Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Friday, August 06, 2010

Review Resital Gitar Johan Yudha Brata


Pada dasarnya saya cuma penikmat musik, tidak bisa memainkan instrumen apapun. Gitar bisa sedikit, tapi tidak bisa dibilang jago. Maka itu mohon maklum jika review saya ini lemah adanya, atau bahkan tidak mewakili pendapat para penikmat yang hadir di CCF hari Selasa malam itu.

Judul resitalnya First Thing First, yang dibawakan oleh Johan Yudha Brata Sahertian dari Jakarta. Saya menyaksikannya pertama kali di acara musik klasik Radio Maestro yang berlangsung sehari sebelumnya. Waktu itu Johan memainkan dua lagu berjudul Memed dan Whirler of The Dance. Lagu pertama ini, cukup melodius dan berteknik. Johan memainkannya dengan terbata-bata, tapi saya maklum karena Johan terlihat masih tegang sebagai penampil pertama. Lagu kedua saya berharap lebih, tapi ternyata Johan belum juga tampil memikat dan masih terlihat tegang. Satu-satunya yang bikin saya bertahan, adalah tekniknya yang terlihat tinggi. Jari-jarinya sangat terlatih, meski kalimat yang keluar dari gitarnya masih sering terputus. Tapi anehnya, rasa penasaran saya tidak surut, pasti Johan menyimpan sesuatu untuk resital keesokan harinya di CCF.

Selasa, tanggal 3 Agustus, saya memutuskan datang, membeli tiket resital gitar Johan. Harganya 25 ribu, cukup mahal untuk ukuran konser di Bandung. Saya mengambil tempat duduk di sebelah kanan agak ke tengah, berharap mendapatkan jarak yang tepat. Terlalu dekat juga sepertinya kurang baik. Pintu ruangan ditutup dan saya cuma melihat beberapa gelintir saja orang yang menyaksikan. Sepertinya kurang dari 20, tapi itu tidak menyurutkan niat saya untuk tetap menyaksikan konser Johan.

Johan pun tampil, dengan membawakan lagu pertama berjudul Invocacion et Danse dari Joaquin Rodrigo. Lagu ini dibuka dengan bagian yang bagi saya terdengar abstrak, dengan ritmik yang susah ditebak. Agak berbeda dengan istilah "Danse" yang saya kenal. Tapi di tengah-tengah lagu, muncul juga Danse yang dimaksud meski singkat. Teknik tremolo juga dihadirkan dalam lagu ini. Johan seperti biasa, terlihat tegang sekali dalam lagu pertama ini. Apakah ini memang kebiasaannya, tegang di lagu pertama? Jujur saja, lagu pertama ini saya kurang menikmati. Tapi saya tidak mungkin menyerah di awal, dan saya bertekad tetap bertahan di kursi. Tapi lagu kedua dan seterusnya jujur, bikin saya pusing! Johan dengan tenangnya, tidak memberi ruang bagi tubuh saya untuk menerima harmoni yang "akrab". Mau goyang, susah, mau mejem, susah. Entah kenapa, apakah saya yang tidak paham? Mungkin demikian pikir Johan, ini seni kelas berat, hanya yang layak saja yang mampu mendengarkan.

Setelah penutup sesi pertama, lagu dari Ginastera yang amat panjang, saya keluar untuk mengisap rokok. Sambil berpikir panjang, masuk lagi atau tidak? Tapi tiket 25 ribu sayang untuk dibuang begitu saja. Sambil terus merenungkan lagu terakhir itu sesungguhnya apa? panjangnya hingga lebih dari 10 menit, tapi hanya berisi pukulan, erangan, petikan absurd, dan genjrengan emosional. Ah, saya pasti bukan orang yang paham atas ini. Pasti ada kandungan seni yang mendalam disana. Saya pun kembali masuk untuk sesi dua.

Di sesi dua, Johan tiba-tiba berbicara di pembuka. Wah, itu sungguh menyegarkan! Ketika kuping sudah terbiasa mendengar denting gitar yang miring, mendengar suara manusia yang pitch sangatlah enak. Tapi aduh, lagu pertama di sesi dua ini ternyata tidak ubahnya dengan sesi sebelumnya: pusing! Saya tidak bisa lagi menahan diri untuk melirik HP, membuka YM, untuk mencari teman yang mau diajak chat. Maksudnya, agar pikiran saya tidak habis hanya untuk berkonsentrasi di satu titik, yakni panggung itu.

Setelah lagu kedua berjudul Memed, saya memutuskan keluar ruangan. Saya merasa tidak mampu lagi bertahan, dan memilih untuk mengintrospeksi diri: Pasti ini saya yang tidak mengerti. Saya mesti kembali meningkatkan apresiasi dan banyak mendengarkan dentingan gitar dengan nada miring. Selama ini saya dengarkan jazz Pat Metheny yang saya anggap sudah miring, ternyata masih jauh dengan yang ini. Bung Johan, saya tak bisa mengkritik anda, atau memberi masukan. Saya cuma bertanya pada diri saya, adakah penonton itu bisa disalahkan atas apa yang dia tidak mengerti?


Tony Soedjarwo




*foto diambil dari dokumen pribadi Johan oleh administrator blog ini

No comments: