Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Tuesday, February 16, 2010

Membahas Frank Zappa di KlabKlassik



Ini seperti sebuah laporan, tapi sebenernya bermuatan alasan. Minggu tanggal 14 Februari kemarin, bertepatan dengan Valentine dan Imlek, KlabKlassik mengadakan diskusi. Diskusi itu membahas soal musik kontemporer. Lebih spesifik lagi, diskusi nanti akan membahas soal komposer berkebangsaan Amerika, namanya Frank Zappa. Siapakah Zappa?

Jelas, orang ini tak bisa disamakan dengan komposer musik klasik semisal J.S. Bach, Mozart, Wagner, Brahms atau Debussy. Selain jamannya berbeda, Zappa juga terdengar kurang “klasik”, musiknya njelimet, dan yang terpenting, ia baru saja meninggal. Sekitar tahun 1993 tepatnya, setelah hidup dari sejak tahun 1940. Tapi jika dicari kesamaannya antara Zappa dan komposer-komposer yang disebut di atas, maka jawabannya: Sama-sama bisa menginspirasi banyak musisi dan komposer, bahkan artis dan ilmuwan. Ya, banyak sekali musisi akhir abad ke-20 yang mengaku diinspirasi oleh kejeniusan musik Zappa, seperti Alice Cooper, Primus, Steve Vai, Mike Portnoy, Billy Bob Thornton, hingga penyanyi parodi, Weird 'Al' Yankovic. Tak hanya itu, seorang paleontologis bernama Leo P. Plas, Jr. menemukan sebuah jenis moluska pada tahun 1967, dan ia beri nama Amaroutama zappa. Seorang biologis bernama Fernando Boero, menemukan ubur-ubur yang ia beri nama Phialella zappai, dengan alasan, "Suatu kepuasan bisa menamai suatu spesies dengan nama seorang komposer besar era modern."Baik, lantas mari kita cari pembenaran, bagaimana bisa KK mengadakan sesuatu diskusi diluar “musik klasik”? Sebenarnya pertanyaan yang sulit, tapi mudah menjawabnya.

Ketika berbicara “kontemporer”, maka tak mudah mendefinisikannya, tapi boleh dibilang, kontemporer adalah semacam sikap kebaruan, yang mana punya pola pikir yang jauh ke depan, ketimbang apa yang sudah mapan. Bach, pada mulanya, adalah seorang musisi kontemporer. Kenapa? Waktu itu, yang populer adalah musik polifoni dan homofoni. Lalu Bach datang, membawa format baru, namanya kontrapung. Yakni melodi dan bas jalan bersamaan biarpun jika dipilah, mereka sebenarnya bisa berbunyi independen. Lalu Bach pun sempat dikucilkan, dianggap aneh karena musiknya, tapi lama-lama diterima juga, dan mendadak jadi sebuah simbol jaman tertentu. Begitupun nasibnya dengan Mozart, Brahms, Debussy atau John Cage. Jadi jika membicarakan Zappa, apakah KK sedang membicarakan sesuatu di luar konteks musik klasik? Dimana yang menjadi tren ketika membicarakan musik klasik, adalah selalu soal Bach dan rekan-rekannya. Tentu bukan soal apakah KK ahli juga dalam membicarakan Zappa dan kontemporerisme. Tapi setidaknya, berusaha, membuka diri terhadap wawasan-wawasan baru, ketika musik klasik dianggap eksklusif dan berkutat di ranah itu-itu saja.

No comments: