Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, February 28, 2011

Four Hands Piano Recital: “Suatu Ketika di Théâtre du Châtelet”





Jakarta Conservatory of Music,
KlabKlassik, Tobucil, Maestro 92,5 FM
Mempersembahkan

Four Hands Piano Recital: “Suatu Ketika di Théâtre du Châtelet”
Glenn Bagus - Iswargia R. Sudarno
Sabtu, 12 Maret 2011 pk. 19.30
Auditorium CCF, Jl. Purnawarman no. 32
Tiket Rp. 30.000
Tersedia di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548) (Mulai hari Rabu, tanggal 2 Maret 2011)
atau hub. Syarif (0817-212-404)

Repertoar:

Sonata for Piano Four-Hand in C Major, KV 521 – Wolfgang Amadeus Mozart
1. Allegro
2. Andante
3. Allegretto

Six Morceaux, Op. 11 – Sergei Rachmaninoff
1.Barcarolle
2.Scherzo
3.Theme Russe
4.Valse
5.Romance
6.Slava

-intermission-

Rapsodie espagnole – Maurice Ravel
1.Prélude à la nuit: très modéré
2.Malagueña: assez vif
3.Habanera: assez lent et d'un rythme las
4. Feria: assez animé.

Trois mouvements de Pétrouchka – Igor Stravinsky
1. Dance Russe
2. Chez Pétrouchka
3. Le semaine grasse

Glenn Bagus memulai studi piano pada usia enam tahun, Pada usia sebelas tahun ia terpilih menjadi anggota Junior Original Concert (JOC), sebuah wadah pelatihan musik dimana para anggotanya di didik secara intensif untuk mengarang komposisi musik dan menampilkannya pada ajang nasional dan internasional. Selain itu Glenn juga aktif mengikuti berbagai ajang Kompetisi Piano, dimana ia berhasil meraih piala Grand Prize pada Yamaha Piano Competition pada tahun 1991. Glenn kemudian mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi musiknya di Berklee College Of Music, USA dan meraih gelar Bachelor Of Music. Ia juga kemudian terpilih menjadi satu-satunya pianist yang bukan berkewarganegaraan Amerika untukbergabung dengan Disney All-American College Orchestra; dimana mereka mengadakan konser secara rutin di Epcot Center, Disenyland, Florida, USA; dan bekerjasama dengan artis-artis dunia seperti Peabo Bryson, Shirley Jones, Kenny Werner dan Betty Buckley. Setelah kembali ke Indonesia dan berkarir dalam bidang musik sambil menimba ilmu di bidang Busines/Management, Glenn terpilih untuk kembali melanjutkan studi musiknya di University Of Miami, USA atas beasiswa dari Fulbright Foundation. Glenn berhasil mendapatkan gelar Master Of Music dengan predikat Magna Cum Laude.

Iswargia R. Sudarno tidak hanya dikenal sebagai seorang pianis, namun juga sebagai seorang pendidik dan pengarah acara serta perancang program kegiatan-kegiatan seni musik. Sebagai pianis ia telah tampil di empat benua, dan menjadi solis bersama beberapa orkestra di tanah air seperti Orkes Simfoni Nusantara, National Youth Orchestra Indonesia, Jakarta Chamber Orchestra, dan Orkes Simfoni Institut Seni Indonesia. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai tutor Nusantara Chamber Orchestra, direktur akademik Yayasan Musik Internasional, dan direktur musik National Youth Orchestra Indonesia. Dilahirkan di Bandung, Iswargia memulai pelajaran pianonya di sana, berturut-turut bersama Ibu Wibanu, Partosiswojo, John Gobée, dan Oerip S. Santoso. Setelah menyelesaikan pendidikan S-1-nya di bidang arsitektur di Institut Teknologi Bandung; ia melanjutkan pendidikan S-2-nya di bidang musik di Manhattan School of Music, New York, Amerika Serikat, dibawah bimbingan pianis & pedagog legendaris Karl Ulrich Schnabel, hingga meraih gelar Master of Music. Selama musim-musim panas, ia juga berguru pada pianis- pianis kenamaan, seperti Bela Siki di Johanessen International School of the Arts (Kanada), Gabriel Chodos dan Rita Sloan di Aspen Music School (Amerika Serikat), dan Robert Levin di Mozarteum International Summer Academy (Austria). Ia juga mendapat beasiswa dari DAAD untuk memperdalam pengetahuan musiknya di Staatliche Hochschule für Musik Freiburg, Jerman, dibawah bimbingan Hansjörg Koch. Saat ini, selain menjabat sebagai direktur akademik Konservatorium Musik Jakarta, ia juga menjadi dosen dan pengajar ahli Konservatorium Musik Jakarta, Universitas Pelita Harapan, Universitas Pendidikan Indonesia. Ia juga kerap memberikan master class di beberapa kota besar di Indonesia dan juga di Asia International Piano Academy and Festival di Korea. Hingga kini murid-muridnya telah banyak memenangkan berbagai kompetisi tingkat nasional, maupun internasional.

KlabKlassik Edisi Playlist #3: Dari Deathmetal hingga Kerispatih

Minggu, 27 Februari 2011

KlabKlassik minggu keempat selalu diisi dengan edisi playlist. Yaitu berkumpul dan mengapresiasi musik sama-sama, atau bisa juga dinamakan active listening. Musik yang disetel itu sendiri berasal dari masing-masing yang datang, mereka membawa satu musik favorit yang dimasukkan ke dalam flashdisk. Kebetulan hari itu juga klab mengundang Ismail Reza, salah seorang penggiat Tobucil di masa lampau tapi juga sekaligus seseorang yang menurut Mba Tarlen adalah "pengamat progressive rock". Berduet dengan analis rutin klab yaitu Diecky K. Indrapraja, mereka menjadikan suasana playlist menjadi lebih hidup, berbobot, dan berwawasan.

Lagu pertama datang dari Hin-Hin. Gitaris band metal Beside tersebut membawa satu lagu dari band metal Swedia yang beraliran melodic deathmetal. Sebagai lagu pembuka, lagu tersebut cukup bising dan mengagetkan. Terutama liriknya yang kurang jelas dan hanya terdengar seperti teriakan-teriakan saja. Kata Hin-Hin, ia menyetel lagu ini untuk meluruskan, bahwa band-band metal tak selamanya menyuarakan lirik-lirik satanik. Di antaranya ada yang menyinggung isu politik, agama, bahkan cinta yang tak jarang dibalut syair-syair puitik. Mas Reza menambahkan bahwa ketidakjelasan lirik itu seperti yang sudah lumrah dan disengaja. Band-band tersebut seolah menjadikan suara vokal bukan lagi penyampai kata, tapi juga instrumen seperti halnya gitar, bas, dan drum. Padahal, lucunya, kata Mas Reza, lirik-lirik itu seringkali kompleks. Namun kenapa dibuat kompleks kalau ujung-ujungnya tak terdengar mereka ngomong apa?

Lagu berikutnya dari Bebeng, ia menyetel Music of The Night dari soundtrack Phantom of The Opera. Lagu ini gagah, orkestratif, dan jangkauan dinamikanya sangat luas. Beben menyukainya karena lagu tersebut punya nilai historis, ia jadi ingin menggeluti dunia choir gara-gara lagu ini. Mba Tarlen, pemilik Tobucil juga ternyata mengikuti forum ini. Lewat dua lagu yang ia bawa, yakni lagu White Stripes berjudul The Hardest Button to Button versi band dan orkestra, ia ingin menyuguhkan perbedaan keduanya. Namun forum tersebut sepakat bahwa versi band jauh lebih hidup. Padahal, White Stripes hanya bermodalkan dua orang dengan dua instrumen, yaitu gitar (merangkap vokal) dan drum. Kata Mas Reza, hebatnya White Stripes berasal dari vokalisnya, Jack White yang sangat menguasa blues. Blues, bagi Mas Reza, adalah syarat utama bagi sebuah lagu untuk menemukan feel-nya.

Setelah itu diputar berturut-turut lagu bawaan Nia yakni dari Daft Punk yang berjudul Something About Us. Lagu tersebut dikomentari Iyok dengan satu kata saja: "Galau!" Setelah itu lagu dari Mas Reza yaitu Sunn-O dengan judul cukup unik: megszentségteleníthetetlenségeskedéseitekért. Lagu kelam berdurasi sembilan menit tersebut bertemakan semacam mantra-mantra yang kerap diucapkan kala inkuisi gereja pada kaum bid'ah. Lagu tersebut disambut oleh lagu tak kalah absurdnya, yaitu Four Voice Canon dari Larry Polanski. Lagu tersebut berasal dari Diecky. Setelah dikuras otaknya oleh dua lagu terakhir tersebut, forum playlist didinginkan oleh tiga lagu terakhir yaitu lagu Paman Doblang dari Kantata Takwa (bawaan Kang Tikno), lagu dari Glee (Martina) dan lagu dari Kerispatih (Dini). Ketiganya menjadi penutup diskusi minggu itu.

Ternyata, selama ini musik hanya menjadi latar kehidupan kita saja. Ia dinikmati sebagai komponen tambahan. Namun ketika musik dinikmati sebagai musik: Kita mendengar dengan serius, diam, dan konsentrasi, maka ternyata hal tersebut adalah kegiatan yang cukup melelahkan juga. Dua jam setengah, sepuluh lagu, kami berkeringat, sakit kepala, gelisah, namun jangan-jangan secara batin menjadi sehat.

Bermain Musik bersama Ammy Kurniawan


Minggu sore itu beranda Tobucil kehadiran rak-rak efek dan amplifier. Ternyata akan diadakan workshop mengenai alternative strings dari Ammy Kurniawan, pemain biola grup band 4 Peniti. Ammy yang cukup aktif di blantika musik nasional sebagai additional player dari beberapa band seperti Rif, Ari Lasso, hingga Nidji, memulai acara ini dengan paparan selama kurang lebih 45 menit. Paparan itu adalah mengenai apa itu alternative strings. Berdasarkan paparan Ammy, alternative strings adalah cara mengekplorasi teknik-teknik dalam bermain biola sehingga sanggup menciptakan efek yang atraktif, menghibur, dan improvisatif. Lagu-lagu yang dimainkan akan terasa berbeda dan lebih hidup, karena basisnya: bermain musik harus senang, dan tidak boleh tertekan. Hal tersebut juga yang ditekankan Ammy berulang-ulang, bahwa kata "main" adalah hal yang penting dalam musik.

Ammy kemudian memulai prakteknya dengan memperagakan beberapa teknik, semisal chop and groove, contoh-contoh improvisasi, dan penggunaan efek-efek. Yang menarik adalah kala Ammy memperagakan looping, Dengan looping, ia bisa membuat empat suara biola sekaligus. Ia menciptakan langsung di tempat, ritmik, bass line, harmoni, hingga melodinya, yang ia beri judul "Orang Sunda". Dengan looping, keempat suara yang ia ciptakan terpisah dapat menjadi satu karya lengkap, seperti beberapa orang sekaligus!

Workshop kemudian menjadi interaktif kala Ammy mengajak beberapa orang yang datang untuk bermain biola. Yang tampil ke depan adalah Fiola dan Brigitta dengan biolanya masing-masing. Namun sayang, lagu Canon yang sudah disodorkan oleh Ammy, tidak disikapi dengan improvisasi bebas oleh kedua violinis tersebut. Ammy mengatakan bahwa ini adalah "penyakit musik klasik", yaitu kala orang terlalu takut dalam bermain musik. Kebetulan saat itu ada murid Ammy bernama Abigail yang berani mencoba berimprovisasi sehingga suasana interaksi kembali terbangun.


Di akhir acara, Diecky berbicara seperti halnya Kiai di penutup film horor. Ia menetralisir dan mendudukkan keadaan menjadi "kembali tertib". Kata Diecky, "Ammy mengajarkan kita untuk menjadikan instrumen barat sebagai sesuatu yang tak harus membuat kita jadi mesti berkiblat kesana (Barat). Instrumen barat adalah cuma alat, untuk mencari tahu jati diri kita sebenarnya. Ya bagi Ammy, orang Sunda itu sendiri. Kesundaan."

Foto oleh Desiyanti Wirabrata

Saturday, February 05, 2011

Lagu, Kenangan, dan Korelasi Antar Keduanya

Minggu, 30 Januari 2011

Hari Minggu itu, seperti biasa saya datang ke Toko Buku Kecil di Jl. Aceh no. 56, untuk menghadiri komunitas kecil akhir pekan.

Kakak saya, yang sudah lebih dulu nongkrong di sana bersama Klab Rajut, menyambut saya setelah seminggu tak bersua. Pipinya hangat terpapar mentari yang menembus kisi-kisi fiber glass atap garasi tempat kami berkumpul. Pertanyaan pertama saya padanya adalah tentang salah seorang anggota Klub Kuliner kami yang baru saja bertolak ke Australia. Hanya kakak saya seorang yang sempat menemuinya sebelum berangkat. “Dia menitipkan kenang-kenangan untukmu,” ujarnya ceria. “Apa itu?” Tanya saya, pura-pura tak tahu menahu.

“Sebuah pelukan!”

Serta merta kakak memeluk saya sekali lagi, dengan erat. Di benak saya terbayang jelas kawan kami. Cantik jelita, dengan busana favorit yang biasanya bernuansa biru toska atau biru marlin. Lengkap dengan syal serta kalung etnik khas dirinya. “Semoga nona Artyana betah serta sukses di sana,” ucapku sembari menepuk bahu kakak. Ia bercerita, syal rajutan tangannya sendiri telah disampaikan pada yang empunya sebelum ia berangkat ke bandara. Syal berwarna ilalang kering yang amat senada dengan pakaian batik yang sahabat kami kenakan hari itu. Meski awalnya saya mutung karena tidak diajak bertemu terakhir kali, mustahil untuk ngambek lama-lama pada orang seperti kakak. Toh saya sendiri yang tidak menghubunginya selama seminggu, perkara kesibukan.

Hari itu, Klab Klasik yang kami ikuti membahas tema “Apresiasi Playlist Favorit”. Saya membawa satu file lagu lengkap dengan lirik yang sudah di-print. Karena tidak diharuskan lagu klasik, saya memilih “The Man Who Can’t Be Moved” dari The Script. Saya pulalah yang kebagian presentasi pertama kali. Kami beserta semua kawan membahas mengenai kekuatan lirik, yang kini jarang ditemui di lagu-lagu industri. Bagaimana lagu bertema Cinta seakan tidak pernah habis-habisnya diangkat, dan lagu saya merupakan contoh bahwa kisah romantis yang sedih tidak melulu harus diberi melodi yang sedih pula.

Giliran berikutnya adalah Mas Tikno. Ia membuat kami cukup terhenyak dengan lagu Iwan Fals yang berjudul “Nak”. Liriknya yang kaya akan kritik sosial mampu membuat siapa saja resah, termasuk penguasa. Lagu tersebut juga diakui masih relevan dengan kondisi saat ini. Mas Diecky, yang datang tak lama kemudian, melemparkan bahan untuk diskusi. Apa yang akan terjadi seandainya Iwan Fals menggunakan musik klasik alih-alih musik Rock n’ Roll? Musik Klasik lebih subtil dan tidak gamblang dalam menyampaikan pesan komposernya. Contohnya, komposisi musik flute dari musisi Prancis yang sebenarnya berkisah mengenai kehidupan lesbian. Kesimpulannya, andai Iwan Fals menggunakan musik klasik, mungkin beliau bisa tertawa dalam hati meski tidak semua orang mengerti, bahwa sesungguhnya dia sedang mengkritik para penguasa.

Giliran selanjutnya adalah kakak saya. Karena laptop yang tersedia tidak ada yang bisa memutar CD darinya, akhirnya lagu tersebut diunduh dari YouTube. Sambil menunggu unduhan selesai, mas Wawan mempresentasikan sebuah lagu choir dari Paduan Suara Unpar. Lagu acapella itu bercerita mengenai masa muda yang hilang. Dinamik lagu yang berubah dari forte ke pianissimo menggambarkan kemarahan serta penyesalan ketika mengetahui waktu sudah berjalan begitu cepat, usia sudah keburu bertambah tanpa pencapaian, yang akhirnya berujung pada penerimaan kondisi diri.

Tak lama setelahnya, unduhan selesai. “Book of Love” dari Peter Gabriel, mantan vokalis utama Genesis, diperdengarkan pada semua. Lagu ini punya cerita tersendiri, terutama untuk saya dan kakak saya. Selain merupakan lagu pernikahan kak Reza (abang kandung kakak saya), ini juga merupakan lagu istimewa yang dipersembahkan kakak pada saya. Tentu saja bukan karena kami hendak menikah. Pasalnya, lagu Book of Love punya tiga kata kunci: Reading, Singing, dan Giving Things. Kesemuanya itu, menurut kakak, sangat mengacu kepada saya. Bahkan lagu itu, mulai dari alunan, ritme, sampai nadanya juga sangat “gue banget”, khususnya buat saya.

Di akhir curhat panjang lebar kakak mengenai kisah kami di balik lagu itu, Mas Syarief bertanya, adakah yang hendak saya sampaikan selaku ‘korban’ dari lagu tersebut. Saya tertawa. Singkat, saya berkata: “Saya berterima kasih pada kakak yang sudah menemukan lagu itu, and then dedicated it to me.... Thank you, Sista.” Kakak saya tersenyum. “You’re welcome, my little sister.” Hadirin yang mayoritas pria spontan bereaksi ramai, dan Mas Syarief menyeletuk. “Benar-benar deh, sesi Klab paling melankolis sepanjang masa. Banyak khutbah terselubung, mulai dari sabar menanti (The Script), pendidikan (Iwan Fals), sampai yang terakhir.” Ucapan ini disambut gelak tawa.

Sharing hari itu ditutup dengan lagu yang sangat sesuai, yaitu “Everything” dari Michael Buble. Petikan serta cabikan gitarnya yang riang menutup sesi kami hari itu. Lagu yang sangat easy listening, lebih gombal dalam segi lirik bila dibandingkan lagu-lagu sebelumnya, juga lagu terakhir yang memancing perbincangan hangat mengenai progresi, modulasi, serta transposisi akor dalam menciptakan sebuah lagu. Setelah sesi resmi ditutup agar semua rekan bisa saling berbagi lebih jauh, secara tak sengaja saya memainkan “Denting” milik Melly Goeslaw dengan gitar saya yang sejak tadi menganggur. Mas Tikno kemudian meminjam gitar itu, dan memainkan Denting dengan lebih lengkap. Saya menyanyikan penggalan-penggalan liriknya.

Mendengarnya, Mas Syarief bertanya. “Apa itu?”

“Soundtrack-nya Ada Apa dengan Cinta, Mas,” jawab saya.

“Ayo kita cabut dari sini sebelum jadi terlalu melankolis,” tukas Mas Syarief enteng, dan berlalu bersama Kang Yunus dan Mas Tikno.

Mbak Upi memanggil mereka semua kembali dari pelataran parkir karena speaker beserta kumparan kabel yang digunakan tadi belum dibereskan. Setelah semua rapi dan hampir semua anggota pulang, saya menghabiskan malam itu dengan bercengkrama bersama hingga Tobucil tutup. Satu lagi hari Minggu berlalu dengan menyenangkan serta hangat. Diskusi kami sore itu sempat menyimpulkan, bahwa isi lagu tidak selamanya berkorelasi dengan kenangan yang muncul di benak orang yang mendengarnya. Lagu itu bisa menumbuhkan kesan buruk, juga baik.

Namun, sejak saya mengenal Tobucil, ada begitu banyak lagu, melodi, puisi, juga cerita yang saya bagi dan dapatkan di sini. Mungkin suatu hari nanti, toko buku ini akan menjadi tempat bersejarah bagi saya, tempat yang penuh dengan pengalaman serta kenangan.

Kenangan dan melodi yang akan kami semua ukir sejak sekarang.




Dini Afiandri

Musik Klasik India

Minggu, 23 Januari 2011

Saya sempat tertegun ketika di Facebook terdapat grup Musik Klasik Indonesia (MKI). Secara naluriah saya sudah tahu bahwa ini pasti grup tentang Musik Klasik Barat yang umum itu (Bach, Beethoven, dsb), tapi ditujukan untuk penggemar musik semacam itu di Indonesia. Namun terdapat kerancuan juga, bagaimana jika mengartikan bahwa Musik Klasik Indonesia adalah angklung, karawitan, dan sebagainya? Rasa-rasanya boleh juga, dan gak salah-salah amat. Berangkat dari itu, maka Klab Klassik mengadakan diskusi soal Musik Klasik India, seolah-olah menyejajarkan posisinya dengan istilah Musik Klasik Indonesia. Kebetulan Kang Hardianto mau memberikan materi ini, terkait dengan pengalamannya studi S2 di India selama dua tahun. Pemaparannya cukup lengkap dan asyik. Dan menjadi menarik ketika segalanya bisa dikaitkan dengan Musik Klasik Barat.

Kang Hardianto memulai presentasinya dari deskripsi berbagai macam alat musik di India. Mulai dari sitar, sarod, sarangi, tanpura, esraj, santoor, dan tabla. Keseluruhan instrumen yang disebutkan tersebut, yang patut dicermati adalah kekhasan penggunaan dawai simpatetik yang sangat khas terdapat pada alat musik India. Dawai simpatetik adalah dawai kecil yang jumlahnya sangat banyak (hingga sembilan belas), dan berada tepat di bawah dawai utama. Gunanya adalah mengeraskan suara. Karena bahannya yang ringan, dawai simpatetik selalu ikut bergetar setiap dawai utama dibunyikan. Kang Tikno menambahkan, bahwa setelah diteliti, dawai simpatetik betul-betul cuma ada di India. Barat pernah mencoba, tapi gagal terus dan akhirnya tidak diteruskan.

Kang Hardianto juga menambahkan, bahwa di India, setiap minggu pasti ada pertunjukkan musik klasik ini. Mereka tampil di semacam amphiteater dan peminatnya masih sangat banyak. Hal tersebut menunjukkan upaya pelestarian musik klasik-nya masih sangat besar dan tidak mudah tergerus oleh arus instrumen barat. Adapun violin, instrumen yang akrab di barat, ternyata dimainkan dengan cara yang sama sekali berbeda oleh para musisi India. Lazimnya violin dimainkan dengan disimpan di bahu, dan dijepit oleh leher. Tapi di India, mereka memainkannya di daerah sekitar lengan dan dada.


dari kiri ke kanan: tabla, sitar, sitar, dan flute. gambar diambil dari sini


Terakhir, diungkapkannya pula bahwa instrumen musik India sering erat kaitannya dengan upacara keagamaan. Sederhana saja, karena para Dewa pun katanya bermain musik. Atas dasar itu, tak jarang mereka-mereka menyakralkan instrumen musiknya masing-masing. Memujanya dan kadang-kadang memberikan sesajen. Menurut Kang Hardianto, jangankan instrumen musik, benda-benda lainnya seperti buku, sapu lidi pun dihargai sebagaimana halnya makhluk hidup. Kafir, musyrik? Bisa saja, dalam kacamata tauhid sempit. Tapi ini justru cara tertentu dari bagaimana masyarakat India melestarikan alamnya.