Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, July 25, 2011

Musik Klasik masuk Pesantren

Minggu, tanggal 24 Juli kemarin, KlabKlassik dipercaya untuk mempresentasikan program-programnya di Pesantren Manba'ul Huda, daerah Cijawura. Hal tersebut dimungkinkan karena sang kepala sekolah, Rosihan Fahmi, menginginkan adanya sentuhan musik bagi siswa-siswinya. Katanya, "Agar pola berpikir mereka tidak jadi hitam putih."

Musik (as-sama') bukanlah sesuatu yang terlalu akrab dengan dunia keislaman, setidaknya itu yang menjadi stereotip. Aliran-aliran tertentu dalam Islam bahkan mengharamkan musik. Contoh konkritnya ada di Afghanistan. Ketika Taliban menguasai pemerintahan, mereka yang ketahuan memutar musik di rumah atau di mobilnya, akan dihukum. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa musik punya efek "memabukkan". Dalam kadar tertentu, musik dipercaya dapat membuat insan pendengarnya "melupakan Allah".

Namun pertanyaan kritisnya, apakah dengan demikian tidak ada musik dalam tubuh Islam itu sendiri? Coba dengarkan lantunan adzan ataupun seseorang yang mengaji. Dengan sentuhan "musikal" atau nilai-nilai estetika dalam lantutan tersebut, adzan ataupun ayat-ayat Al-Qur'an bisa lebih masuk ke hati daripada jika diucapkan secara datar. Aliran dalam Islam lainnya, seperti sufisme, bahkan mewajibkan musik sebagai syarat untuk tawajjud alias ekstase. Dalam ekstase ini, makhluk bersatu dengan khalik, tiada perbedaan antara keduanya. Artinya, haramnya musik adalah tergantung dari penggunaannya. Musik itu sendiri secara an sich barangkali susah didefinisikan. Karena apapun bisa jadi musik, seperti bunyi curahan air hujan atau orkestra kodok di sawah. Yang terpenting, tujuan dari penggunaan musik itu sendiri bukanlah untuk menjauhkan diri dari yang khalik. Melainkan justru untuk lebih mengenal-Nya.

Pro dan kontra, halal dan haramnya musik tidak menjadi halangan bagi KK untuk mengenalkan musik klasik di Pesantren Manba'ul Huda. Setiap hari Minggu jam 10.30, KK mendapat kesempatan untuk berbagi dan mengupayakan insan pendengarnya untuk menghargai apapun yang mereka dengarkan. Selain itu, KK juga akan berbagi tentang dasar-dasar bermain musik dalam format solo maupun ensembel. Tidak ada harapan berlebihan yaitu si murid harus mencapai tawajjud. Tujuannya sederhana saja, selain mengasah hati seperti yang kepala sekolah siratkan tadi, KK juga ingin membuat siswa-siswi pesantren mengenal musik secara lebih mendalam, sebagai salah satu ciptaan Allah yang agung.

KlabKlassik Edisi Playlist #8: Menyambut Ramadhan dengan Musik Religi


Secara sederhana, religi diartikan sebagai sistem kepercayaan. Lebih dari itu, religi biasanya dikaitkan dengan "sistem kepercayaan yang ditujukan untuk membangun spiritualitas". Contoh kegiatan religi yang cukup besar yakni Bulan Ramadhan - yang akan disambut oleh umat Islam dalam beberapa hari lagi saja-. Di dalamnya terkandung seperangkat latihan untuk membangun spiritualitas, mulai dari puasa dan shalat malam bersama-sama. Atas dasar itu, -sehubungan dengan kedekatannya dengan Ramadhan- pertemuan KlabKlassik Edisi Playlist berikutnya akan bertemakan "musik religi" atau jika dimaknai secara bebas: "Musik yang kamu percayai telah berhasil membangun spiritualitasmu".

Pertemuan ini akan berlangsung hari Minggu, tanggal 31 Juli 2011 jam 14.30 sampai 17.30. Sistem kepercayaan edisi playlist ini masih sama, yaitu masing-masing orang membawa satu lagu "religi"-nya dalam flashdisk, yang nantinya akan didengarkan sama-sama lewat laptop dan speaker yang sudah disediakan oleh pihak kami. KlabKlassik Edisi Playlist ditujukan untuk membangun kesadaran apresiasi, lewat saling mendengarkan musik yang barangkali bukan yang disukainya. Acara ini rutin dipandu oleh dua komentator yaitu Ismail Reza dan Diecky K. Indrapraja. Pertemuan akan dilaksanakan di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Terbuka untuk umum dan gratis.

Musik Klasik di Halaman Belakang

Akhir pekan di Bandung seringkali tidak membuat saya merasa bisa menikmati terputusnya siklus rutinitas. Kemacetan yang setia menanti dalam perjalanan biasanya membuat saya memilih untuk tinggal di rumah saja. Namun, hari itu saya memilih untuk menembus antrian panjang kendaraan, berputar-putar melewati jalur-jalur alternatif yang bisa membawa saya sampai ke Rumah Buku/Kineruku, sebuah perpustakaan yang terletak di Hegarmanah. Hari itu saya menginginkan akhir pecan bersama teman-teman, jauh dari keramaian, melakukan hal yang saya sukai, menikmati musik, lalu mengobrol tentang banyak hal; menikmati waktu istirahat.

Malam itu, Sabtu 23 Juli 2011, Rukustik #3 diadakan di Kineruku. Sebuah acara yang terselenggara atas kerjasama KlabKlassik dan Kineruku, yang juga didukung oleh teman-teman ITB Student Orchestra (ISO). Acara ini bertajuk, “Everything You Always Wanted to Know About Classical Music but Were Too Afraid to Ask.” Merupakan sebuah gagasan yang mencoba membangun komunikasi yang lebih baik antara penampil musik klasik dengan penonton, serta membawa musik klasik ke publik yang lebih luas dengan mempertunjukannya di luar suatu gedung konser.



Acara dimulai pukul tujuh malam, dibuka oleh Ariani Darmawan pemilik Kineruku dan Syarif Maulana dari KlabKlassik. Penonton disuguhi Air on G String karya Johann Sebastian Bach yang dibawakan dalam format ensemble biola dan flute dari teman-teman ISO. Kemudian disusul dengan penampilan gitar Ryan Sentosa yang membawakan karya Giulliani, Sonata Op. 15. Suasana yang awalnya agak ‘tegang’ mulai mencair saat duet Syarif Maulana dan Lutfi Farabi memainkan Polonaise Concertante dengan sangat ‘jujur’: kita akan menemui mereka janjian untuk memulai permainan, mengulangi satu bagian jika ada kesalahan, dan sekaligus melihat betapa mereka menikmati permainan di atas panggung.

Rentang karya yang dibawakan malam hari itu mencakup era renaisans hingga modern. Setelah duet Syarif dan Lutfi berturut-turut penonton disuguhi solo piano Todora membawakan Valse milik Chopin, duet violin piano oleh Ecko dan Ibrahim membawakan Humoresque karya Dvorak, duet violin Nabila dan Fida membawakan Hungarian Dance No.5 karya Brahms, Autumn Song karya Hohmann oleh duet violin Mei dan Poppy. Saya sendiri kemudian dapat giliran untuk menampilkan Koyunabab karya Domeniconi, kemudian disusul penampilan ensemble gitar Ririungan Gitar Bandung membawakan La Cumparsita karya Matos Rodriguez yang diaransemen composer Diecky K. Indrapraja dan Canarios karya Gaspar Sanz. Sesi penampilan ditutup oleh trio Ibrahim, Mei, dan Akbar membawakan Elegie karya Sostakovich. Mood dari periode late-romantic/modern kental sekali dalam komposisi ini, dalam alunan suara piano dan sahut-sahutan duet violin.


Penampilan Ensembel Gitar KlabKlassik alias Ririungan Gitar Bandung (RGB)
Foto oleh Wahdini Degayanti


Sesi diskusi kemudian dimulai, dipandu Ariani Darmawan dan Syarif Maulana. Tema pembicaran terpusat pada topik pengistilahan “classical music” serta pemaknaannya. Komposer Diecky K. Indrapraja serta dosen apresiasi musik Bapak Tono Rachmad ikut serta memberikan jawaban-jawaban dari sudut pandang akademisi. Beberapa penonton ikut serta dalam diskusi, walau topic yang kemudian berkembang menurut saya pribadi menjadi cukup berat bagi penonton yang masih awam. Pembedaan kata “classical”, “classic”, lalu kemudian berlanjut hingga pembahasan mengenai hubungan “kelas” dengan “musik” pada periodisasi tertentu. Acara ditutup oleh penampilan ISO membawakan bagian Largo dari komposisi Winter karya Vivaldi.

Merupakan sebuah pengalaman baru yang menyenangkan, di mana saya seperti mendapatkan akhir pekan saya kembali. Setiap orang menikmati pertunjukan dan seolah enggan untuk lansung membubarkan diri, masih memilih untuk mengobrol satu sama lain seusai acara. Bagi saya, acara ini seperti sebuah eksperimen. Di mana percobaannya adalah mencoba membawa musik klasik ke ruang-ruang publik yang lebih luas. Mencoba memberikan kesempatan kepada musisi-musisi muda untuk mendapatkan kesempatan perform. Mencoba menjembatani kaum akademisi, seniman, masyarakat umum untuk duduk bersama kemudian berbagi cerita, dengan satu sama lain mempelajari bahasa yang digunakan oleh masing-masing pihak. Akhir pekan yang memuaskan, dengan sajian musik klasik di halaman belakang.

Bilawa Ade Respati

Wednesday, July 20, 2011

Program KlabKlassik Akhir Minggu

Rukustik #3: Everything You Always Wanted to Know About Classical Music, but Were Affraid to Ask
Sabtu, 23 Juli 2011
Kineruku, Jl. Hegarmanah no. 52
19.00-21.00
(Konser dari KlabKlassik dan ITB Student Orchestra, diselingi dengan diskusi. Gratis.)

Workshop Apresiasi Musik
Minggu, 24 Juli 2011
Pondok Pesantren Al-Huda, Cijawura
09.00-12.00
(Perkenalan KlabKlassik pada siswa-siswi pesantren. Memasukkan musik sebagai suplemen dalam kehidupan beragama)

Munggah
Minggu,24 Juli 2011
Garasi 10, Jl. Rebana no. 10
18.00 - 21.00
(Acara musik yang digelar di garasi rumah sebagai bentuk penghayatan pra-Ramadhan. Menampilkan Orkes Keroncong Jempol Jenthik dan dibuka oleh KlabKlassik. Gratis.)

Belajar Musik bersama KlabKlassik
Minggu, 24 Juli 2011
Maestro 92,5 FM
22.00-23.00
(Program radio rutin setiap hari Minggu. Diisi oleh KlabKlassik yang pada hari itu akan berbicara tentang istilah musik klasik itu sendiri.)

Monday, July 18, 2011

Rukustik #3: KlabKlassik feat. ITB Student Orchestra (Konser dan Diskusi)




Rukustik #3: KlabKlassik featuring ITB Student Orchestra

Konser & Diskusi
Sabtu, 23 Juli 2011
Pk 19:00 WIB
(harap datang 15 menit sebelumnya)
Gratis.

Kineruku
Jl. Hegarmanah 52
Bandung

.

Musik klasik adalah istilah yang sering kita dengar. Namun, penggunaannya seringkali mengalami kerancuan. Misalnya, apakah musik klasik itu berarti musik ‘lama’, sehingga musik The Beatles atau Frank Sinatra pun dapat dikategorikan musik klasik? Atau, musik klasik itu adalah musik-musik non-populer? Bagaimana dengan Mozart dan Beethoven, bukankah mereka sebenarnya populer di jamannya? Dan lagi, atas barometer apakah suatu musik dapat dikategorikan sebagai musik populer?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jarang sekali ditanyakan. Orang sudah kadung menggunakan kata ‘musik klasik’ secara semena-mena. Ujung-ujungnya, karena pertanyaan-pertanyaan tadi dilupakan, tidak jarang istilah ‘musik klasik’ secara sederhana didefinisikan sebagai ‘musik yang eksklusif’. Titik. Atau dalam kalimat yang lebih lengkap, “Musik klasik adalah musik yang berat, berkelas, dan hanya mampu menjangkau kalangan tertentu.”

Atas dasar itu, kami merasa perlu mengadakan dialog mengenai musik klasik itu sendiri lewat sebuah konser sekaligus diskusi. Concert hall adalah tempat biasa digelarnya pertunjukan musik klasik, namun di sana minim kesempatan untuk berinteraksi dua arah, sehingga penonton yang datang seringkali manggut-manggut saja menikmati apapun yang tersaji. Acara Rukustik yang diadakan secara regular di Kineruku dipilih karena keinginan kami untuk mendekatkan pemain dan penonton, yang diharapkan dapat bertanya dan bersikap kritis terhadap musik yang dibawakan. Dengan demikian, terbuka kemungkinan adanya pemilahan secara jernih antara bungkus dan isi musik klasik. Mana yang esensial, dan mana yang semata-mata berperan sebagai pembentuk stereotip ‘berat dan eksklusif’.

.

Repertoire yang dibawakan:

“Sonata Op. 15 Mov. 1″
Ciptaan: Mauro Giulliani
Penampil: Ryan Sentosa
Instrumen: Gitar (solo)

“Polonaise Concertante”
Ciptaan: Mauro Giulliani
Penampil: Syarif & Lutfi
Instrumen: Gitar (duet)

“Valse Op. 69 no. 2″
Ciptaan: Frederic Chopin
Penampil: Todora Nadya T. Silitonga
Instrumen: Piano (solo)

“Humoresque”
Ciptaan: Antonin Dvorak
Penampil: Ecko F. Manalu & Ibrahim
Instrumen: Violin & Piano (duet)

“Hungarian Dance no. 5″
Ciptaan: Johannes Brahms
Penampil: Nabila Khrisna & Fida Amalia
Instrumen: Violin (duet)

“Autumn Song”
Ciptaan: Hohmann
Penampil: Arina Resyta & Poppy Rahayu
Instrumen: Violin (duet)

“The Swan”
Ciptaan: Cammile Saint-Saƫns
Penampil: Aminah Nuraini, Aulia Fajar Rahmani, Guntario Sukma Cahyani, Irvito Adhy Sanjaya & Pandu Narendradewo
Violin & Piano (ensemble)

“Koyunbaba”
Ciptaan: Carlo Domeniconi
Penampil: Bilawa Ade Respati
Instrumen: Gitar (solo)

“La Cumparsita”
Ciptaan: Matos Rodriguez (arr. Diecky K. Indrapraja)
Penampil: Ririungan Gitar Bandung
Instrumen: Gitar (ensemble)

“Canarios”
Ciptaan: Gaspar Sanz
Penampil: Ririungan Gitar Bandung
Instrumen: Gitar (ensemble)

“Elegie”
Ciptaan: Dimitri Sostakovich
Penampil: Ibrahim Adrian Nugroho, Meirita Artanti Putri, Teuku Fawzul Akbar
Instrumen: Violin & Piano (ensemble)

.

Profil Penampil KlabKlassik

Bilawa Ade Respati
Belajar gitar secara serius mulai di usia 14 tahun pada Benjamin Limanaw dan kemudian pada Ridwan B. Tjiptahardja. Beberapa kali resital bersama grup trio Tiga Gitar dan kuartet Tiga Gitar Plus Satu (2008, 2009), duet dengan Widjaja Martokusumo (Romantic Music at Kerkhoven, 2009) serta berpartisipasi dalam konser di Bandung maupun Jakarta. Beberapa kali mengikuti kompetisi musik, juara 2 Yamaha Student Contest tingkat Jabar, Jabodetabek, dan Sumatera (kategori senior, Jakarta, 2007), juara 1 Yamaha Student Contest tingkat kota Bandung (kategori senior, Bandung, 2007), dan finalis dari Kompetisi Gitar Klasik UNY (Yogyakarta, 2006). Aktif di komunitas KlabKlassik, Ririungan Gitar Bandung, sebagai freelance acoustician/building physics engineer, dan mengajar gitar klasik.

KlabKlassik Guitar Duo
Merupakan proyek kolaborasi antara gitaris Syarif Maulana dan Luthfi Farabi.

Luthfi Farabi adalah gitaris dan pengajar di Sinfonia Music Center, belajar gitar pada gitaris Ridwan B. Tjiptahardja. Aktif berpartisipasi dalam konser di Bandung dan pernah menyelenggarakan resital tunggal (A Guitar Recital by Luthfi Farabi, 2010).

Syarif Maulana belajar gitar klasik sejak usia 12 tahun pada Kwartato Prawoto dan Ridwan B. Tjiptahardja. Pada tahun 2005 bersama kawan-kawan mendirikan KlabKlassik. Aktif mengikuti berbagai konser, ujian, maupun kompetisi. Pada tahun 2006, Syarif menyelenggarakan resital tunggal debutnya pada usia 20 tahun di Auditorium CCF. Syarif juga menjuarai beberapa kompetisi, seperti juara III Bandung Spanish Guitar Festival dan juara harapan III Festival Gitar Nasional Excellent di Jakarta.

Tidak hanya di bidang musik klasik, Syarif juga bermain secara reguler di hotel maupun kafe seperti Hilton, Sheraton, Papandayan, Selasar Sunaryo, dan Cafe Rumah 1930. Sekarang Syarif aktif sebagai pengajar gitar klasik di sekolah musik Allegria; menjadi koordinator KlabKlassik di Tobucil; aktif mengajar filsafat di Tobucil maupun di rumahnya, Garasi 10; menulis untuk blog pribadi dan blog Tobucil; serta menjadi dosen mata kuliah Logika di Universitas Padjajaran. Meski demikian, cita-cita tertinggi Syarif adalah menjadi pelatih sepakbola profesional.

Ririungan Gitar Bandung
Ririungan Gitar Bandung adalah ensemble gitar yang terbuka untuk umum, berlatih dan bersilaturahmi setiap 2 minggu sekali di hari minggu siang. Anggotanya tidak pernah tetap karena merupakan ensemble yang sangat terbuka, memberikan kesempatan berapresiasi dan tampil bersama bagi siapa pun. Pernah mengadakan konser Ririungan Gitar Bandung: Maen (2009) serta berpartisipasi dalam beberapa konser di Bandung. Anggotanya saat ini adalah Yunus Suhendar, Kristianus Tri Adisusanto, Ato Hardianto, Aldi, Syarif Maulana, dan Bilawa Ade Respati.

.

Profil Penampil ITB Student Orchestra

Ecko F. Manalu adalah lulusan teknik informatika ITB, aktif sebagai violinist ITB Student Orchestra, violinist dan mellophonist St. Laurentius Chamber Orchestra, dan pemain french horn Pavana Woodwind Quintet. Selain itu Ecko juga aktif di GKI Maulana Yusuf String Ensemble sebagai violinist dan arranger, pengajar Padus GKI Gatot Subroto.

Ibrahim Adrian Nugroho mulai belajar piano di bawah bimbingan Bapak Dwi di Braga Musik School Bandung pada saat kelas 5 SD, kemudian melanjutkan bimbingan piano di bawah asuhan Bapak Stephen Michael Sulungan. Ibrahim lulus ujian teori musik pada tahun 2006 dan ujian praktik Associated Board of the Royal Schools of Music (ABRSM) tingkat 8 pada tahun 2007.

Nabila Khrisna Dewi adalah mahasiswa Fisika ITB angkatan 2008. Mulai belajar biola sejak November 2008.

Fida Amalia Fathimah adalah mahasiswa Teknik Industri ITB angkatan 2007 dan telah aktif di ITB Student Orchestra sejak tahun 2008.

Ryan Sentosa
Ryan Sentosa adalah mahasiswa ITB angkatan 2010 yang belajar bermain gitar sejak 2006. Ia mengikuti les gitar klasik selama 2 tahun di Purwacaraka.

Aminah Nuraini adalah mahasiswa Teknik Informatika ITB 2009 yang belajar memainkan biola sejak 2009 dari I Nyoman Mahendra.

Aulia Fajar Rahmani belajar musik tahun 2007-2008 secara privat dan dilanjutkan tahun 2010 lewat ekskul musik SMAN 3 Bandung. Kini ia mahasiswa Teknik Lingkungan ITB angkatan 2010.

Guntario Sukma Cahyani mahasiswi Sains dan Teknologi Farmasi ITB angkatan 2009, belum lebih dari setahun belajar piano dibawah bimbingan Lina.

Irvito Adhy Sanjaya, mahasiswa Manajemen Rekayasa Industri ITB 2010, mempelajari musik flute sejak 2007 di bawah bimbingan Hery Udo dan biola di bawah bimbingan Weny Daratama.

Pandu Narendradewo mahasiswa SBM ITB angkatan 2009 yang mulai belajar musik sejak SMP. Ia pernah dibimbing oleh I. Nyoman Mahendra dan Ammy C. Kurniawan.

Arina Resyta, mahasiswa Arsitektur ITB angkatan 2010, belajar piano sejak kelas 6 SD hingga kelas 3 SMP. Mulai belajar bermain biola di kelas 2 SMP, namun tidak berlangsung lama. Kini Arina mulai mengikuti les biola di Swara Moriska.

Poppy Rahayu belajar musik dari tahun 2002 di sekolah musik Chic’s. Saat ini ia berkuliah di jurusan Seni Lukis FSRD ITB, angkatan 2010.

Meirita Artanti Putri adalah mahasiswa Planologi ITB 2007 yang pertama kali bermain biola saat SMA lewat bimbingan Henry Virgan.

Teuku Fawzul Akbar adalah mahasiswa Teknik Fisika ITB 2009, belajar biola sejak 2008 pada I Nyoman Mahendra.

Todora Nadya T. Silitonga Dora, mahasiswi Sains dan Teknologi Farmasi ITB angkatan 2010, belajar musik sejak kelas 1 SD di Pekanbaru.

.

Tentang KlabKlassik

KlabKlassik (KK) adalah komunitas dan ruang apresiasi musik klasik yang berdiri di Bandung pada tanggal 9 Desember 2005. Dasar kemunculannya tidak lepas dari stereotip orang kebanyakan yang menganggap musik klasik sebagai musik yang eksklusif, kompleks, berat, dan serius. Meski stereotip itu terkadang ada benarnya, namun musik klasik ternyata bisa “terjangkau”, santai, sederhana, dan membumi juga, jika berhasil memilah mana yang menjadi inti, dan mana kemasannya. Sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, KlabKlassik mencobanya lewat berbagai acara diskusi santai, konser musik klasik yang jauh dari kesan eksklusif, serta keterbukaan tukar pikiran via milis maupun blog.

Pada awal didirikannya, KlabKlassik hanya diniatkan sebagai kelompok musik insidental yang tampil pada acara JazzAid: Jazz untuk Korban Tsunami pada Februari 2005. Kala itu yang tampil adalah empat gitar yang terdiri dari Royke Ng, Christian Reza Erlangga, Ahmad Indra dan Syarif Maulana. Setelah penampilan tersebut, timbul dorongan dari Dwi Cahya Yuniman, koordinator KlabJazz (komunitas musik jazz), untuk membangun sebuah komunitas.

Dorongan tersebut akhirnya dicoba direalisasikan setelah mendapat kesempatan berkumpul sebulan sekali di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Akumulasi dari kumpul-kumpul tersebut salah satunya berhasil mencetuskan ide untuk membuat sebuah pagelaran musik klasik bernama Classicares. Penyelenggaraan Classicares yang diadakan pada 9 Desember 2005 di Gedung Asia Afrika Cultural Center (sekarang Majestic), dianggap sebagai titik tolak kelahiran KlabKlassik sebagai komunitas yang mandiri. Sejak saat itu, penyelenggaraan konser secara berkala menjadi agenda rutin KlabKlassik disamping acara kumpul-kumpul yang terus berjalan.

Sejak pertengahan tahun 2007, KlabKlassik resmi berkomunitas di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Kepindahan tersebut juga menandai munculnya beberapa agenda baru KlabKlassik, yang lahir dari proses evaluasi dan otokritik tiada henti. Agenda baru tersebut menggiring KlabKlassik untuk tidak melulu berkutat di ranah komunitas, melainkan juga ruang apresiasi, yang mana mendorong KlabKlassik untuk semakin membuka diri.

.

Tentang ITB Student Orchestra

ITB Student Orchestra (ISO) didirikan pada tanggal 2 Maret 2005 dan diresmikan sebagai sebuah unit kegiatan mahasiswa pada tanggal 8 Agustus 2005. ISO didirikan oleh mahasiswa secara swadaya dan mandiri sebagai sebuah orkestra mahasiswa di sebuah perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan seni musik.

ISO terus berkembang dari tahun ke tahun. Dari hanya sebuah kelompok seksi gesek berkekuatan 6 orang, menjadi sebuah orkestra yang mampu menawarkan pilihan keragaman bentuk orkestra. Kini ISO bermain dalam format string quartet yang terdiri dari 4 orang hingga chamber orchestra dengan 40 pemain. Repertoire ISO pun semakin berkembang, mulai dari lagu klasik hingga pop, rock dan etnik.

Dalam mengelola organisasi serta mengeksplorasi musiknya ISO bermitra dengan berbagai macam pihak, seperti Republic of Entertainment selaku event organizer, Addie M.S. sebagai musikus profesional, Orkes Simfoni Universitas Indonesia, Orkes Simfoni Bumi Siliwangi, Bandung String Ensemble, KlabKlassik, dan lain-lain.

***

Sunday, July 17, 2011

Persembahan dari AAS: Let's Play Violin 2!

Ammy Alternative Strings (AAS) bukanlah nama baru di antara kegiatan Tobucil. Tercatat sudah dua kali AAS tampil di beranda. Pertama ketika gelaran Musik Sore Tobucil, yang kedua adalah baru-baru kemarin ini, Crafty Days #5. Kang Ammy Kurniawan sebagai penggagas AAS itu sendiri, pernah mengadakan workshop bermain biola di Tobucil.

Penampilan AAS di Tobucil kala Crafty Days #5

Hari Minggu, 17 Juli kemarin, AAS mengadakan home concert-nya yang kedua. Setelah sukses digelar tanggal 23 Desember tahun 2009 dengan tajuk Let's Play Violin, AAS mengadakan edisi sekuelnya dengan judul Let's Play Violin 2. Berbeda dengan jilid satu yang diselenggarakan di Auditorium CCF, AAS kali ini bermain di Bumi Sangkuriang. Seperti biasa, AAS tampil dengan format anak-anak didik Kang Ammy yang seluruhnya bermain biola, diiringi oleh band, termasuk oleh Kang Ammy sendiri yang juga fasih dengan gitar.

Konser ini dibuka dengan penampilan solo Ilham Akbar yang membawakan lagu Indonesia Raya. Penonton berdiri dan ikut menyanyi, sehingga suasana menjadi cukup khusyuk. Tema Let's Play Violin 2 ini adalah memasyarakatkan lagu-lagu daerah. Kata Kang Ammy, "Harusnya sebelum orang mencari ke luar, gali dulu apa yang ada di negeri sendiri." Lagu-lagu daerah itu sendiri dibawakan dalam format medley. Misalnya, ada Java Medley, isinya mencakup lagu tradisional Jawa seperti Cingcangkeling dan Tanduk Majeng. Demikian ada juga Sulawesi Medley, Kalimantan Medley, meskipun ada juga lagu yang tampil "sendiri" seperti Janger dan Yamko Rambe Yamko. Seperti biasa, kang Ammy juga selalu menyelipkan lagu ciptaan sendiri seperti Kupu-Kupu Kecil, Duo Etude, dan Rose for You.

Kang Ammy sukses mengemas pertunjukkan AAS ini menjadi atraktif. Yang digali tidak cuma harmoni dan kekompakan musikal, tapi juga penampilan visual. Meskipun relatif sederhana, namun terlihat jelas bahwa Kang Ammy mengorganisasi beberapa koreografi. Ini menjadi nilai plus ketika instrumen biola secara stereotip sering dikaitkan sebagai alat musik yang dimainkan dengan duduk dan membaca partitur. Kang Ammy secara berani mengacaukan imej tentang instrumen biola dengan membawanya berlari, menari, dan melenggak-lenggok.

Duet Kang Ammy dan Bimo di Let's Play Violin 2.

Kang Ammy Kurniawan adalah musisi yang cukup aktif tidak hanya di blantika musik Bandung tapi juga nasional. Ia sering mengisi rekaman dan menjadi additional player untuk band seperti Nidji, Mocca, Ari Lasso, dan Hijau Daun. Ammy juga pernah menjadi bagian dari Violin All-Star yang tampil di RCTI bersama Henri Lamiri, Didit, dan Oni. Bandnya, 4 Peniti, cukup aktif dan dikenal. Sudah mengeluarkan satu album dan reguler tampil di Jakarta International Java Jazz Festival. Meski demikian, dari seluruh aktivitas musiknya, ia mempunyai tendensi untuk melabuhkan hatinya di bidang pengajaran dan komposisi. Terbukti dari kegiatan mengajarnya di Jalan Progo nomor 15 yang semakin berkembang serta produktivitasnya yang tinggi dalam menulis karya baru.

Saturday, July 16, 2011

Upaya Pengarsipan

Salam Barok,

Beberapa hari yang lalu kami mengadakan bincang-bincang singkat dan menghasilkan satu ide yang memerlukan kerjasama kita semua. KlabKlassik -komunitas non-profit pecinta musik klasik sejak tahun 2005-, bermaksud mengumpulkan data dari para komposer dan instrumentalis di Bandung (baca: vokalis termasuk instrumentalis). Hal tersebut bertujuan untuk hal-hal berikut ini:

1. Memudahkan penyebaran informasi konser, workshop, atau acara-acara lainnya.
2. Memudahkan pencarian komposer, musisi, atau guru musik untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu.
3. Menunjukkan semangat kebersamaan dan silaturahmi yang erat dari penggiat musik di Bandung.

Adapun pengarsipan ini akan diperbaharui per caturwulan atau setahun tiga kali. Misalnya: arsip yang dikumpulkan sekarang adalah untuk informasi bulan September - Desember 2011. Nanti akan ada pengarsipan baru untuk bulan Januari - April 2011. Siapapun yang memerlukan arsip ini, bisa menghubungi kami dan akan dikirim via email dalam format PDF.

Perlu diketahui bahwa semua hal yang berkaitan dengan kegiatan ini adalah gratis. Kami tidak memungut biaya bagi pengarsipan, kami juga tidak memungut biaya dalam pengiriman e-mail. Kegiatan ini murni berdasarkan alasan-alasan yang non-komersil. Hal yang berkaitan dengan kekurangan-kekurangan mohon segera disampaikan. Kami akan menampung secara terbuka karena kegiatan ini juga terbilang baru dan akan dipenuhi rintangan.

Komposer atau instrumentalis yang masuk ke dalam pengarsipan ini dibatasi sementara untuk yang berdomisili di Bandung. Silakan e-mail data diri dan foto ke syarafmaulini@gmail.com atau bilawarespati@ymail.com. Data diri meliputi poin-poin berikut ini:

1. Nama lengkap :
2. Nama panggilan :
3. Alat musik yang dikuasai :
4. Tempat tanggal lahir :
5. Nomor telepon :
6. E - mail / Facebook / Twitter :
7. Alamat rumah :
8. Prestasi (konser / ujian / rekaman / bergabung dengan orkes / dsb):
9. Karya yang pernah dibawakan / ditulis :
10. Aktivitas musik (misal: wedding entertainment, mengajar di sekolah musik, pemilik studio band, jual beli alat musik, dll)
11. Aktivitas non-musik (misal: dosen, penulis, pelatih sepakbola, dll):

Silahkan kirimkan data dirinya untuk membantu kami dalam pengarsipan komposer dan instrumentalis di Bandung. Kegiatan ini dikelola oleh Syarif Maulana, Bilawa A. Respati, Diecky K. Indrapraja dan Brigitta Arum Setyorini.

Akhirul kata, atas kerjasamanya kami ucapkan: Bach Memberkati.

Friday, July 15, 2011

KlabKlassik: Meneropong Musik Klasik dari Beranda Toko Buku


Petikan gitar akustik melayang di udara; terbang ke jalan raya. Suaranya berderap, bersahutan, tetapi tertib seperti barisan semut yang mengangkut remah makanan. Gesekan cello lalu mengiringi. Seorang pendengar menajamkan telinganya. Suara ini berbeda dengan yang biasa ditemukannya di radio atau televisi. Ia menghampiri sumbernya. Langkahnya berakhir di beranda sebuah toko buku kecil. Para musisi masih sibuk memainkan instrumennya, tetapi pesan mereka sudah jelas: “Halo! Selamat datang di KlabKlassik!”

Berbagi beranda dengan sekelompok orang yang tekun merajut, Minggu sore (12/12) para penggiat KlabKlassik sedang berlatih dalam bentuk ensambel. Empat gitaris dan seorang cellist duduk mengelilingi meja kayu tempat partitur diletakkan. Sementara yang lain menyimak, jemari musisi-musisi ini lincah berpindah membunyikan instrumen musiknya. Pandangan mereka lekat pada not-not balok. Saat lagu selesai, masing-masing langsung mengomentari permainannya:

“Mas Yunus, senarnya ada yang mati ya?” tanya Diecky, pengaransemen lagu. “Padahal di bass-nya ada bagian yang enak. Sebaiknya sebelum main nanti diganti atau pinjam gitar teman.”

“Saya ketinggalan di bagian D,” kata Trisna, gitaris ketiga.

“Tantangan memainkan lagu dansa adalah bagaimana membuat pendengarnya berdansa,” ujar Syarif, koordinator klab. “Sebetulnya di setiap bagian ada nada yang menonjol. Kalau kita terpeleset, paling nggak nada itu mesti keluar.”

“Ulang?” pinta Trisna.

“Ga, Pat,” gitaris pertama, Kris, memberi aba-aba. Dan lagu pun kembali dimulai.

Kris dkk. membawakan “La Cumparsita” (“Parade Kecil”), salah satu lagu berirama tango paling populer sedunia. Lagu gubahan komponis Uruguay, G.H. Matos Rodriguez (1897-1948), ini menjadi musik latar dalam lebih dari dua puluh lima film, antara lain Some Like It Hot-nya Marilyn Monroe (1959), serta Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004). Saking cintanya kepada “La Cumparsita”, Uruguay mengajukan protes resmi ketika Argentina menggunakannya sebagai pengiring kontingen mereka pada pembukaan Olimpiade Sidney.

Beberapa hari lagi, KlabKlassik akan tampil dalam sebuah pertunjukan musik klasik di Universitas Padjadjaran. “La Cumparsita” termasuk repertoar yang hendak dimainkan. “Padahal kuartet gitarnya baru dibentuk Jumat kemarin,” ungkap Trisna sembari tertawa. Untungnya KlabKlassik Guitar Quartet terdiri dari wajah-wajah yang sering meramaikan pertemuan mingguan KlabKlassik. Selain Kris dan Trisna, ada juga Yunus sebagai gitaris kedua, serta Aldi yang memetik gitar pengganti flute. Keempatnya sudah saling mengenal sehingga latihan pun terasa akrab. Kebetulan sore itu hadir pula seorang cellist bernama Ferry Matias. Ferry lantas ditodong ikut menggesek cello-nya.

“Nah, sekarang sudah lumayan enak,” tukas Syarif, setelah berkali-kali percobaan. “Kamis besok kita latihan lagi di rumah saya. Sekarang kita bicara dulu tentang teknis pementasan. Saya dan Diecky punya ide bikin buklet informasi buat dibagikan ke penonton. Sebetulnya panitianya nggak minta, tapi kita inisiatif saja. Menurut kalian isinya apa?”

KlabKlassik adalah komunitas pencinta musik klasik di Bandung. Berdiri sejak 9 Desember 2005, komunitas ini berkembang sebagai ruang apresiasi dan edukasi alternatif di luar sekolah-sekolah musik yang cenderung formal dan kompetitif. KlabKlassik tak mengenal sistem keanggotaan. Siapapun boleh bergabung dengan cuma-cuma. Para penggiatnya biasa bertemu setiap Minggu jam satu siang di Tobucil, toko buku berbasis komunitas di Jl. Aceh No. 56. Pertemuan ini biasanya dimanfaatkan untuk berlatih dan berdiskusi dalam suasana kekeluargaan.

“Sampai sekarang kami sendiri masih sering bingung, ‘Musik klasik itu apa, sih?’,” tutur Syarif, mahasiswa pascasarjana yang belajar gitar klasik sejak sepuluh tahun silam. “Waktu pertanyaan ini dilempar ke teman-teman, jawabannya macam-macam. Ada yang menjawab musik seni, musik yang ‘dipetik’, musik sastra, musik serius ... padahal kalau Peterpan didengarkan serius, jadinya juga musik serius, kan?”

Sebutan ‘Musik Klasik’ (Classical Music) mengemuka pada abad ke-19 di Eropa. Awalnya kata klasik dipakai untuk merujuk masa keemasan periode Barok. Pada masa itu sederet musisi besar, seperti Haydn, Mozart, Beethoven, dan Schubert, menghasilkan karya-karya terbaiknya yang tak lekang dimakan waktu (classic). Maka ‘Musik Klasik’ digunakan sebagai sebutan bagi semua musik serius yang berkembang di Eropa pada periode Klasik, 1750-1830. Sebutan itu kemudian mengalami perluasan makna. Sekarang musik klasik tak hanya digunakan untuk menyebut musik yang dihasilkan pada periode Klasik, tetapi semua musik serius yang berkembang dari abad ke-11 sampai saat ini.

“Di Indonesia kata klasik berkonotasi tua,” timbrung Diecky, musikolog lulusan Sekolah Tinggi Musik Bandung. “Kita sering mendengar sebutan ‘radio klasik’, ‘kamera klasik’, atau ‘mobil klasik’.” Seringkali orang keliru menyebut musik-musik dari dekade sebelumnya – misalnya lagu Utha Likumahuwa dari dekade ’80-an – sebagai musik klasik.

Konon, musik klasik pertama kali masuk ke ‘Indonesia’ ketika Inggris menguasai Jawa, 1811-1816 (Tempo, 5 April 2004). Batavia pada pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles memiliki slogan ‘Beauty, Music and Wine’. Musik klasik lantas menjadi bagian acara makan malam di rumah-rumah kalangan menengah ke atas. Alhasil banyak orang menganggap musik klasik sebagai musik yang eksklusif. Hanya kalangan tertentu yang dapat menikmatinya. Mahalnya instrumen musik klasik dan besarnya biaya untuk mempelajarinya semakin mengukuhkan anggapan ini.

Uniknya kesan eksklusif itu justru menjadi semacam daya tarik musik klasik. Seperti remaja yang berlatih band di garasinya karena terpikat klise rock and roll, sejumlah orang mendengarkan dan mempelajari musik klasik demi menunjukkan eksistensinya di kelas sosial tertentu. “Banyak orang yang belajar musik klasik sebagai gaya hidup,” jelas Syarif. “Padahal di era Mozart, musik klasik justru merupakan musik rakyat.”

Berdirinya KlabKlassik erat terkait situasi tersebut. Para penggiat klab menyadari meskipun kesan eksklusif itu ada benarnya, musik klasik menawarkan lebih dari sekadar pencitraan semu. “Saya mendapat banyak dari musik klasik: disiplin, kegigihan, bertemu orang-orang baru, kesenangan bermain dan tampil di depan penonton,” Syarif mengakui. Bersama teman-temannya, ia yakin musik klasik juga bisa sederhana, santai dan membumi, asalkan para musisi dan penikmatnya mampu memilah inti musik klasik dari kemasannya. Seluruh kegiatan KlabKlassik merupakan upaya sedikit demi sedikit meruntuhkan citra eksklusif yang telanjur melekat pada genre ini. Moto mereka: “Bach memberkati.”

Jumat malam (17/12), jelang duet gitarnya dengan Kris, Yunus memperkenalkan lagu kepada para hadirin, “Lagu kedua masih dari Franz Schubert. Judulnya “Serenade”, berasal dari kata sereno yang artinya teduh atau tenang.” Laki-laki jangkung ini berhenti sejenak. “Mudah-mudahan kami juga tenang selagi memainkannya.” Hadirin tertawa.

Yunus dan Kris memainkan serenade, suatu bentuk komposisi yang sudah ada pada periode Medieval, 500-1400. Awalnya komposisi ini dimainkan untuk menyapa kekasih, teman, maupun orang yang dihormati. Di pekarangan rumah kekasihnya, seorang pria akan menyanyikan serenade diiringi alat musik yang dimainkannya sendiri – biasanya gitar atau instrumen petik lainnya. Sementara itu, wanitanya menyaksikan dari jendela kamar. Kedengarannya romantis memang, tetapi tergantung serenade-nya juga. “Serenade” Franz Schubert, Opus 90 No. 11, penuh nada-nada minor dan repetisi yang mengharukan. Daripada merayu, lagu ini lebih cocok mengantar perpisahan sepasang kekasih. Bila seseorang ingin terus diingat, tetapi tahu diri untuk tak memintanya langsung, barangkali memainkan “Serenade” Schubert dapat menjadi pilihannya.

Secara akustik, sebetulnya ruang audiovisual Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran kurang tepat untuk pertunjukan musik apapun. Suara instrumen hanya dikeraskan dengan deretan mikrofon. Panggung disorot lampu TL bercahaya biru. Hadirin menempati kursi-kursi kayu sempit yang dirancang supaya diduduki dengan tegak. Kendati demikian, tak seorangpun mengeluh. Hadirin yang didominasi anak-anak muda bertepuk tangan riuh setiap kali Kris, Yunus, dan musisi-musisi lainnya selesai membawakan lagu.

Sebelum konser, para penggiat KlabKlassik membagikan buklet informasi kepada hadirin. Buklet yang dicetak empat puluh lima lembar itu habis dalam sekejap. Di dalamnya tercantum profil KlabKlassik, esei komponis Gatot D. Sulistiyanto, intisari diskusi world music di Tobucil, serta deskripsi program-program KlabKlassik. Setelah hadirin pulang, saat nada-nada yang didengarkan tadi menguap, paling tidak ada sesuatu yang bisa dibolak-balik. Jika penasaran mereka tahu harus mencari ke mana. “Ada usulan memasukkan sejarah gitar,” kata Syarif. “Tapi menurut Diecky, sebaiknya isinya bukan sesuatu yang bisa dibaca di Wikipedia. Kita nggak bisa terus-terusan menengok ke belakang, tapi juga harus melihat perkembangan saat ini.”

Konser malam itu sedikit lain dengan konser musik klasik pada umumnya. Biasanya, musisi tak berinteraksi dengan penonton kecuali melalui musiknya. Begitu naik ke panggung, ia segera membungkuk untuk memberi hormat. Tanpa basa-basi, sang musisi langsung memainkan instrumennya. Setelah tepuk tangan penonton mereda, ia turun panggung tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Musik klasik sangat mementingkan kemurnian bunyi,” komentar Tikno, guru musik SMA Plus Al-Muthahhari yang rajin menyambangi pertemuan KlabKlassik. “Bunyi apapun di luar bunyi instrumen musik dianggap mengganggu kenikmatan mendengarkan musik.”

Namun, pertunjukan tanpa kata semacam itu memunculkan ketegangan bagi siapapun yang belum terbiasa. “Apalagi di Indonesia, kita nggak memiliki budaya menonton pertunjukan sambil diam,” Tikno berpendapat. “Di pementasan wayang saja, celetukan-celetukan penonton bisa menjadi bagian dari lakon dalangnya.”

Sejak 2005, KlabKlassik terlibat dalam penyelenggaraan lebih dari dua puluh konser musik klasik, baik sebagai panitia utama maupun sebagai penanggung jawab logistik. Selain secara berkala menampilkan diri sendiri, mereka juga menyelenggarakan konser-konser musisi profesional, antara lain: Resital Andrew Sudjana dan Fauzie Wiriadisastra, The Sound of Flute: Andika Candra dan Yuty Lauda, Resital Trompet dan Piano: Eric Awuy dan Iswargia R. Sudarno, dll. Dalam konser yang diselenggarakan KlabKlassik umumnya para musisi tampil lebih komunikatif. Mereka bebas menyapa penonton, memperkenalkan lagu yang dimainkan, dan seperti yang dilakukan Yunus, bercanda.

“Pada dasarnya penonton mendengarkan musik klasik dalam keadaan tegang,” Syarif berteori. “Sebetulnya jauh di lubuk hatinya, mereka ingin tertawa.” Ini membuat lelucon yang paling garing sekalipun akan mengundang gelak tawa. “Waktu awal-awal mengadakan konser, saya bilang ‘Assalamualaikum’ saja mereka tertawa. Dikiranya itu bercanda. Padahal saya kan mendoakan mereka,” katanya serius. Menurut Syarif, semakin penonton rileks, semakin mudah mereka berkonsentrasi menyimak lagu-lagu yang dimainkan.

Hal lain yang identik dengan menonton konser musik klasik adalah keharusan mengenakan setelan jas. “Kalau di Eropa, mungkin memakai jas itu wajar karena udara di sana dingin,” ujar Syarif, menduga-duga. “Kadang-kadang ada teman yang SMS, ‘Kak, nonton musik klasik enaknya pakai baju apa?’ Sebetulnya menurut saya baju apapun boleh-boleh saja, asalkan kita nggak malu dan nyaman menikmati musiknya. Lagipula pakaian nggak memengaruhi permainan musisinya, kan?”

Meskipun begitu, ada juga aturan-aturan yang tetap dipegang KlabKlassik. Konser selalu dimulai tepat waktu. Penonton diminta untuk menonaktifkan ponselnya, tidak keluar masuk ruangan, tidak berbicara dan bertepuk tangan ketika lagu masih dimainkan, tidak memotret dengan blitz, tidak merokok, serta tidak melakukan tindakan lain yang sekiranya mengganggu kenyamanan musisi dan penonton lain.

“Selain itu kami selalu memainkan lagu-lagu klasik sesuai dengan komposisi aslinya,” Syarif menambahkan. “Sebetulnya sah-sah saja membuat musik klasik lebih seru dengan menambah beat-beat, seperti Maxim. Atau cuma memainkan bagian yang catchy-nya saja.” Gitaris ini memainkan potongan “Canon in D” gubahan Johann Pachelbel (1653-1706). “Tapi saya yakin musik klasik yang kompleks sekalipun akan jadi ringan kalau pendengar memahami konteksnya: siapa komposernya, dari periode kapan, dan apa yang menginspirasinya. Pengetahuan itu meringankan. Sambil menyimak, pendengar bisa membayangkan cerita yang disampaikan sebuah lagu.”

Penulis India-Inggris, Vikram Seth, bercerita tentang para musisi klasik dalam novelnya, An Equal Music (1999). Keseharian kuartet gesek The Maggiore: sesi latihan, pemahaman lagu, tur, rekaman, sampai perburuan instrumen, menjadi menu utama novel ini. Tokoh utamanya adalah Michael Holme, pemain biola kedua The Maggiore yang mencintai seorang pianis yang kehilangan pendengarannya. Seth berupaya menyampaikan bagaimana dinamika kehidupan musisi, tanpa bisa dicegah, memengaruhi permainan musiknya; bahwa musik klasik – yang mengukung musisi dalam berbagai aturan kaku itu – bagaimanapun merupakan bagian kehidupan yang direkonstruksi komponis dan musisinya.

Sekali lagi, perlu ditegaskan bahwa sebutan musik klasik mengacu ke sebuah genre tertentu. Sebagaimana genre lainnya, musik klasik memiliki kaidah-kaidahnya sendiri. Musik yang dibuat di Indonesia pada periode Klasik, 1750-1830, tak serta merta dapat dikatakan sebagai musik klasik Indonesia. “Jangan-jangan nanti senimannya malah protes,” komentar Diecky. “Seniman karawitan saja masih belum menerima istilah musik. Bagi mereka, apa yang mereka lakukan itu karawitan, bukan musik karawitan.”

Ferry si pemain cello lantas bertanya, “Kita kan tinggal di Indonesia, kenapa kita perlu belajar dan mendengarkan musik klasik Eropa?” Para penggiat KlabKlassik pun tertawa. “Nah, itu bagaimana, Kang Tikno?” Syarif melempar pertanyaan.

“Karena pengarsipan musik klasik Eropa lengkap. Standarnya jelas, semua memakai tangga nada yang sama,” sahut Tikno. “Kalau dari pengalaman saya belajar degung, untuk mempelajari musik tradisional kita harus menyediakan alat musiknya dan mendatangi gurunya langsung. Guru ini akan mengajari kita secara lisan. Waktu pulang ke rumah, kita akan kesulitan mengulangi apa yang tadi diajarkan gurunya. Lain dengan musik klasik, semua sudah tercatat, kita bisa mengulangi pelajaran melalui buku, rekaman audio.” Ia menambahkan, “Ketika kita paham dan menghargai budaya bangsa lain, barangkali ketika itu juga kita mulai menghargai budaya sendiri. Kalau sudah begitu, tugas kita adalah mulai mengarsipkan musik tradisional seperti musik klasik.”

Sebelumnya, Syarif mengakui dirinya mendapatkan banyak dari menggeluti musik klasik. Namun, kegairahannya mempromosikan genre ini bersama KlabKlassik juga disebabkan alasan sederhana: “Saya sudah lama belajar gitar klasik. Dulu apresiasinya minim sekali. Setiap saya mengadakan resital, penontonnya sedikit, akhirnya malah nombok,” ungkap gitaris berambut jabrik ini. “Sekarang apresiasinya semakin bagus. Konsernya semakin banyak, meskipun kadang penuh dan kadang sepi. Di Indonesia juga ada majalah musik klasik, tapi sayang juga jika yang diangkat lagi-lagi citra eksklusif musik klasik. Misalnya, kalau yang diresensi cuma konser-konser besar. Sebetulnya wajar kalau musik klasik kurang populer di Indonesia, karena ini memang bukan budaya kita.”

Dalam wawancara dengan Tempo, pianis kebanggaan Indonesia, Ananda Sukarlan, pernah menilai, “Musik pop sebetulnya juga dari Barat, tapi itu gampang dicerna. Orang sudah mau mencerna musik ini. Kalau musik klasik mesti didengarkan berkali-kali supaya kita bisa masuk ke intinya. Materinya banyak. Sama seperti seni lukis, perlu warna yang banyak untuk mencapai kekayaan yang cuma bisa dicapai dengan warna sedemikian banyak.”

Akhirnya Syarif menyampaikan, “Sekarang harapan saya musik klasik diapresiasi dengan wajar. Nggak lagi sebagai musik bercitra eksklusif, tapi cukup sebagai satu dari sekian jenis musik yang ada.” Maksudnya, orang mendengarkan Bach sebagaimanamestinya orang menggemari Belle and Sebastian: kebetulan suka dan ingin tahu lebih banyak.

***

Bandung, 2 Januari 2011

Kepada Yang Terhormat Dewan Juri The 1st JakartaBeat Music Writing Contest:

Di beranda Tobucil saat ini Syarif, Kris, Yunus, dan Ato, seorang dosen, sedang berlatih “Canarios”. Lagu Gaspar Sanz ini bernada mayor, cocok untuk menyambut kepulangan prajurit dari medan perang. Mulanya jari-jari keempat gitaris ini sering berhenti. Kadang salah nada, kadang telat memetik. “Canarios” diulangi lagi dan lagi. Lambat laun petikan para musisi ini semakin tegas. Saat itu, entah bagaimana, kegembiraan yang meliputi wajah mereka merambat juga ke saya.

Ketika pertama kali duduk bersama mereka, saya bertanya dalam hati, Musik klasik, bagaimana mengapresiasinya?

Musik klasik menuntut para pemainnya membawakan komposisi sebaik mungkin. Apabila kurang latihan, hasilnya bisa seperti parodi di film-film kartun. Segelintir orang berkesempatan mempelajari dan memainkan musik klasik. Bisa dimengerti jika mereka paham dan mengapresiasi genre ini. Akan tetapi, bagaimana dengan kebanyakan orang yang tak punya akses terhadap pendidikan musik klasik? Apakah kita tetap dapat menghargainya?

Menyaksikan latihan KlabKlassik, saya menyadari, Memang perlu sekolah setinggi apa untuk mengapresiasi musik klasik? Untuk mengapresiasi seni? Seni apapun merupakan bagian kehidupan yang diceritakan kembali. Ia tak selalu dekat, tetapi penikmatnya bisa bertanya. Musik klasik sebetulnya tak terlalu asing dari telinga kita. Potongan-potongannya muncul di iklan, dering ponsel, hingga adegan film kesukaan kita. Untuk mengapresiasi musik klasik, barangkali yang terpenting adalah keterbukaan.


Andika Budiman