Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, July 25, 2011

Musik Klasik di Halaman Belakang

Akhir pekan di Bandung seringkali tidak membuat saya merasa bisa menikmati terputusnya siklus rutinitas. Kemacetan yang setia menanti dalam perjalanan biasanya membuat saya memilih untuk tinggal di rumah saja. Namun, hari itu saya memilih untuk menembus antrian panjang kendaraan, berputar-putar melewati jalur-jalur alternatif yang bisa membawa saya sampai ke Rumah Buku/Kineruku, sebuah perpustakaan yang terletak di Hegarmanah. Hari itu saya menginginkan akhir pecan bersama teman-teman, jauh dari keramaian, melakukan hal yang saya sukai, menikmati musik, lalu mengobrol tentang banyak hal; menikmati waktu istirahat.

Malam itu, Sabtu 23 Juli 2011, Rukustik #3 diadakan di Kineruku. Sebuah acara yang terselenggara atas kerjasama KlabKlassik dan Kineruku, yang juga didukung oleh teman-teman ITB Student Orchestra (ISO). Acara ini bertajuk, “Everything You Always Wanted to Know About Classical Music but Were Too Afraid to Ask.” Merupakan sebuah gagasan yang mencoba membangun komunikasi yang lebih baik antara penampil musik klasik dengan penonton, serta membawa musik klasik ke publik yang lebih luas dengan mempertunjukannya di luar suatu gedung konser.



Acara dimulai pukul tujuh malam, dibuka oleh Ariani Darmawan pemilik Kineruku dan Syarif Maulana dari KlabKlassik. Penonton disuguhi Air on G String karya Johann Sebastian Bach yang dibawakan dalam format ensemble biola dan flute dari teman-teman ISO. Kemudian disusul dengan penampilan gitar Ryan Sentosa yang membawakan karya Giulliani, Sonata Op. 15. Suasana yang awalnya agak ‘tegang’ mulai mencair saat duet Syarif Maulana dan Lutfi Farabi memainkan Polonaise Concertante dengan sangat ‘jujur’: kita akan menemui mereka janjian untuk memulai permainan, mengulangi satu bagian jika ada kesalahan, dan sekaligus melihat betapa mereka menikmati permainan di atas panggung.

Rentang karya yang dibawakan malam hari itu mencakup era renaisans hingga modern. Setelah duet Syarif dan Lutfi berturut-turut penonton disuguhi solo piano Todora membawakan Valse milik Chopin, duet violin piano oleh Ecko dan Ibrahim membawakan Humoresque karya Dvorak, duet violin Nabila dan Fida membawakan Hungarian Dance No.5 karya Brahms, Autumn Song karya Hohmann oleh duet violin Mei dan Poppy. Saya sendiri kemudian dapat giliran untuk menampilkan Koyunabab karya Domeniconi, kemudian disusul penampilan ensemble gitar Ririungan Gitar Bandung membawakan La Cumparsita karya Matos Rodriguez yang diaransemen composer Diecky K. Indrapraja dan Canarios karya Gaspar Sanz. Sesi penampilan ditutup oleh trio Ibrahim, Mei, dan Akbar membawakan Elegie karya Sostakovich. Mood dari periode late-romantic/modern kental sekali dalam komposisi ini, dalam alunan suara piano dan sahut-sahutan duet violin.


Penampilan Ensembel Gitar KlabKlassik alias Ririungan Gitar Bandung (RGB)
Foto oleh Wahdini Degayanti


Sesi diskusi kemudian dimulai, dipandu Ariani Darmawan dan Syarif Maulana. Tema pembicaran terpusat pada topik pengistilahan “classical music” serta pemaknaannya. Komposer Diecky K. Indrapraja serta dosen apresiasi musik Bapak Tono Rachmad ikut serta memberikan jawaban-jawaban dari sudut pandang akademisi. Beberapa penonton ikut serta dalam diskusi, walau topic yang kemudian berkembang menurut saya pribadi menjadi cukup berat bagi penonton yang masih awam. Pembedaan kata “classical”, “classic”, lalu kemudian berlanjut hingga pembahasan mengenai hubungan “kelas” dengan “musik” pada periodisasi tertentu. Acara ditutup oleh penampilan ISO membawakan bagian Largo dari komposisi Winter karya Vivaldi.

Merupakan sebuah pengalaman baru yang menyenangkan, di mana saya seperti mendapatkan akhir pekan saya kembali. Setiap orang menikmati pertunjukan dan seolah enggan untuk lansung membubarkan diri, masih memilih untuk mengobrol satu sama lain seusai acara. Bagi saya, acara ini seperti sebuah eksperimen. Di mana percobaannya adalah mencoba membawa musik klasik ke ruang-ruang publik yang lebih luas. Mencoba memberikan kesempatan kepada musisi-musisi muda untuk mendapatkan kesempatan perform. Mencoba menjembatani kaum akademisi, seniman, masyarakat umum untuk duduk bersama kemudian berbagi cerita, dengan satu sama lain mempelajari bahasa yang digunakan oleh masing-masing pihak. Akhir pekan yang memuaskan, dengan sajian musik klasik di halaman belakang.

Bilawa Ade Respati

No comments: