Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Saturday, December 18, 2010

Musik Dunia, Setua Bumi ini Usianya!

Gatot D. Sulistiyanto, komponis

Banyak yang menafsirkan musik dunia secara lebih ilmiah. Itu bisa disimak dalam internet, buku-buku literatur musik anda akan menemukan bahasan yang fasih mengenai hal tersebut. Namun pernahkan saudara sekalian merenung mengenai bunyi yang ada di dunia dari awal usia bumi sampai masa sekarang?. Apa yang mengakibatkan budaya bunyi menjadi rumit dan cenderung diremehkan karena sulit dipahami?. Padahal telinga kita menempati peranan penting sejajar dengan organ indra yang lain.

Sistem kehidupan dunia berkembang dan bunyipun ikut-ikutan. Dulu tidak ada teknologi pengeras suara, jadi desibel bunyi bertumpu pada organologi instrumen musiknya. Mesjid jaman dulu mebutuhkan menara untuk kumandang adzan, sehingga dapat didengar dalam radius yang relatif jauh. Sekarang ada bantuan pengeras adzan yang dipasang di menara. Azdan jadi keras dan kencang suaranya terdengar kiloan meter. Namun dalam kondisi ini kita kehilangan sensitifitas terhadap panggilan sholat tersebut. Bisa anda bayangkan, suara panggilan dari kejauhan dan sayup-sayup itu menumbuhkan kesadaran diri untuk menangkap pesan tersebut. Simpulnya bahwa sensitifitas itu berhubungan dengan hal yang bersifat pribadi, nah hal yang pribadi ini membutuhkan kelembutan yang luar biasa, supaya kesadaran diri tidak terkoyak. Otomatis bila kita mencapai hal ini kwalitas hidup akan meningkat dan tenteram.

Malam merupakan ruang netral bagi hal-hal lembut. Saat malamlah orkestrasi alam muncul dengan gamblang dan sempurna. Sehingga daya konsentrasi kita meningkat lebih dari 70%. orang akan lebih peka terhadap sinyal gelombang yang lembut sekalipun. Itu mengapa alasannya banyak penemuan ide-ide, wangsit, ilham, bisikan, mawasdiri itu umumnya ada pada malam hari. Prinsipnya kesadaran titik netral ini bekarja disaat kondisi netral, sehingga perubahan kecilpun akan terdeteksi oleh indra kita. Apa gunanya? Yha tidak berguna kalau kita terbelit hal-hal yang bersifat jasmani.

Musik itu makanan ruhani. Kalau kita sejajarkan dengan wisata kuliner itu tidak jauh beda. Prinsipnya kaya pengalaman pernah mengecap berbagai jenis makanan hasil kebudayaan nenek moyang yang sangat berguna untuk tubuh untuk menysuplay daya hidup lahiriah. Tapi musik itu bekerja diwilayah ruhaniah atau urusanya dengan pengalaman batin, yaitu pengalaman dimana kita merasakan perbedaan kesan dan pesan dari berbagai budaya bunyi ini. Semakin kaya pengalaman, maka pengalaman batin juga akan bertambah kaya. Dimana letak kegunaannya pengalaman batin yang berkaitan dengan musik ini?. Begini; kita akan menjadi banyak memahami cara hidup dari banyak budaya yang boleh jadi akan melengkapi perjalanan hidup kita ini menjadi sempurna. Karena apa, dalam musik itu sarat dengan simbol jejak prikehidupan yang tak terkatakan karena dalam kehidupan itu tidak selalu diomongkan. Ada kecenderungan bahwa hal yang penting itu bersembunyi dibawah sesuatu yang tidak bermaksud secara verbal. Nah ini tiada lain selain musik / bunyi yang dekat dengan hal tersebut. Oleh karena sifat hakikinya bahwa bunyi itu tidak punya maksud tapi sarat dengan makna. Contoh sederhananya seperti ini; pentingnya menejemen dan organisasi dalam prikehidupan dinegara Eropah, ini bisa dilihat dari sistem musik Eropa dimana sangat terorganisir. Adanya catatan/ notasi, penggagasnya/ komponis, pelaksana/ penyajinya, pemimpin yang taat pada sistem/ konduktor, pemain dilarang bunyi sebelum diperintah tertulis dalam partitur dsb. Maka dilarang heran bila mereka piawai dengan pengelolaan. Namun kearifan dalam hidup bersembunyi dibudaya Gamelan. Dimana kendang hanya memimpin iramanya, namun urusan bagaimana warna detainya dipasrahkan kepada pemainnya masing-masing yang telah memahami gendhing sebagai manifestasi tertinggi tujuan dari kehidupan dalam urusan gamelan. Masing-masing bebas menafsirkan menggungakan jalan mana ketika mendapati balungan dari 2. 5. 6, beda pemain beda rasa dan cara, namun masih dalam kaidah keselarasan atas dasar toleransi dan demokratisasi cara hidup dalam kerangka kebebasan yang bertanggung jawab. Maka sebenarnya belajar hidup cara demokrasi tidak usah ke Yale. Cukup ke Cianjur atau ke Muntilan saja. Murah meriah sambil kulakan beras.

Sebagai penutup tulisan ini saya mengutip pikiran bijak konfusian “apabila saudara itu ingin tahu suatu negara itu dikelola degan baik, cukup dengarkan musiknya saja”. Saya tambahi sedikit, tapi yang cocok di Indonesia itu begini “apabila saudara itu ingin tahu suatu negara itu dikelola degan baik, cukup lihat sinetronnya saja”.

Gatot D. Sulistiyanto
JL. Ireda, Keparakan Lor, Gg. Kemundung MG I / 1022
Yogyakarta – Indonesia
postcode 55152

ph. +62 (274) 414309

totagranad@yahoo.com
www.gatotdsulistiyanto.bravehost.com
www.artmusictoday.bravehost.com
www.rekambergerak.synthasite.com
www.tepellere.synthasite.com
www.kutikula.yolasite.com

Gairah Ensembel Klabklassik






Minggu, 12 Desember 2010

KlabKlassik terlihat bersemangat. Hal tersebut, konon disebabkan oleh undangan tampil dari UNPAD pada tanggal 17 Desember nanti. Meski demikian, bukan itu inti semangatnya, melainkan kenyataan bahwa undangan tersebut "memaksa" beberapa aktivis klab untuk membentuk ensembel dan berlatih bersama. Ketika ensembel Ririungan Gitar Bandung (RGB) tengah libur dari latihan, KlabKlassik membentuk kuartet gitar yang terdiri dari Mas Yunus, Aldi, Kang Trisna, dan Kristianus.

Kuartet tersebut akan memainkan satu lagu saja, yaitu La Cumparsita karya G. Matos Rodriguez. Karya dengan ritmik Tango tersebut diaransemen untuk tiga gitar, dua flute, dan satu cello oleh Diecky K. Indrapradja, salah seorang aktivis klab juga. Karena tidak ada pemain flute, maka bagian flute diganti oleh gitar. Bagian cello juga tadinya ditiadakan, tapi mendadak KlabKlassik kedatangan seorang pemain cello bernama Fery Mathias, dan ia bersedia tampil tanggal 17 Desember.

Kuartet ini akan dinamai KlabKlassik Guitar Quartet, yang diyakini akan menjadi "home band" yang siap pakai untuk acara-acara Tobucil yang membutuhkan musik.

Tuesday, December 07, 2010

Apresiasi Lagu Favoritmu

Mengapa kita diberi dua telinga dan dua tangan, karena berlatih atau bermain musik, porsinya mesti sama dengan mendengarkan musik."

Minggu, 28 November 2010

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Diecky K. Indrapradja di tengah forum diskusi KlabKlassik yang menyajikan acara apresiasi bersama. Ini program baru, intinya, masing-masing peserta diskusi yang hadir membawa serta satu lagu untuk didengarkan dan dibahas bersama. Yang hadir saat itu adalah Fathimah, Kristianus, Yunus, Tesla, Aldi dan Ali. Semua nama itu diluar saya dan Diecky sebagai host diskusi. Fathimah mendapat kesempatan pertama, pianis muda itu memperdengarkan karya Chopin berjudul Piano Concerto #1 gerakan pertama berjudul Allegro Maestoso. Fathimah menyukai karya itu, karena digubah oleh Chopin dalam usia sangat muda, yakni 17 atau 18 tahun. Karya berdurasi sembilan belas menit itu diperdengarkan sampai tuntas dan peserta kagum oleh kemahiran Chopin dalam mengomposisi di usia muda.

Berikutnya adalah aldi, yang memperdengarkan karya Tchaikovsky, judulnya Waltz of the Flowers. Karya waltz yang cukup mahsyur ini, sangat kaya akan instrumen-instrumen orkestra, termasuk oboe hingga triangle. Diecky kemudian membandingkan, bahwa jelas Tchaikovsky sudah lebih matang dalam mencipta Waltz of The Flowers ketimbang kala Chopin saat mencipta Piano Concerto. Hal tersebut terlihat dari kekayaan instrumen yang digunakan Tchaikovsky. Lalu pasca Aldi, tiba giliran Kristianus yang menampilkan soundtrack film Pirates of Caribbean, yang berjudul Pirates of Caribbean, dimainkan oleh Epica, band rock bersama dengan orkestra. Apakah ini bukan klasik? Iya, memang bisa dibilang bukan, secara periodisasi. Tapi memang acara apresiasi bersama ini terbuka bagi semua jenis musik. Tesla mengritik bahwa musik Epica ini kurang detail. Tapi Ali membela bahwa untuk musik-musik ilustrasi film, tidak usah kedetailan yang diperhatikan, tapi yang menjadi titik berat adalah kesesuaian dengan adegan.

Acara mendengarkan bersama ditutup oleh karya Tesla yaitu Play Dead. Tesla memperdengarkan karya ciptaannya sendiri, yang merupakan interpretasi pada karya rupa yang akan dipamerkan 11 Desember nanti. Durasinya 9:31, cukup panjang dan melelahkan didengarkannya. Absurd dan "Nadanya mengkhianati saya," demikian komentar Ali. Maksudnya, sulit ditebak, dikira kesini taunya kesana. Lalu kami membahas soal interpretasi, bahwa kesesuaian antara karya rupa dan karya musik bisa dipertanyakan ternyata. Karena apa yang dinamakan "sesuai", itu bisa jadi karena direka-reka oleh penikmat. Saya ingat karya Marchel Duchamp yang menhadirkan kloset dalam kondisi apa-adanya-ia di sebuah galeri. Awalnya kloset itu ditolak karena dianggap bukan seni. Tapi kala dipajang, pengunjung jadi berpikir, "Iya juga ya, seni itu, jangan-jangan tergantung konteks ruang dan waktu. Dulu kita percaya bahwa ada benda yang indah pada dirinya sendiri, tapi ketika melihat kloset ini di galeri, mendadak kloset tempat buang air menjadi sebuah karya seni."

Pesan akhir karya Tesla ini dirumuskan oleh Diecky. Bahwa interpretasi apapun adalah bebas dan diserahkan pada masing-masing penikmat. Yang dilarang adalah memaksakan keragaman interpretasi pada orang lain. Padahal sudah jelas, manusia berbeda satu sama lainnya, tak bisa dipaksakan sama dalam memahami sesuatu. Tertarik ikut acara mendengarkan bersama KlabKlassik ini? Setiap minggu keempat setiap bulannya ya, bawa lagu favoritmu dalam format mp3. Sampai jumpa bulan depan!

Monday, November 22, 2010

Apa Lagu Favoritmu?

KlabKlassik hari Minggu, tanggal 28 November, akan diskusi dengan membawakan program baru. Program tersebut akan berisi apresiasi bersama tentang lagu-lagu favorit masing-masing peserta diskusi. Setelah apresiasi, akan diadakan pembahasan dan analisis tentang lagu favorit tersebut. Syaratnya, membawa satu buah lagu dalam format mp3 dan dimuat dalam flashdisk. Lagu yang diputar, bebas-bebas saja, boleh pop, rock, klasik, jazz, ataupun dangdut. Setelah diperdengarkan, peserta diskusi akan sama-sama membahas dan menganalisa beberapa aspek yang mungkin. Pukul 15.00 sampe 18.00, di Tobucil, Jl. Aceh. no. 56. Mari mendengar lebih banyak, karena telinga kita dua, sedang mulut cuma satu.

Mengenal World Music




World Music adalah idiom yang rajin sekali diangkat belakangan ini. Ada dua even, yaitu Bandung World Jazz Festival dan Monju (Monumen Perjuangan) West Java World Music Festival. Walaupun even pertama dibumbui kata "jazz", namun esensi yang ingin diraihnya kira-kira sama: Ada unsur etnis, lokal, dan non-Barat disana. KlabKlassik kemudian melihat fenomena penamaan World Music ini sebagai hal yang menarik sekaligus bermasalah. Untuk itu dibuka diskusi, minggu kemarin, dengan judul Mengenal World Music yang dibawakan oleh Diecky K. Indrapraja.

Diecky awal mulanya melemparkan pernyataan membingungkan: Apakah perbedaan musik Barat dan musik Timur? Seluruh peserta diskusi kesulitan menjawabnya, sebelum ditengahi oleh Diecky sendiri. Musik Barat, adalah musik yang diciptakan untuk musik sendiri. Mereka rasional, bisa dijelaskan, dan bisa dipertanggungjawabkan secara akal. Sedang musik Timur, adalah musik yang seringkali ditujukan untuk segala hal di luar musik itu sendiri. Misal, musik angklung untuk persembahan pada Dewi Sri, sedang beberapa musik tertentu untuk minta hujan. Hal tersebut, bagi kacamata Barat adalah irasional, tapi juga eksotik. Timur tidak mengenal pengilmiahan musik sekaligus pertanggungjawaban secara akal. Bagi Timur, musik adalah bagian harmonisasi alam, yang artinya "Ya memang begitu adanya", tak usah dijelaskan.

Yang menarik kemudian, World Music adalah istilah yang merangkul musik-musik "irasional" tersebut, dalam satu kesatuan kata "world" itu. Permasalahannya kemudian, karena Barat yang memberi istilah World Music, hal tersebut dicurigai sebagai penyederhanaan, dan pemiskinan atas kekayaan kebudayaan masing-masing komunitas. Bayangkan jika sekitar tiga ratus etnis dan budaya di Indonesia memiliki musiknya masing-masing, lalu seluruhnya dirangkum secara sederhana dalam istilah "Musik Indonesia", barangkali keunikannya masing-masing menjadi tak tampak dan malah kehilangan jati dirinya.

Setelah itu, Diecky memaparkan beberapa contoh musik, yang meminta peserta diskusi menebak: Ini komposer Barat atau Timur yang buat? Ada beberapa contoh seperti Krakatau, atau Discus, ataupula seorang komposer Jerman yang membuat karya piano dengan latar pengiring gamelan Bali. Ada pula sinden orang Amerika juga diiringi gamelan Bali. Pertemuan sore itu memperkaya telinga peserta, karena playlist milik Diecky banyak berisi lagu-lagu yang jarang ditemui di pasar-pasar umum. Pertemuan hari itu sampai pada kesimpulan yang mendalam: Orang Barat yang mempelajari musik Timur, biasanya ia telah lebih dahulu paham musiknya sendiri, baru eksplorasi ke luar. Sedangkan orang Timur kebanyakan, ia lebih dahulu belajar musik Barat, tanpa paham akar tradisinya sendiri. Efek negatifnya, mereka mudah terseret-seret kemanapun Barat pergi. Dan yang selamat adalah mereka: orang Timur yang belajar musik Barat, agar kemudian mengenal siapa dirinya. Dari mana ia berasal.

Sunday, November 14, 2010

Trumpet-Piano Recital



Trumpet-Piano Recital
Eric Awuy (Trumpet)
Iswargia R. Sudarno (Piano)

Rabu, 24 November 2010
Auditorium CCF, Jl.Purnawarman no. 32
Bandung

Informasi & Reservasi:
Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548)
Syarif (0817-212-404)

Program:

Intrada (Arthur Honegger)

Hungarian Peasant Songs for solo piano (Béla Bartók)

Sonata for Trumpet and Piano (Halsey Stevens)

-interval-

Slavische Fantasie (Carl Hohne)

Méditation (Marcel Mihalovici)

Carnival (J.B.Arban)


Profil Penampil:

Eric Awuy, trumpet

Lahir di Bern, Swiss, 21 Januari 1964. Belajar bermain musik sejak usia dini di bimbing oleh ibunya, Paule Awuy, asal Quebec, Kanada, seorang pianis dan pedagog musik. Selanjutnya masuk ke sekolah musik pada usia 5 tahun di Jerman. Diusia 5 tahun, ia sudah mahir memainkan alat music flute. Saat berusia 13 tahun ia memutuskan untuk belajar trompet. Dan pada tahun 1979 ia mempelajari trompet secara mendalam di Hull Music Conservatory (1979-1985) dan di Montreal Music Conservatory (1985-1988), keduanya di Kanada. Ia menyelesaikan studinya di Konservatorium ini pada tahun 1988 dengan penghargaan tertinggi, Premier Prix de Conservatoire, dalam bidang trompet dan musik kamar.

Setelah lulus dari Montreal Music Conservatory tahun 1988, Eric bergabung dengan orkestra profesional di Montreal,dan di akhir tahun itu ia tampil bersama dengan Montreal Symphony Orchestra di bawah pimpinan dirigen ternama Charles Dutoit.

Tahun tahun berikutnya ia kerap tampil bersama orkestra-orkestra lain, seperti National Arts Center, Quebec Symphony Orchestra dan World Youth Orchestra, yang membawanya keliling dunia ke Moskow, Berlin, Paris, Buenos Aires, dan New York.

Sebagai solis, ia juga tampil di berbagai resital dan sebagai solis tamu di Amerika Utara dan Eropa, diantaranya dengan Montreal I Musici. Dalam musik kamar, Eric pernah main bersama Brass Five Quintet, salah satu grup brass terbaik di Kanada, dan pernah mendapat penghargaan ‘Laureat’ dari International Brass Quintet Competition di Narbonne, Perancis.
Eric secara berkala tampil bersama pianis Iswargia Sudarno, disamping itu ia juga tergabung dalam beberapa orkestra di tanah air, diantaranya Twilite Orchestra.

Sebagai dirigen, Ia pernah menjadi dirigen tamu di Notre-Dame College Orchestra, World Youth orchestra, dan Indonesian Youth Orchestra. Sejak Juni 2004, Eric adalah Program Director dan dirigen Twilite Youth Orchestra.


Iswargia R. Sudarno, piano

Iswargia R. Sudarno tidak hanya dikenal sebagai seorang pianis, namun juga sebagai seorang pendidik dan pengarah acara serta perancang program kegiatan-kegiatan seni musik. Minatnya tidak hanya terbatas pada repertoar tradisional musik tradisi Barat, namun juga musik-musik baru. Ia kerap bekerja sama dengan komponis-komponis kawakan Indonesia seperti Trisutji D. Kamal, Otto Sidharta, Slamet Abdul Sjukur, dan Tony Prabowo. Disamping sebagai pianis, ia juga pernah menjabat sebagai tutor Nusantara Chamber Orchestra, direktur akademik Yayasan Musik Internasional, dan direktur musik National Youth Orchestra Indonesia. Ia juga menjadi direktur artistik Indonesia Piano Festival hingga kini.

Dilahirkan di Bandung, Iswargia memulai pelajaran pianonya di sana, berturut-turut bersama Ibu Wibanu, Partosiswojo, John Gobée, dan Oerip S. Santoso. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1-nya di bidang arsitektur di Institut Teknologi Bandung; ia melanjutkan pendidikan S-2-nya di bidang musik di Manhattan School of Music, New York, Amerika Serikat, dibawah bimbingan pianis & pedagog legendaris Karl Ulrich Schnabel, hingga meraih gelar Master of Music. Selama musim-musim panas, ia juga berguru pada pianis-pianis kenamaan, seperti Bela Siki di Johanessen International School of the Arts (Kanada), Gabriel Chodos dan Rita Sloan di Aspen Music School (Amerika Serikat), dan Robert Levin di Mozarteum International Summer Academy (Austria). Ia juga mendapat beasiswa dari DAAD untuk memperdalam pengetahuan musiknya di Staatliche Hochschule für Musik Freiburg, Jerman, dibawah bimbingan Hansjörg Koch. Penghargaan lain yang pernah diterimanya adalah Norman Stanley Smith Award dari Manhattan School of Music atas studi piano pedagogi terbaik dan Beasiswa Aspen Music School.

Saat ini, selain menjabat sebagai direktur akademik Konservatorium Musik Jakarta, ia juga menjadi dosen dan pengajar ahli Konservatorium Musik Jakarta, Universitas Pelita Harapan, Universitas Pendidikan Indonesia. Secara berkala ia tampil dan mengajar di Asian International Piano Academy and Festival di Cheonan, Korea. Murid-muridnya telah banyak memenangkan berbagai kompetisi tingkat nasional, maupun internasional.

Tuesday, October 19, 2010

Classical Guitar Fiesta 2010: Suguhan Konser Gitar yang Panas




Panas diatas bukan semacam kiasan untuk kata "porno" misalnya, tapi memang panas yang nyata. Di Auditorium CCF, Jumat tanggal 8 Oktober itu, tergelar Classical Guitar Fiesta (CGF) 2010 buah karya KlabKlassik, salah satu komunitas yang rajin kumpul-kumpul di Tobucil. Entah AC nya tidak jalan atau penontonnya melebihi kapasitas, yang pasti hampir setiap yang berada di dalam berpeluh keringat. Meski demikian, keadaan tersebut tak menyurutkan minat penonton untuk bertahan di ruangan, meski harus selama hampir tiga jam.


Dari awal acara hingga akhir, penonton disuguhi macam-macam penampil dalam format yang berlainan juga, meski semuanya satu tema: gitar klasik. Penampilan dibuka dengan Ririungan Gitar Bandung, yang dengan format ensembel sepuluh orangnya, menyuguhkan aransemen lagu Drive My Car dari The Beatles. Setelah itu, berturut-turut hadir para penampil dalam format gitar tunggal, yang diseling satu lagu oleh duet gitar dan cello yang memainkan lagu The Swan karya Camille Saint-Saens. Acara yang dipandu oleh MC Royke Ng ini kemudian beristirahat lima belas menit kala konser sudah berjalan 45 menit.

Pasca interval, hadir gitaris asal Meksiko bernama Mulix Cabrera. Penampilannya unik, karena menampilkan lagu tradisional Meksiko dengan iringan petikan gitar, kecapi, dan vokal. MC Royke juga cukup menghibur, dengan mewawancarai Mulix memakai Bahasa Inggris pada mulanya, tapi lama-lama berganti Bahasa Sunda! Ini disebabkan, Mulix sesungguhnya kuliah di STSI selama lebih dari setahun. Setelah Mulix tampil, bergantian kemudian penampilan solo gitar lagi, diantaranya Caessario Toga Sakti Muda Perkasa dengan lagu Dream Adventure, dan Jardika Eka Tirtana dengan lagu Canzonetta karya Felix Mendelssohn.

Dan akhirnya, di penutup, CGF 2010 menghadirkan bintang tamu bernama Phoa Tjun Jit dengan format gitar solo. Gitaris dengan prestasi juara Festival Gitar Klasik Nasional Yamaha 1981 dan Festival Gitar Klasik Asia Tenggara Yamaha 1982 itu, menyuguhkan empat karya aransemennya sendiri. Yang paling menarik bagi saya, adalah aransemen Bengawan Solo karya Gesang. Dibuka dengan petikan khas keroncong, lalu diseling dengan gaya blues, dan ditutup dengan ritmik country. Setelah lagu terakhir When I Am 64 dari The Beatles, penonton tak ingin acara berakhir. Tjun Jit diminta naik panggung lagi membawakan encore. Acara malam itu pun tidak hanya panas, tapi juga hangat. Hehe.

CGF adalah acara rutin dwitahunan dari KlabKlassik. Formatnya adalah konser gitar untuk umum. Jadi, pendaftaran dibuka bebas untuk siapa saja yang mau ikut konser. Hanya saja, untuk kepentingan durasi acara yang terbatas, peserta diaudisi dulu dua minggu sebelum konser. Untuk memberikan bobot lebih pada acara, selalu dihadirkan bintang tamu. CGF 2006 berbintang tamu Royke B. Koapaha, CGF 2008 berbintang tamu Jubing Kristianto, dan CGF kemarin Phoa Tjun Jit. Semua nama-nama tersebut adalah gitaris senior yang telah berprestasi dan malang melintang di dunia pergitaran nasional maupun internasional.

Monday, October 04, 2010

Susunan Acara Classical Guitar Fiesta 2010

1. Ririungan Gitar Bandung
2. Kristianus Tri Adisusanto
3. Kevin Cahyady
4. Kelvin Budiman
5. Liv Audrey Suwandi
6. KlabKlassik Duo
7. Luthfi Farabi
8 Dudung Irfan K.
9 R. Lutfi Latifullah

Interval

10. Mulix Cabrera
11. A. Dennis Morgan Permana
12. Dicky Salam
13. Caessario T.S.M.P.
14. Jardika Eka Tirtana
15. Phoa Tjun Jit

- Disediakan waktu check sound dan coba panggung dari mulai pukul 14.00 sampai 18.00.
- Peserta selambat-lambatnya datang ke CCF pukul 18.30 (Hati-hati parkir susah, sebaiknya parkir di Gramedia, BEC, atau Arcade).
- Memakai pakaian rapih (Sepatu, celana kain, dan kemeja/polo shirt/jas/batik)

Persiapan Menjelang Classical Guitar Fiesta 2010




Tak terasa, sudah dua tahun KlabKlassik berlalu dari acara dwitahunan nya yakni Classical Guitar Fiesta 2008. Sekarang telah menginjak 2010, dan alah, KK kembali menyelenggarakannya. Acaranya berbeda tempat dengan dua tahun lalu yang mana diselenggarakan di Asia Africa Cultural Centre, sekarang ini KK mengembalikan CGF ke Auditorium Centre Culturel Francaise (CCF) seperti tahun 2006. Persiapan kali ini lebih santai dan tidak seperti sebelum-sebelumnya yang kerapkali berlangsung cukup menegangkan. Barometernya, sebelum-sebelumnya KK rajin rapat dan bertemu di beranda Tobucil, dengan suasana yang agak-agak tegang. Sekarang ini hampir tak pernah bertemu, dan konon Royke mengatakan bahwa rapat dilakukan via chatting di YM. Oh teknologi.

Classical Guitar Fiesta adalah konser gitar yang terbuka untuk umum. Maksudnya, siapapun boleh ikut, dengan cara mendaftarkan diri. Untuk menyinkronkan dengan durasi acara, dan lalu menjaga kualitas jua, maka para pendaftar itu kemudian diaudisi oleh tiga orang juri. Nantinya mereka-mereka yang lolos ditampilkan bersama-sama dengan sisipan bintang tamu dan penampil terpilih pilihan panitia.

Audisinya sendiri telah lewat tanggal 26 September lalu, dengan juri Diecky K. Indrapradja, Tono Rachmad S.Pd. serta seorang Meksiko bernama Daniel Cabrera. CGF 2010 akhirnya sukses meloloskan sebelas orang. Sebelas orang tersebut terdiri dari mulai gitaris wanita berusia SMP, hingga seorang yang bisa dikatakan bapak-bapak gaek. Kesebelas tersebut akan tampil di CCF, tanggal 8 Oktober, Jumat ini. Serukah? Insya Allah, dan itu hanya akan kau ketahui jika membeli tiketnya di Tobucil langsung.





CGF 2010
Jumat, 8 Oktober 2010
Pk. 19.00
Auditorium CCF, Jl. Purnawarman no. 32

Informasi tiket:
Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548)
Syarif (0817-212-404)

Saturday, October 02, 2010

Nikmatnya Jumpa di Luar Beranda





Selama ini, KlabKlassik rajin berkumpul tiap hari Minggu di beranda Tobucil. Ketika libur lebaran, yang mana Tobucil tutup selama lebih dari seminggu, maka KK jadi kehilangan tempat nongkrong. Sebetulnya ini bukan hal yang buruk-buruk amat, mengingat semestinya orang-orang KK juga ikutan libur lebaran, jadi untuk apa tetap nongkrong? Tapi beberapa orang dari KK, yang terutama tidak keluar Bandung, berinisiatif untuk tetap berjumpa, alasannya apa lagi kalau bukan halal bi halal. Salam-salaman agar lebaran menjadi lengkap.

Sesama KK saling mengunjungi rumah masing-masing, bersalaman dengan sanak saudara dari rumah yang dikunjungi, serta basa-basi menyantap makanan yang disediakan pemilik rumah. Sistemnya berputar dan saling menjemput. Saya, bersama Bilawa, Kang Yadi, Kang Yunus, Kang Tikno, serta Kang Aka, adalah pesertanya.

Dalam acara sehari penuh yang dilakukan pada tanggal 14 September itu, KK menyelipkan kunjungan pada rumah pemilik Tobucil, Mbak Tarlen, yang tentu saja sekaligus kakak-adiknya, yakni Mba Kenti, Mba Upi, dan Mas Banung. Inilah untuk pertama kalinya KK khusus bertemu dengan para punggawa Tobucil itu, di luar beranda Tobucil. Menyenangkan, selain karena disuguhi tape ketan serta kue almond buatan Mba Kenti yang sedap (ini serius sedap, pesanlah kapan-kapan), KK juga merasakan suasana kekeluargaan kala bertandang ke rumah. Maksudnya begini, pertemuan di beranda Tobucil adalah jua bersuasana keluarga. Tapi saling mengunjungi dalam suasana lebaran, dengan niat silaturahmi, itu pertanda bahwa antara KK dan Tobucil, tidak berhubungan sebatas “ada maunya” semata. Belakangan ini banyak hubungan yang telah dinilai sebatas. Mesti ada nilai keuntungan praktis yang langsung bisa diterima saat itu juga.

Silaturahmi adalah bentuk penghindaran sikap politis yang berlebihan. Bahwa sesungguhnya, antara KK dan Tobucil hubungannya adalah sebagaimana sesama manusia: bisa saling memerlukan, menolong, dan menyayangi, tanpa ada takaran yang terlalu ketat.

Monday, September 27, 2010

Pengumuman Hasil Audisi Classical Guitar Fiesta 2010

Berikut adalah nama-nama peserta Classical Guitar Fiesta 2010 yang telah melewati proses audisi tanggal 26 September 2010:

1. Agustinus Dennis Morgan Permana
2. Caessario Toga Sakti Muda Perkasa
3. Dicky Salam
4. Dudung Irfan K.
5. Jardika Eka Tirtana
6. Kelvin Budiman
7. Kevin Cahyady
8. Kristianus Tri Adisusanto
9. Liv Audrey Suwandi
10. Luthfi Farabi
11. R. Lutfi Latifullah

Peserta yang namanya disebutkan di atas, harap mengumpulkan profil singkat dalam satu paragraf yang terdiri dari:
NAMA, TEMPAT TANGGAL LAHIR, KEGIATAN SEKARANG, GURU/PEMBIMBING, PRESTASI, dan FOTO DIRI
Yang dikirimkan ke klabklassik@yahoo.com (cc: syarafmaulini@gmail.com) paling lambat hari ini, Selasa 28 September 2010 pukul 24.00.

Bagi peserta yang disebutkan di atas, harap juga mengikuti technical meeting pada:
Hari : Minggu, 3 oktober 2010
Jam : 13.00 - 14.00
Tempat : Tobucil, Jl. Aceh. no. 56

Informasi dapat menghubungi Syarif di (0817-212-404)

Terima kasih untuk seluruh peserta yang bersedia mengikuti audisi Classical Guitar Fiesta 2010. Semoga semuanya mampu bersinergi untuk kemajuan pergitaran di Bandung.

Friday, August 06, 2010

Review Resital Gitar Johan Yudha Brata


Pada dasarnya saya cuma penikmat musik, tidak bisa memainkan instrumen apapun. Gitar bisa sedikit, tapi tidak bisa dibilang jago. Maka itu mohon maklum jika review saya ini lemah adanya, atau bahkan tidak mewakili pendapat para penikmat yang hadir di CCF hari Selasa malam itu.

Judul resitalnya First Thing First, yang dibawakan oleh Johan Yudha Brata Sahertian dari Jakarta. Saya menyaksikannya pertama kali di acara musik klasik Radio Maestro yang berlangsung sehari sebelumnya. Waktu itu Johan memainkan dua lagu berjudul Memed dan Whirler of The Dance. Lagu pertama ini, cukup melodius dan berteknik. Johan memainkannya dengan terbata-bata, tapi saya maklum karena Johan terlihat masih tegang sebagai penampil pertama. Lagu kedua saya berharap lebih, tapi ternyata Johan belum juga tampil memikat dan masih terlihat tegang. Satu-satunya yang bikin saya bertahan, adalah tekniknya yang terlihat tinggi. Jari-jarinya sangat terlatih, meski kalimat yang keluar dari gitarnya masih sering terputus. Tapi anehnya, rasa penasaran saya tidak surut, pasti Johan menyimpan sesuatu untuk resital keesokan harinya di CCF.

Selasa, tanggal 3 Agustus, saya memutuskan datang, membeli tiket resital gitar Johan. Harganya 25 ribu, cukup mahal untuk ukuran konser di Bandung. Saya mengambil tempat duduk di sebelah kanan agak ke tengah, berharap mendapatkan jarak yang tepat. Terlalu dekat juga sepertinya kurang baik. Pintu ruangan ditutup dan saya cuma melihat beberapa gelintir saja orang yang menyaksikan. Sepertinya kurang dari 20, tapi itu tidak menyurutkan niat saya untuk tetap menyaksikan konser Johan.

Johan pun tampil, dengan membawakan lagu pertama berjudul Invocacion et Danse dari Joaquin Rodrigo. Lagu ini dibuka dengan bagian yang bagi saya terdengar abstrak, dengan ritmik yang susah ditebak. Agak berbeda dengan istilah "Danse" yang saya kenal. Tapi di tengah-tengah lagu, muncul juga Danse yang dimaksud meski singkat. Teknik tremolo juga dihadirkan dalam lagu ini. Johan seperti biasa, terlihat tegang sekali dalam lagu pertama ini. Apakah ini memang kebiasaannya, tegang di lagu pertama? Jujur saja, lagu pertama ini saya kurang menikmati. Tapi saya tidak mungkin menyerah di awal, dan saya bertekad tetap bertahan di kursi. Tapi lagu kedua dan seterusnya jujur, bikin saya pusing! Johan dengan tenangnya, tidak memberi ruang bagi tubuh saya untuk menerima harmoni yang "akrab". Mau goyang, susah, mau mejem, susah. Entah kenapa, apakah saya yang tidak paham? Mungkin demikian pikir Johan, ini seni kelas berat, hanya yang layak saja yang mampu mendengarkan.

Setelah penutup sesi pertama, lagu dari Ginastera yang amat panjang, saya keluar untuk mengisap rokok. Sambil berpikir panjang, masuk lagi atau tidak? Tapi tiket 25 ribu sayang untuk dibuang begitu saja. Sambil terus merenungkan lagu terakhir itu sesungguhnya apa? panjangnya hingga lebih dari 10 menit, tapi hanya berisi pukulan, erangan, petikan absurd, dan genjrengan emosional. Ah, saya pasti bukan orang yang paham atas ini. Pasti ada kandungan seni yang mendalam disana. Saya pun kembali masuk untuk sesi dua.

Di sesi dua, Johan tiba-tiba berbicara di pembuka. Wah, itu sungguh menyegarkan! Ketika kuping sudah terbiasa mendengar denting gitar yang miring, mendengar suara manusia yang pitch sangatlah enak. Tapi aduh, lagu pertama di sesi dua ini ternyata tidak ubahnya dengan sesi sebelumnya: pusing! Saya tidak bisa lagi menahan diri untuk melirik HP, membuka YM, untuk mencari teman yang mau diajak chat. Maksudnya, agar pikiran saya tidak habis hanya untuk berkonsentrasi di satu titik, yakni panggung itu.

Setelah lagu kedua berjudul Memed, saya memutuskan keluar ruangan. Saya merasa tidak mampu lagi bertahan, dan memilih untuk mengintrospeksi diri: Pasti ini saya yang tidak mengerti. Saya mesti kembali meningkatkan apresiasi dan banyak mendengarkan dentingan gitar dengan nada miring. Selama ini saya dengarkan jazz Pat Metheny yang saya anggap sudah miring, ternyata masih jauh dengan yang ini. Bung Johan, saya tak bisa mengkritik anda, atau memberi masukan. Saya cuma bertanya pada diri saya, adakah penonton itu bisa disalahkan atas apa yang dia tidak mengerti?


Tony Soedjarwo




*foto diambil dari dokumen pribadi Johan oleh administrator blog ini

Thursday, July 29, 2010

KlabKlassik dengan Dua "S" (Tribute to Mas Niman)

Jika kalian, wahai para penggiat di KlabKlassik, merasa bahwa komunitas ini tengah dalam kondisi menyenangkan, maka saya coba bahas darimana kita ini berasal. Agar kita tidak termasuk golongan Malin Kundang yang setelah mengalami nikmat duniawi lalu lupa pada wanita yang melahirkannya ke dunia.

Kita ini, diberi nama KlabKlassik, jangan tanya saya, Bilawa, Royke, atau Iyok, atau Kang Trisna kenapa-kenapanya. Bukan, bukan kami yang menamainya. Adalah seorang penikmat jazz sekaligus koordinator komunitas jazz bernama KlabJazz, yang menamai kita seperti ini, lima tahun silam. Ia pun, sesungguhnya, barangkali tidak tahu kenapa melabelinya dengan dua huruf "s". Saya cuma pernah mendengar pernyataan beliau: "Karena setahu saya, klasik itu nama salah satu periode dalam sejarah musik Barat. Jadi klasik disini mengacu pada hal yang berbeda." Demikianlah beliau berkata, dan kami yang tak paham mengangguk tanda iya. Adakah kami paham sekarang? Sesungguhnya tidak juga, tapi kami sudah menganggap dua "s" itu sebagai ciri yang memang telah melekat. Seperti kata Bilawa: Biarkan saja jika memang dua "s" tidak bermakna, setidaknya itu memudahkan orang dalam mengingat.

Dia orangnya, beliau, yang memberi kita pada mulanya, sebuah hari di minggu kelima pertemuannya. Jadi begini, KlabJazz berkumpul setiap hari minggu, dan jika di suatu bulan terdapat minggu kelima, itulah saatnya KlabKlassik beraksi. Beliau tak cuma merelakan pertemuan komunitasnya diambil kami, anak ingusan yang haus eksitensi, tapi juga mau mengundang komunitas jazznya untuk tetap turut serta dalam KlabKlassik. Jadilah pertemuan kami seolah banyak orang yang datang, biarpun mereka entah suka musik klasik entah tidak, atau barangkali ada rasa kasihan terhadap kami-kami yang tak jelas ini.

Dia orangnya, beliau, yang mengingatkan bahwa: "Tidak boleh ada iuran bulanan, karena bayar berarti in, tidak bayar berarti out." Itulah ucapan yang mendasari, seluruh gerak-gerik kita sekarang ini. Jika ya, Ririungan Gitar Bandung bayar, itu disebabkan karena demi konser, agar anggota menjadi bertanggungjawab mengikuti latihan demi latihan. Karena absen satu atau dua kali dalam persiapan, akan mengganggu harmonisasi keseluruhan. Lagipula, siapa yang melarang kalian mengambil teh botol atau mie sebagai konsumsi? Keduanya berbeda harga, tapi di mata kami derajatnya sama: sama-sama dibayar dengan uang RGB.

Jika ya, akademi KlabKlassik membayar, juga karena ini sistem kelas lengkap dengan dosennya yang nyata. Artinya, kita semua tentu saja tidak mau mengecewakan sang dosen, baik oleh kehadiran, baik oleh imbalan. Sang dosen bukan seorang yang mata duitan, saya tahu betul. Tapi ia seorang yang mencintai apresiasi dari murid-muridnya. Dan berhubung klab tak mampu membayar jasa-jasanya dengan uang yang banyak, maka kami membayar dengan kehadiran yang bertanggungjawab. Bagaimana agar kehadiran bisa bertanggungjawab? Sebagai paksaan, ya lewat membayar. Dan kembali lagi, kau bisa ambil risoles ataupun kopi aroma sebagai konsumsi, dengan derajat yang sama.

Dia orangnya, beliau, yang kemudian entah kenapa ternyata bagaikan filsafat Wittgenstein: "Aku hanya memberi kalian tangga. Setelah kalian berada di atas, maka tak perlu lagi tangga itu. Agar kalian tak punya pilihan untuk turun." KlabJazz kemudian berjuang di tempat yang berbeda dengan kami. Sementara kami, KlabKlassik, terus mencari bentuk sampai selama-lamanya: "Tempus mutantur, et nus mutamur in ilid" Waktu berubah, dan kita ikut berubah di dalamnya.

KlabKlassik sekarang, bagi saya, adalah tempat dimana saya tak perlu takut jadi manusia terasing di tengah mekanisasi rutinitas perkotaan. Ada masa satu hari dalam seminggu dimana saya mewaraskan diri. Menggunakan segenap hati untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna. Karena adakah segala sesuatu mesti berguna? "Bersiul pun tidak berguna," demikian kata Goenawan Mohamad. Ini adalah tempat dimana saya menghabiskan ongkos, waktu, tenaga untuk kesana. Yang oleh manusia ekonomi saya ini dibilang inefektif, karena kemudian apa yang saya lakukan tidak mengembalikan modal yang telah saya keluarkan. Tapi jika Nietzsche berkata, "Hakekat kehidupan adalah kehendak untuk berkuasa" maka dari klab saya belajar, "Hakekat kehidupan adalah mengekspresikan rasa cinta" Dan jika kau mempunyai sesuatu, ataupun tempat, ataupun manusia, tempat kau mengekspresikan rasa cintamu secara bebas, maka barangkali damailah engkau. Dan jika memang ekonomi berbicara tentang uang, tidakkah uang nantinya juga digunakan untuk mengekspresikan rasa cintamu akan sesuatu?

Akhirul kata, semoga tulisan ini adalah bentuk rasa syukur atas adanya tempat yang barangkali Tuhan akan berpikir ulang jika mau menggelar kiamat. Setidaknya masih ada satu tempat dimana orang masih mau menggerakkan kakinya untuk sesuatu yang tak praktis. Sesuatu yang melampaui kepraktisan, yang cuma bisa dijawab oleh makna yang tertanam dalam masing-masing orang. Yang hingga kini kami tak pernah paham kenapa Kang Trisna dari Subang mau jauh-jauh datang ke pertemuan klab yang cuma dua jam lalu lantas pulang. Yang hingga kini kami tak pernah paham kenapa Mas Yunus dalam kondisi tipus mau dengan sempoyongan datang ke klab untuk mendengarkan haha hehe kami yang pasti kemasannya jauh lebih tidak menarik dibanding filosofi The Secret. Tidakkah barangkali, kiamat turun ketika semua orang sudah berpikir praktis? Semua orang sudah berpikir apa yang berguna bagi ia, dan tidak lagi menalar soal hal-hal yang melampaui itu?

Maka berbahagialah kita, dan berterima kasihlah pada orang yang jika tiada ide-idenya yang brilian, maka barangkali tak pernah ada klab ataupun tak pernah ada gairah untuk menjalankannya. Kita disini intinya mengikat silaturahmi, atau kata Kang Trisna, "klab ini dipersatukan oleh sesuatu, yang sesungguhnya bukan musik, tapi entah apa." Dan Mas Niman, Dwi Cahya Yuniman, kaulah beliau yang kami maksud. Dan kami berterima kasih sedalam-dalamnya atas batu pertama yang kau letakkan. Semoga kita bisa membangunnya hingga menjadi menara yang tinggi. Dan ketika sudah terlampau tinggi, seyogianya kita ingat tragedi Menara Babel yang mahsyur. Mereka tak mau lagi memandang ke bawah, tapi terus meninggikan menara, sehingga Tuhan menghukumnya dengan menjadikan lidah mereka bersilat berbagai bahasa.

Bach memberkati

Wednesday, July 28, 2010

Peraturan & Form Pendaftaran Classical Guitar Fiesta 2010

Acara dwitahunan KlabKlassik berjudul Classical Guitar Fiesta akan kembali digelar setelah tahun 2006 dan 2008. Formatnya masih sama, yakni konser gitar untuk umum. Sebagai informasi tambahan, acara ini akan menghadirkan Phoa Tjun Jit (Juara Festival Gitar Yamaha 1981 dan juara Yamaha South East Asian Guitar Festival 1982). Bagi yang berminat ikut serta, bisa mengunduh formulirnya disini. Formulir yang sudah diisi dapat dikirimkan ke Tobucil, Jl. Aceh no. 56, Bandung.
Peraturan & Form Pendaftaran

Wednesday, July 21, 2010

Mempertanggungjawabkan Karya

Saya terlambat datang ke KlabKlassik (KK) hari itu. Ketika datang, telah berlatih delapan orang memainkan sebuah karya baru gubahan Yunus Suhendar. Mas Yunus mengaransemen sebuah lagu dari Enya yang berjudul Willow on The Water. Karya ini merupakan pesanan dari acara Rhapsodia Economica UNPAD yang akan diselenggarakan tanggal 7 Agustus. Isi pesannya: "Jika KlabKlassik bisa tampil, maka pertimbangkan untuk memainkan lagu Enya yang berjudul Willow on The Water". Lagu tersebut terbilang sederhana dan tidak ada variasi yang memikat sepanjang lagunya. Nyaris melodinya berulang dari awal sampai akhir, KK pun terbilang tak sulit memainkan karya tersebut.

Namun Diecky, sang dosen di akademi KK (sebuah kelas komposisi musik yang rutin diadakan tiap Minggu), tidak ingin membuatnya sederhana. Mas Yunus seolah disidang dan diminta pertanggungjawabannya atas segala-gala yang telah ia lakukan. Karyanya dibedah dari banyak aspek, sehingga terasa sekali bahwa karya yang relatif sederhana tersebut ternyata memuat banyak unsur. Misalnya dari sudut pandang instrumentasi, Diecky melihat bahwa dalam lagu Enya, berusaha ditonjolkan teknik pizzicato dari instrumen gesek. Diecky melihat lagi bahwa Mas Yunus tidak berusaha menonjolkan itu, melainkan barangkali membuat suara baru yang berasal dari orisinalitas gitar. Perbincangan ini menarik dan cukup menyedot apresiasi para peserta KK. Di pertemuan nanti-nanti, diharapkan peserta akademi membawa sebuah komposisi untuk dibahas bersama. Ternyata lebih menarik jika ada contoh komposisi yang dibuat orisinil oleh peserta akademi sendiri!

KK hari itu cukup lengkap. Setelah dibuka dengan latihan Ririungan Gitar Bandung, dan dilanjutkan dengan analisis karya, KK ditutup dengan ini dia, performa. Kebetulan sore itu dua orang datang, namanya Yuty dan Andika. Keduanya akan konser di CCF hari Jumat tanggal 23 Juli dalam format piano dan flute. Berhubung tidak ada piano, maka yang dipaksa tampil adalah Andika. Andika pun rela memainkan satu potongan karya dari salah satu materi resital nantinya. Lagunya berkisah tentang senja, karya Singgih Sanjaya. Sore itu jadi sendu oleh tiupan lirih flute Andika.

Thursday, June 10, 2010

Akademi KlabKlassik: Hari Perdana

Hari itu ada yang spesial di KlabKlassik, yakni untuk pertama kalinya, mereka berkumpul di hari Minggu yang ganjil. Maksudnya, jika biasanya klab berkumpul di minggu kedua dan keempat, sekarang di minggu pertama pun ternyata ada kumpul-kumpul, tepatnya pukul satu. Bagi Klab, itu adalah hari cukup bersejarah, karena pertama kalinya Klab membuat semacam akademi. Yang mana merupakan semacam kelas yang isinya mengajarkan seputar materi-materi mendekati kuliah. Dosennya? Ada, seorang aktivis Klab dan juga Madfal, namanya Diecky K. Indrapradja. Ia punya pengalaman mengajar cukup banyak, salah satunya di institusi resmi Sekolah Tinggi Musik Bandung.

Hari perdana kelas yang diberi nama Akademi KlabKlassik itu, belajar tentang dasar-dasar harmoni, yang nantinya akan mengarah pada penulisan komposisi. Pesertanya ternyata cukup banyak, ada sepuluh. Delapan diantaranya anggota Ririungan Gitar Bandung, dua lainnya ternyata orang yang baru datang, Kebetulan, yang bikin Klab senang, kedua orang baru tersebut berlatar belakang vokal. Namanya Ucok dan Wawan. Sesuatu yang jarang terlihat di Klab yang kebanyakan gitar dan biola. Meski dimulai agak telat, tapi peserta terlihat serius dan antusias, meski materi ternyata cukup berat. Hari itu belajar soal harmoni jaman barok dan klasik, dan beberapa anjuran serta larangan penulisannya. Misal, dalam sebuah harmoni Sopran, Alto, Tenor, dan Bas, tidak boleh mengulang nada ketiga dua kali. Hal tersebut disebutkan haram di era Klasik, meski bagi telinga kita sekarang, terdengar enak-enak saja. Akademi KlabKlassik akhirnya ditutup dengan latihan menulis pengembangan komposisi dari melodi dasar To Be With You-nya Mr. Big.

Akademi KlabKlassik ini diselenggarakan tiap Minggu, hanya saja di Minggu ganjil waktunya tiga jam (jam 13.00-16.00), sedangkan di minggu genap waktunya sejam (jam 15.00-16.00). Bayarnya tidak mahal, yakni 65.000 Rupiah untuk satu triwulan. Adapun triwulan itu menandai habisnya satu materi.



Wednesday, June 09, 2010

Penampilan KlabKlassik di Rhapsodia Economica



Hari Jumat, tanggal 4 Juni kemarin, KlabKlassik mendapat undangan dari kampus UNPAD. Isinya adalah meramaikan acara Rhapsodia Economica, yang mana merupakan acara triwulanan dari kampus negeri itu, untuk mempersembahkan semacam acara musik klasik. KK kebetulan dapat kehormatan untuk mengisi edisi perdananya, bersama sekolah musik NADA. Jadi begini, KK diberi slot sekitar 35 menit, lalu bebas mengisinya dengan penampil siapa saja, selama masih sejalan dengan visi misi musik klasik.

Akhirnya KK memilih orang-orang yang memang rajin datang ke KK. Yakni di pembuka, ada Dicky Salam yang menampilkan Koyunbaba dalam format solo gitar, lalu Andrew Sudjana yang memainkan karya piano solo Haydn, lalu disambung Kelvin Budiman, solo gitar, lagunya It Might Be You. Setelah itu, mulailah format non-solo, mulai dari duet gitar-violin dari Yunus Suhendar dan Yusuf Thomas yang tampil membawakan Galih dan Ratna, lalu KlabKlassik String Trio yang diisi Afifa Ayu, Syarif Maulana, dan Azisa Noor. Nama terakhir kembali memainkan lagu klasik, yakni Air on G String dari J.S. Bach. Galih dan ratna memang sengaja disisipkan, karena panitia ternyata tidak klasik berat, bahkan barangkali masih bingung dengan defisini musik klasik itu sendiri. Awalnya malah KK disodori contoh songlist yang berkaitan dengan ABBA dan sejenisnya. Di akhir penampilan, KK menutup dengan suguhan Ririungan Gitar Bandung yang menampilkan dua karya The Beatles dan satu lagu penutup Pak Ketipak Ketipung. Bukan klasik? Kalau begitu katakan pada kami, apakah klasik itu? Karya musik dari Renaisans hingga Romantik? Teknik bermain atau format grup musik? Atau karya-karya lawas yang bukan berasal dari kekinian?

Ah, itu tak lagi penting sebenarnya. Yang penting, kata "Klasik" jadi tali penghubung silaturahim kita semua.
Justify Full

Pendidikan Musik Milik Semua


(24/5/10)

KlabKlassik kemarin ada usulan menarik: Bagaimana jika dijadikan tiap minggu saja pertemuannya? Melihat ke masa lalu sebentar, KlabKlassik ini awal mulanya nebeng KlabJazz. Dalam artian begini: KlabJazz berkumpul tiap hari minggu, dan jika dalam satu bulan ada minggu kelima, maka KlabKlassik lah yang akan mengisi. Intinya: KlabKlassik berkumpul sekali dalam sebulan, itupun tidak setiap bulan, hanya bulan yang terdapat minggu kelimanya saja. Lalu ketika Tobucil pindah ke Aceh 56, KlabKlassik tidak lagi terikat dengan pertemuan KlabJazz, dan kemudian bertemu jadi sebulan dua kali, yakni di minggu ke-2 dan minggu ke-4.

Itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Diecky, seorang aktivis merangkap komposer dan dosen, mengajukan ide, “Gimana kalau tiap minggu aja. Minggu ganjilnya, kita pakai untuk semacam kelas teori dan komposisi.” Hal tersebut disambut hangat oleh aktivis klab lainnya. Jadinya, Klab akan mendirikan semacam pelatihan singkat dimana Diecky yang jadi tutornya. Tentu saja ini menjadi ilmu yang sangat bermanfaat bagi klab, karena kurikulum yang ditawarkan oleh Diecky, adalah kurikulum yang 90% mirip dengan kuliah musik. Jadi apa tujuannya? “Agar pendidikan musik menjadi milik semua orang. Bukan cuma milik orang-orang yang bisa membayar untuk masuk sekolah musik ataupun kuliah musik,” tutur Diecky. Jadi nantikan pertemuan perdana Klab di minggu ganjil pertama bulan Juni, yakni tanggal 6 Juni. Kelas teori ini direncanakan akan berbayar, untuk kemudian ditukar dengan peralatan seperti kertas paranada, alat tulis, dan minuman. Berapa bayarnya? Masih Klab bicarakan, dan tenang saja, Insya Allah tidak akan mahal, semahal kuliah yang makin mahal.

Wednesday, June 02, 2010

Balada Duo Jazzer di KlabKlassik

(09/05/2010)

Namanya juga KlabKlassik (KK), seyogianya diwarnai oleh musik klasik di dalamnya. Tapi hari itu ada yang beda, KK kedatangan Ridzky Diansyah dan Jasiaman Damanik (Jazzy), dua gitaris jazz yang kebetulan saja sedang ingin mampir. Ini menyenangkan sekaligus menarik, karena sebelumnya KK baru saja selesai menanggap permainan klasik dari Luthfi. Sebagai informasi, Luthfi ini akan melakukan resital tanggal 3 Juni, dan kemarin itu adalah gladi resiknya. Kontan terjadi perubahan suasana yang cukup kontras, dari tadinya dentang denting gitar klasik yang lembut syahdu, sekarang jadi jazz yang liar dan eksotik. Kedua gitaris tersebut, Ridzky dan Jazzy, berduet memainkan Stella by Starlight, All of Me, dan Desafinado. Yang hadir tak baJustify Fullnyak, tapi suasana keakraban sangat kuat dan terasa. Luthfi sampai bilang, “Hati-hati, jangan dekat-dekat, nanti ada yang jadian.”

Suasana seisi Tobucil pun sepertinya terpengaruh dengan permainan kedua gitaris yang sama-sama sempat berguru pada Venche Manuhutu itu. Mereka seolah disuguhi alunan radio KLCBS yang memang khusus menyajikan musik-musik jazz. Ini pun sesungguhnya menjadi semacam keuntungan bagi KK, karena dengan kehadiran mereka, wawasan musik serta apresiasi aktivis KK menjadi bertambah, seperti Sutikno bilang, “Beruntung sekali KK punya suasana yang hangat dan kekeluargaan, sehingga banyak orang yang mau datang dan berbagi ilmunya tanpa berpikir soal uang.”

Kehangatan KK ini mendorong aktivisnya untuk mengusulkan pertemuan setiap minggu saja, karena pertemuan dua kali dalam sebulan ini dianggap kurang mengakomodasi keinginan mereka untuk bersilaturahmi. Diecky kemudian memberi ide bahwa pertemuan Klab bisa diperkuat jadi tiap minggu, asalkan disisipkan pelatihan teori dan komposisi dengan format mentoring di dalamnya. Hal ini, kata Diecky, ditujukan agar yang datang ke KK semakin punya pengetahuan lengkap. Rencananya, jika memang Klab jadi tiap minggu, maka di minggu pertama dan ketiga, akan digunakan untuk belajar teori dan komposisi, yang diusulkan agar lebih enak, menggunakan sistem berbayar. Berbayar agar kurikulumnya berjalan kondusif dan orang tidak keluar masuk seenaknya karena akan merugikan peserta lain juga. Di akhir pelatihan yang rencananya berjalan tiga bulan, akan ada presentasi karya dan komposisi. Terdengar seperi Klab Nulis? Ya, jujur, memang KK terinspirasi dari sana. Mari kita nantikan realisasinya.

RGB Menggeliat Lagi


(09/05/10)

Jika belakangan jarang terdapat tulisan soal Ririungan Gitar Bandung (RGB), maka itu dikarenakan kegiatan mereka sedang kurang aktif. Kenapa? Ensembel gitar untuk umum yang berlatih tiap jam satu di hari minggu itu, mengaku tidak ada lagu baru, sehingga kurang bersemangat jadinya. Terakhir, mereka melatih sebuah karya aransemen Yunus Suhendar, judulnya If I Fell. Lagu The Beatles-kah? Memang iya, karena RGB tengah menyiapkan diri untuk konser bertajuk “RGB Tribute to The Beatles”, yakni sebuah konser yang menampilkan format ensembel gitar, tapi memainkan lagu-lagu The Beatles. Salah satu alasan mereka merancang ini, salah satunya adalah demi memperluas cakupan komunitas. Dalam konser tersebut, diharapkan penyuka musik klasik datang, pun penyuka The Beatles. Ini keren, kata mereka.

Untungnya, latihan kemarin ada penyegaran repertoar. Kebetulan saya, menyumbangkan satu aransemen dari lagu The Beatles yang berjudul Drive My Car. Aransemen untuk empat gitar tersebut hari minggu kemarin dicoba tidak oleh semua anggota RGB, tapi hanya oleh Kevin, Kelvin, Yunus, Aldi, Luthfi, dan Ahmed. Karena ya, yang kebetulan datang cuma mereka-mereka itu. Untungnya, dalam sekali latihan, Drive My Car yang ditulis oleh Paul McCartney di tahun 1965 dan dimuat di album Rubber Soul tersebut, cukup sukses dimainkan. Hal tersebut justru menimbulkan kegalauan, karena RGB belum mempersiapkan komposisi apa dan lagu apa yang siap dimainkan untuk minggu berikutnya.

Adakah ide dan saran kira-kira, lagu Beatles apa yang sebaiknya ditampilkan oleh RGB kelak?
“Baby you can drive my car / Yes I’m gonna be a star / Baby you can drive my car / And maybe I’ll love you / “

Ada Suasana Kompetisi di KlabKlassik

(02/05/10)

Hari itu adalah hari istimewa, atau setidaknya cukup berbeda dari hari-hari biasanya. Hari yang dimaksud, adalah hari berkumpulnya KlabKlassik (KK). Istimewa, karena hari itu ada semacam kompetisi-kompetisian. Begini, Royke, salah seorang punggawa KK, membawa serta muridnya dalam rangka persiapan menuju konser. Konser yang sayangnya, tak semua muridnya boleh ikut, melainkan hanya yang terpilih. Dan hari itulah, hari dimana murid-muridnya terpaksa menerima kenyataan bahwa tak seluruhnya boleh main. Melainkan beberapa saja, dan itu berdasarkan penilaian dua orang juri, yakni Bilawa Ade Respati dan Alhamdulillah, saya sendiri.


Murid yang akan diseleksi, jumlahnya tujuh, yakni: Aline, Dewa, Kevin, Kelvin, Felix, Teja, dan Dicky. Ketujuhnya membawa gitar sendiri-sendiri, dan masing-masing mengambil undian. Dan coba lihat, Royke, guru mereka, adalah sekaligus sebagai MC. Dibuka dengan seolah-olah resmi, suasana menjadi cukup tegang. Dan lihat juga para hadirin, yang sebetulnya aktivis KK juga, tapi mereka bersikap seolah-seolah penonton. Dan jadilah, dalam beranda Tobucil yang kecil mungil, ada suasana kompetisi yang bisa dibilang cukup kuat. Terlebih dengan dua dewan juri yang di tangannya terdapat pulpen dan di mejanya terdapat kertas.


Berturut-turut tampil murid Royke, mulai dari Aline hingga ditutup dengan Dewa. Mereka semua main dua karya (kecuali Dicky satu, karena lagunya panjang). Setiap selesai main, dewan juri membuat suasana menjadi seperti Tobucil Idol dengan langsung mengomentari. Tak hanya itu, ternyata penonton juga diberi kesempatan untuk memberi komentar dan memilih peserta favorit lewat secarik kertas yang dibagikan oleh Royke. Setelah seluruhnya tampil, juri beserta MC rapat untuk menentukan peserta yang lolos, dan akhirnya terpilih Teja, Felix, dan Kevin. Sedangkan peserta favorit terpilih Kelvin karena konon, ekspresinya dinilai sangat baik dan penuh penghayatan.

KK menutup hari itu dengan sumringah, karena memang sangat ingin membuat kondisi sumringah? Mengapa, karena biasanya, kompetisi membentuk adanya jurang superior-inferior. Ini patut dihindari, dan cara salah satunya adalah menempatkan seluruh peserta dalam kondisi kekeluargaan, yang diawali dari banyak teman dan makanan.

(Upaya) Dekonstruksi Teori Musik


(11/04/10)

Minggu sore kemarin, KlabKlassik berkumpul lagi, dan mendatangkan seorang narasumber. Narasumber tersebut bernama Ronald Hutasuhut, yang sengaja saya hadirkan, oleh sebab suatu alasan: Mas Ronald akan menyampaikan satu temuan yang cukup menghebohkan, yang ia klaim akan mengubah cara pandang kita terhadap teori musik yang sudah dikenal selama ini. Maka itu saya dan segenap awak KK penasaran, dan berminat mengundangnya ke pertemuan rutin.

Dan akhirnya, pertemuan itu dilaksanakan. Mas Ronald, dan segenap awak klab berkumpul di Tobucil, ada: Kang Trisna, Kang Tikno, Bilawa, Royke, pendatang baru Aldi, Kang Yadi, Mas Yunus, Diecky, Luthfi, Afifa, dan Dega. Cukup banyak. Presentasi pun dimulai, dan KlabKlassik mendengarkan dengan seksama. Apa yang dipaparkan cukup menarik sebetulnya, ada beberapa poin soal kritik dia terhadap kemapanan teori musik selama ini. Misalnya, soal sukat alias time signature. Menurutnya, ada kesalahan serius soal bagaimana sistem menuliskannya selama ini. Dalam birama 4/4, not satu ketuk kadang-kadang dibilang ¼ ketuk, itu lumrah. Menurut Mas Ronald, bagaimana jika dalam birama ¾? Mestinya, namanya tidak lagi ¼ ketuk, melainkan 1/3 dong. Ya kan? Maka itu, dampaknya, tanda birama ¾ mestinya dihilangkan. Diganti dengan 3/3 saja, atau secara praktis dituliskan angka 3 saja dalam setiap permulaan birama sebagai penanda sukat.

Pernyataan ini sukses memancing perdebatan. Karena meski perhitungannya betul secara matematis, sebagian besar awak KK menganggap perhitungan ini kurang perlu. Diecky secara tajam menyampaikan bahwa musik hanya soal rasa. Komposisi adalah soal komunikasi. Ketika komposer menulis karya, lalu si pemain paham maksudnya, dan mampu memainkannya, maka persoalan selesai. Tidak perlu lagi memasalahkan tata cara penulisan birama dan sebagainya. Adapun Kang Trisna dan Mas Yunus mengatakan bahwa teori yang ditawarkan Mas Ronald akan mengurangi efisiensi dari teori yang selama ini sudah berjalan. Meski demikian, yang disayangkan, adalah kekurangterbukaan Mas Ronald akan pelbagai pendapat. Sepertinya, Mas Ronald sudah berpegang keras pada argumennya, sehingga ketika Dicky berusaha mengujinya pun, Mas Ronald terkesan keukeuh meski sudah gak nyambung.

Meski demikian, KK belajar banyak hari itu. KK memuji Mas Ronald sebagai seseorang yang teliti, cermat dan kritis dalam membongkar persoalan. Meski kemudian banyak kelemahan dalam argumentasinya, KK tetap menghargai beliau dan mengingat bahwa banyak sekali orang revolusioner lahir, berawal dari keberaniannya menyampaikan suatu pandangan perbedaan yang ekstrim.


Foto: Wahdini Degayanti

Menggoda Iman Kevin


(28/03/10)

Di KlabKlassik, ada seorang pemuda yang sedang rajin-rajinnya berpartisipasi. Partisipasi itu awalnya berupa kedatangan ke latihan Ririungan Gitar Bandung saja, tapi belakangan, ia mulai merambah ke kegiatan KlabKlassik. Jadi begini, KlabKlassik terbagi atas dua acara, yang pertama adalah Ririungan Gitar Bandung yang diselenggarakan jam 13.00-15.00, lalu dilanjutkan diskusi KlabKlassik dari jam 15.00-17.00. Keduanya dilakukan di hari minggu genap setiap bulannya.

Syahdan, pemuda itu bernama Kevin. Seorang yang sungguh tangguh dan rajin datang. Sekolahnya kelas satu SMA, umurnya enam belas. Tobuciler ingat pada suatu pertemuan bulan lalu, Kevin yang bergurukan Royke Ng (masih aktivis klab), mendapat godaan iman yang berarti bagi perjalanan musik klasiknya. Dengan permainannya yang sangat mumpuni bagi seusianya, ia dicekoki berjam-jam oleh forum diskusi yang KlabKlassik yang dimotori oleh Mas Gatot waktu itu, dengan anggapan bahwa musik adalah segala hal yang dekat dengan batin kita. Artinya apa? musik belakangan sudah terinstitusikan dan tereksklusifkan. Sehingga aneh sebetulnya ada istilah "belajar musik", karena apalah musik sebetulnya, selain darah daging kita sendiri, manusia? Jadi, Kevin, apakah betul, kau memang harus les, atau tidak? Kevin lalu juga dicekoki oleh pelbagai macam musik tak lazim yang isinya cuma bebunyian yang bising, atau bunyi kodok yang seolah diharmonisasikan. Di ujung cerita, forum yang merasa tidak enak telah mencekoki Kevin dengan berbagai macam ketidaknyamanan musikal tersebut, berkata, "Kevin, tetaplah les sama Royke, jangan jadi bimbang gara-gara topik ini yah." Ditutup dengan tertawa membahak, forum pun ditutup.

Tapi sepertinya KlabKlassik tidak kunjung mau berhenti sampai disitu. Minggu kemarin Kevin menunjukkan permainan piawainya kembali, tapi lantas saya bertanya: Kevin, apakah kau memetik senar menggunakan kuku? Kevin menjawab tidak. Dan serta merta, forum mengajukan pertanyaan, kenapa kau tidak memakai kuku? apa alasannya? apakah nyaman demikian? Berturut-turut dari Dicky, Bilawa, Kang Tikno, dan saya sendiri. Kevin sepertinya tak mampu menjawab dan kebingungan, sehingga jawaban terbaiknya adalah, "Kata guru Royke, untuk memperkuat tekniknya dulu." Demikian, akhirnya Bilawa bercerita soal sejarah kuku, dimana memang terbagi dua mazhab antara yang percaya bahwa memakai kuku adalah bagus, tapi ada juga yang tidak, seperti Fernando Sor yang terkenal hebat. Demikian, lagi-lagi Kevin mendapat terpaan, yakni pertanyaan eksistensial soal apa yang ia lakukan selama ini. Tapi lagi-lagi di akhir cerita, forum menekankan, "Kevin, tetaplah les sama Royke, jangan jadi bimbang gara-gara topik ini yah." Dan tetap tertawa terbahak.



Keterangan foto: Kevin berbaju kuning, di tengah

Tuesday, June 01, 2010

Gatot Danar Sulistiyanto: Pendekar Bunyi dari Yogya


(28/02/10)

Awal mula ia datang ke Tobucil, tak menyangka bahwa buah pikirannya begitu kompleks dan mendalam. Karena Gatot ini, terlihat sangat sederhana, dan pembawaannya terlalu ramah dan santun untuk seorang pemikir yang tengah mendobrak kemapanan. Setelah diskusi yang mencerahkan itu, Saya sempat untuk mewawancarai Gatot barang sebentar. Sebentar, karena pria kelahiran Magelang 10 Mei 1980 itu cukup terburu-buru, ada janji rekaman tak lama kemudian.


Mas Gatot, tadinya kuliah dimana, ISI Yogya ya? Hahaha. Saya langsung nebak gitu.
Iya, saya lulusan ISI Yogya. Dulunya mengambil mayor gitar, dan minat ilmu musikologi.

Mas Gatot kan aktif sebagai komponis, coba ceritakan.
Sejak tahun tahun 2001 saya mulai aktif dalam komposisi musik. Saya juga pernah mengikuti beberapa workshop komposisi dan improvisasi antara lain dari Carlos Michan-Belanda, Workshop Musik Elektronik oleh Prof. Wilfried Jentzsch,- Hochschule fur Musik "Carl Maria von Weber" Dresden Studio fur Elektronische Musik-Austria, musik dunia oleh Kim Sanders-Australia, Musik Interkultural oleh Prof. Vincent McDermont-Amerika, Free Improvisasi oleh The Geizer-Mazzolla Duo-Switzerland, Jack Body-Selandia Baru. Saya juga pernah mengikuti studi komposisi singkat dibawah bimbingan Roderik de Man-Belanda, dalam program Mini-Composition-Project atas prakarsa Cantus Music Center & the Cultural and Development Program pemerintah Belanda.


Hmmmm. Banyak juga ya, jika demikian, siapa guru Mas Gatot yang istilahnya, lebih “tetap” ketimbang workshop-workshop tersebut?
Saya bisa dibilang tidak punya guru, jika guru diartikan secara kaku dalam konteks institusional. Bagi saya, semua orang adalah guru. Di Yogya juga sangat mendukung iklim tersebut, dalam artian, guru adalah sahabat, dan sahabat juga sekaligus guru.


Oke, menurut Mas Gatot, setelah diskusi panjang tadi, bagaimana kelihatannya iklim apresiasi musik di Bandung ini?
Menurut saya, iklim disini sangat kondusif, dan mesti terus disupport dan dikembangkan. Saya melihat bahwa komunitas-komunitas seperti KlabKlassik ini justru lebih masuk ke persoalan, ketimbang institusi atau seminar-seminar. Pembicaraan mengenai musik sebaiknya dilakukan dalam tataran semacam ini, sehingga lebih intim dan dipahami secara mendalam. Di Yogya, saya biasa melakukannya dengan dua atau tiga orang saja, asalkan konsisten.


Oke, kegiatan Mas Gatot sekarang ini apa?
Ada tiga, yang pertama, saya membuat musik alias mengomposisi. Lalu saja juga bekerja sebagai networker di Art Music Today, dan ketiga, saya bekerja sebagai tukang rekam keliling.


Maksudnya?
Maksudnya, saya membantu merekam dengan alat yang bisa saya bawa kemanapun. Jadi, saya tidak punya studio. Saya justru mendatangi orang yang ingin direkam.


Hehe menarik juga. Kembali ke persoalan, sebenarnya problem musik di Indonesia ini apa ya?
Problemnya adalah, kita bergerak seperti bola pingpong. Setelah memantul ke tanah, kadang mundur, kadang maju. Nenek moyang kita, telah mengenal musik dengan sangat baik. Contohnya gamelan, bunyinya sangat natural dan cengkoknya bisa merasuk ke batin. Ini bukti betapa musik sesungguhnya bukan lagi hal yang eksklusif di masa silam. Tapi belakangan, sejak era pasca-kolonial, musik menjadi sesuatu yang eksklusif, terlembagakan, dan milik sebagian orang saja. Mendadak ada istilah musikal dan non-musikal. Lantas kita-kita disini yang belajar musik klasik secara tekun dan serius, menganggap sedang belajar musik dalam arti sesungguhnya, yang lantas mengabaikan bahwa bunyi-bunyi lainnya juga sebetulnya musik. Itu pengaruh kolonialisme, atau secara spesifik, Barat, yang hobi mengotak-otakan. Musik sudah dekat dengan diri kita, sejak lahir.


Saya punya pertanyaan pribadi, situasi diam itu, musik bukan ya?
Coba tutup telingamu. Ada suara apa? Berdengung kan? Nah, itu bunyi tinitus, gendang telinga. Artinya, kondisi senyap adalah mustahil. Tidak ada situasi yang betul-betul tanpa bunyi, tanpa musik. Bahkan mungkin saja, musik itu adalah bunyi paling pekak, sehingga kita sulit mendengarkan.


Hehehe. Betul juga yah. Lantas, punya solusi apa kira-kira untuk menuntaskan problem musik di Indonesia?
Ya, setidaknya, meski bunyi adalah musik, dan berarti pula musik sangat dekat dengan diri, orang mesti tetap paham teori. Untuk apa? Untuk menerjemahkan problem kehidupan. Contohnya, berapa banyak kasus orang ketinggalan pesawat, karena suara yang mengumumkan kepergian pesawat tidak cukup jelas? Atau di kantor imigrasi juga misalnya. Orang seringkali ngawur dalam menempatkan sesuatu.


Baiklah, Mas Gatot, terima kasih atas waktunya, terima kasih juga telah hadir dalam diskusi tadi.
Terima kasih juga, sama-sama.

Kompetisi Musik Klasik: Perlukah?


(14/03/2010)

KlabKlassik kembali berkumpul tanggal 14 Maret kemarin. Saya, yang biasa ikut serta dalam pertemuan dan menjadi moderator diskusi, urung hadir. Meski demikian, Royke sukses membawakan diskusi yang bertemakan kompetisi musik klasik tersebut. Yang hadir ada Bilawa, Mas Yunus, Kang Trisna, dan dua orang murid Royke, yakni Kevin dan Kelvin. Diskusi dimulai dengan cerita mengenai kompetisi yang banyak diwarnai macam-macam motivasi dari si peserta. Ada yang memang untuk mengukur kemampuan diri, motivasi untuk bermain lebih baik, cermin teknik, dan latihan mental. Pada titik itu, kompetisi adalah acara yang sangat positif. “Itu dengan catatan, si pemain mampu menerima subjektivitas penilaian juri,” kata Bilawa. Apalagi di banyak negara maju, tambah Bilawa, kompetisi adalah salah satu cara meningkatkan karir pemain. Karena disana, banyak orang menjadikan musik klasik sebagai bahan mata pencahariaan utama. Dan gelar-gelar kompetisi bisa menambah kelancaran berkarir mereka di bidang musik.

Tapi ada pula yang menganggap kompetisi sebagai adu gengsi belaka dan menjadi ajang superior-inferior. Peserta seperti ini, dalam forum diskusi tersebut, juga mengikuti kompetisi atas dasar orientasinya pada hadiah. Memang, hal tersebut sulit dihindari sebagai bagian dari motivasi peserta dalam mengikuti sebuah kompetisi. Kang Trisna menambahkan, “Memang, jika hadiahnya kurang bergengsi, peserta menjadi kurang tertantang untuk ikut.” Tapi, yang dinilai kemudian adalah dampaknya. Ketidaksehatan motivasi ini membuat peserta seringkali ada yang sulit menerima keputusan juri. Padahal, “Kompetisi memang soal subjektivitas juri,” demikian Royke, sang moderator, menambahkan.

Lantas, apa solusinya? Mas Yunus mencoba menanggapi, bahwa yang pertama ditanamkan adalah, kenyataan bahwa kompetisi bukanlah suatu ajang untuk mengukur musik secara objektif. Kompetisi adalah cara untuk mengukur kemampuan lewat mata juri. Juri yang pastinya subjektif juga. Dan menurut Bilawa, mustahil kompetisi objektif, kecuali misalnya diadakan kompetisi dengan lagu sama, partitur sama, instrumen sama. Lalu yang diukur pun teknis saja, ekspresi adalah poin tambahan. Eh jangan lupa, pastikan juga seluruh peserta berada dalam kondisi yang sama. Jika demikian, barulah kompetisi dapat dibilang mendekati objektivitas.

Pertemuan KlabKlassik berikutnya adalah tanggal 28 Maret. Rencananya, KK akan melakukan Listening Session. Artinya, setiap yang hadir, membawa musik dalam soft copy, untuk kemudian diperdengarkan dan dibahas. Bach memberkati.

KlabKlassik Diliput 'Hang Out' STV

(15/02/10)

Siang itu, pukul satu, lima orang awak klabklassik berkumpul di Tobucil. Hari itu hari Selasa, dan jelas bukan jadwal rutin kumpul klabklassik. Tapi di beranda Tobucil itu, tak cuma terdapat para awak klab, tapi juga dua orang lainnya. Yang satu membawa mikrofon, satu lagi membawa kamera. Ternyata, mereka berdua dari STV, sebuah stasiun televisi lokal di Bandung. Memang, malam sebelumnya, saya mendapat telepon dari seseorang bernama Aga. Ia meminta klabklassik untuk diliput demi acara yang digawanginya, yakni Hang Out. Hang Out adalah acara yang berisikan tentang liputan pelbagai komunitas dan kegiatan. Meski mendadak, saya tetap memenuhi pertemuan tersebut, karena memang ya jujur saja, tampaknya asyik juga masuk tivi.

Dari klabklassik, terkumpulah lima orang, yang kebetulan semuanya pemain gitar. Selain saya, ada pula Bilawa, Diecky, Mas Yunus dan Luthfi. Kami bersama Aga, yang ternyata host acara tersebut, dan seorang kameramen. Syuting pun dimulai, sekitar dua lebih dua puluh menit. Awalnya, kami kira, semacam syuting kegiatan, sehingga beberapa figuran (diproyeksikan Wiku dan Eri) akan menambah semarak liputan. Ternyata, syuting itu adalah semacam wawancara. Jadi kami duduk berjajar berlima, mengapit Aga, dan kami diwawancara satu persatu layaknya sebuah band.

Kami ditanya banyak hal, mulai dari soal visi misi klab, soal asyiknya ikut klab ini, hingga acara-acara yang sudah digelar oleh klabklassik. Berganti-ganti kami berlima menjawabnya, tidak dominan di satu dua orang saja. Yang menarik adalah ketika tiba saatnya diantara kami-kami mesti mendemonstrasikan beberapa karya. Bilawa memulainya dengan Requerdos de la Alhambra dari Tarrega, lalu berturut-turut saya dengan Close to You, Mas Yunus dengan Felicidade, dan Luthfi dengan Asturias. Diecky sendiri memilih tidak bermain. Syuting itu sendiri menjadi cukup menggelikan, karena kami sungguh tidak menyangka akan mendapat sorotan kamera yang cukup intensif, terutama ketika bermain gitar. Aga sempat bertanya, “Kenapa sih, kalo main klasik, jarang ada yang ketawa?” Diecky menjawab simple, “Karena urat ketawanya tidak tersentuh.” Demikian kami semua gembira setelah wawancara selesai. Semua kembali ke aktivitas masing-masing.

Wednesday, February 17, 2010

From Zappa with Love*

oleh: Diecky K. Indrapradja**




















Frank Zappa, seniman yang multi talenta, kreatif, jenius, berani, dan juga mandiri dalam bermusik. Selain dikenal sebagai komposer, gitaris, dirigen, ilustrator musik, produser, dan sutradara film. Zappa dapat dikategorikan sebagai komponis pada “dua dunia musik” sekaligus, yakni dunia musik populer (progressive rock dan jazz), serta dunia musik kontemporer .

PENGHARGAAN:
• Grammy Award kategori Best Rock Instrumental Performance (1988) - Jazz From Hell
• Nama Frank Zappa dimasukkan dalam Rock and Roll Hall of Fame (1995)
• Grammy Lifetime Achievement Award (1997)
• National Recording Preservation Board’s National Recording Registry Amerika Serikat (2005) - We’re Only in It for The Money
• 100 Artis Terhebat Sepanjang Masa, versi majalah Rolling Stones (2005)
• Zappa telah dipilih untuk menjadi salah satu dari empat komposer besar dunia dan tampil pada Frankfurt Festival (1992). Komposer lainnya adalah John Cage, Karlheinz Stockhausen dan Alexander Knaifel. Zappa menerima tepuk tangan 20-menit.
• The Premier Grand Prix at the First International Music Festival in Paris 1981 - The Dub Room Special (1982)
• Patung perunggu yang dipasang di kota Bad Doberan Jerman, 1995
• Di kota kelahirannya-Baltimore, setiap tanggal 9 Agustus secara resmi sebagai Hari Frank Zappa, sejak tahun 2007

Selama karir bermusiknya, Zappa telah bekerja dengan lebih dari 325 seniman musik (instrumentalis dan dirigen), diantaranya adalah: Steve Vai (gitar), Terry Bozzio (drums), Eric Clapton (gitar), John Lennon (vokal), Yoko Ono (vokal), Jean-Luc Ponty (violin), Sting (vokal), Tina Turner (vokal), Zubin Mehta (dirigen), Pierre Boulez (dirigen).

KELUARGA ZAPPA
• Berasal dari ayah Yunani-Arab dan ibu Italia-Perancis.
• Ayahnya, seorang ahli kimia dan matematika dan mengajar metalurgi di Naval Postgraduate School
• Zappa mengaku tumbuh dipengaruhi oleh komposer avant-garde seperti Varese, Igor Stravinsky dan Anton Webern
• Pada saat SMA, Zappa pernah memainkan sepeda sebagai alat musik, namun ditolak oleh Dot Records karena tidak memiliki "potensi komersial"

OTHERSIDE:
• Pernah menjadi dubber dalam film episode Shelley Duvall's Faerie Tale Theatre, Miami Vice dan The Ren, Stimpy Show dan The Simpsons.
• Kadang kala menjadi seniman desain grafis pada sebuah agen periklanan
• Musik soundtrack film sejak SMA

ZAPPA ORCHESTRA:
• Los Angeles Philharmonic conductor Zubin Mehta, 1970 + Rock Band
• London Symphony Orchestra conductor Kent Nagano
• Ensemble InterContemporain conductor Pierre Boulez.
• The Ensemble Modern conductor Zappa.
• The Royal Philharmonic Orchestra conductor Zappa
• Berkeley Symphony Orchestra conductor Zappa

MUSICAL FORM
• Electric Chamber Music
• Rock Opera: Billy the Mountain
• Tentang Papan reklame di Sunset Boulevard

KARYA:
• Lagu "The Black Page" adalah komposisi yang awalnya ditulis untuk drums dan perkusi, namun selanjutnya dikembangkan menjadi format band yang lebih besar, konon karya ini terkenal karena kompleksitas struktur ritmik, perubahan tempo yang radikal
• Highly Difficult Jazz Fusion : "Inca Roads", "Be-Bop Tango”
• Lagu “Amnesia Vivace" mengambil bagian dari sequence "The Firebird- Stravinsky”
• Lagu “Status Back Baby” di bagian tengahnya mengambil opening dari sequence "Petrouchka- Stravinsky "
• Lagu "Soft-Sell Conclusion" diakhiri dengan intro dari sequence "A Soldier's Tale- Stravinsky "
• The "Invocation & Ritual Dance of the Young Pumpkin" mengambil bagian dari sequence "Jupiter, the Bringer of Jollity-The Planets suite-Gustav Holst"
• Lumpy Gravy merupakan karya dengan bentuk musik parade yang terdiri atas kutipan-kutipan motif yang bisa diambil dari mana saja atau disebut teknik kolase

LYRIC:
• Ciri khs lirik lagu yang kritis, tajam, sexual, sosial-politik
• Zappa menyatakan dirinya adalah wartawan dengan media adalah lagu-lagunya

TEKNIK KOMPOSISI ZAPPA :
• Musique Concrète : (Bahasa Prancis) adalah suatu bentuk musik yang memanfaatkan electroacoustic suara acousmatic sebagai komposisi sumber daya. Komposisi bahan yang tidak terbatas pada pencantuman sonorities dari alat-alat musik atau suara, ataupun elemen-elemen yang secara tradisional dianggap sebagai "musik" (melodi, harmoni, ritme, meter dan seterusnya). Dasar-dasar teoritis estetika dikembangkan oleh Pierre Schaeffer, dimulai pada akhir 1940-an.
• Kolase : (Dari Perancis: collage) adalah karya seni visual, terbuat dari sekumpulan bentuk-bentuk yang berbeda, untuk kemudian dibangun kembali, sehingga menciptakan suatu keseluruhan baru. Asal usul kolase dapat ditelusuri kembali ratusan tahun, namun teknik ini membuat kemunculan dramatis pada awal abad ke-20 sebagai bentuk seni baru oleh Georges Braque dan Pablo Picasso.
Polyrhythm: Jelas...!!!
• Xenochrony : Yunani "xeno" (asing atau aneh) dan "chrono" (waktu). Mengambil kutipan dari pertunjukan live dan dari rekam studio, kemudian memadukan ke dalam komposisi yang berbeda menjadi potongan-potongan baru, terlepas dari tempo atau sukat dari sumber kutipan tersebut (bahkan cenderung ekstrim). Zappa menyebut teknik komposisi ini dengan "konseptual kontinuitas, yang berarti bahwa setiap proyek atau album adalah bagian dari proyek yang lebih besar, semuanya terhubung, dan tema dan lirik musik muncul kembali dalam bentuk yang berbeda di kemudian album. Bisa juga disebut Polyrhythm dalam arti yang berbeda. Contoh pada album Joe’s Garage.
• Sprechstimme (setengah bicara) teknik komposisi yang di populerkan oleh Arnold Schoenberg dan Alban Berg. Keunikannya juga terdapat pada bahasa musikalnya, di mana ia menganggap bahasa juga memegang peranan penting dalam musik sama seperti aspek musikalnya itu sendiri. Hal ini terlihat jelas pada ritme-ritme yang digunakan untuk berbagai instrumen. Konstruksi ritme-ritme dalam instrumentalnya sejajar dengan ritme bahasa atau bertolak dari ritme bahasa, maka musik instrumentalnya seolah-olah “berbicara”.

ZAPPA DAN WARISAN ILMU PENGETAHUAN
• Zappa sebagai nama Ikan: Zappa Confluentus
 Alasan musik, karena ia suka musik dan lirik Zappa
 Alasan politik dan prinsipil, untuk menghormati Frank Zappa dalam peran mengartikulasikan dan bijaksana membela Amandemen Pertama Konstitusi Amerika Serikat
 Alasan bahwa nama Zappa itu baik, adalah nama yg pendek, tajam, dan mudah untuk diucapkan
• Zappa sebagai nama Moluska yang telah punah di Nevada : Amaurotoma Zappa
• Zappa sebagai nama Ubur-Ubur : Phialella Zappai
• Zappa sebagai nama Laba-laba : Pachygnatha Zappa
• Zappa sebagai nama Bakteri : Zappa Proteus Mirabilis penyebabkan infeksi saluran kemih itu tahun 1995
• Zappa sebagai nama Fosil : Spygori Zappania
• International Astronomical Union's Minor Planet Center memberikan nama Zappa pada Asteroid temuannya

WAFAT:
Meninggal 1993 karena dengan Kanker Prostat




*) Makalah yang disajikan pada pertemuan KlabKlassik 14 Februari 2010
**) Komposer musik kontemporer

Debussy: Kekayaan Nasionalisme Prancis


Claude Debussy lahir di Saint-Germain-en Laye tanggal 22 Agustus 1862. Orangtua Debussy sedemikian miskinnya, sehingga ketika usia Debussy baru tiga tahun, ia mesti dititipkan pada bibinya. Namun ternyata hal tersebut membawa berkah, karena bibinya adalah seorang yang menyukai seni, dan mendukung penuh Debussy untuk berkenalan dengan musik. Akhirnya, Maute de Fleurville, seorang guru piano yang pernah menjadi murid Chopin, diminta mengajar Debussy. Dibawah asuhannya, Debussy berkembang menjadi seorang pianis yang mahir. Pada umur sebelas, Debussy lulus ujian masuk konservatorium Paris.

Gurunya di konservatorium, bernama Marmontel dan Durrand. Awalnya, mereka berdua tidak langsung mengakui talenta bermusik Debussy. Namun lama kelamaan, Marmontel duluan menyadarinya, dan memasukkan Debussy untuk bekerja sebagai pianis pada Nadejda von Meck. Dari keluarga von Meck ini, Debussy keliling ke beberapa negara di Eropa seperti Prancis, Italia, Austria dan Russia, sepanjang tahun 1880 hingga 1882.

Pada tahun 1885, Debussy memenangkan salah satu kompetisi bergengsi di Eropa, yakni Prix de Rome, dengan karyanya, L'Enfant prodigue. Kemenangan tersebut, membuatnya mesti tinggal di Italia selama tiga tahun. Meskipun demikian, ia tidak betah di Italia, karena makanan, cuaca, dan musiknya. Ia pulang ke Paris sebelum waktu yang ditentukan bagi para pemenang Prix de Rome.

Di Paris, ia bertemu beberapa tokoh yang mengusahakan gerakan artistik baru di Paris, seperti pujannga Mallarme, dan para pelukis Impresionis seperti Manet dan Degas. Dengan banyak bertukar pikiran bersama mereka, Debussy semakin mengorijinalisasikan karya-karyanya, mencari akar-akar musik Prancis itu sendiri. Pada waktu yang sama, Debussy berteman dengan seorang musisi eksentrik bernama Erik Satie. Satie adalah seorang pemberontak besar terhadap ide Romantisme Jerman. Bersama, kedua tokoh itu saling mempengaruhi dan memberi semangat dalam menciptakan apa yang disebut "Musik Prancis". Dalam era nasionalisme yang kuat saat itu, memang pencarian musik-musik atas nama suatu negara sedang banyak didengungkan.

Karya-karya Debussy yang terkenal, antara lain Quartet in G Minor, yang dimainkan pertama tahun 1893, lalu The Afternoon of a Faun, yang terinspirasi puisi dari Mallarme. Lalu adapun karya lainnya seperti La Mer, Nocturnes, dan Images. Ia juga membuat perpustakaan musik piano yang di dalamnya berisi dua buku prelude, dua buku etude, dan Suite bergamasque-nya yang termahsyur (di dalamnya berisi karya agungnya, Claire de Lune). Debussy meninggal pada 25 Maret 1918 di Paris akibat digerogoti kanker. Ia disebut sebagai pendiri aliran Impresionisme dalam bermusik. Kekuatannya, seperti halnya para pelukis Impresionis, ada pada warna, mood, dan efek. Melodinya juga terkenal eksotik dan sering menggunakan tangga nada yang tak lazim. Bagi banyak kalangan, musiknya disebut sebagai representasi Prancis itu sendiri.

Tuesday, February 16, 2010

Selamat Ulang Tahun, KlabKlassik String Trio



KlabKlassik String Trio (KKST) adalah kelompok instrumen dawai yang beranggotakan Afifa Ayu (violin/vokal), Azisa Noor (cello), dan Syarif Maulana (gitar). Jika pernah menyaksikan Musik Sore Tobucil (MST) beberapa edisi, maka kelompok bertiga ini beberapa kali sempat mengisi. Berhubung ketiganya aktif dalam kegiatan Tobucil, maka bolehlah jika KKST ini dibilang sebagai “home musician”-nya Tobucil. Selain itu, KKST ini juga bisa disebut sebagai sisi entertainment dari KlabKlassik sendiri. Nah, berkaitan dengan itu, KKST, di hari valentine kemarin, diperingati sebagai ulang tahunnya yang kesatu. Dulu, KKST didirikan di kala valentine tahun 2009, dimana KKST bermain untuk kafe Lara Jonggrang, Jakarta. Dulu, KKST cuma punya lima belas repertoar untuk dua jam permainan, sehingga mesti diulang-ulang lagunya, atau dipanjangkan hingga 10 menit per lagu. Sekarang, Alhamdulillah, lagunya sudah lebih beragam, dan tak perlu secara berlebihan memanjangkan lagu per lagunya. KKST punq dalam setahun terakhir, sudah tampil di beberapa acara, seperti even pernikahan, reguler, launching, konser musik klasik, dan seminar.

Valentine kemarin, KKST tampil lagi. Sekarang di Kafe 3 E’s View, Dago Pakar. Tampil bertiga dalam suasana remang-remang, KKST memainkan sekitar dua puluh lima lagu yang bercampur antara pop, jazz, ataupun klasik. Jangan lupa, bahwa Afifa sang violinis juga, bisa menyanyi dengan suara sopran. Jangan heran jika sesekali datang ke Tobucil, format musik kamar ini sedang berlatih ataupun membuat berisik beranda.



Photoshot: Wahdini Degayanti

Diskusi Musik Kontemporer: Frank Zappa


Minggu itu, KlabKlassik membahas soal apa siapa Frank Zappa. Pembicaranya adalah Diecky Kurniawan Indrapradja, seorang komponis musik kontemporer. Di KlabKlassik, yang berkumpul cukup banyak, ada sekitar 15 orang. Diecky mulai dari memperkenalkan siapa Zappa. Dan ini cukup menarik, karena ternyata, dari semua yang berkumpul, belum ada satupun yang betul-betul mengenal Zappa, kecuali mendengar sedikit saja namanya. Dan memang, prestasi Zappa begitu menjulang, kalau tidak bisa dibilang monumental. Bayangkan, di Baltimore, kota kelahiran Zappa, tanggal 9 Agustus diperingati sebagai hari Frank Zappa. Lalu katanya, Zappa juga menginspirasi beberapa nama ilmiah untuk jamur-jamuran serta spesies tertentu. Belum lagi, Dieter Mack menyebut Zappa sebagai komposer yang duduk di dua kursi, yakni musik populer dan musik kontemporer sekaligus. Lalu, Zappa juga, bayangkan, meninggal di tahun 1993, tapi hingga tahun 2009, albumnya masih keluar! Dirilis oleh anaknya, tapi sungguh, itu bukan karya “Best of” atau recycle, tapi musik-musiknya yang belum pernah ada di album sebelumnya. Artinya, Zappa ini luar biasa produktif.

Dan ketika mendengarkan beberapa contoh musiknya seperti Plastic People dan G-Spot Tornado, sebetulnya kami semua setuju, bahwa musik Zappa bukanlah sesuatu yang mudah didengar. Terdengar aneh, ritmisnya tidak biasa, dan tonalitasnya berubah selalu. Tapi, oleh pembicara satu lagi, Pak Tono dari UPI, ditanggapi bahwa Zappa ini sangat identik dengan komposer abad ke-20, yang mengutamakan pengulangan dalam bunyi-bunyian. Pengulangan itu, tapinya, kemudian berkembang jadi semacam repetisi yang dinamis. Atau kemudian dibahas lagi, bahwa komposer abad ke-20 lekat dengan teknik kolase, yakni menyambung-nyambungkan lagu yang pernah ada, menjadi sebuah lagu baru. Hanya saja, dalam konteks jaman sekarang, kolase seringkali dianggap pelanggaran HAKI. Padahal, kata Pak Tono, itu tak lebih dari sekedar akal-akalan bisnis. Sesungguhnya diantara seniman dan musisi, tak ada istilah pelanggaran macam itu.

Diskusi ditutup dengan kebingungan yang melanda para peserta diskusi. Jelas, karena dalam durasi dua jam, peserta diajak bertualang pada bunyi-bunyian yang jauh dari apa yang biasa didengar. Juga oleh suguhan video yang banal dan abnormal. Tapi ternyata, semuanya senang dan mengakui adanya tambahan wawasan. Segar seperti halnya hujan yang terus mengguyur di kala valentine tersebut. Tanggal 28 nanti, KlabKlassik akan “menormalkan” situasi dengan membahas Teknik Komposisi Bach.



Photoshot: Wahdini Degayanti

Latihan Ririungan Gitar Bandung Jilid Dua






Siang itu, pukul satu, akhirnya ensembel gitar Ririungan Gitar Bandung (RGB) melaksanakan latihan. Setelah libur dua minggu karena terbentur minggu kelima, RGB kembali berkumpul. Yang datang siang itu hanya sedikit, tak sebanyak biasanya, kemungkinan besar karena hujan yang sedang sering-seringnya melanda Kota Bandung belakangan. Latihan diikuti oleh Royke, Mas Yunus, Ina, dan saya sendiri. Untungnya, masing-masing dari keempat orang tersebut, memainkan peranan gitar yang berbeda-beda, sehingga bisa saling mengisi dan melengkapi. Kebetulan lagi, lagu If I Fell dari The Beatles yang diaransemen oleh Mas Yunus tersebut, memang ditujukan oleh empat gitar.

Latihan ternyata berlangsung lancar, dan karya tersebut sukses diselesaikan, meski beberapa kali tidak kedengaran karena gangguan hujan. Kang Trisna dan beberapa anak dari STT Tekstil juga menyaksikan latihan tersebut, namun karena tidak membawa gitar, jadinya tidak bisa bergabung berlatih. Sayang sekali yang hadir memang kurang banyak, jadinya terlalu cepat kalau menyimpulkan bahwa lagu ini telah sukses dibawakan. Perlu pembuktian lebih panjang, perlu perjuangan yang lebih keras. Sekedar mengingatkan, Insya Allah, November ini RGB akan konser dalam tajuk RGB: Tribute to Beatles. Latihan berikutnya akan digelar 28 Februari 2010. Semoga sukses, semoga diberkati Bach.




Photoshot: Wahdini Degayanti

Membahas Frank Zappa di KlabKlassik



Ini seperti sebuah laporan, tapi sebenernya bermuatan alasan. Minggu tanggal 14 Februari kemarin, bertepatan dengan Valentine dan Imlek, KlabKlassik mengadakan diskusi. Diskusi itu membahas soal musik kontemporer. Lebih spesifik lagi, diskusi nanti akan membahas soal komposer berkebangsaan Amerika, namanya Frank Zappa. Siapakah Zappa?

Jelas, orang ini tak bisa disamakan dengan komposer musik klasik semisal J.S. Bach, Mozart, Wagner, Brahms atau Debussy. Selain jamannya berbeda, Zappa juga terdengar kurang “klasik”, musiknya njelimet, dan yang terpenting, ia baru saja meninggal. Sekitar tahun 1993 tepatnya, setelah hidup dari sejak tahun 1940. Tapi jika dicari kesamaannya antara Zappa dan komposer-komposer yang disebut di atas, maka jawabannya: Sama-sama bisa menginspirasi banyak musisi dan komposer, bahkan artis dan ilmuwan. Ya, banyak sekali musisi akhir abad ke-20 yang mengaku diinspirasi oleh kejeniusan musik Zappa, seperti Alice Cooper, Primus, Steve Vai, Mike Portnoy, Billy Bob Thornton, hingga penyanyi parodi, Weird 'Al' Yankovic. Tak hanya itu, seorang paleontologis bernama Leo P. Plas, Jr. menemukan sebuah jenis moluska pada tahun 1967, dan ia beri nama Amaroutama zappa. Seorang biologis bernama Fernando Boero, menemukan ubur-ubur yang ia beri nama Phialella zappai, dengan alasan, "Suatu kepuasan bisa menamai suatu spesies dengan nama seorang komposer besar era modern."Baik, lantas mari kita cari pembenaran, bagaimana bisa KK mengadakan sesuatu diskusi diluar “musik klasik”? Sebenarnya pertanyaan yang sulit, tapi mudah menjawabnya.

Ketika berbicara “kontemporer”, maka tak mudah mendefinisikannya, tapi boleh dibilang, kontemporer adalah semacam sikap kebaruan, yang mana punya pola pikir yang jauh ke depan, ketimbang apa yang sudah mapan. Bach, pada mulanya, adalah seorang musisi kontemporer. Kenapa? Waktu itu, yang populer adalah musik polifoni dan homofoni. Lalu Bach datang, membawa format baru, namanya kontrapung. Yakni melodi dan bas jalan bersamaan biarpun jika dipilah, mereka sebenarnya bisa berbunyi independen. Lalu Bach pun sempat dikucilkan, dianggap aneh karena musiknya, tapi lama-lama diterima juga, dan mendadak jadi sebuah simbol jaman tertentu. Begitupun nasibnya dengan Mozart, Brahms, Debussy atau John Cage. Jadi jika membicarakan Zappa, apakah KK sedang membicarakan sesuatu di luar konteks musik klasik? Dimana yang menjadi tren ketika membicarakan musik klasik, adalah selalu soal Bach dan rekan-rekannya. Tentu bukan soal apakah KK ahli juga dalam membicarakan Zappa dan kontemporerisme. Tapi setidaknya, berusaha, membuka diri terhadap wawasan-wawasan baru, ketika musik klasik dianggap eksklusif dan berkutat di ranah itu-itu saja.