Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Friday, February 10, 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Shoegaze, Sikap atau Style?

Minggu, 29 Januari 2012


KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang hari itu diisi oleh sebuah topik tentang musik shoegaze. Diecky K. Indrapraja selaku koordinator mengundang Riyan Hidayat untuk membicarakan topik yang bagi sebagian dari anak-anak KlabKlassik tergolong asing. Yang hadir pada diskusi itu ada sekitar enam orang.
My Bloody Valentine, contoh band shoegaze yang melakukan gaya khas "melihat sepatu". Gambar diambil dari sini.
Riyan yang cukup aktif di komunitas KlabJazz ini, memulai presentasinya dengan membicarakan sejarah shoegaze itu sendiri. Riyan menyebutkan awal berkembangnya shoegaze dimulai dari sekelompok band yang tampil dalam satu kafe. Seorang pengamat yang duduk di antara penonton dengan jeli melihat kesamaan diantara kelompok band yang tampil tersebut, yaitu: Semuanya beraksi panggung dengan diam, melihat ke bawah, seolah pada sepatunya sendiri! Itulah cikal bakal kenapa disebut dengan shoegaze. Pertanyaan berikutnya: Apakah shoegaze itu sikap (melihat sepatu) atau suatu style (punya ciri musikal)?
Pertanyaan ini mengemuka setelah Riyan menemukan bahwa band shoegaze kontemporer tidak lagi bersikap "melihat sepatu", artinya suatu musik disebut shoegaze pastilah punya ciri khas musikal. Untuk mendiskusikan ini, Riyan memutar empat contoh musik shoegaze dari empat kelompok yang berbeda, salah satunya yang terkenal adalah My Bloody Valentine. Berdasarkan apa yang didengarkan, diperoleh beberapa kesimpulan tentang apakah shoegaze itu, misalnya Diecky, "Ada riff gitar yang diulang-ulang.", lalu Afifa, "Vokal yang terdengar seperti mengawang-awang," Galih menyebutkan, "Sedikit monoton."
Apapun itu, tapi setidaknya pengetahuan tentang shoegaze mulai terfondasikan pada para peserta. Sebelum datang ke tempat diskusi, Rahar dan Afifa mengeluhkan hal yang sama, "Pengetahuan tentang shoegaze nol banget nih." Loh, bukannya hanya gelas kosong yang bisa diisi?
Syarif Maulana

No comments: