Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Saturday, December 18, 2010

Musik Dunia, Setua Bumi ini Usianya!

Gatot D. Sulistiyanto, komponis

Banyak yang menafsirkan musik dunia secara lebih ilmiah. Itu bisa disimak dalam internet, buku-buku literatur musik anda akan menemukan bahasan yang fasih mengenai hal tersebut. Namun pernahkan saudara sekalian merenung mengenai bunyi yang ada di dunia dari awal usia bumi sampai masa sekarang?. Apa yang mengakibatkan budaya bunyi menjadi rumit dan cenderung diremehkan karena sulit dipahami?. Padahal telinga kita menempati peranan penting sejajar dengan organ indra yang lain.

Sistem kehidupan dunia berkembang dan bunyipun ikut-ikutan. Dulu tidak ada teknologi pengeras suara, jadi desibel bunyi bertumpu pada organologi instrumen musiknya. Mesjid jaman dulu mebutuhkan menara untuk kumandang adzan, sehingga dapat didengar dalam radius yang relatif jauh. Sekarang ada bantuan pengeras adzan yang dipasang di menara. Azdan jadi keras dan kencang suaranya terdengar kiloan meter. Namun dalam kondisi ini kita kehilangan sensitifitas terhadap panggilan sholat tersebut. Bisa anda bayangkan, suara panggilan dari kejauhan dan sayup-sayup itu menumbuhkan kesadaran diri untuk menangkap pesan tersebut. Simpulnya bahwa sensitifitas itu berhubungan dengan hal yang bersifat pribadi, nah hal yang pribadi ini membutuhkan kelembutan yang luar biasa, supaya kesadaran diri tidak terkoyak. Otomatis bila kita mencapai hal ini kwalitas hidup akan meningkat dan tenteram.

Malam merupakan ruang netral bagi hal-hal lembut. Saat malamlah orkestrasi alam muncul dengan gamblang dan sempurna. Sehingga daya konsentrasi kita meningkat lebih dari 70%. orang akan lebih peka terhadap sinyal gelombang yang lembut sekalipun. Itu mengapa alasannya banyak penemuan ide-ide, wangsit, ilham, bisikan, mawasdiri itu umumnya ada pada malam hari. Prinsipnya kesadaran titik netral ini bekarja disaat kondisi netral, sehingga perubahan kecilpun akan terdeteksi oleh indra kita. Apa gunanya? Yha tidak berguna kalau kita terbelit hal-hal yang bersifat jasmani.

Musik itu makanan ruhani. Kalau kita sejajarkan dengan wisata kuliner itu tidak jauh beda. Prinsipnya kaya pengalaman pernah mengecap berbagai jenis makanan hasil kebudayaan nenek moyang yang sangat berguna untuk tubuh untuk menysuplay daya hidup lahiriah. Tapi musik itu bekerja diwilayah ruhaniah atau urusanya dengan pengalaman batin, yaitu pengalaman dimana kita merasakan perbedaan kesan dan pesan dari berbagai budaya bunyi ini. Semakin kaya pengalaman, maka pengalaman batin juga akan bertambah kaya. Dimana letak kegunaannya pengalaman batin yang berkaitan dengan musik ini?. Begini; kita akan menjadi banyak memahami cara hidup dari banyak budaya yang boleh jadi akan melengkapi perjalanan hidup kita ini menjadi sempurna. Karena apa, dalam musik itu sarat dengan simbol jejak prikehidupan yang tak terkatakan karena dalam kehidupan itu tidak selalu diomongkan. Ada kecenderungan bahwa hal yang penting itu bersembunyi dibawah sesuatu yang tidak bermaksud secara verbal. Nah ini tiada lain selain musik / bunyi yang dekat dengan hal tersebut. Oleh karena sifat hakikinya bahwa bunyi itu tidak punya maksud tapi sarat dengan makna. Contoh sederhananya seperti ini; pentingnya menejemen dan organisasi dalam prikehidupan dinegara Eropah, ini bisa dilihat dari sistem musik Eropa dimana sangat terorganisir. Adanya catatan/ notasi, penggagasnya/ komponis, pelaksana/ penyajinya, pemimpin yang taat pada sistem/ konduktor, pemain dilarang bunyi sebelum diperintah tertulis dalam partitur dsb. Maka dilarang heran bila mereka piawai dengan pengelolaan. Namun kearifan dalam hidup bersembunyi dibudaya Gamelan. Dimana kendang hanya memimpin iramanya, namun urusan bagaimana warna detainya dipasrahkan kepada pemainnya masing-masing yang telah memahami gendhing sebagai manifestasi tertinggi tujuan dari kehidupan dalam urusan gamelan. Masing-masing bebas menafsirkan menggungakan jalan mana ketika mendapati balungan dari 2. 5. 6, beda pemain beda rasa dan cara, namun masih dalam kaidah keselarasan atas dasar toleransi dan demokratisasi cara hidup dalam kerangka kebebasan yang bertanggung jawab. Maka sebenarnya belajar hidup cara demokrasi tidak usah ke Yale. Cukup ke Cianjur atau ke Muntilan saja. Murah meriah sambil kulakan beras.

Sebagai penutup tulisan ini saya mengutip pikiran bijak konfusian “apabila saudara itu ingin tahu suatu negara itu dikelola degan baik, cukup dengarkan musiknya saja”. Saya tambahi sedikit, tapi yang cocok di Indonesia itu begini “apabila saudara itu ingin tahu suatu negara itu dikelola degan baik, cukup lihat sinetronnya saja”.

Gatot D. Sulistiyanto
JL. Ireda, Keparakan Lor, Gg. Kemundung MG I / 1022
Yogyakarta – Indonesia
postcode 55152

ph. +62 (274) 414309

totagranad@yahoo.com
www.gatotdsulistiyanto.bravehost.com
www.artmusictoday.bravehost.com
www.rekambergerak.synthasite.com
www.tepellere.synthasite.com
www.kutikula.yolasite.com

Gairah Ensembel Klabklassik






Minggu, 12 Desember 2010

KlabKlassik terlihat bersemangat. Hal tersebut, konon disebabkan oleh undangan tampil dari UNPAD pada tanggal 17 Desember nanti. Meski demikian, bukan itu inti semangatnya, melainkan kenyataan bahwa undangan tersebut "memaksa" beberapa aktivis klab untuk membentuk ensembel dan berlatih bersama. Ketika ensembel Ririungan Gitar Bandung (RGB) tengah libur dari latihan, KlabKlassik membentuk kuartet gitar yang terdiri dari Mas Yunus, Aldi, Kang Trisna, dan Kristianus.

Kuartet tersebut akan memainkan satu lagu saja, yaitu La Cumparsita karya G. Matos Rodriguez. Karya dengan ritmik Tango tersebut diaransemen untuk tiga gitar, dua flute, dan satu cello oleh Diecky K. Indrapradja, salah seorang aktivis klab juga. Karena tidak ada pemain flute, maka bagian flute diganti oleh gitar. Bagian cello juga tadinya ditiadakan, tapi mendadak KlabKlassik kedatangan seorang pemain cello bernama Fery Mathias, dan ia bersedia tampil tanggal 17 Desember.

Kuartet ini akan dinamai KlabKlassik Guitar Quartet, yang diyakini akan menjadi "home band" yang siap pakai untuk acara-acara Tobucil yang membutuhkan musik.

Tuesday, December 07, 2010

Apresiasi Lagu Favoritmu

Mengapa kita diberi dua telinga dan dua tangan, karena berlatih atau bermain musik, porsinya mesti sama dengan mendengarkan musik."

Minggu, 28 November 2010

Petikan kalimat diatas diucapkan oleh Diecky K. Indrapradja di tengah forum diskusi KlabKlassik yang menyajikan acara apresiasi bersama. Ini program baru, intinya, masing-masing peserta diskusi yang hadir membawa serta satu lagu untuk didengarkan dan dibahas bersama. Yang hadir saat itu adalah Fathimah, Kristianus, Yunus, Tesla, Aldi dan Ali. Semua nama itu diluar saya dan Diecky sebagai host diskusi. Fathimah mendapat kesempatan pertama, pianis muda itu memperdengarkan karya Chopin berjudul Piano Concerto #1 gerakan pertama berjudul Allegro Maestoso. Fathimah menyukai karya itu, karena digubah oleh Chopin dalam usia sangat muda, yakni 17 atau 18 tahun. Karya berdurasi sembilan belas menit itu diperdengarkan sampai tuntas dan peserta kagum oleh kemahiran Chopin dalam mengomposisi di usia muda.

Berikutnya adalah aldi, yang memperdengarkan karya Tchaikovsky, judulnya Waltz of the Flowers. Karya waltz yang cukup mahsyur ini, sangat kaya akan instrumen-instrumen orkestra, termasuk oboe hingga triangle. Diecky kemudian membandingkan, bahwa jelas Tchaikovsky sudah lebih matang dalam mencipta Waltz of The Flowers ketimbang kala Chopin saat mencipta Piano Concerto. Hal tersebut terlihat dari kekayaan instrumen yang digunakan Tchaikovsky. Lalu pasca Aldi, tiba giliran Kristianus yang menampilkan soundtrack film Pirates of Caribbean, yang berjudul Pirates of Caribbean, dimainkan oleh Epica, band rock bersama dengan orkestra. Apakah ini bukan klasik? Iya, memang bisa dibilang bukan, secara periodisasi. Tapi memang acara apresiasi bersama ini terbuka bagi semua jenis musik. Tesla mengritik bahwa musik Epica ini kurang detail. Tapi Ali membela bahwa untuk musik-musik ilustrasi film, tidak usah kedetailan yang diperhatikan, tapi yang menjadi titik berat adalah kesesuaian dengan adegan.

Acara mendengarkan bersama ditutup oleh karya Tesla yaitu Play Dead. Tesla memperdengarkan karya ciptaannya sendiri, yang merupakan interpretasi pada karya rupa yang akan dipamerkan 11 Desember nanti. Durasinya 9:31, cukup panjang dan melelahkan didengarkannya. Absurd dan "Nadanya mengkhianati saya," demikian komentar Ali. Maksudnya, sulit ditebak, dikira kesini taunya kesana. Lalu kami membahas soal interpretasi, bahwa kesesuaian antara karya rupa dan karya musik bisa dipertanyakan ternyata. Karena apa yang dinamakan "sesuai", itu bisa jadi karena direka-reka oleh penikmat. Saya ingat karya Marchel Duchamp yang menhadirkan kloset dalam kondisi apa-adanya-ia di sebuah galeri. Awalnya kloset itu ditolak karena dianggap bukan seni. Tapi kala dipajang, pengunjung jadi berpikir, "Iya juga ya, seni itu, jangan-jangan tergantung konteks ruang dan waktu. Dulu kita percaya bahwa ada benda yang indah pada dirinya sendiri, tapi ketika melihat kloset ini di galeri, mendadak kloset tempat buang air menjadi sebuah karya seni."

Pesan akhir karya Tesla ini dirumuskan oleh Diecky. Bahwa interpretasi apapun adalah bebas dan diserahkan pada masing-masing penikmat. Yang dilarang adalah memaksakan keragaman interpretasi pada orang lain. Padahal sudah jelas, manusia berbeda satu sama lainnya, tak bisa dipaksakan sama dalam memahami sesuatu. Tertarik ikut acara mendengarkan bersama KlabKlassik ini? Setiap minggu keempat setiap bulannya ya, bawa lagu favoritmu dalam format mp3. Sampai jumpa bulan depan!