Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Tuesday, February 16, 2010

Diskusi Musik Kontemporer: Frank Zappa


Minggu itu, KlabKlassik membahas soal apa siapa Frank Zappa. Pembicaranya adalah Diecky Kurniawan Indrapradja, seorang komponis musik kontemporer. Di KlabKlassik, yang berkumpul cukup banyak, ada sekitar 15 orang. Diecky mulai dari memperkenalkan siapa Zappa. Dan ini cukup menarik, karena ternyata, dari semua yang berkumpul, belum ada satupun yang betul-betul mengenal Zappa, kecuali mendengar sedikit saja namanya. Dan memang, prestasi Zappa begitu menjulang, kalau tidak bisa dibilang monumental. Bayangkan, di Baltimore, kota kelahiran Zappa, tanggal 9 Agustus diperingati sebagai hari Frank Zappa. Lalu katanya, Zappa juga menginspirasi beberapa nama ilmiah untuk jamur-jamuran serta spesies tertentu. Belum lagi, Dieter Mack menyebut Zappa sebagai komposer yang duduk di dua kursi, yakni musik populer dan musik kontemporer sekaligus. Lalu, Zappa juga, bayangkan, meninggal di tahun 1993, tapi hingga tahun 2009, albumnya masih keluar! Dirilis oleh anaknya, tapi sungguh, itu bukan karya “Best of” atau recycle, tapi musik-musiknya yang belum pernah ada di album sebelumnya. Artinya, Zappa ini luar biasa produktif.

Dan ketika mendengarkan beberapa contoh musiknya seperti Plastic People dan G-Spot Tornado, sebetulnya kami semua setuju, bahwa musik Zappa bukanlah sesuatu yang mudah didengar. Terdengar aneh, ritmisnya tidak biasa, dan tonalitasnya berubah selalu. Tapi, oleh pembicara satu lagi, Pak Tono dari UPI, ditanggapi bahwa Zappa ini sangat identik dengan komposer abad ke-20, yang mengutamakan pengulangan dalam bunyi-bunyian. Pengulangan itu, tapinya, kemudian berkembang jadi semacam repetisi yang dinamis. Atau kemudian dibahas lagi, bahwa komposer abad ke-20 lekat dengan teknik kolase, yakni menyambung-nyambungkan lagu yang pernah ada, menjadi sebuah lagu baru. Hanya saja, dalam konteks jaman sekarang, kolase seringkali dianggap pelanggaran HAKI. Padahal, kata Pak Tono, itu tak lebih dari sekedar akal-akalan bisnis. Sesungguhnya diantara seniman dan musisi, tak ada istilah pelanggaran macam itu.

Diskusi ditutup dengan kebingungan yang melanda para peserta diskusi. Jelas, karena dalam durasi dua jam, peserta diajak bertualang pada bunyi-bunyian yang jauh dari apa yang biasa didengar. Juga oleh suguhan video yang banal dan abnormal. Tapi ternyata, semuanya senang dan mengakui adanya tambahan wawasan. Segar seperti halnya hujan yang terus mengguyur di kala valentine tersebut. Tanggal 28 nanti, KlabKlassik akan “menormalkan” situasi dengan membahas Teknik Komposisi Bach.



Photoshot: Wahdini Degayanti

No comments: