Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Wednesday, January 20, 2010

Balada Tamu dari STT Tekstil

















Hari minggu itu, KlabKlassik (KK) mengadakan pertemuannya yang pertama di tahun 2010. Seperti biasa, dua kali sebulan, di minggu genap. Saya datang pertama, yang memang sebaiknya seperti itu, sebagai salah seorang pengurus KK. Saat itu, jam satu siang itu, belum ada yang datang. KK sendirian, untungnya tidak lama. Karena ada tiga orang dari STT Tekstil, yang salah duanya bernama Iskan dan Panji. Mereka bermaksud mengajak ngobrol saya, sekaligus ikut serta dalam pertemuan KK. Dalam obrolan itu, ternyata mereka ingin Tobuciler jadi pelatih mereka. Pelatih apa, memangnya sirkus? Bukan, tapi pelatih dari unit gitar klasik, yang telah didirikan sejak 1994 di kampus mereka.
Satu-satu awak KK berdatangan. Ada Mas Tikno, Jazzy, Mas Yunus, Iyok dan lainnya. Dan kala Tobuciler ceritakan apa gerangan maksud STT Tekstil ini datang, yang lain kaget. Kaget karena, dari kampus yang berbasiskan teknik, yang mata kuliahnya soal kimia dan tekstil, ada semangat membangun unit gitar klasik. Dan antusiasmenya luar biasa, di angkatan sekarang, ada 27 orang pendaftar! Cukup banyak untuk ukuran gitar klasik yang tak seberapa populer. Hal tersebut bahkan mencengangkan bagi orang yang baru datang ke KK, namanya Luthfi. Ia anak jurusan musik di UNPAS. Dan ia mengaku malu, karena yang mendalami mayor gitar klasik di kampusnya tinggal dia seorang. Ini jelas ironi, karena dari kampus yang mata kuliahnya tak ada unsur musik sedikitpun, ada geliat besar di bidang musik. Yang mana KK pun malu dibuatnya, apalagi menilik anggota RGB yang kemarin konser pun cuma ada sepuluh.
Akhirnya dibahas tentang apakah ada kaitannya antara jurusan musik dan non-musik, dengan antusiasme mahasiswanya? Ternyata bisa jadi tidak ada. Karena pada dasarnya, orang yang kuliah di jurusan musik, bisa jadi “semekanis” mereka-mereka yang kuliah di teknik, jika tidak dibarengi pencarian pribadi atas musik itu sendiri. Karena mereka yang kuliah di musik, mendapatkan pelajaran musik bak disuapi saja. Pasif dan hanya penerimaan semata. Maka ujungnya tetap, KK memuji semangat mahasiswa STT Tekstil ini setinggi langit. Dalam situasi musik yang serba tak tentu, mereka masih berpegang teguh pada gitar klasik yang sudah pasti kurang populer. Mereka mau dan dengan semangat mengembangkannya. Seperti Sisyphus yang menggelindingkan batu ke atas bukit. Ia tak tahu untuk apa. Tapi ia tahu tugasnya demikian, dan ia suka menjalaninya.

No comments: