Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Thursday, June 16, 2011

Diskusi KlabKlassik: Pendidikan Sejarah dan Kewarganegaraan bersama Those Shocking Shaking Days


Hari itu KlabKlassik mengajak pendengarnya bernostalgia ke era tahun 70-an. Meskipun beberapa diantaranya belum lahir di tahun-tahun itu, tapi suasana “ke-dulu-an” tetap terasa. Keterlemparan itu dipicu oleh piringan hitam Those Shocking Shaking Days (TSSD) yang dibawakan oleh Ismail Reza. Album kompilasi berjudul lengkap Those Shocking Shaking Days: Indonesia Hard Psychedelic Progressive and Funk 1970-1978 itu (ironisnya) dirilis oleh Now Again Records dari Amerika Serikat dan mulai dipasarkan pada 8 Maret 2011. Di Indonesia sendiri album tersebut baru resmi dipasarkan pada 27 Maret.

Lewat piringan hitam yang menyuguhkan kualitas audio analog yang total, acara hari itu dimulai dengan pemutaran karya The Panbers berjudul Haai yang bagi Mas Reza, “Tidak kalah dengan Stairway to Heaven-nya Led Zeppelin.” Sangat enerjik, memabukkan, penuh kejutan, dan tidak menyangka bahwa band-band Indonesia zaman dulu demikian berkualitas. “Padahal, waktu itu era-nya serba terbatas dan terkungkung. Sekarang sudah serba terbuka, tapi kok kreativitas malah semakin rendah,” demikian lanjut Mas Reza.

Setelah itu lanjut diputar lagu-lagu psychedelic seperti Bad News dari The Rollies, Evil War dari Shark Move, Hear Me dari Golden Wing, Do What You Like dari AKA, Pemain Bola dari Rasela, Uang dari Duo Kribo dan banyak lagi. Total empat jam setengah dihabiskan forum hari itu untuk membahas dan mendengarkan seisi albumnya. Termasuk penutupan yang cantik dari “band lokal” Don’t Talk About Freedom dari The Gang of Harry Roesli. Kebanyakan dari lirik-lirik tersebut menggunakan bahasa Inggris, yang menurut Budi Warsito, seorang aktivis dari Rumah Buku, “Menghindari sensor yang ketat jaman itu.” Yang bagi Nia Janiar, justru menjadi hal yang disayangkan karena ia berharap band-band Indonesia menggunakan lebih banyak bahasa Indonesia.

Yang lebih menarik justru pembahasannya, terlebih ketika mempertanyakan ada apa dengan musik Indonesia saat ini? Pertama, sudah jelas bahwa musik hari ini sudah sangat fokus pada kepentingan-kepentingan industri. Yang artinya, keragaman ditekan, dan keseragaman diangkat. Sedang musim gaya pop melayu, maka semua band jika ingin laku haruslah juga pop melayu. Padahal, mendengarkan TSSD tersebut, sudah jelas bahwa Indonesia punya sejarah kreativitas musik yang sampai diakui hingga mancanegara. Yang kedua adalah soal sejarah. Bagaimana mungkin Barat sanggup meramu sejarah hingga ke jaman pra-sejarah sekalipun, tapi musik Indonesia dalam kurun waktu tiga puluh sampai empat puluh tahun ke belakang saja akurasinya masih dipertanyakan?

Demikian pertemuan hari itu menjadi renungan menarik tentang nasionalisme dan juga kesejarahan. Kang Tikno menutupnya dengan patriotik, “Mendengar album ini, saya jadi bangga menjadi orang Indonesia.”

No comments: