis Jerman pada abad ke-17. Mulai dari tahun 1606, Gabrieli menderita sakit batu ginjal sehingga ia sering absen dari tugasnya di Santo Marco. Akhirnya, ia meninggal karena penyakit tersebut.
Musik Gabrieli merupakan suatu transisi antara zaman Renaisans dan Barok. Di samping teknik-teknik dari gaya lama yang telah dikuasainya, khususnya dalam musik sebelum tahun 1600, Gabrieli juga memakai kromatisisme, interval-interval yang disonan, ritme-ritme yang bersifat tarian dan akord-akord yang dianggap disonan dalam musiknya. Semua teknik ini diambil dari gaya madrigal yang paling modern dan sangat berlawanan dengan gaya lama. Efek-efek modern lebih tampak dalam musiknya setelahn tahun 1600, yang dikumpulkan dan diterbitkan setelah ia meninggal pada tahun 1615 sebagai buku kedua dari Sacrae symphoniae. Unsur-unsur besar dan agung yang terdapat dalam motet-motet Gabrieli untuk dua, tiga, dan empat kor serta lagu-lagu untuk alat-alat tiup merupakan pendahuluan gaya "kolosal" yang sering dijumpai dalam awal musik Barok.
Partitur-partitur Gabrieli sering termasuk bagian-bagian instrumen-instrumen, kadang-kadang sebagai salah satu kor sebagai kontras terhadap kor-kor yang terdiri dari para penyanyi saja. Istilah konserto pertama kali terdapat dalam karya-karya Gabrieli, khususnya pada unsur kontras tersebut. Pemakaian kontinuo bas sebagai dasar ansambel menjadi tampak dalam musik yang diciptakannya setelah tahun 1600. Dalam hal ini, mungkin Gabrieli dipengaruhi oleh rekannya di Santo Marco yang bernama Giovani Croce, sekitar tahun 1557-1609, yang pada tahun 1594 dan 1596 menerbitkan buku berisi motet-motet dan misa-misa untuk dua kor lengkap dengan bagian organ yang terdiri dari suara-suara bas dari kedua kor tersebut. Dengan demikian, karya Croce ini adalah musik gerejawi yang pertama (yang masih ada) untuk memperlihatkan pemakaian kontinuo bas. Karya besar seperti In Ecclesiis untuk empat suara solo, kor, alat-alat musik, dan kontinuo, yang disusun dalam beberapa bagian yang kontras, merupakan suatu pendahuluan kantata sakral. Gaya karya ini menjadi dasar untuk gaya konserto yang terdapat dalam musik gerejawi Claudio Monteverdi.
Dalam Sacrae Symphoniae, buku kedua, Gabrieli memasukkan tanda-tanda dan perintah-perintah mengenai dinamika dan orkestrasi dalam partiturnya. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa lagu yang memakai instrumen-instrumen dan beberapa kor, atau hanya instrumen-instrumen saja; lagu-lagu yang mungkin pertama untuk memakai tanda-tanda dinamika. Alat-alat yang ditentukan dalam partiturnya termasuk kornetto, trombon, biola dan viol.

Sumber: McNeill, Rhoderick. Sejarah Musik 1. BPK Gunung Mulia. Jakarta: 1998. Hal 176-178.

No comments: