Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Wednesday, February 17, 2010

Debussy: Kekayaan Nasionalisme Prancis


Claude Debussy lahir di Saint-Germain-en Laye tanggal 22 Agustus 1862. Orangtua Debussy sedemikian miskinnya, sehingga ketika usia Debussy baru tiga tahun, ia mesti dititipkan pada bibinya. Namun ternyata hal tersebut membawa berkah, karena bibinya adalah seorang yang menyukai seni, dan mendukung penuh Debussy untuk berkenalan dengan musik. Akhirnya, Maute de Fleurville, seorang guru piano yang pernah menjadi murid Chopin, diminta mengajar Debussy. Dibawah asuhannya, Debussy berkembang menjadi seorang pianis yang mahir. Pada umur sebelas, Debussy lulus ujian masuk konservatorium Paris.

Gurunya di konservatorium, bernama Marmontel dan Durrand. Awalnya, mereka berdua tidak langsung mengakui talenta bermusik Debussy. Namun lama kelamaan, Marmontel duluan menyadarinya, dan memasukkan Debussy untuk bekerja sebagai pianis pada Nadejda von Meck. Dari keluarga von Meck ini, Debussy keliling ke beberapa negara di Eropa seperti Prancis, Italia, Austria dan Russia, sepanjang tahun 1880 hingga 1882.

Pada tahun 1885, Debussy memenangkan salah satu kompetisi bergengsi di Eropa, yakni Prix de Rome, dengan karyanya, L'Enfant prodigue. Kemenangan tersebut, membuatnya mesti tinggal di Italia selama tiga tahun. Meskipun demikian, ia tidak betah di Italia, karena makanan, cuaca, dan musiknya. Ia pulang ke Paris sebelum waktu yang ditentukan bagi para pemenang Prix de Rome.

Di Paris, ia bertemu beberapa tokoh yang mengusahakan gerakan artistik baru di Paris, seperti pujannga Mallarme, dan para pelukis Impresionis seperti Manet dan Degas. Dengan banyak bertukar pikiran bersama mereka, Debussy semakin mengorijinalisasikan karya-karyanya, mencari akar-akar musik Prancis itu sendiri. Pada waktu yang sama, Debussy berteman dengan seorang musisi eksentrik bernama Erik Satie. Satie adalah seorang pemberontak besar terhadap ide Romantisme Jerman. Bersama, kedua tokoh itu saling mempengaruhi dan memberi semangat dalam menciptakan apa yang disebut "Musik Prancis". Dalam era nasionalisme yang kuat saat itu, memang pencarian musik-musik atas nama suatu negara sedang banyak didengungkan.

Karya-karya Debussy yang terkenal, antara lain Quartet in G Minor, yang dimainkan pertama tahun 1893, lalu The Afternoon of a Faun, yang terinspirasi puisi dari Mallarme. Lalu adapun karya lainnya seperti La Mer, Nocturnes, dan Images. Ia juga membuat perpustakaan musik piano yang di dalamnya berisi dua buku prelude, dua buku etude, dan Suite bergamasque-nya yang termahsyur (di dalamnya berisi karya agungnya, Claire de Lune). Debussy meninggal pada 25 Maret 1918 di Paris akibat digerogoti kanker. Ia disebut sebagai pendiri aliran Impresionisme dalam bermusik. Kekuatannya, seperti halnya para pelukis Impresionis, ada pada warna, mood, dan efek. Melodinya juga terkenal eksotik dan sering menggunakan tangga nada yang tak lazim. Bagi banyak kalangan, musiknya disebut sebagai representasi Prancis itu sendiri.

No comments: