Minggu, 22 Januari 2012
Setelah berbulan-bulan edisi playlist tidak muncul, hari Minggu
kemarin akhirnya muncul lagi. Yang hadir tidak terlalu banyak, namun
pembahasan melebar hingga dua setengah jam. Ditambah lagi, di
tengah-tengah kegiatan, operator Adrian Benn mempresentasikan hal yang
menarik: Musik Video Game.
The Fragment of Memory Theme of Final Fantasy 8
Lagu yang dibawa oleh violinis Angsa dan Serigala, Afifa Ayu ini, adalah
musik yang keluar dari format string quartet. Katanya, "Karena saya
sering dengar kakak saya main game tersebut, jadi terngiang-ngiang." Mas
Ismail Reza menyebutkan, "Final Fantasy memang selalu menggarap musik
di game secara serius, sehingga impresi pemain menjadi kuat." Musik
bawaan Afifa ini menimbulkan diskusi segar yang digagas Benn. Ternyata
diam-diam ia membawa materi presentasi tentang evolusi musik dalam game
mulai dari console Atari, Nes, SEGA, hingga PC. "Keterbatasan hardware," kata Benn, "Membuat musik pada mulanya hanya dua suara saja, hingga lanjut empat suara, dan akhirnya bisa digital recording." Presentasi Benn ini membuat para peserta playlist jadi diwawaas, ingat masa kecilnya.
Presentasi Adrian Benn. Foto oleh Ismail Reza.
Nessun Dorma and Joy to the World (Twelve Girl Band)
Lagu yang diputar oleh Benn ini, menampilkan orkestra instrumen Cina
yang tampil di Shanghai. Pembahasan menjadi masuk ke perbandingan
orkestra instrumen Barat dan instrumen Cina. Kata Diecky, "Bagaimanapun
orkestra Barat lebih kompleks daripada Cina. Namun perlu diingat bahwa
Cina dalam satu oktaf punya 24 nada yang dua kali lipat lebih banyak
dari Barat. Artinya, Cina punya kompleksitas yang lain daripada Barat."
Amazing Grace between Violin and Erhu Instruments
Lagu yang dibawa oleh saya ini adalah lagu Amazing Grace yang
ditampilkan oleh dua instrumen yang berbeda dari dua peradaban yang
berbeda, yaitu biola dan erhu. Meski sama-sama instrumen gesek, namun
nuansa yang hadir berbeda. Kata Afifa, "Biola adalah instrumen
ekspresif, namun erhu ternyata lebih ekspresif." Kedua instrumen
tersebut memang terdengar berbeda, namun pertanyaan dalam forum itu
adalah: apakah cuma bahan dan konstruksinya yang membuat berbeda,
atau lebih dari itu, idiom, dialek, cengkok bangsanya juga menentukan
instrumen musik apa yang dianggap pantas mewakilinya?
Red (King Crimson)
Menjelang tahun baru Imlek, Mas Reza memutar satu lagu yang mengambil
esensi "merah" yang memang terasosiasi dengan perayaan Imlek. "Bedanya",
kata Reza sambil menunjukkan sampul album King Crimson, "Di sampul
album ini yang dominan justru warna hitam, warna merahnya hanya ada di
tulisan Red." Yang ditampilkan oleh Reza adalah progressive rock
yang katanya, "Satu dari seratus lagu gitar paling penting versi
majalah Rolling Stones." Gara-gara diputarnya lagu ini, pembahasan
menjadi melebar, yaitu membahas geliat progressive rock di Indonesia,
termasuk keberadaan RIO alias Rock In Opposition yang sangat bersemangat
untuk dibahas Diecky di bulan depan.
Minggu depan tanggal 29 Januari, KlabKlassik akan menghadirkan
bintang tamu Riyan Hidayat untuk mempresentasikan apa itu musik
"Shoegaze". Hadirilah!

0 comments:
Post a Comment