Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, February 28, 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #3: Dari Deathmetal hingga Kerispatih

Minggu, 27 Februari 2011

KlabKlassik minggu keempat selalu diisi dengan edisi playlist. Yaitu berkumpul dan mengapresiasi musik sama-sama, atau bisa juga dinamakan active listening. Musik yang disetel itu sendiri berasal dari masing-masing yang datang, mereka membawa satu musik favorit yang dimasukkan ke dalam flashdisk. Kebetulan hari itu juga klab mengundang Ismail Reza, salah seorang penggiat Tobucil di masa lampau tapi juga sekaligus seseorang yang menurut Mba Tarlen adalah "pengamat progressive rock". Berduet dengan analis rutin klab yaitu Diecky K. Indrapraja, mereka menjadikan suasana playlist menjadi lebih hidup, berbobot, dan berwawasan.

Lagu pertama datang dari Hin-Hin. Gitaris band metal Beside tersebut membawa satu lagu dari band metal Swedia yang beraliran melodic deathmetal. Sebagai lagu pembuka, lagu tersebut cukup bising dan mengagetkan. Terutama liriknya yang kurang jelas dan hanya terdengar seperti teriakan-teriakan saja. Kata Hin-Hin, ia menyetel lagu ini untuk meluruskan, bahwa band-band metal tak selamanya menyuarakan lirik-lirik satanik. Di antaranya ada yang menyinggung isu politik, agama, bahkan cinta yang tak jarang dibalut syair-syair puitik. Mas Reza menambahkan bahwa ketidakjelasan lirik itu seperti yang sudah lumrah dan disengaja. Band-band tersebut seolah menjadikan suara vokal bukan lagi penyampai kata, tapi juga instrumen seperti halnya gitar, bas, dan drum. Padahal, lucunya, kata Mas Reza, lirik-lirik itu seringkali kompleks. Namun kenapa dibuat kompleks kalau ujung-ujungnya tak terdengar mereka ngomong apa?

Lagu berikutnya dari Bebeng, ia menyetel Music of The Night dari soundtrack Phantom of The Opera. Lagu ini gagah, orkestratif, dan jangkauan dinamikanya sangat luas. Beben menyukainya karena lagu tersebut punya nilai historis, ia jadi ingin menggeluti dunia choir gara-gara lagu ini. Mba Tarlen, pemilik Tobucil juga ternyata mengikuti forum ini. Lewat dua lagu yang ia bawa, yakni lagu White Stripes berjudul The Hardest Button to Button versi band dan orkestra, ia ingin menyuguhkan perbedaan keduanya. Namun forum tersebut sepakat bahwa versi band jauh lebih hidup. Padahal, White Stripes hanya bermodalkan dua orang dengan dua instrumen, yaitu gitar (merangkap vokal) dan drum. Kata Mas Reza, hebatnya White Stripes berasal dari vokalisnya, Jack White yang sangat menguasa blues. Blues, bagi Mas Reza, adalah syarat utama bagi sebuah lagu untuk menemukan feel-nya.

Setelah itu diputar berturut-turut lagu bawaan Nia yakni dari Daft Punk yang berjudul Something About Us. Lagu tersebut dikomentari Iyok dengan satu kata saja: "Galau!" Setelah itu lagu dari Mas Reza yaitu Sunn-O dengan judul cukup unik: megszentségteleníthetetlenségeskedéseitekért. Lagu kelam berdurasi sembilan menit tersebut bertemakan semacam mantra-mantra yang kerap diucapkan kala inkuisi gereja pada kaum bid'ah. Lagu tersebut disambut oleh lagu tak kalah absurdnya, yaitu Four Voice Canon dari Larry Polanski. Lagu tersebut berasal dari Diecky. Setelah dikuras otaknya oleh dua lagu terakhir tersebut, forum playlist didinginkan oleh tiga lagu terakhir yaitu lagu Paman Doblang dari Kantata Takwa (bawaan Kang Tikno), lagu dari Glee (Martina) dan lagu dari Kerispatih (Dini). Ketiganya menjadi penutup diskusi minggu itu.

Ternyata, selama ini musik hanya menjadi latar kehidupan kita saja. Ia dinikmati sebagai komponen tambahan. Namun ketika musik dinikmati sebagai musik: Kita mendengar dengan serius, diam, dan konsentrasi, maka ternyata hal tersebut adalah kegiatan yang cukup melelahkan juga. Dua jam setengah, sepuluh lagu, kami berkeringat, sakit kepala, gelisah, namun jangan-jangan secara batin menjadi sehat.

No comments: