Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, November 22, 2010

Mengenal World Music




World Music adalah idiom yang rajin sekali diangkat belakangan ini. Ada dua even, yaitu Bandung World Jazz Festival dan Monju (Monumen Perjuangan) West Java World Music Festival. Walaupun even pertama dibumbui kata "jazz", namun esensi yang ingin diraihnya kira-kira sama: Ada unsur etnis, lokal, dan non-Barat disana. KlabKlassik kemudian melihat fenomena penamaan World Music ini sebagai hal yang menarik sekaligus bermasalah. Untuk itu dibuka diskusi, minggu kemarin, dengan judul Mengenal World Music yang dibawakan oleh Diecky K. Indrapraja.

Diecky awal mulanya melemparkan pernyataan membingungkan: Apakah perbedaan musik Barat dan musik Timur? Seluruh peserta diskusi kesulitan menjawabnya, sebelum ditengahi oleh Diecky sendiri. Musik Barat, adalah musik yang diciptakan untuk musik sendiri. Mereka rasional, bisa dijelaskan, dan bisa dipertanggungjawabkan secara akal. Sedang musik Timur, adalah musik yang seringkali ditujukan untuk segala hal di luar musik itu sendiri. Misal, musik angklung untuk persembahan pada Dewi Sri, sedang beberapa musik tertentu untuk minta hujan. Hal tersebut, bagi kacamata Barat adalah irasional, tapi juga eksotik. Timur tidak mengenal pengilmiahan musik sekaligus pertanggungjawaban secara akal. Bagi Timur, musik adalah bagian harmonisasi alam, yang artinya "Ya memang begitu adanya", tak usah dijelaskan.

Yang menarik kemudian, World Music adalah istilah yang merangkul musik-musik "irasional" tersebut, dalam satu kesatuan kata "world" itu. Permasalahannya kemudian, karena Barat yang memberi istilah World Music, hal tersebut dicurigai sebagai penyederhanaan, dan pemiskinan atas kekayaan kebudayaan masing-masing komunitas. Bayangkan jika sekitar tiga ratus etnis dan budaya di Indonesia memiliki musiknya masing-masing, lalu seluruhnya dirangkum secara sederhana dalam istilah "Musik Indonesia", barangkali keunikannya masing-masing menjadi tak tampak dan malah kehilangan jati dirinya.

Setelah itu, Diecky memaparkan beberapa contoh musik, yang meminta peserta diskusi menebak: Ini komposer Barat atau Timur yang buat? Ada beberapa contoh seperti Krakatau, atau Discus, ataupula seorang komposer Jerman yang membuat karya piano dengan latar pengiring gamelan Bali. Ada pula sinden orang Amerika juga diiringi gamelan Bali. Pertemuan sore itu memperkaya telinga peserta, karena playlist milik Diecky banyak berisi lagu-lagu yang jarang ditemui di pasar-pasar umum. Pertemuan hari itu sampai pada kesimpulan yang mendalam: Orang Barat yang mempelajari musik Timur, biasanya ia telah lebih dahulu paham musiknya sendiri, baru eksplorasi ke luar. Sedangkan orang Timur kebanyakan, ia lebih dahulu belajar musik Barat, tanpa paham akar tradisinya sendiri. Efek negatifnya, mereka mudah terseret-seret kemanapun Barat pergi. Dan yang selamat adalah mereka: orang Timur yang belajar musik Barat, agar kemudian mengenal siapa dirinya. Dari mana ia berasal.

No comments: