Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Wednesday, August 24, 2011

KlabKlassik: Discovering Music in Ourself

Minggu, 21 Agustus 2011

Hari Minggu itu Tobucil kedatangan oleh-oleh dari Jerman. Berupa pengalaman yang dibawa oleh Fiola Christina Rondonuwu. Ia baru saja mengikuti sebuah festival musik di sana selama kurang lebih dua minggu. Lewat forum KlabKlassik ia berbagi.

Berbekal power point dan catatan yang cukup panjang, Fiola membagikan sejumlah pengalamannya selama di sana. Mula-mula ia berbagi tentang usia dengan pertanyaan kritis, "Apakah usia berpengaruh dalam belajar musik?" Menurutnya, "Pengaruh pasti ada, tapi soal apakah orang lanjut usia bisa belajar musik, jawabannya bisa!" Jawaban ini ia peroleh setelah menyaksikan sendiri wanita berusia 65 tahun di festival musik tersebut, masih mempelajari vokal dan bahkan bernyanyi dengan sangat baik. Fiola juga meminta forum untuk mengetik kata kunci Late Bloomer di Wikipedia untuk mengetahui banyak orang yang justru produktif di masa tuanya.

Bahasan berikutnya, Fiola menceritakan tentang sikap apa yang mendukung seseorang dalam belajar musik. Ia menyebutkan kalimat kuncinya, "Bahwa seseorang mesti tahu alasannya bermain musik, dan sebaiknya itu memang ditujukan untuk dirinya sendiri." Dengan mempunyai alasan kuat, ia bisa beradaptasi dengan lingkungan yang ketat seperti yang disaksikannya di Jerman sana. Di Jerman, kompetisinya amat keras dan nyaris tidak ada toleransi. Terlambat hingga 30 detik dapat diceramahi hingga nyaris setengah jam. Fiola pun tidak jarang menemukan sesama pemain saling mengritik secara pedas. Fiola juga menambahkan, "Sikap-sikap lain seperti rendah hati, disiplin, kontrol ego, dan sikap baik juga sangat mendukung dalam belajar musik." Di akhir kalimat Fiola sering menambahkan, "Tidak cuma dalam belajar musik, tapi juga dalam kehidupan pada sehari-hari."

Fiola tengah mempresentasikan pengalamannya (kiri)

Fiola juga menjelaskan tentang bagaimana latihan musik yang baik, mulai daristretching (peregangan), tuning (penalaan), pemanasan (dengan memainkan tangga nada misalnya), memainkan lagu, membuat catatan latihan dan membuatprogress latihan. Soal ini Mas Yunus bertanya, "Bagaimana cara agar kita bisa rajin latihan?" Fiola menjawab, "Mula-mula coba letakkan instrumen di tempat yang mudah kelihatan dan dekat dengan sehari-hari kita. Di samping tempat tidur misalnya." Mba Tarlen juga menambahkan, "Teknik sungguh penting. Karena orang yang mau berkreasi secara bebas pertama-tama harus melampaui teknik dasar dulu hingga mumpuni."

Penjelasan dari Fiola berlangsung cukup panjang dan bahkan hingga empat jam. Dipotong oleh buka puasa, Fiola melanjutkan lagi dengan berbagi soalperformance atau penampilan. Fiola meminta forum untuk maju ke depan orang demi orang untuk mempraktekkan tata cara berjalan ke panggung, hormat, memulai dan mengakhiri lagu, hingga meninggalkan panggung. Ternyata semuanya mengandung detail-detail yang menarik. Kata Fiola, "Performancedimulai bukan ketika lagu dimulai, tetapi ketika kita mulai menjejak panggung."


Pertemuan hari itu pun ditutup dengan manis. Dengan duet Fiola dan kekasihnya, Bilawa, memainkan Waltz of the Flowers-nya Tchaikovsky. Setelah itu Fiola tampil sendiri, membuat sendu beranda Tobucil dengan lagu Allemande dari Johann Sebastian Bach.

No comments: