Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Thursday, June 16, 2011

Diskusi KlabKlassik: Antara Gamelan Jawa dan Ruang Akustik

Bilawa A. Respati (Menunjuk wajah sendiri)



Minggu, 12 Juni 2011

KlabKlassik hari itu terdapat suasana yang lain. Sebelum dimulai, sayup-sayup terdengar musik dari Gamelan Jawa yang diputar via laptop milik Bilawa. Topik hari itu memang cukup unik, ada presentasi dari Bilawa Ade Respati mengenai keterkaitan antara musik Gamelan Jawa, ruang akustik, impuls otak, serta fisika terapan. Ini merupakan upaya dari Bilawa untuk "membumikan" skripsinya yang berjudul "Dampak Perubahan Parameter Akustik Musik Karawitan Jawa terhadap Parameter Fisioakustik". Lulusan Fisika Teknik ITB tersebut berupaya menjadikan skripsi akademik yang biasanya cuma berguna bagi ruang akademi itu sendiri, menjadi punya nilai bagi masyarakat secara umum.

Bilawa menggunakan beberapa perangkat untuk presentasi, mulai dari laptop, speaker, hingga power point yang ia rangkum dalam layar yang ia bawa sendiri. Dalam presentasinya yang dihadiri sekitar lima belas orang, cukup banyak termuat angka dan hitungan yang cukup rumit. Meski demikian, Bilawa memilih untuk tidak membahas angka-angka dan langsung pada esensi penelitian. Yang sesungguhnya mau ia bahas adalah tentang bagaimana terdapat suatu teori yang berkemampuan memparameterkan akutika ruangan berdasarkan musik klasik Barat beserta instrumennya. Bilawa lalu melanjutkan penelitian ini bukan dengan instrumen musik klasik Barat, melainkan dengan Gamelan Jawa.

Hasilnya, teori tersebut sukses diruntuhkan karena Gamelan Jawa mempunyai efek tersendiri bagi impuls otak. Selain itu, berdasarkan penelitian Bilawa terhadap delay dan reverb (suatu elemen krusial dalam akustik), Gamelan Jawa punya delay dan reverb yang terkandung dalam dirinya sendiri (dalam instrumen itu sendiri, yang disebut dengan Pela Yangan). Artinya, pagelaran Gamelan Jawa yang sering dipentaskan di pendopo yang semi-outdoor, sesungguhnya tidak sama dengan musik tradisi kita tidak mengenal gedung akustik. Musik tradisi kita, menurut Bilawa, justru lebih canggih: bahwa akustikanya terkandung dalam instrumen itu sendiri.

Bagi Bilawa, penelitian ini diharapkan punya sumbangsih tidak hanya bagi dunia keilmuan, tapi juga harga diri bangsa. Jika kacamata Barat seringkali menuduh musik tradisi terbelakang oleh sebab ketiadaan hitung-hitungan, maka lewat penelitian Bilawa ini, ternyata pengetahuan intuitif manusia Indonesia sejak dahulu telah amat matematis dan presisi. Selain itu, pertemuan KlabKlassik yang membahas skripsi-skripsi yang berkaitan dengan musik akan terus dilanjutkan. Diharapkan bahwa para akademisi mau dengan sadar turun dari "singgasana menara gading" untuk menerangkan penelitian akademiknya sehingga dapat dipahami dan berguna bagi masyarakat umum.

No comments: