Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, July 18, 2011

Rukustik #3: KlabKlassik feat. ITB Student Orchestra (Konser dan Diskusi)




Rukustik #3: KlabKlassik featuring ITB Student Orchestra

Konser & Diskusi
Sabtu, 23 Juli 2011
Pk 19:00 WIB
(harap datang 15 menit sebelumnya)
Gratis.

Kineruku
Jl. Hegarmanah 52
Bandung

.

Musik klasik adalah istilah yang sering kita dengar. Namun, penggunaannya seringkali mengalami kerancuan. Misalnya, apakah musik klasik itu berarti musik ‘lama’, sehingga musik The Beatles atau Frank Sinatra pun dapat dikategorikan musik klasik? Atau, musik klasik itu adalah musik-musik non-populer? Bagaimana dengan Mozart dan Beethoven, bukankah mereka sebenarnya populer di jamannya? Dan lagi, atas barometer apakah suatu musik dapat dikategorikan sebagai musik populer?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jarang sekali ditanyakan. Orang sudah kadung menggunakan kata ‘musik klasik’ secara semena-mena. Ujung-ujungnya, karena pertanyaan-pertanyaan tadi dilupakan, tidak jarang istilah ‘musik klasik’ secara sederhana didefinisikan sebagai ‘musik yang eksklusif’. Titik. Atau dalam kalimat yang lebih lengkap, “Musik klasik adalah musik yang berat, berkelas, dan hanya mampu menjangkau kalangan tertentu.”

Atas dasar itu, kami merasa perlu mengadakan dialog mengenai musik klasik itu sendiri lewat sebuah konser sekaligus diskusi. Concert hall adalah tempat biasa digelarnya pertunjukan musik klasik, namun di sana minim kesempatan untuk berinteraksi dua arah, sehingga penonton yang datang seringkali manggut-manggut saja menikmati apapun yang tersaji. Acara Rukustik yang diadakan secara regular di Kineruku dipilih karena keinginan kami untuk mendekatkan pemain dan penonton, yang diharapkan dapat bertanya dan bersikap kritis terhadap musik yang dibawakan. Dengan demikian, terbuka kemungkinan adanya pemilahan secara jernih antara bungkus dan isi musik klasik. Mana yang esensial, dan mana yang semata-mata berperan sebagai pembentuk stereotip ‘berat dan eksklusif’.

.

Repertoire yang dibawakan:

“Sonata Op. 15 Mov. 1″
Ciptaan: Mauro Giulliani
Penampil: Ryan Sentosa
Instrumen: Gitar (solo)

“Polonaise Concertante”
Ciptaan: Mauro Giulliani
Penampil: Syarif & Lutfi
Instrumen: Gitar (duet)

“Valse Op. 69 no. 2″
Ciptaan: Frederic Chopin
Penampil: Todora Nadya T. Silitonga
Instrumen: Piano (solo)

“Humoresque”
Ciptaan: Antonin Dvorak
Penampil: Ecko F. Manalu & Ibrahim
Instrumen: Violin & Piano (duet)

“Hungarian Dance no. 5″
Ciptaan: Johannes Brahms
Penampil: Nabila Khrisna & Fida Amalia
Instrumen: Violin (duet)

“Autumn Song”
Ciptaan: Hohmann
Penampil: Arina Resyta & Poppy Rahayu
Instrumen: Violin (duet)

“The Swan”
Ciptaan: Cammile Saint-Saƫns
Penampil: Aminah Nuraini, Aulia Fajar Rahmani, Guntario Sukma Cahyani, Irvito Adhy Sanjaya & Pandu Narendradewo
Violin & Piano (ensemble)

“Koyunbaba”
Ciptaan: Carlo Domeniconi
Penampil: Bilawa Ade Respati
Instrumen: Gitar (solo)

“La Cumparsita”
Ciptaan: Matos Rodriguez (arr. Diecky K. Indrapraja)
Penampil: Ririungan Gitar Bandung
Instrumen: Gitar (ensemble)

“Canarios”
Ciptaan: Gaspar Sanz
Penampil: Ririungan Gitar Bandung
Instrumen: Gitar (ensemble)

“Elegie”
Ciptaan: Dimitri Sostakovich
Penampil: Ibrahim Adrian Nugroho, Meirita Artanti Putri, Teuku Fawzul Akbar
Instrumen: Violin & Piano (ensemble)

.

Profil Penampil KlabKlassik

Bilawa Ade Respati
Belajar gitar secara serius mulai di usia 14 tahun pada Benjamin Limanaw dan kemudian pada Ridwan B. Tjiptahardja. Beberapa kali resital bersama grup trio Tiga Gitar dan kuartet Tiga Gitar Plus Satu (2008, 2009), duet dengan Widjaja Martokusumo (Romantic Music at Kerkhoven, 2009) serta berpartisipasi dalam konser di Bandung maupun Jakarta. Beberapa kali mengikuti kompetisi musik, juara 2 Yamaha Student Contest tingkat Jabar, Jabodetabek, dan Sumatera (kategori senior, Jakarta, 2007), juara 1 Yamaha Student Contest tingkat kota Bandung (kategori senior, Bandung, 2007), dan finalis dari Kompetisi Gitar Klasik UNY (Yogyakarta, 2006). Aktif di komunitas KlabKlassik, Ririungan Gitar Bandung, sebagai freelance acoustician/building physics engineer, dan mengajar gitar klasik.

KlabKlassik Guitar Duo
Merupakan proyek kolaborasi antara gitaris Syarif Maulana dan Luthfi Farabi.

Luthfi Farabi adalah gitaris dan pengajar di Sinfonia Music Center, belajar gitar pada gitaris Ridwan B. Tjiptahardja. Aktif berpartisipasi dalam konser di Bandung dan pernah menyelenggarakan resital tunggal (A Guitar Recital by Luthfi Farabi, 2010).

Syarif Maulana belajar gitar klasik sejak usia 12 tahun pada Kwartato Prawoto dan Ridwan B. Tjiptahardja. Pada tahun 2005 bersama kawan-kawan mendirikan KlabKlassik. Aktif mengikuti berbagai konser, ujian, maupun kompetisi. Pada tahun 2006, Syarif menyelenggarakan resital tunggal debutnya pada usia 20 tahun di Auditorium CCF. Syarif juga menjuarai beberapa kompetisi, seperti juara III Bandung Spanish Guitar Festival dan juara harapan III Festival Gitar Nasional Excellent di Jakarta.

Tidak hanya di bidang musik klasik, Syarif juga bermain secara reguler di hotel maupun kafe seperti Hilton, Sheraton, Papandayan, Selasar Sunaryo, dan Cafe Rumah 1930. Sekarang Syarif aktif sebagai pengajar gitar klasik di sekolah musik Allegria; menjadi koordinator KlabKlassik di Tobucil; aktif mengajar filsafat di Tobucil maupun di rumahnya, Garasi 10; menulis untuk blog pribadi dan blog Tobucil; serta menjadi dosen mata kuliah Logika di Universitas Padjajaran. Meski demikian, cita-cita tertinggi Syarif adalah menjadi pelatih sepakbola profesional.

Ririungan Gitar Bandung
Ririungan Gitar Bandung adalah ensemble gitar yang terbuka untuk umum, berlatih dan bersilaturahmi setiap 2 minggu sekali di hari minggu siang. Anggotanya tidak pernah tetap karena merupakan ensemble yang sangat terbuka, memberikan kesempatan berapresiasi dan tampil bersama bagi siapa pun. Pernah mengadakan konser Ririungan Gitar Bandung: Maen (2009) serta berpartisipasi dalam beberapa konser di Bandung. Anggotanya saat ini adalah Yunus Suhendar, Kristianus Tri Adisusanto, Ato Hardianto, Aldi, Syarif Maulana, dan Bilawa Ade Respati.

.

Profil Penampil ITB Student Orchestra

Ecko F. Manalu adalah lulusan teknik informatika ITB, aktif sebagai violinist ITB Student Orchestra, violinist dan mellophonist St. Laurentius Chamber Orchestra, dan pemain french horn Pavana Woodwind Quintet. Selain itu Ecko juga aktif di GKI Maulana Yusuf String Ensemble sebagai violinist dan arranger, pengajar Padus GKI Gatot Subroto.

Ibrahim Adrian Nugroho mulai belajar piano di bawah bimbingan Bapak Dwi di Braga Musik School Bandung pada saat kelas 5 SD, kemudian melanjutkan bimbingan piano di bawah asuhan Bapak Stephen Michael Sulungan. Ibrahim lulus ujian teori musik pada tahun 2006 dan ujian praktik Associated Board of the Royal Schools of Music (ABRSM) tingkat 8 pada tahun 2007.

Nabila Khrisna Dewi adalah mahasiswa Fisika ITB angkatan 2008. Mulai belajar biola sejak November 2008.

Fida Amalia Fathimah adalah mahasiswa Teknik Industri ITB angkatan 2007 dan telah aktif di ITB Student Orchestra sejak tahun 2008.

Ryan Sentosa
Ryan Sentosa adalah mahasiswa ITB angkatan 2010 yang belajar bermain gitar sejak 2006. Ia mengikuti les gitar klasik selama 2 tahun di Purwacaraka.

Aminah Nuraini adalah mahasiswa Teknik Informatika ITB 2009 yang belajar memainkan biola sejak 2009 dari I Nyoman Mahendra.

Aulia Fajar Rahmani belajar musik tahun 2007-2008 secara privat dan dilanjutkan tahun 2010 lewat ekskul musik SMAN 3 Bandung. Kini ia mahasiswa Teknik Lingkungan ITB angkatan 2010.

Guntario Sukma Cahyani mahasiswi Sains dan Teknologi Farmasi ITB angkatan 2009, belum lebih dari setahun belajar piano dibawah bimbingan Lina.

Irvito Adhy Sanjaya, mahasiswa Manajemen Rekayasa Industri ITB 2010, mempelajari musik flute sejak 2007 di bawah bimbingan Hery Udo dan biola di bawah bimbingan Weny Daratama.

Pandu Narendradewo mahasiswa SBM ITB angkatan 2009 yang mulai belajar musik sejak SMP. Ia pernah dibimbing oleh I. Nyoman Mahendra dan Ammy C. Kurniawan.

Arina Resyta, mahasiswa Arsitektur ITB angkatan 2010, belajar piano sejak kelas 6 SD hingga kelas 3 SMP. Mulai belajar bermain biola di kelas 2 SMP, namun tidak berlangsung lama. Kini Arina mulai mengikuti les biola di Swara Moriska.

Poppy Rahayu belajar musik dari tahun 2002 di sekolah musik Chic’s. Saat ini ia berkuliah di jurusan Seni Lukis FSRD ITB, angkatan 2010.

Meirita Artanti Putri adalah mahasiswa Planologi ITB 2007 yang pertama kali bermain biola saat SMA lewat bimbingan Henry Virgan.

Teuku Fawzul Akbar adalah mahasiswa Teknik Fisika ITB 2009, belajar biola sejak 2008 pada I Nyoman Mahendra.

Todora Nadya T. Silitonga Dora, mahasiswi Sains dan Teknologi Farmasi ITB angkatan 2010, belajar musik sejak kelas 1 SD di Pekanbaru.

.

Tentang KlabKlassik

KlabKlassik (KK) adalah komunitas dan ruang apresiasi musik klasik yang berdiri di Bandung pada tanggal 9 Desember 2005. Dasar kemunculannya tidak lepas dari stereotip orang kebanyakan yang menganggap musik klasik sebagai musik yang eksklusif, kompleks, berat, dan serius. Meski stereotip itu terkadang ada benarnya, namun musik klasik ternyata bisa “terjangkau”, santai, sederhana, dan membumi juga, jika berhasil memilah mana yang menjadi inti, dan mana kemasannya. Sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, KlabKlassik mencobanya lewat berbagai acara diskusi santai, konser musik klasik yang jauh dari kesan eksklusif, serta keterbukaan tukar pikiran via milis maupun blog.

Pada awal didirikannya, KlabKlassik hanya diniatkan sebagai kelompok musik insidental yang tampil pada acara JazzAid: Jazz untuk Korban Tsunami pada Februari 2005. Kala itu yang tampil adalah empat gitar yang terdiri dari Royke Ng, Christian Reza Erlangga, Ahmad Indra dan Syarif Maulana. Setelah penampilan tersebut, timbul dorongan dari Dwi Cahya Yuniman, koordinator KlabJazz (komunitas musik jazz), untuk membangun sebuah komunitas.

Dorongan tersebut akhirnya dicoba direalisasikan setelah mendapat kesempatan berkumpul sebulan sekali di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama no. 8. Akumulasi dari kumpul-kumpul tersebut salah satunya berhasil mencetuskan ide untuk membuat sebuah pagelaran musik klasik bernama Classicares. Penyelenggaraan Classicares yang diadakan pada 9 Desember 2005 di Gedung Asia Afrika Cultural Center (sekarang Majestic), dianggap sebagai titik tolak kelahiran KlabKlassik sebagai komunitas yang mandiri. Sejak saat itu, penyelenggaraan konser secara berkala menjadi agenda rutin KlabKlassik disamping acara kumpul-kumpul yang terus berjalan.

Sejak pertengahan tahun 2007, KlabKlassik resmi berkomunitas di Tobucil, Jl. Aceh no. 56. Kepindahan tersebut juga menandai munculnya beberapa agenda baru KlabKlassik, yang lahir dari proses evaluasi dan otokritik tiada henti. Agenda baru tersebut menggiring KlabKlassik untuk tidak melulu berkutat di ranah komunitas, melainkan juga ruang apresiasi, yang mana mendorong KlabKlassik untuk semakin membuka diri.

.

Tentang ITB Student Orchestra

ITB Student Orchestra (ISO) didirikan pada tanggal 2 Maret 2005 dan diresmikan sebagai sebuah unit kegiatan mahasiswa pada tanggal 8 Agustus 2005. ISO didirikan oleh mahasiswa secara swadaya dan mandiri sebagai sebuah orkestra mahasiswa di sebuah perguruan tinggi yang tidak memiliki jurusan seni musik.

ISO terus berkembang dari tahun ke tahun. Dari hanya sebuah kelompok seksi gesek berkekuatan 6 orang, menjadi sebuah orkestra yang mampu menawarkan pilihan keragaman bentuk orkestra. Kini ISO bermain dalam format string quartet yang terdiri dari 4 orang hingga chamber orchestra dengan 40 pemain. Repertoire ISO pun semakin berkembang, mulai dari lagu klasik hingga pop, rock dan etnik.

Dalam mengelola organisasi serta mengeksplorasi musiknya ISO bermitra dengan berbagai macam pihak, seperti Republic of Entertainment selaku event organizer, Addie M.S. sebagai musikus profesional, Orkes Simfoni Universitas Indonesia, Orkes Simfoni Bumi Siliwangi, Bandung String Ensemble, KlabKlassik, dan lain-lain.

***

No comments: