Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Saturday, August 06, 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #8: Dari Haydn sampai Zappa

Minggu, 31 Juli 2011

KlabKlassik Edisi Playlist #8 mengusung tema "Musik Religi". Musik religi yang dimaksud bukan seperti Haddad Alwi atau Maher Zain, melainkan "musik apapun yang meningkatkan spiritualitasmu". Keenam orang yang hadir membawa musiknya dalam flashdisk. Semuanya bercerita tentang kisah dibalik musik yang ia bawa, ternyata suasana spiritual tidak bisa dihindari.

1. Joseph Haydn - String Quartet in D Minor
Lagu pembuka ini diusung oleh Mba Tarlen. Mengingatkan ia pada pengalamannya menemani proses rekaman Djava String Quartet (kuartet gesek dari Yogya). Proses rekamannya berlangsung dari jam delapan malam hingga lima pagi, materinya ya lagu Haydn ini. Bagi Mba Tarlen sendiri, ia terkesan pada ambience yang dihasilkan oleh ruangan dan juga karya itu sendiri, "Seperti bertemu Yesus Kristus." Pembahasan meluas menjadi bagaimana band-band dulu, yang proses rekamannya masih analog, mencari tempat-tempat rekaman yang ambience-nya disesuaikan. Mereka tidak mengandalkan efek-efek digital seperti sekarang. Misalnya Pink Floyd yang kata Mas Ismail Reza pernah rekaman di kastil berhantu.

2. Dream Theater - Spirit Carries Within
Lagu yang dibawa oleh Mas Yunus ini baginya sangat spiritual. Katanya, "Tengok liriknya:"

Where did we come from?
Why are we here?
Where do we go when we die?
What lies beyond
And what lay before?
Is anything certain in life?

Untuk Dream Theater yang biasa memainkan rock progresif yang cepat, lagu ini agak anomali. Dream Theater memainkan sebuah lagu balad bertempo lambat. Di tengah-tengah, sayatan gitar John Petrucci mengundang komentar Mas Reza, "Bagian ini yang bikin lagu tersebut terasa religius."

3. Burzum - Kaimadaltas Nedstigning
Lagu yang dibawa oleh Mas Ismail Reza ini mengusung genre Black Metal. Artis dari Norwegia tersebut memang menawarkan isu religi. Burzum "marah" pada agama Kristen yang notabene telah mendominasi kepercayaan di Norwegia yang tadinya beragama pagan (menyembah Thor, Odin, dsb). Di lain kesempatan, Burzum juga pernah membakar beberapa gereja. Namun, kata Mas Reza, "Burzum sudah tepat, ia menyerang institusinya. Ia tidak pernah menyerang personal manusia yang memeluk agama. Yang ia serang adalah klaim sepihak dari gereja yang sering menuduh pagan sebagai sesat." Lagunya sendiri berdurasi cukup panjang dengan distorsi sangat tinggi namun anehnya bertempo lambat. Rudi menyebutnya, "Aneh, metal biasanya bikin segar, tapi ini bikin ngantuk."

4. Steve Reich - Tehilim
Lagu yang ditulis tahun 1981 ini berdurasi sebelas menit. Ditulis oleh komposer minimalis AS, Steve Reich. Materi lagunya adalah ayat-ayat yang diambil dari kitab suci Yahudi, yang kemudian dinyanyikan oleh choir. Dengan apik, Steve Reich menjadikan komposisinya bergaya canon atau sahut-sahutan susul-menyusul. Meskipun durasinya panjang, namun peserta Playlist cukup betah mendengarkannya. Hal tersebut diperkuat Diecky kala pertama jatuh cinta pada Tehilim, "Aku menemukan ini di rumah Mas Slamet Abdulsjukur. Mendengarkannya sungguh membuatku terlena, seperti dzikir." Lagu tersebut juga merangsang Diecky untuk membuat sebuah karya yang bermaterikan ayat Al-Qur'an, tapi kemudian dikomposisi ulang.

5. Frank Zappa - G-Spot Tornado
Lagu Frank Zappa ini dibawa oleh saya. Menghadirkan sebuah komposisi cepat yang diramu oleh Zappa dengan teknologi komputer yang ia kuasai. Yang menjadi menarik adalah motif Zappa membuat karya ini. Kata Diecky, "Zappa berambisi membuat karya yang tidak bisa dimainkan oleh manusia." Meski demikian, menjelang akhir hayatnya, Pierre Boulez dan orkestranya sanggup mengimitasi G-Spot Tornado dengan sangat cantik. Zappa yang meninggal setahun setelah orkes tersebut manggung memainkan karyanya, mengatakan, "Boleh saja manusia menirunya, tapi tetap saya yang harus menjadi konduktornya." Demikian sang maestro meninggal dengan wasiat yang mengesankan.

6. Pearl Jam - Sometimes
Lag yang dibawa oleh Mba Tarlen ini diambil dari album Pearl Jam yang "gagal" yaitu No Code. Dianggap gagal karena hanya terjual 500.000 kopi dan isi dari album tersebut hampir semuanya bertempo lambat. Tidak ada grunge cepat yang menjadi khas Pearl Jam di album seperti Ten. Mba Tarlen merasa bahwa meski Eddie Vedder sang vokalis dikenal ateis, tapi dalam lagu ini ia menunjukkan sisi spiritualitasnya. Terlihat dari liriknya yang mendalam, menyiratkan kerinduannya pada Tuhan:
Sometimes I know sometimes I rise
Sometimes I fall sometimes I don't
Sometimes I cringe sometimes I live
Sometimes I walk sometimes I kneel
Sometimes I speak of nothing at all...
Sometimes I reach to myself, hear God..

7. Ennio Morricone - Gabriel's Oboe
Gabriel's Oboe adalah lagu kedua yang dibawa oleh Mas Yunus. Diambil dari film The Mission. Ceritanya Gabriel, seorang misionaris, berjalan menuju air terjun dan ia meniupkan oboe nya. Di belakangnya, menguntit beberapa orang dari suku setempat yang siap membunuh sang pastur. Namun mereka urung karena mendengar suara oboe nya yang begitu menyayat. Bagi Diecky, ini sangat spiritual, "Ketika kamu punya satu nafas terakhir sebelum mati, apa yang kamu lakukan?"


KlabKlassik Edisi Playlist #8 seolah menunjukkan adanya upaya untuk mendahului MUI yang masih sibuk menentukan awal mula Ramadhan. Karena di Tobucil kemarin, kegiatan spiritual sudah dimulai sebelum Ramadhan ditentukan.

No comments: