Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Thursday, June 16, 2011

Diskusi KlabKlassik: Antara Gamelan Jawa dan Ruang Akustik

Bilawa A. Respati (Menunjuk wajah sendiri)



Minggu, 12 Juni 2011

KlabKlassik hari itu terdapat suasana yang lain. Sebelum dimulai, sayup-sayup terdengar musik dari Gamelan Jawa yang diputar via laptop milik Bilawa. Topik hari itu memang cukup unik, ada presentasi dari Bilawa Ade Respati mengenai keterkaitan antara musik Gamelan Jawa, ruang akustik, impuls otak, serta fisika terapan. Ini merupakan upaya dari Bilawa untuk "membumikan" skripsinya yang berjudul "Dampak Perubahan Parameter Akustik Musik Karawitan Jawa terhadap Parameter Fisioakustik". Lulusan Fisika Teknik ITB tersebut berupaya menjadikan skripsi akademik yang biasanya cuma berguna bagi ruang akademi itu sendiri, menjadi punya nilai bagi masyarakat secara umum.

Bilawa menggunakan beberapa perangkat untuk presentasi, mulai dari laptop, speaker, hingga power point yang ia rangkum dalam layar yang ia bawa sendiri. Dalam presentasinya yang dihadiri sekitar lima belas orang, cukup banyak termuat angka dan hitungan yang cukup rumit. Meski demikian, Bilawa memilih untuk tidak membahas angka-angka dan langsung pada esensi penelitian. Yang sesungguhnya mau ia bahas adalah tentang bagaimana terdapat suatu teori yang berkemampuan memparameterkan akutika ruangan berdasarkan musik klasik Barat beserta instrumennya. Bilawa lalu melanjutkan penelitian ini bukan dengan instrumen musik klasik Barat, melainkan dengan Gamelan Jawa.

Hasilnya, teori tersebut sukses diruntuhkan karena Gamelan Jawa mempunyai efek tersendiri bagi impuls otak. Selain itu, berdasarkan penelitian Bilawa terhadap delay dan reverb (suatu elemen krusial dalam akustik), Gamelan Jawa punya delay dan reverb yang terkandung dalam dirinya sendiri (dalam instrumen itu sendiri, yang disebut dengan Pela Yangan). Artinya, pagelaran Gamelan Jawa yang sering dipentaskan di pendopo yang semi-outdoor, sesungguhnya tidak sama dengan musik tradisi kita tidak mengenal gedung akustik. Musik tradisi kita, menurut Bilawa, justru lebih canggih: bahwa akustikanya terkandung dalam instrumen itu sendiri.

Bagi Bilawa, penelitian ini diharapkan punya sumbangsih tidak hanya bagi dunia keilmuan, tapi juga harga diri bangsa. Jika kacamata Barat seringkali menuduh musik tradisi terbelakang oleh sebab ketiadaan hitung-hitungan, maka lewat penelitian Bilawa ini, ternyata pengetahuan intuitif manusia Indonesia sejak dahulu telah amat matematis dan presisi. Selain itu, pertemuan KlabKlassik yang membahas skripsi-skripsi yang berkaitan dengan musik akan terus dilanjutkan. Diharapkan bahwa para akademisi mau dengan sadar turun dari "singgasana menara gading" untuk menerangkan penelitian akademiknya sehingga dapat dipahami dan berguna bagi masyarakat umum.

Berbincang dengan Teuku Ismail Reza: Persulit "Kangen PerWalian"!


Teuku Ismail Reza, atau biasa dipanggil Mas Reza, adalah penikmat musik yang belakangan aktif di KlabKlassik sebagai narasumber. Beberapa kali ia membawakan materi menarik semisal soal psikedelik dan pemutaran piringan hitam Those Shocking Shaking Days. Salah satu ciri khas Mas Reza, yaitu suara yang berat serta gaya bicara yang penuh gairah dan meledak-ledak, membuat banyak penggiat Tobucil maupun KlabKlassik mengaku senang mendengarkannya. Pria menikah kelahiran 30 Oktober ini mengaku bahwa aktivitas sehari-harinya adalah mendengarkan musik sambil bekerja (yang ia akui terpaksa) dan mencari-cari piringan hitam murah. Awal penyebab ia nongkrong di Tobucil adalah karena Mas Reza bertemu Mba Tarlen (pemilik Tobucil) pada tahun 2000 di Bandung Art Event dan setelah itu sering kumpul bareng dan akhirnya mengakui bahwa nongkrong di Tobucil adalah habit yang sukar dilepaskan. Berikut petikan ngobrol-ngobrol dengan Mas Reza, yang kebanyakan membahas seputar permasalahan musik di Indonesia:

Mas Reza adalah penikmat musik kan?
Iya.

Adakah musik yang tidak bisa dinikmati Mas Reza?
Ada, musik yg dimainkan secara asal-asalan. Dangdut juga keren kalau yang maennya menjiwai musik, bukan sibuk olahraga atau sok sexy. Sayangnya, musik yang asal-asalan ini semakin banyak dipasaran, terutama sekali di pasaran Indonesia.

Sampai saat ini, apa musik favorit Mas Reza? Atau secara spesifik, band favorit Mas Reza?
Tergantung mood, tapi semenjak tahun 1999, menjurus ke eksperimental rock -rangenya kan luas banget, dari yg aroma Jazznya kenceng sampai Noise jaya- kebeneran sekarang sih lagi suka sama genre Drone Doom Metal + Drone Metal semacam Sunn O))), Boris, The Body, Ascend, Earth, dan lain-lain. Di sisi lain yang juga sedang sering didengerin adalah para revivalists, mulai dari Cee Lo Green (Soul Revivals) sampai The Black Keys & The Heavy ( Motown + Blues + Soul revival). Kalau Band favorit sih banyak banget.... hehehehe ....

Mas Reza sering sekali terlihat kritis terhadap musik, termasuk musik Indonesia. Mari kita bicara banyak. Tentang musik Indonesia, bagaimana Mas Reza melihat musik Indonesia sekarang ini?
Musik Indonesia masih terlalu cemen-masak sekian banyak rakyat Indonesia cuman menghasilkan kualitas Kangen perWalian. Di sisi lain, banyak juga orang sok semacam D*a*i D**a yg kesannya jago banget, padahal kebisaannya nyontek dari lagu-lagu luar tahun 70an, parah lah!

Mas Reza apakah punya solusi?
Solusinya; pecat semua purchaser musik wakil major label di Indonesia, yang kerjanya memutuskan cd musik apa yg bisa edar di Indonesia. Mereka ini orang-orang nostalgik tapi nggak punya referens yg nggenah. Selain itu, larang dan persulit semua band ala Kangen perWalian, biar kelaparan dan bikin musik yang bermutu karena lapar dan marah Dimana-mana artis musik yang lapar dan marah akan menghasilkan karya-karya yang berbobot.

Kalau Mas Reza menjadi pemilik sebuah mayor label di Indonesia, apakah yang akan Mas Reza lakukan pertama kali?
Bikin aksi Urban Terror untuk mengkampanyekan musik bermutu di Indonesia. Memperbanyak produksi vinyl, menggratiskan mp3 - karena orang yg suka musik pasti akan cari format yg lebih representatif dan keren secara sound, dan mp 3 cukup efektif untuk menjadi sarana "coba sebelum membeli". Naon deui nya?

Bagaimana menurut Mas Reza peran ruang-ruang alternatif yang sedang marak dewasa ini dalam kontribusinya terhadap musik di Indonesia?
Peran ruang alternatif masih terbatas untuk menghadirkan musik yg enak didengar, bukan musik yg benar-benar bermutu menurut saya - memang sih kualitasnya agak diatas band ala Kangen PerWalian, tapi saya merasa lumayan stagnan.

Oke, kita ngomong yang lain. Mas Reza secara akademik berlatarbelakang arsitektur, adakah hubungan menarik yang bisa dilihat antara musik dan arsitektur?
Architecture is a frozen music.

Dalam aktivitas Mas Reza sebagai dosen arsitektur (Di UPH -red), adakah Mas Reza menggunakan musik sebagai pendekatannya?
Tergantung mata kuliahnya - ini ada satu yg lagi dicoba mata kuliah eksperimen menggunakan musik dan film-semoga berhasil dan mahasiswanya tidak jadi gila atau bikin agama baru yg mengkafirkan orang tuanya sendiri.

Oke, sebagai penutup, Adakah tips-tips khusus dalam menikmati sebuah musik? Misalnya, mencari ruang dan waktu yang pas, atau mengikuti perkembangan bandnya, atau apa, Mas?
Intinya memang musik itu merupakan cerminan dari kondisi sosio kultural masyarakatnya-makanya ngedengerin musik bukan melulu masalah musik enak nggak enak, tapi juga kemauan kita untuk memperluas wawasan dan menabung preseden. Mendengar musik adalah sebuah proses aktif, bukan sebuah proses pasif; jadi diperlukan kemampuan mendengar aktif yg dapat memilah-milah bunyi masing-masing instrumen, dan menyatukannya kembali dalam sebuah komposisi.

Baiklah terima kasih, Mas. Jaya selalu musik Indonesia!
Jaya selalu Boris dan Sun O)))!

KlabKlassik Edisi Playlist #6: Dari Pat Metheny sampai Jose Gonzales



Minggu, 22 Mei 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #6, seperti biasa digelar di minggu keempat pertemuan KlabKlassik. Masing-masing dari orang yang hadir membawa satu lagu untuk diputar dan didengarkan sama-sama. Jika beruntung, narasumber dan analisator Ismail Reza dan Diecky K. Indrapraja akan angkat bicara menyoal lagunya.

Di hari Minggu yang ceudeum itu, peserta playlist beberapa diantaranya hadir lebih cepat sebelum jam tiga sore. Ketika acara itu sendiri dimulai sekitar jam setengah empat, lagu yang sudah didaftarkan di operator Beben mencapai sebelas lagu. Akhirnya acara dibuka, dan ini dia ulasan-ulasannya.

1. Last Train Home - Pat Metheny
Lagu ini dibawa oleh Mas Daus atau Moh. Syafari Firdaus. Lagu ini sebetulnya pernah diputar oleh Martina di edisi sebelumnya, namun yang ini versinya agak berbeda. Kata Mas Daus, ia punya sejarah yang melankolik-romantik terhadap lagu ini. Awalnya ia tak tahu Pat Metheny sama sekali dan cuma diberi oleh kenalannya. Ketika mendengarkan lagu tersebut dalam kereta perjalanan pulang ke Bandung, ia merasa karya Letter from Home sangat mewakili perasaannya kala itu, "Padahal sebelumnya saya gak tahu judul lagunya apa, cuma dengar aja sambil tidur-tiduran."

2. Paranoid Android - The Section Quartet
Lagu ini dibawa oleh Nia Janiar. Versi asli dari Radiohead, digubah dengan cukup aman menurut pandangan Diecky. Tidak banyak perubahan komposisi dari karya orisinilnya, hanya perpindahan instrumentasi dari Radiohead ke kuartet gesek saja (dua biola, satu biola alto, dan cello). Yang asyik adalah perasaan-perasaan gelisah yang ditimbulkan oleh lagu bagian verse-nya, yang lalu disambung dengan bagian tengah yang "metalistik". Menurut Diecky, menanggapi Mas Daus yang mengusulkan bagian biola diganti saksofon, "Memang bisa, tapi instrumen gesek punya efek glissando yang menyebabkan suasana metalnya lebih asik." Glissando sendiri merupakan efek yang ditimbulkan dari jari-jari kita ketika menggeserkan posisi dalam dawai.

3. Lady Gaga Fuga
Lagu ini dibawa oleh Sebastian A. Nugroho. Ia mengambil karya tersebut dari Youtube, dan sepertinya lupa mencantumkan pemainnya. Karya fuga tersebut dimainkan pada piano, mengambil tema dari Bad Romance-nya Lady Gaga. Karya Fuga, kata Diecky, adalah karya yang populer di jaman Barok (abad ke-17) dan menonjolkan rajutan kalimat-kalimat musik yang susul menyusul dan sahut menyahut. Karya ini menarik karena bagi Bastian, "Fuga bisa juga dilakukan dengan materi lagu pop."

4. My Friend - Sweeney Todd
Karya ini dibawa oleh operator Adrian Benn atau Beben. Soundtrack dari The Demon Barber of Fleet Street ini dipilih oleh Beben karena menurutnya, "Asyik aja, ketika lagu ini dinyanyikan, meskipun berjudulkan My Friend, tapi sebetulnya si penyanyi menujukan 'friend' itu pada pisau belatinya." Di tengah-tengah lagu, lanjut Ben, terdengar ada suara penyanyi wanita yang muncul tapi cuma sebentar. Dalam film, si wanita ingin mengatakan bahwa "Akulah temanmu!", tapi apa daya si penyanyi pria kadung cinta pada pisaunya.

5. Bolero - Maurice Ravel (Aransemen oleh Frank Zappa)
Karya ini dibawa oleh Pak Tono Rachmad. Dosen Apresiasi Musik dari UPI tersebut memutar lagu sepanjang kurang lebih lima menit itu, dan membawa serta juga partiturnya. Beliau sebut karya ini sebagai "karya prosesual", karena dari awal musik hingga akhir, ada perkembangan dari sudut pandang nada, harmoni, instrumentasi maupun dinamika dari simpel ke kompleks. Bolero adalah tema dari tarian pergaulan di Kuba, dan dikomposisi ulang seorang Prancis bernama Ravel. Asyiknya, komposisi itu digubah ulang oleh seorang Amerika bernama Zappa yang membuat si karya itu menjadi unik secara instrumentasi dan warna bunyi.

6. You Suffer - Napalm Death
Karya ini dibawa oleh Patra Aditia. Karya ini sangatlah unik dan menarik perhatian karena cuma satu atau dua detik saja! Ia cuma berisi growl singkat dengan pukulan drum, bass, dan distorsi gitar secara simultan. Kata Patra, "Walaupun lagunya singkat, moga-moga diskusinya tidak singkat." Betul saja, diskusinya sendiri berlangsung selama hampir dua puluh menit. Kata Pak Tono, karya-karya seperti ini menunjukkan bagi kita pentingnya "diam". Karena tanpa diam ataupun kesunyian, bunyi sesungguhnya tidak punya arti. Yang menarik, dalam growl itu sesungguhnya, kata Google, ia mengatakan, "You Suffer, but why?"

7. Dalai Gama - Acid Mothers Temple & The Melting Paraiso UFO
Karya yang dibawa oleh Ismail Reza ini, seperti biasa, punya banyak unsur keanehan. Lagu yang dibuat tahun 2006 ini adalah hasil karya dari mahasiswa-mahasiswa-nya Karlheinz Stockhausen, seorang komposer kontemporer asal Jerman. Isinya cuma bebunyian elektronik tanpa tonal, tanpa gravitasi, tanpa nada dasar. Hanya spiral, mengembang, dan bunyi cuit cuit cuit. Iman, seorang musisi elektronik yang hadir juga hari itu menyebutkan, "Ini bukan soal enak gak enak, tapi kejutan-kejutan yang dihasilkannya, dan kemungkinan-kemungkinan yang dibuat di tengah lagu."

8. Bluebird of Delhi - Duke Ellington.
Karya ini dibawa oleh Al-Mukhlisiddin alias AM. Lagu ini begitu kental aroma jazz-nya, meskipun AM merasakan ada bau rock di dalamnya. Bagi Mas Reza, dalam karya ini, Duke Ellington sangat rendah hati. Ia seorang pemain piano dengan skill eksepsional, tapi bunyi pianonya malah tak terdengar dalam lagu ini! Karya ini juga, kata Nia, menjadi karya favoritnya di playlist hari itu.

9. True Romance Main Theme - Hans Zimmer
Karya ini dibawa oleh Dien Fakhri Iqbal Marpaung alias Iqbal. Karya ini sejuk, lembut, dan jauh dari absurd, tak seperti sebelum-sebelumnya. Tidak banyak yang dibahas dari karya yang diangkat dari film Quentin Tarantino ini, karena banyak orang betul-betul menikmatinya, diakibatkan sepanjang playlist mendengarkan musik-musik yang secara harmoni "kurang nyaman".

10. Dorotea - Jim Saku
Karya ini dibawa oleh Kang Tikno. Jim Saku adalah kependekan dari duo drum-bass Akira Jimbo dan Tetsuo Sakurai. Tidak seperti pada umumnya kala mereka membawakan lagu-lagu berteknik tinggi, dalam Dorotea mereka membawakan lagu lembut-melankolik-romantik. Patra menanggapi karya ini dengan menyamakan pada kecenderukan musik-musik yang dihasilkan oleh musisi Jepang pada umumnya, "Mereka skillful, berteknik tinggi, tapi ada unsur 'gelap', mewakili bagaimana cara pandang mereka terhadap teknologi yang apokaliptik, alih-alih mencerahkan." Ia mencontohkan soundtrack film Ghost in the Shell sebagai perbandingan.

11. Mere Words- Bobby McFerrin
Karya ini dibawa oleh Permata Andika Rahardja alias Mata. Bobby McFerrin mengusung teknik a capella dalam musiknya. Ketika sudah biasa dalam playlist menghadirkan karya-karya instrumentalia non vokalia, Mata tiba-tiba menyuguhkan karya vokalia non instrumentalia. "Two thumbs up," demikian seru kebanyakan hadirin tanpa banyak berkomentar. Bobby McFerrin sendiri terkenal dengan lagunya Dont Worry be Happy yang rajin menjadi soundtrack beberapa film seperti Flushed Away, The Simpsons, Nip/Tuck, Dawn of the Dead, dan Jarhead.

12. Heartbeats - Jose Gonzales
Karya terakhir ini dibawa oleh Haris. Menurutnya, setelah mendengarkan lagu ini, untuk pertama kalinya ia mau menelisik hingga ke sejarah lagu tersebut via Google maupun wikipedia. Sehingga lagu tersebut berarti tinggi karena membuat Haris menjadi "melek teknologi" (haha). Meskipun demikian, ia juga punya alasan-alasan objektif, seperti misalnya lagu itu sering diputar di iklan-iklan elektronik dan iklannya itu sendiri sangat menarik. Meskipun namanya berbau hispanik, Jose Gonzales, tapi ternyata ia adalah seorang Swedia.

Demikian kisahan Playlist hari itu, lagi-lagi pengalaman eksistensial masing-masing dibagikan di satu forum. Sebuah perayaan akan kemajemukan. "Jagat bunyi," kalau kata Diecky

Crafty Days #5: Musik Sore yang Menghebohkan

Minggu, 15 Mei 2011

Crafty Days edisi lima Tobucil, seperti biasa, memilih musik sebagai pamungkas acaranya. Karena diselenggarakan di waktu sore, maka dinamailah Musik Sore. Untuk Crafty Days ini, diundanglah empat pengisi acara, yang pertama adalah Ririungan Gitar Bandung, lalu disambung Grace dan Tesla, Yustinus Ardhitya, dan ditutup dengan Ammy Alternative Strings. Acara yang semestinya dimulai pukul setengah empat ini agak molor karena hujan dan pemasangan sound system yang cukup rumit. Sound System ternyata dipasang cukup serius, plus mixer dan speaker aktif yang mengelilingi beranda mungil Tobucil.
Penampil pertama adalah homeband Tobucil, yakni Ririungan Gitar Bandung (RGB) dari KlabKlassik. Dengan format ensembel gitar akustik, mereka membawakan empat karya sekaligus. Yang pertama Air on G String, lalu Drive My Car, La Cumparsita dan ditutup dengan Canarios. Kecuali lagu nomor dua, sisanya adalah lagu klasik "murni". Meski bermain cukup apik, namun penampilan dari RGB ini belum didukung penuh oleh sound system sehingga volume suara kurang banyak terdengar, terlebih lagi penonton sudah sangat memadati beranda sehingga suara semakin teredam.

Meski tadinya dijadwalkan Yustinus Ardhitya yang mengisi acara berikutnya, namun Grace dan Tesla menawarkan diri untuk main berikutnya. Duo gi tar-vokal ini, meski berbau jazzy, namun berulangkali mereka menekankan bahwa mereka tidak sedang main jazz. Bebas saja, katanya, mau diartikan apa. Mereka berdua membawakan dua karya, yakni Blackbird dari The Beatles, dan Putih Melati dari Guruh Soekarno Putra. Grace dan Tesla, meski cuma berdua, namun sukses menghadirkan suasana mistis. Hal ini terutama keluar dari suara vokal Grace. Berkali-kali ia minta mikrofon diberi reverb atau gema ternyata bukannya tanpa alasan, ia ingin memberi sentuhan mistis itu. Sayang sekali, akibat Grace merangkap jaga stand juga, maka ia cuma menyanyikan dua lagu.
Yustinus Ardhitya hadir berikutnya. Ia bermain gitar vokal dibantu rekannya dengan gitar pula. Ia membawakan karya-karya balada ciptaannya sendiri. Yustinus menampilkan empat lagu, membawa penonton pada suasana lirih, setelah RGB dengan keademannya dan Grace-Tesla dengan kemistisannya. Suara Yustinus termasuk impresif: serak-keras-bertenaga. Genjrengan gitarnya pun asyik dan mantap.
Penampil terakhir adalah Ammy Alternative Strings. Kang Ammy Kurniawan, pemain biola 4 Peniti, hadir beserta murid-muridnya, para pebiola. Kang Ammy sendiri kemarin tidak bermain biola, melainkan gitar. Mereka menampilkan banyak karya, mulai dari tradisional, klasik, hingga pop yang kesemuanya diaransemen ulang dengan gaya alternative strings. Yang paling menarik adalah kala kelompok tersebut membawakan Java Medley yang menampilkan lagu-lagu daerah seperti Cublak-Cublak Suweng, Gundul-Gundul Pacul, Cingcangkeling, Rek ayo Rek, Manuk Dadali dan lain-lain. Gaya alternative strings adalah gaya bermain biola yang bebas dan mengedepankan improvisasi. Walhasil, dengan sajian pemain berbanyakan sejumlah 24 orang plus groove gitar Kang Ammy yang asyik mengiringi, puncak acara Crafty Days pun ditutup dengan manis dan juga heboh.

Diskusi KlabKlassik: Pendidikan Sejarah dan Kewarganegaraan bersama Those Shocking Shaking Days


Hari itu KlabKlassik mengajak pendengarnya bernostalgia ke era tahun 70-an. Meskipun beberapa diantaranya belum lahir di tahun-tahun itu, tapi suasana “ke-dulu-an” tetap terasa. Keterlemparan itu dipicu oleh piringan hitam Those Shocking Shaking Days (TSSD) yang dibawakan oleh Ismail Reza. Album kompilasi berjudul lengkap Those Shocking Shaking Days: Indonesia Hard Psychedelic Progressive and Funk 1970-1978 itu (ironisnya) dirilis oleh Now Again Records dari Amerika Serikat dan mulai dipasarkan pada 8 Maret 2011. Di Indonesia sendiri album tersebut baru resmi dipasarkan pada 27 Maret.

Lewat piringan hitam yang menyuguhkan kualitas audio analog yang total, acara hari itu dimulai dengan pemutaran karya The Panbers berjudul Haai yang bagi Mas Reza, “Tidak kalah dengan Stairway to Heaven-nya Led Zeppelin.” Sangat enerjik, memabukkan, penuh kejutan, dan tidak menyangka bahwa band-band Indonesia zaman dulu demikian berkualitas. “Padahal, waktu itu era-nya serba terbatas dan terkungkung. Sekarang sudah serba terbuka, tapi kok kreativitas malah semakin rendah,” demikian lanjut Mas Reza.

Setelah itu lanjut diputar lagu-lagu psychedelic seperti Bad News dari The Rollies, Evil War dari Shark Move, Hear Me dari Golden Wing, Do What You Like dari AKA, Pemain Bola dari Rasela, Uang dari Duo Kribo dan banyak lagi. Total empat jam setengah dihabiskan forum hari itu untuk membahas dan mendengarkan seisi albumnya. Termasuk penutupan yang cantik dari “band lokal” Don’t Talk About Freedom dari The Gang of Harry Roesli. Kebanyakan dari lirik-lirik tersebut menggunakan bahasa Inggris, yang menurut Budi Warsito, seorang aktivis dari Rumah Buku, “Menghindari sensor yang ketat jaman itu.” Yang bagi Nia Janiar, justru menjadi hal yang disayangkan karena ia berharap band-band Indonesia menggunakan lebih banyak bahasa Indonesia.

Yang lebih menarik justru pembahasannya, terlebih ketika mempertanyakan ada apa dengan musik Indonesia saat ini? Pertama, sudah jelas bahwa musik hari ini sudah sangat fokus pada kepentingan-kepentingan industri. Yang artinya, keragaman ditekan, dan keseragaman diangkat. Sedang musim gaya pop melayu, maka semua band jika ingin laku haruslah juga pop melayu. Padahal, mendengarkan TSSD tersebut, sudah jelas bahwa Indonesia punya sejarah kreativitas musik yang sampai diakui hingga mancanegara. Yang kedua adalah soal sejarah. Bagaimana mungkin Barat sanggup meramu sejarah hingga ke jaman pra-sejarah sekalipun, tapi musik Indonesia dalam kurun waktu tiga puluh sampai empat puluh tahun ke belakang saja akurasinya masih dipertanyakan?

Demikian pertemuan hari itu menjadi renungan menarik tentang nasionalisme dan juga kesejarahan. Kang Tikno menutupnya dengan patriotik, “Mendengar album ini, saya jadi bangga menjadi orang Indonesia.”