Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Thursday, June 10, 2010

Akademi KlabKlassik: Hari Perdana

Hari itu ada yang spesial di KlabKlassik, yakni untuk pertama kalinya, mereka berkumpul di hari Minggu yang ganjil. Maksudnya, jika biasanya klab berkumpul di minggu kedua dan keempat, sekarang di minggu pertama pun ternyata ada kumpul-kumpul, tepatnya pukul satu. Bagi Klab, itu adalah hari cukup bersejarah, karena pertama kalinya Klab membuat semacam akademi. Yang mana merupakan semacam kelas yang isinya mengajarkan seputar materi-materi mendekati kuliah. Dosennya? Ada, seorang aktivis Klab dan juga Madfal, namanya Diecky K. Indrapradja. Ia punya pengalaman mengajar cukup banyak, salah satunya di institusi resmi Sekolah Tinggi Musik Bandung.

Hari perdana kelas yang diberi nama Akademi KlabKlassik itu, belajar tentang dasar-dasar harmoni, yang nantinya akan mengarah pada penulisan komposisi. Pesertanya ternyata cukup banyak, ada sepuluh. Delapan diantaranya anggota Ririungan Gitar Bandung, dua lainnya ternyata orang yang baru datang, Kebetulan, yang bikin Klab senang, kedua orang baru tersebut berlatar belakang vokal. Namanya Ucok dan Wawan. Sesuatu yang jarang terlihat di Klab yang kebanyakan gitar dan biola. Meski dimulai agak telat, tapi peserta terlihat serius dan antusias, meski materi ternyata cukup berat. Hari itu belajar soal harmoni jaman barok dan klasik, dan beberapa anjuran serta larangan penulisannya. Misal, dalam sebuah harmoni Sopran, Alto, Tenor, dan Bas, tidak boleh mengulang nada ketiga dua kali. Hal tersebut disebutkan haram di era Klasik, meski bagi telinga kita sekarang, terdengar enak-enak saja. Akademi KlabKlassik akhirnya ditutup dengan latihan menulis pengembangan komposisi dari melodi dasar To Be With You-nya Mr. Big.

Akademi KlabKlassik ini diselenggarakan tiap Minggu, hanya saja di Minggu ganjil waktunya tiga jam (jam 13.00-16.00), sedangkan di minggu genap waktunya sejam (jam 15.00-16.00). Bayarnya tidak mahal, yakni 65.000 Rupiah untuk satu triwulan. Adapun triwulan itu menandai habisnya satu materi.



Wednesday, June 09, 2010

Penampilan KlabKlassik di Rhapsodia Economica



Hari Jumat, tanggal 4 Juni kemarin, KlabKlassik mendapat undangan dari kampus UNPAD. Isinya adalah meramaikan acara Rhapsodia Economica, yang mana merupakan acara triwulanan dari kampus negeri itu, untuk mempersembahkan semacam acara musik klasik. KK kebetulan dapat kehormatan untuk mengisi edisi perdananya, bersama sekolah musik NADA. Jadi begini, KK diberi slot sekitar 35 menit, lalu bebas mengisinya dengan penampil siapa saja, selama masih sejalan dengan visi misi musik klasik.

Akhirnya KK memilih orang-orang yang memang rajin datang ke KK. Yakni di pembuka, ada Dicky Salam yang menampilkan Koyunbaba dalam format solo gitar, lalu Andrew Sudjana yang memainkan karya piano solo Haydn, lalu disambung Kelvin Budiman, solo gitar, lagunya It Might Be You. Setelah itu, mulailah format non-solo, mulai dari duet gitar-violin dari Yunus Suhendar dan Yusuf Thomas yang tampil membawakan Galih dan Ratna, lalu KlabKlassik String Trio yang diisi Afifa Ayu, Syarif Maulana, dan Azisa Noor. Nama terakhir kembali memainkan lagu klasik, yakni Air on G String dari J.S. Bach. Galih dan ratna memang sengaja disisipkan, karena panitia ternyata tidak klasik berat, bahkan barangkali masih bingung dengan defisini musik klasik itu sendiri. Awalnya malah KK disodori contoh songlist yang berkaitan dengan ABBA dan sejenisnya. Di akhir penampilan, KK menutup dengan suguhan Ririungan Gitar Bandung yang menampilkan dua karya The Beatles dan satu lagu penutup Pak Ketipak Ketipung. Bukan klasik? Kalau begitu katakan pada kami, apakah klasik itu? Karya musik dari Renaisans hingga Romantik? Teknik bermain atau format grup musik? Atau karya-karya lawas yang bukan berasal dari kekinian?

Ah, itu tak lagi penting sebenarnya. Yang penting, kata "Klasik" jadi tali penghubung silaturahim kita semua.
Justify Full

Pendidikan Musik Milik Semua


(24/5/10)

KlabKlassik kemarin ada usulan menarik: Bagaimana jika dijadikan tiap minggu saja pertemuannya? Melihat ke masa lalu sebentar, KlabKlassik ini awal mulanya nebeng KlabJazz. Dalam artian begini: KlabJazz berkumpul tiap hari minggu, dan jika dalam satu bulan ada minggu kelima, maka KlabKlassik lah yang akan mengisi. Intinya: KlabKlassik berkumpul sekali dalam sebulan, itupun tidak setiap bulan, hanya bulan yang terdapat minggu kelimanya saja. Lalu ketika Tobucil pindah ke Aceh 56, KlabKlassik tidak lagi terikat dengan pertemuan KlabJazz, dan kemudian bertemu jadi sebulan dua kali, yakni di minggu ke-2 dan minggu ke-4.

Itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya Diecky, seorang aktivis merangkap komposer dan dosen, mengajukan ide, “Gimana kalau tiap minggu aja. Minggu ganjilnya, kita pakai untuk semacam kelas teori dan komposisi.” Hal tersebut disambut hangat oleh aktivis klab lainnya. Jadinya, Klab akan mendirikan semacam pelatihan singkat dimana Diecky yang jadi tutornya. Tentu saja ini menjadi ilmu yang sangat bermanfaat bagi klab, karena kurikulum yang ditawarkan oleh Diecky, adalah kurikulum yang 90% mirip dengan kuliah musik. Jadi apa tujuannya? “Agar pendidikan musik menjadi milik semua orang. Bukan cuma milik orang-orang yang bisa membayar untuk masuk sekolah musik ataupun kuliah musik,” tutur Diecky. Jadi nantikan pertemuan perdana Klab di minggu ganjil pertama bulan Juni, yakni tanggal 6 Juni. Kelas teori ini direncanakan akan berbayar, untuk kemudian ditukar dengan peralatan seperti kertas paranada, alat tulis, dan minuman. Berapa bayarnya? Masih Klab bicarakan, dan tenang saja, Insya Allah tidak akan mahal, semahal kuliah yang makin mahal.

Wednesday, June 02, 2010

Balada Duo Jazzer di KlabKlassik

(09/05/2010)

Namanya juga KlabKlassik (KK), seyogianya diwarnai oleh musik klasik di dalamnya. Tapi hari itu ada yang beda, KK kedatangan Ridzky Diansyah dan Jasiaman Damanik (Jazzy), dua gitaris jazz yang kebetulan saja sedang ingin mampir. Ini menyenangkan sekaligus menarik, karena sebelumnya KK baru saja selesai menanggap permainan klasik dari Luthfi. Sebagai informasi, Luthfi ini akan melakukan resital tanggal 3 Juni, dan kemarin itu adalah gladi resiknya. Kontan terjadi perubahan suasana yang cukup kontras, dari tadinya dentang denting gitar klasik yang lembut syahdu, sekarang jadi jazz yang liar dan eksotik. Kedua gitaris tersebut, Ridzky dan Jazzy, berduet memainkan Stella by Starlight, All of Me, dan Desafinado. Yang hadir tak baJustify Fullnyak, tapi suasana keakraban sangat kuat dan terasa. Luthfi sampai bilang, “Hati-hati, jangan dekat-dekat, nanti ada yang jadian.”

Suasana seisi Tobucil pun sepertinya terpengaruh dengan permainan kedua gitaris yang sama-sama sempat berguru pada Venche Manuhutu itu. Mereka seolah disuguhi alunan radio KLCBS yang memang khusus menyajikan musik-musik jazz. Ini pun sesungguhnya menjadi semacam keuntungan bagi KK, karena dengan kehadiran mereka, wawasan musik serta apresiasi aktivis KK menjadi bertambah, seperti Sutikno bilang, “Beruntung sekali KK punya suasana yang hangat dan kekeluargaan, sehingga banyak orang yang mau datang dan berbagi ilmunya tanpa berpikir soal uang.”

Kehangatan KK ini mendorong aktivisnya untuk mengusulkan pertemuan setiap minggu saja, karena pertemuan dua kali dalam sebulan ini dianggap kurang mengakomodasi keinginan mereka untuk bersilaturahmi. Diecky kemudian memberi ide bahwa pertemuan Klab bisa diperkuat jadi tiap minggu, asalkan disisipkan pelatihan teori dan komposisi dengan format mentoring di dalamnya. Hal ini, kata Diecky, ditujukan agar yang datang ke KK semakin punya pengetahuan lengkap. Rencananya, jika memang Klab jadi tiap minggu, maka di minggu pertama dan ketiga, akan digunakan untuk belajar teori dan komposisi, yang diusulkan agar lebih enak, menggunakan sistem berbayar. Berbayar agar kurikulumnya berjalan kondusif dan orang tidak keluar masuk seenaknya karena akan merugikan peserta lain juga. Di akhir pelatihan yang rencananya berjalan tiga bulan, akan ada presentasi karya dan komposisi. Terdengar seperi Klab Nulis? Ya, jujur, memang KK terinspirasi dari sana. Mari kita nantikan realisasinya.

RGB Menggeliat Lagi


(09/05/10)

Jika belakangan jarang terdapat tulisan soal Ririungan Gitar Bandung (RGB), maka itu dikarenakan kegiatan mereka sedang kurang aktif. Kenapa? Ensembel gitar untuk umum yang berlatih tiap jam satu di hari minggu itu, mengaku tidak ada lagu baru, sehingga kurang bersemangat jadinya. Terakhir, mereka melatih sebuah karya aransemen Yunus Suhendar, judulnya If I Fell. Lagu The Beatles-kah? Memang iya, karena RGB tengah menyiapkan diri untuk konser bertajuk “RGB Tribute to The Beatles”, yakni sebuah konser yang menampilkan format ensembel gitar, tapi memainkan lagu-lagu The Beatles. Salah satu alasan mereka merancang ini, salah satunya adalah demi memperluas cakupan komunitas. Dalam konser tersebut, diharapkan penyuka musik klasik datang, pun penyuka The Beatles. Ini keren, kata mereka.

Untungnya, latihan kemarin ada penyegaran repertoar. Kebetulan saya, menyumbangkan satu aransemen dari lagu The Beatles yang berjudul Drive My Car. Aransemen untuk empat gitar tersebut hari minggu kemarin dicoba tidak oleh semua anggota RGB, tapi hanya oleh Kevin, Kelvin, Yunus, Aldi, Luthfi, dan Ahmed. Karena ya, yang kebetulan datang cuma mereka-mereka itu. Untungnya, dalam sekali latihan, Drive My Car yang ditulis oleh Paul McCartney di tahun 1965 dan dimuat di album Rubber Soul tersebut, cukup sukses dimainkan. Hal tersebut justru menimbulkan kegalauan, karena RGB belum mempersiapkan komposisi apa dan lagu apa yang siap dimainkan untuk minggu berikutnya.

Adakah ide dan saran kira-kira, lagu Beatles apa yang sebaiknya ditampilkan oleh RGB kelak?
“Baby you can drive my car / Yes I’m gonna be a star / Baby you can drive my car / And maybe I’ll love you / “

Ada Suasana Kompetisi di KlabKlassik

(02/05/10)

Hari itu adalah hari istimewa, atau setidaknya cukup berbeda dari hari-hari biasanya. Hari yang dimaksud, adalah hari berkumpulnya KlabKlassik (KK). Istimewa, karena hari itu ada semacam kompetisi-kompetisian. Begini, Royke, salah seorang punggawa KK, membawa serta muridnya dalam rangka persiapan menuju konser. Konser yang sayangnya, tak semua muridnya boleh ikut, melainkan hanya yang terpilih. Dan hari itulah, hari dimana murid-muridnya terpaksa menerima kenyataan bahwa tak seluruhnya boleh main. Melainkan beberapa saja, dan itu berdasarkan penilaian dua orang juri, yakni Bilawa Ade Respati dan Alhamdulillah, saya sendiri.


Murid yang akan diseleksi, jumlahnya tujuh, yakni: Aline, Dewa, Kevin, Kelvin, Felix, Teja, dan Dicky. Ketujuhnya membawa gitar sendiri-sendiri, dan masing-masing mengambil undian. Dan coba lihat, Royke, guru mereka, adalah sekaligus sebagai MC. Dibuka dengan seolah-olah resmi, suasana menjadi cukup tegang. Dan lihat juga para hadirin, yang sebetulnya aktivis KK juga, tapi mereka bersikap seolah-seolah penonton. Dan jadilah, dalam beranda Tobucil yang kecil mungil, ada suasana kompetisi yang bisa dibilang cukup kuat. Terlebih dengan dua dewan juri yang di tangannya terdapat pulpen dan di mejanya terdapat kertas.


Berturut-turut tampil murid Royke, mulai dari Aline hingga ditutup dengan Dewa. Mereka semua main dua karya (kecuali Dicky satu, karena lagunya panjang). Setiap selesai main, dewan juri membuat suasana menjadi seperti Tobucil Idol dengan langsung mengomentari. Tak hanya itu, ternyata penonton juga diberi kesempatan untuk memberi komentar dan memilih peserta favorit lewat secarik kertas yang dibagikan oleh Royke. Setelah seluruhnya tampil, juri beserta MC rapat untuk menentukan peserta yang lolos, dan akhirnya terpilih Teja, Felix, dan Kevin. Sedangkan peserta favorit terpilih Kelvin karena konon, ekspresinya dinilai sangat baik dan penuh penghayatan.

KK menutup hari itu dengan sumringah, karena memang sangat ingin membuat kondisi sumringah? Mengapa, karena biasanya, kompetisi membentuk adanya jurang superior-inferior. Ini patut dihindari, dan cara salah satunya adalah menempatkan seluruh peserta dalam kondisi kekeluargaan, yang diawali dari banyak teman dan makanan.

(Upaya) Dekonstruksi Teori Musik


(11/04/10)

Minggu sore kemarin, KlabKlassik berkumpul lagi, dan mendatangkan seorang narasumber. Narasumber tersebut bernama Ronald Hutasuhut, yang sengaja saya hadirkan, oleh sebab suatu alasan: Mas Ronald akan menyampaikan satu temuan yang cukup menghebohkan, yang ia klaim akan mengubah cara pandang kita terhadap teori musik yang sudah dikenal selama ini. Maka itu saya dan segenap awak KK penasaran, dan berminat mengundangnya ke pertemuan rutin.

Dan akhirnya, pertemuan itu dilaksanakan. Mas Ronald, dan segenap awak klab berkumpul di Tobucil, ada: Kang Trisna, Kang Tikno, Bilawa, Royke, pendatang baru Aldi, Kang Yadi, Mas Yunus, Diecky, Luthfi, Afifa, dan Dega. Cukup banyak. Presentasi pun dimulai, dan KlabKlassik mendengarkan dengan seksama. Apa yang dipaparkan cukup menarik sebetulnya, ada beberapa poin soal kritik dia terhadap kemapanan teori musik selama ini. Misalnya, soal sukat alias time signature. Menurutnya, ada kesalahan serius soal bagaimana sistem menuliskannya selama ini. Dalam birama 4/4, not satu ketuk kadang-kadang dibilang ¼ ketuk, itu lumrah. Menurut Mas Ronald, bagaimana jika dalam birama ¾? Mestinya, namanya tidak lagi ¼ ketuk, melainkan 1/3 dong. Ya kan? Maka itu, dampaknya, tanda birama ¾ mestinya dihilangkan. Diganti dengan 3/3 saja, atau secara praktis dituliskan angka 3 saja dalam setiap permulaan birama sebagai penanda sukat.

Pernyataan ini sukses memancing perdebatan. Karena meski perhitungannya betul secara matematis, sebagian besar awak KK menganggap perhitungan ini kurang perlu. Diecky secara tajam menyampaikan bahwa musik hanya soal rasa. Komposisi adalah soal komunikasi. Ketika komposer menulis karya, lalu si pemain paham maksudnya, dan mampu memainkannya, maka persoalan selesai. Tidak perlu lagi memasalahkan tata cara penulisan birama dan sebagainya. Adapun Kang Trisna dan Mas Yunus mengatakan bahwa teori yang ditawarkan Mas Ronald akan mengurangi efisiensi dari teori yang selama ini sudah berjalan. Meski demikian, yang disayangkan, adalah kekurangterbukaan Mas Ronald akan pelbagai pendapat. Sepertinya, Mas Ronald sudah berpegang keras pada argumennya, sehingga ketika Dicky berusaha mengujinya pun, Mas Ronald terkesan keukeuh meski sudah gak nyambung.

Meski demikian, KK belajar banyak hari itu. KK memuji Mas Ronald sebagai seseorang yang teliti, cermat dan kritis dalam membongkar persoalan. Meski kemudian banyak kelemahan dalam argumentasinya, KK tetap menghargai beliau dan mengingat bahwa banyak sekali orang revolusioner lahir, berawal dari keberaniannya menyampaikan suatu pandangan perbedaan yang ekstrim.


Foto: Wahdini Degayanti

Menggoda Iman Kevin


(28/03/10)

Di KlabKlassik, ada seorang pemuda yang sedang rajin-rajinnya berpartisipasi. Partisipasi itu awalnya berupa kedatangan ke latihan Ririungan Gitar Bandung saja, tapi belakangan, ia mulai merambah ke kegiatan KlabKlassik. Jadi begini, KlabKlassik terbagi atas dua acara, yang pertama adalah Ririungan Gitar Bandung yang diselenggarakan jam 13.00-15.00, lalu dilanjutkan diskusi KlabKlassik dari jam 15.00-17.00. Keduanya dilakukan di hari minggu genap setiap bulannya.

Syahdan, pemuda itu bernama Kevin. Seorang yang sungguh tangguh dan rajin datang. Sekolahnya kelas satu SMA, umurnya enam belas. Tobuciler ingat pada suatu pertemuan bulan lalu, Kevin yang bergurukan Royke Ng (masih aktivis klab), mendapat godaan iman yang berarti bagi perjalanan musik klasiknya. Dengan permainannya yang sangat mumpuni bagi seusianya, ia dicekoki berjam-jam oleh forum diskusi yang KlabKlassik yang dimotori oleh Mas Gatot waktu itu, dengan anggapan bahwa musik adalah segala hal yang dekat dengan batin kita. Artinya apa? musik belakangan sudah terinstitusikan dan tereksklusifkan. Sehingga aneh sebetulnya ada istilah "belajar musik", karena apalah musik sebetulnya, selain darah daging kita sendiri, manusia? Jadi, Kevin, apakah betul, kau memang harus les, atau tidak? Kevin lalu juga dicekoki oleh pelbagai macam musik tak lazim yang isinya cuma bebunyian yang bising, atau bunyi kodok yang seolah diharmonisasikan. Di ujung cerita, forum yang merasa tidak enak telah mencekoki Kevin dengan berbagai macam ketidaknyamanan musikal tersebut, berkata, "Kevin, tetaplah les sama Royke, jangan jadi bimbang gara-gara topik ini yah." Ditutup dengan tertawa membahak, forum pun ditutup.

Tapi sepertinya KlabKlassik tidak kunjung mau berhenti sampai disitu. Minggu kemarin Kevin menunjukkan permainan piawainya kembali, tapi lantas saya bertanya: Kevin, apakah kau memetik senar menggunakan kuku? Kevin menjawab tidak. Dan serta merta, forum mengajukan pertanyaan, kenapa kau tidak memakai kuku? apa alasannya? apakah nyaman demikian? Berturut-turut dari Dicky, Bilawa, Kang Tikno, dan saya sendiri. Kevin sepertinya tak mampu menjawab dan kebingungan, sehingga jawaban terbaiknya adalah, "Kata guru Royke, untuk memperkuat tekniknya dulu." Demikian, akhirnya Bilawa bercerita soal sejarah kuku, dimana memang terbagi dua mazhab antara yang percaya bahwa memakai kuku adalah bagus, tapi ada juga yang tidak, seperti Fernando Sor yang terkenal hebat. Demikian, lagi-lagi Kevin mendapat terpaan, yakni pertanyaan eksistensial soal apa yang ia lakukan selama ini. Tapi lagi-lagi di akhir cerita, forum menekankan, "Kevin, tetaplah les sama Royke, jangan jadi bimbang gara-gara topik ini yah." Dan tetap tertawa terbahak.



Keterangan foto: Kevin berbaju kuning, di tengah

Tuesday, June 01, 2010

Gatot Danar Sulistiyanto: Pendekar Bunyi dari Yogya


(28/02/10)

Awal mula ia datang ke Tobucil, tak menyangka bahwa buah pikirannya begitu kompleks dan mendalam. Karena Gatot ini, terlihat sangat sederhana, dan pembawaannya terlalu ramah dan santun untuk seorang pemikir yang tengah mendobrak kemapanan. Setelah diskusi yang mencerahkan itu, Saya sempat untuk mewawancarai Gatot barang sebentar. Sebentar, karena pria kelahiran Magelang 10 Mei 1980 itu cukup terburu-buru, ada janji rekaman tak lama kemudian.


Mas Gatot, tadinya kuliah dimana, ISI Yogya ya? Hahaha. Saya langsung nebak gitu.
Iya, saya lulusan ISI Yogya. Dulunya mengambil mayor gitar, dan minat ilmu musikologi.

Mas Gatot kan aktif sebagai komponis, coba ceritakan.
Sejak tahun tahun 2001 saya mulai aktif dalam komposisi musik. Saya juga pernah mengikuti beberapa workshop komposisi dan improvisasi antara lain dari Carlos Michan-Belanda, Workshop Musik Elektronik oleh Prof. Wilfried Jentzsch,- Hochschule fur Musik "Carl Maria von Weber" Dresden Studio fur Elektronische Musik-Austria, musik dunia oleh Kim Sanders-Australia, Musik Interkultural oleh Prof. Vincent McDermont-Amerika, Free Improvisasi oleh The Geizer-Mazzolla Duo-Switzerland, Jack Body-Selandia Baru. Saya juga pernah mengikuti studi komposisi singkat dibawah bimbingan Roderik de Man-Belanda, dalam program Mini-Composition-Project atas prakarsa Cantus Music Center & the Cultural and Development Program pemerintah Belanda.


Hmmmm. Banyak juga ya, jika demikian, siapa guru Mas Gatot yang istilahnya, lebih “tetap” ketimbang workshop-workshop tersebut?
Saya bisa dibilang tidak punya guru, jika guru diartikan secara kaku dalam konteks institusional. Bagi saya, semua orang adalah guru. Di Yogya juga sangat mendukung iklim tersebut, dalam artian, guru adalah sahabat, dan sahabat juga sekaligus guru.


Oke, menurut Mas Gatot, setelah diskusi panjang tadi, bagaimana kelihatannya iklim apresiasi musik di Bandung ini?
Menurut saya, iklim disini sangat kondusif, dan mesti terus disupport dan dikembangkan. Saya melihat bahwa komunitas-komunitas seperti KlabKlassik ini justru lebih masuk ke persoalan, ketimbang institusi atau seminar-seminar. Pembicaraan mengenai musik sebaiknya dilakukan dalam tataran semacam ini, sehingga lebih intim dan dipahami secara mendalam. Di Yogya, saya biasa melakukannya dengan dua atau tiga orang saja, asalkan konsisten.


Oke, kegiatan Mas Gatot sekarang ini apa?
Ada tiga, yang pertama, saya membuat musik alias mengomposisi. Lalu saja juga bekerja sebagai networker di Art Music Today, dan ketiga, saya bekerja sebagai tukang rekam keliling.


Maksudnya?
Maksudnya, saya membantu merekam dengan alat yang bisa saya bawa kemanapun. Jadi, saya tidak punya studio. Saya justru mendatangi orang yang ingin direkam.


Hehe menarik juga. Kembali ke persoalan, sebenarnya problem musik di Indonesia ini apa ya?
Problemnya adalah, kita bergerak seperti bola pingpong. Setelah memantul ke tanah, kadang mundur, kadang maju. Nenek moyang kita, telah mengenal musik dengan sangat baik. Contohnya gamelan, bunyinya sangat natural dan cengkoknya bisa merasuk ke batin. Ini bukti betapa musik sesungguhnya bukan lagi hal yang eksklusif di masa silam. Tapi belakangan, sejak era pasca-kolonial, musik menjadi sesuatu yang eksklusif, terlembagakan, dan milik sebagian orang saja. Mendadak ada istilah musikal dan non-musikal. Lantas kita-kita disini yang belajar musik klasik secara tekun dan serius, menganggap sedang belajar musik dalam arti sesungguhnya, yang lantas mengabaikan bahwa bunyi-bunyi lainnya juga sebetulnya musik. Itu pengaruh kolonialisme, atau secara spesifik, Barat, yang hobi mengotak-otakan. Musik sudah dekat dengan diri kita, sejak lahir.


Saya punya pertanyaan pribadi, situasi diam itu, musik bukan ya?
Coba tutup telingamu. Ada suara apa? Berdengung kan? Nah, itu bunyi tinitus, gendang telinga. Artinya, kondisi senyap adalah mustahil. Tidak ada situasi yang betul-betul tanpa bunyi, tanpa musik. Bahkan mungkin saja, musik itu adalah bunyi paling pekak, sehingga kita sulit mendengarkan.


Hehehe. Betul juga yah. Lantas, punya solusi apa kira-kira untuk menuntaskan problem musik di Indonesia?
Ya, setidaknya, meski bunyi adalah musik, dan berarti pula musik sangat dekat dengan diri, orang mesti tetap paham teori. Untuk apa? Untuk menerjemahkan problem kehidupan. Contohnya, berapa banyak kasus orang ketinggalan pesawat, karena suara yang mengumumkan kepergian pesawat tidak cukup jelas? Atau di kantor imigrasi juga misalnya. Orang seringkali ngawur dalam menempatkan sesuatu.


Baiklah, Mas Gatot, terima kasih atas waktunya, terima kasih juga telah hadir dalam diskusi tadi.
Terima kasih juga, sama-sama.

Kompetisi Musik Klasik: Perlukah?


(14/03/2010)

KlabKlassik kembali berkumpul tanggal 14 Maret kemarin. Saya, yang biasa ikut serta dalam pertemuan dan menjadi moderator diskusi, urung hadir. Meski demikian, Royke sukses membawakan diskusi yang bertemakan kompetisi musik klasik tersebut. Yang hadir ada Bilawa, Mas Yunus, Kang Trisna, dan dua orang murid Royke, yakni Kevin dan Kelvin. Diskusi dimulai dengan cerita mengenai kompetisi yang banyak diwarnai macam-macam motivasi dari si peserta. Ada yang memang untuk mengukur kemampuan diri, motivasi untuk bermain lebih baik, cermin teknik, dan latihan mental. Pada titik itu, kompetisi adalah acara yang sangat positif. “Itu dengan catatan, si pemain mampu menerima subjektivitas penilaian juri,” kata Bilawa. Apalagi di banyak negara maju, tambah Bilawa, kompetisi adalah salah satu cara meningkatkan karir pemain. Karena disana, banyak orang menjadikan musik klasik sebagai bahan mata pencahariaan utama. Dan gelar-gelar kompetisi bisa menambah kelancaran berkarir mereka di bidang musik.

Tapi ada pula yang menganggap kompetisi sebagai adu gengsi belaka dan menjadi ajang superior-inferior. Peserta seperti ini, dalam forum diskusi tersebut, juga mengikuti kompetisi atas dasar orientasinya pada hadiah. Memang, hal tersebut sulit dihindari sebagai bagian dari motivasi peserta dalam mengikuti sebuah kompetisi. Kang Trisna menambahkan, “Memang, jika hadiahnya kurang bergengsi, peserta menjadi kurang tertantang untuk ikut.” Tapi, yang dinilai kemudian adalah dampaknya. Ketidaksehatan motivasi ini membuat peserta seringkali ada yang sulit menerima keputusan juri. Padahal, “Kompetisi memang soal subjektivitas juri,” demikian Royke, sang moderator, menambahkan.

Lantas, apa solusinya? Mas Yunus mencoba menanggapi, bahwa yang pertama ditanamkan adalah, kenyataan bahwa kompetisi bukanlah suatu ajang untuk mengukur musik secara objektif. Kompetisi adalah cara untuk mengukur kemampuan lewat mata juri. Juri yang pastinya subjektif juga. Dan menurut Bilawa, mustahil kompetisi objektif, kecuali misalnya diadakan kompetisi dengan lagu sama, partitur sama, instrumen sama. Lalu yang diukur pun teknis saja, ekspresi adalah poin tambahan. Eh jangan lupa, pastikan juga seluruh peserta berada dalam kondisi yang sama. Jika demikian, barulah kompetisi dapat dibilang mendekati objektivitas.

Pertemuan KlabKlassik berikutnya adalah tanggal 28 Maret. Rencananya, KK akan melakukan Listening Session. Artinya, setiap yang hadir, membawa musik dalam soft copy, untuk kemudian diperdengarkan dan dibahas. Bach memberkati.

KlabKlassik Diliput 'Hang Out' STV

(15/02/10)

Siang itu, pukul satu, lima orang awak klabklassik berkumpul di Tobucil. Hari itu hari Selasa, dan jelas bukan jadwal rutin kumpul klabklassik. Tapi di beranda Tobucil itu, tak cuma terdapat para awak klab, tapi juga dua orang lainnya. Yang satu membawa mikrofon, satu lagi membawa kamera. Ternyata, mereka berdua dari STV, sebuah stasiun televisi lokal di Bandung. Memang, malam sebelumnya, saya mendapat telepon dari seseorang bernama Aga. Ia meminta klabklassik untuk diliput demi acara yang digawanginya, yakni Hang Out. Hang Out adalah acara yang berisikan tentang liputan pelbagai komunitas dan kegiatan. Meski mendadak, saya tetap memenuhi pertemuan tersebut, karena memang ya jujur saja, tampaknya asyik juga masuk tivi.

Dari klabklassik, terkumpulah lima orang, yang kebetulan semuanya pemain gitar. Selain saya, ada pula Bilawa, Diecky, Mas Yunus dan Luthfi. Kami bersama Aga, yang ternyata host acara tersebut, dan seorang kameramen. Syuting pun dimulai, sekitar dua lebih dua puluh menit. Awalnya, kami kira, semacam syuting kegiatan, sehingga beberapa figuran (diproyeksikan Wiku dan Eri) akan menambah semarak liputan. Ternyata, syuting itu adalah semacam wawancara. Jadi kami duduk berjajar berlima, mengapit Aga, dan kami diwawancara satu persatu layaknya sebuah band.

Kami ditanya banyak hal, mulai dari soal visi misi klab, soal asyiknya ikut klab ini, hingga acara-acara yang sudah digelar oleh klabklassik. Berganti-ganti kami berlima menjawabnya, tidak dominan di satu dua orang saja. Yang menarik adalah ketika tiba saatnya diantara kami-kami mesti mendemonstrasikan beberapa karya. Bilawa memulainya dengan Requerdos de la Alhambra dari Tarrega, lalu berturut-turut saya dengan Close to You, Mas Yunus dengan Felicidade, dan Luthfi dengan Asturias. Diecky sendiri memilih tidak bermain. Syuting itu sendiri menjadi cukup menggelikan, karena kami sungguh tidak menyangka akan mendapat sorotan kamera yang cukup intensif, terutama ketika bermain gitar. Aga sempat bertanya, “Kenapa sih, kalo main klasik, jarang ada yang ketawa?” Diecky menjawab simple, “Karena urat ketawanya tidak tersentuh.” Demikian kami semua gembira setelah wawancara selesai. Semua kembali ke aktivitas masing-masing.