Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Wednesday, September 28, 2011

Resital Kuartet Gesek: Djava String Quartet

desain poster oleh vitarlenology


Djava String Quartet:
Ahmad Ramadhan - biola
Danny Ceri - biola
Dwi Ari Ramlan - biola alto
Ade Sinata - cello

Jumat, 7 Oktober 2011
Auditorium CCF
Jl. Purnawarman no. 32
jam 19.30 - 21.00

Tiket seharga Rp. 25.000 dijual mulai tanggal 30 September di
Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-426-1548) atau Syarif (0817-212-404)
Berawal dari semangat bermain tanpa konsep, akhirnya Danny Ceri (biola), Ahmad Ramadhan (biola), Dwi Ari Ramlan (biola alto) dan Ade Sinata (cello) memutuskan untuk membentuk kuartet gesek pada tanggal 22 November 2008 yang diberi nama D’Java String Quartet (DSQ).

Meski terbilang pendatang baru, namun DSQ aktif menunjukkan eksistensinya dengan menyelenggarakan konser bersama maupun tunggal. Pada 9 Maret 2009, DSQ mengadakan konser apresiasi di UKRIM Yogyakarta. Tanggal 27 Maret 2009, bersama dengan dua string quartet lainnya yang tergabung dalam Yogyakarta Youth String Quartets (YYSQ), DSQ mengadakan konser di Lembaga Indonesia Prancis Yogyakarta. Dan 17 April 2009 d’Java menggelar resital tunggal perdananya di auditorium CCF Bandung.

Selain program apresiasi, DSQ mencoba membawa misi edukasi dengan mengadakan Workshop Chamber Music di Sekolah Menengah Musik (SMM) Yogyakarta yang berlangsung dari tanggal 13-30 Oktober 2009 bekerjasama dengan YYSQ dan Jogjakarta Pilharmonic Orchestra, tampil sebagai bintang tamu di acara Music Classic Concert di Purwokerto untuk penggalangan dana bagi anak-anak SLB ( Sekolah Luar Biasa ), memainkan karya Eugene Ysaye Harmonie du Soir for String Quartet and String Orchestra diiringi F-Hole String Orchestra dari Institut Seni Indonesia dalam acara Chamber Music Concert, tampil di acara Chamber Music Festival di Yogyakarta, dan Youth Artist Chamber Music Festival di Goethe Haus Jakarta.

DSQ juga rajin mengikuti beberapa masterclass dari grup string chamber seperti Doric String Quartet dari Inggris, Trio Storioni dari Belanda, Prof. Takashi Shimizu dari Jepang, serta mengikuti Bandung Music Camp 2009 dengan tutor Damien Ventula ( Cellist/France ).

Selain tampil secara kelompok, para personil d’Java pun aktif untuk mengikuti event musik skala Internasional seperti South East Asian Youth Orchestra and Wind Ensemble (SAYOWE) di Thailand dan Hida Takayama Music Festival di Jepang. Bulan Juni 2010 d'Java String Quartet mendapatkan First Price pada acara Chamber Music Competition di Singapore.

Sebelum tampil di Bandung 7 Oktober nanti, seminggu sebelumnya d'Java tampil di Filipina.

Seminar Musik Kontemporer dan Problem Interkultural

MInggu, 25 September 2011

Hari Minggu adalah jadwal rutin kumpul KlabKlassik. Meski pada Minggu itu KK tidak berkumpul di Tobucil, mereka tetap mengadakan kegiatannya di Studio Musik Melodia, jalan Cipunagara nomor 15. Ini punya kaitan dengan kerjasama antara Studio Musik Melodia dan KK dalam rangka menggelar suatu seminar berjudul "Musik Kontemporer dan Problem Interkultural". Pembicara dalam seminar tersebut adalah Dieter Mack, seorang guru besar komposisi asal Jerman dan satu lagi tidak lain adalah aktivis Tobucil yang aktif di Madrasah Falsafah maupun KK, yaitu Diecky K. Indrapraja.

Sebetulnya acara tersebut tak tepat benar disebut seminar. Karena jika berbicara seminar, biasanya konotasinya langsung ke suatu pertemuan besar di gedung besar yang mana suasananya kurang lebih formal. Acara ini tidak. Tempatnya relatif kecil, suasananya santai, dan terjadi dialog yang cukup intens antara peserta dan pembicara.

Awalnya, Dieter Mack menyatakan awal mula mengapa ia hendak membicarakan topik tersebut. Ini terkait dengan acara yang akan digelar di Taman Budaya Jawa Barat dari tanggal 2 hingga 9 Oktober. Acara yang disponsori oleh Goethe Institut itu merupakan semacam kompetisi bagi komposer muda se-Asia Tenggara. Dieter Mack menjadi penggagas sekaligus juri, sedangkan Diecky menjadi salah satu dari sepuluh finalis terpilih dalam kompetisi tersebut (mari beri selamat). Kemudian Dieter masuk ke apa yang disebutnya sebagai interkultural, dengan menyajikan empat contoh lagu yang mengandung baik instrumen barat maupun timur. Pertanyaannya sederhana, namun agak sulit menjawabnya, "Diantara keempat ini, manakah yang terasa seperti ditempelkan atau digabungkan, dan mana yang terasa seperti satu kesatuan?"

Jawabannya beragam. Namun kesimpulan Dieter cukup mengena, "Soal kepekaan kita tentang mana yang terasa digabungkan dan mana yang terasa sebagai satu kesatuan, ditentukan oleh sebanyak apa kita mendengar. Jika mendengarkan tak terlalu banyak, kita akan sulit menerima pelbagai kemungkinan-kemungkinan dari komposisi baru." Kemudian Diecky tampil mengemuka, memperdengarkan karya pemenangnya pada para peserta. Namun di tengah presentasinya, ketika ia menyebut kalimat, "Tradisi Barat yang sistematis..", Dieter Mack langsung memotong, "Kata siapa tradisi Barat sistematis?" Dieter langsung melanjutkan, "Di Barat sistematis dengan tradisi tulisan. Di Timur sistematis dengan tradisi lisan. Kalau Timur tidak sistematis, bagaimana mungkin kita bisa menabuh gamelan, sekarang ini?"

Menjelang akhir diskusi yang berlangsung selama dua setengah jam itu, peserta boleh bertanya secara bebas. Misalnya, Ulung bertanya, "Apakah betul fungsi musik itu terbagi dua antara musik seni dan hiburan? Apakah ada musik yang seni sekaligus hiburan?" Dieter menjawab dengan contoh, ia memainkan dua lagu dalam piano, yang satu agak jazz, satu lagi kontemporer. Setelah lagu yang terakhir, ia berujar, "JIka saya memainkan lagu seperti itu, saya pasti diusir."Kata Dieter, "Musik hiburan tidak salah. Tapi ia tidak ditujukan untuk menarik perhatian. Ia bisa dimainkan sambil orang melakukan apapun. Tidak harus dinikmati sebagai sesuatu yang independen. Penghasil musik hiburan bisa disebut juga tukang atau pengrajin. Tapi sekali lagi ia tidak salah, tidakkah kita semua butuh tukang atau pengrajin?"

Setelah dua jam setengah yang mengasyikkan sekaligus memabukkan (oleh sebab musik kontemporer yang kadang-kadang tidak cocok untuk semua telinga), diskusi itu ditutup jua. Diakhiri dengan makan kudapan ringan di halaman belakang.

Monday, September 12, 2011

Seminar "Komposisi Kontemporer dan Masalah Interkultural"

KlabKlassik dan Studio Musik Melodia bekerjasama untuk menyelenggarakan seminar bertemakan "Komposisi Kontemporer dan Masalah Interkultural". Tema ini akan dibawakan oleh dua orang narasumber yaitu Dieter Mack (foto) dan Diecky K. Indrapraja. Penyelenggaraan akan dilakukan pada:

Hari/ Tanggal : Minggu, 25 September 2011
Jam : 15.00 - 18.00
Tempat : Studio Musik Melodia, Jl. Cipunagara no. 15

Profil Dieter Mack: http://dieter-mack.de:8081/dieter_mack?set_language=id
Profil Diecky K. Indrapraja: http://www.diecky.jigsy.com/

Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.
Informasi: Studio Musik Melodia (022-7273390)

Moderator: Syarif Maulana

Nonton Bareng KlabKlassik: Apocalypse Now


Minggu, 11 September 2011




Hari Minggu kemarin KlabKlassik punya program baru. Atas usul Ismail Reza, KK sebaiknya memutar sebuah film, lantas dibahas scoring-nya, atau musik latarnya. Setelah melalui diskusi, diputarlah film tahun 1979 berjudul Apocalypse Now. Film garapan sutradara Francis Ford Coppola yang berlatarbelakang perang Vietnam itu diperankan oleh dua aktor kawakan, Martin Sheen dan Marlon Brando.

Ceritanya, Martin Sheen berperan sebagai Kapten Benjamin Willard, yang ditugaskan untuk membunuh Kolonel Kurtz yang diperankan (secara gemilang) oleh Marlon Brando. Keduanya adalah sesama Amerika, dan misi ini terbilang rahasia, tidak resmi, atau biasa disebut black ops. Cerita menjadi menarik karena sebagian besar berisikan pergulatan batin dari Kapten Willard, karena ia bertanya-tanya, bagaimana mungkin ia ditugaskan membunuh sesama Amerika? Segila apakah Kolonel Kurtz itu sehingga harus dilenyapkan?

Film tersebut, meskipun berjudul "film perang", namun yang ditampilkan justru aspek psikologisnya. Mas Daus, salah seorang peserta menyebutkan, "Ini film perang vietnam yang anti-hero, disamping Platoon dan Killing Fields." Film berdurasi sekitar dua setengah jam itu cukup menguras tenaga, beberapa peserta bahkan pulang sebelum berakhirnya film. Terutama juga karena musiknya secara subjektif agak kurang nyaman di telinga, sehingga berpengaruh sekali terhadap endurance. Selain itu, gambar-gambarnya gelap, betul-betul jauh dari hingar bingar heroisme ala Rambo atau Green Berets.

Setelah film berakhir, terjadi diskusi singkat. Pertama, bagaimana scoring mempengaruhi dramatisasi film itu sendiri. Bagi Mas Daus, scoring sangat penting dan boleh dibilang vital. Itulah yang terjadi pada perfilman Indonesia yang mana scoring seringkali digarap asal-asalan. Bahkan dalam banyak sinetron, scoring dicomot saja dari lagu yang sudah ada, tanpa memperhitungkan kecocokan dengan adegan. Profesi penggarap musik bahkan, kata Mas Reza, "Kawan saya di Berkeley, mengambil jurusan khusus music scoring, dan katanya susah. Jadi di luar sana, profesi music scorer gak main-main."

Program perdana kemarin menginspirasi KK untuk menyusun program berikutnya. Kemungkinan di akhir September ini akan diputar film G 30 S/PKI karya Arifin C. Noor, dengan agenda sama, yaitu membahas scoring musik. Kata Mas Daus, "Inilah film Indonesia terbaik sepanjang sejarah, bagi saya."

Monday, September 05, 2011

Silaturahim KlabKlassik 2011

Sabtu, 3 September 2011

Setelah tahun lalu melakukan silaturahim keliling rumah ke rumah, tahun ini KlabKlassik (KK) melakukan hal serupa. Ide cetusan Kang Tikno ini katanya ditujukan untuk, "Agar KK tidak semata-mata komunitas berbasiskan hobi musik klasik saja, tapi juga lebih dari itu, berbasiskan persaudaraan yang tulus."

Peserta halal bi halal yang start bersama-sama dari ada enam orang, yaitu Syarif, Kristianus, Pak Ato, Aldi, Jardika, dan Kang Aka. Pertama-tama KK mengunjungi rumah Kristianus terlebih dahulu di daerah Cicadas. Setelah itu lanjut mengunjungi rumah Mas Yunus di Sukajadi, yang kemudian Mas Yunus sendiri bergabung dengan rombongan. Setelah itu perjalanan dilanjutkan agak jauh ke daerah Cihanjuang, Parongpong, untuk mengunjungi rumah Pak Ato. Dari rumah Pak Ato, lanjut ke rumah Kang Aka di Cibuntu, yang salah satu tujuannya adalah juga menyantap Tahu Cibuntu. Dari Cibuntu yang terkenal dengan tahu nya itu, rombongan bergegas menjauh ke Bandung Timur, ke rumah Aldi di Riung Bandung. Setelah itu, KK mengunjungi rumah Jardika di daerah Margahayu. Tapi ternyata itu belum selesai, KK juga menyambangi rumah Mba Tarlen, pemilik Tobucil, di kawasan Gudang Selatan.

Ini dia foto-fotonya:

Jardika bermain gitar di kediaman Kristianus


Ini Aldi bermain di rumah Kristianus


Kediaman Mas Yunus

Tahu Cibuntu di kediaman Kang Aka