Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Wednesday, June 02, 2010

(Upaya) Dekonstruksi Teori Musik


(11/04/10)

Minggu sore kemarin, KlabKlassik berkumpul lagi, dan mendatangkan seorang narasumber. Narasumber tersebut bernama Ronald Hutasuhut, yang sengaja saya hadirkan, oleh sebab suatu alasan: Mas Ronald akan menyampaikan satu temuan yang cukup menghebohkan, yang ia klaim akan mengubah cara pandang kita terhadap teori musik yang sudah dikenal selama ini. Maka itu saya dan segenap awak KK penasaran, dan berminat mengundangnya ke pertemuan rutin.

Dan akhirnya, pertemuan itu dilaksanakan. Mas Ronald, dan segenap awak klab berkumpul di Tobucil, ada: Kang Trisna, Kang Tikno, Bilawa, Royke, pendatang baru Aldi, Kang Yadi, Mas Yunus, Diecky, Luthfi, Afifa, dan Dega. Cukup banyak. Presentasi pun dimulai, dan KlabKlassik mendengarkan dengan seksama. Apa yang dipaparkan cukup menarik sebetulnya, ada beberapa poin soal kritik dia terhadap kemapanan teori musik selama ini. Misalnya, soal sukat alias time signature. Menurutnya, ada kesalahan serius soal bagaimana sistem menuliskannya selama ini. Dalam birama 4/4, not satu ketuk kadang-kadang dibilang ¼ ketuk, itu lumrah. Menurut Mas Ronald, bagaimana jika dalam birama ¾? Mestinya, namanya tidak lagi ¼ ketuk, melainkan 1/3 dong. Ya kan? Maka itu, dampaknya, tanda birama ¾ mestinya dihilangkan. Diganti dengan 3/3 saja, atau secara praktis dituliskan angka 3 saja dalam setiap permulaan birama sebagai penanda sukat.

Pernyataan ini sukses memancing perdebatan. Karena meski perhitungannya betul secara matematis, sebagian besar awak KK menganggap perhitungan ini kurang perlu. Diecky secara tajam menyampaikan bahwa musik hanya soal rasa. Komposisi adalah soal komunikasi. Ketika komposer menulis karya, lalu si pemain paham maksudnya, dan mampu memainkannya, maka persoalan selesai. Tidak perlu lagi memasalahkan tata cara penulisan birama dan sebagainya. Adapun Kang Trisna dan Mas Yunus mengatakan bahwa teori yang ditawarkan Mas Ronald akan mengurangi efisiensi dari teori yang selama ini sudah berjalan. Meski demikian, yang disayangkan, adalah kekurangterbukaan Mas Ronald akan pelbagai pendapat. Sepertinya, Mas Ronald sudah berpegang keras pada argumennya, sehingga ketika Dicky berusaha mengujinya pun, Mas Ronald terkesan keukeuh meski sudah gak nyambung.

Meski demikian, KK belajar banyak hari itu. KK memuji Mas Ronald sebagai seseorang yang teliti, cermat dan kritis dalam membongkar persoalan. Meski kemudian banyak kelemahan dalam argumentasinya, KK tetap menghargai beliau dan mengingat bahwa banyak sekali orang revolusioner lahir, berawal dari keberaniannya menyampaikan suatu pandangan perbedaan yang ekstrim.


Foto: Wahdini Degayanti

No comments: