Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Friday, February 17, 2012

Laporan edisi nobar: "Manuel Barruecco A gift and a life"

Edisi nobar film Manuel Barruecco (MB) A gift and a life kali ini dihadiri Beben, Kang Tikno, Aka Patra Suwanda, Royke Ng, Desy, dan komposer Diecky sebagai narasumber. Durasi 59 menit memang jadi terasa lama karena film ini lebih banyak interview daripada performance-nya yang kalau bagi saya pribadi rada membosankan :). Setelah pemutaran film kelar, pertemuan dilanjut dengan diskusi. Royke menggulirkan isu gitaris barat dan non-barat yang memainkan musik eropa. Menurutnya, MB yang dari Kuba bisa menginterpretasikan musik eropa terutama karya Bach sangat fasih. Saya menduga mungkin inilah yang dimaksud dengan universalitas dalam musik walaupun diecky mendebat hal itu: universal dalam hal apanya? tanya diecky...

Kang Tikno sebagai luthier (pembuat) gitar mengulas hal teknis dalam performance gitar klasik panggung profesional, seperti pertimbangan akustika gedung, kualitas gitar yang dipakai, senar, dan semua tools yang sangat penting untuk suatu kualitas performance yang maksimal. Desy cukup menikmati sajian musiknya walaupun bergelut sendiri dengan kesibukannya sambil memotong2 kertas entah dibuat untuk apa saya tidak tahu. Namun ia juga menceritakan pengalamannya ketika menonton suatu konser piano jazz klasik di sebuah hotel yang meski auranya sangat serius, tapi pada saat itu ia cukup menikmatinya. Beben sebagai sebagai penyanyi mengamati adegan ketika MB memberikan masterclass yang terkadang selalu menghentikan studentnya hanya untuk memberikan interpretasi dinamika, menurut beben ini kerap terjadi juga dalam teknis musik vokal, bertujuan frase yang dijalin agar terasa lebih musikal.

Aka sebagai penggiat seni rupa berbagi cerita persiapan pameran instalasinya yang baru beres minggu sebelumnya. Ia menunjukan sketsa gambar kerja rancangan instalasinya meyakinkan kami semua jika persiapan pamerannya kali ini cukup matang, dihubungkan dengan persiapan sebuah resital gitar klasik hal ini sepertinya harus lebih diperhatikan. Bagaimana dekorasi sebagai elemen visual juga penting untuk mendukung kualitas acara serta totalitas sebuah entertainment. Disini Diecky menambahkan ketika ia mengobrol dengan seniman boneka dari Eropa yang manggung di STSI, untuk lampu sorot, kursi ataupun benda-benda yang dianggap tidak penting si seniman itu membawa sendiri karena menurutnya lampu tersebut sudah menjadi bagian dari pertunjukkannya tak tergantikan. Maka saya pikir wajarlah jika band sekelas L'arc en ciel misalnya ingin membawa sound system, tim kreatif visual, dekorasi panggung sendiri, karena bagi mereka performance musik bukanlah bertumpu dengan musiknya saja, tapi seluruh elemen dibelakangnya ialah bagian yang tak tergantikan dari performance tersebut.

Akhirnya diskusi yang berjalan melebihi durasi filmnya ini harus selesai juga bersamaan dengan adzan maghrib berkumandang :)

Yunus Suhendar

No comments: