Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Friday, March 23, 2012

Anime String Orchestra: 2nd Concert















Senin, 9 April 2012
Auditorium IFI - Bandung
Jl. Purnawarman no. 32
Pk. 19.00 - 21.00

Tiket seharga 30.000 (early bird) dan 40.000 (on the spot) dapat diperoleh di Tobucil, Jl. Aceh no. 56 (022-4261548) atau Syarif (0817-212-404)

Mengetengahkan orkestra yang akan menampilkan karya-karya legendaris seperti:

1. Roundabout (Yes)
2. Long Distance Runaround (Yes)
3. Trilogy (Emerson Lake & Palmer)
4. Rocker juga Manusia (Seurieus)
5. Kashmir (Led Zeppelin)
6. Stairway To Heaven (Led Zeppelin)
7. Immigrant Song (Led Zeppelin)
8. Crosstown Traffic (Jimi Hendrix)
9. Spanish Castle Magic (Jimi Hendrix)
10. Hey Jude (The Beatles)
11. Rollover Beethoven (The Beatles)
12. And I Love Her (The Beatles)
13. Silvia & Hocus Pocus (Focus)
14. Bohemian Rhapsody (Queen)
15. Love Of My Life (Queen)
16. Nakal (Gigi)

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Menyelisik Khazanah Musik Blues

 
Minggu, 25 Maret 2012
Pk. 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan terbuka untuk umum
 
PROLOG
Oleh: Rully S. Ramdani

Blues merupakan ruh yang dihembuskan pada raga dari berbagai genre musik populer Amerika. Sebut saja Rock n'Roll, R & B, Soul, Funk, Hip Hop, Rap, dan bahkan saudara satu darahnya Jazz.

Beberapa mempertanyakan lebih dahulu mana Blues dan Jazz? Lalu kenapa Jazz terkesan lebih elegan, sedangkan Blues terkesan begitu kampungan dan rendah?

Semua berawal dari perbudakan, dan itu tidak akan pernah berakhir sampai dunia berakhir. Para budak yang membawa ruh musikal Afrika ke Amerika, dunia baru mereka. Bangsa kulit putih, yang tidak cukup mengeksploitasi dalam bentuk fisik saja, mereka mencuri kehebatan musik kulit hitam tersebut, dan tidak mau mengakuinya.

Ada esensi yang seringkali tidak bisa ditangkap oleh musisi Blues kulit hitam sekalipun, apalagi manusia Indonesia, yang sama sekali jauh dari asal Blues itu. Lalu seperti apa Blues itu sesungguhnya, apakah Bluesman di Indonesia sudah cukup kuat dan yakin merasa dirinya Bluesman? Apakah cukup sebatas memainkan musiknya saja?

Sangat disayangkan jika hanya menyenangi Blues karena musiknya saja, sementara di dalamnya banyak hal positif yang bisa jadi pelajaran hidup bagi kita. Sementara itu, kita memandang Blues identik dengan hidup menderita, gitar, blue notes, minuman beralkohol, sex, dan drugs.

Ironi, saya rasa bukan itu...


Narasumber dalam diskusi sore kali ini adalah Abah Blues. Baginya, Blues sudah terkonstruksi dalam diri semenjak SMP. Karya tulis Tugas Akhirnya berjudul "Woman Blues" dan "Sejarah Perkembangan Musik Blues di Kota Bandung". Aktivitas musiknya saat ini sebagai penggiat komunitas Blues di Bandung, peneliti musik, dan juga gitaris grup musik "Uncle Traff".

KlabKlassik: Mabuk bersama 2001: A Space Odyssey

Minggu, 11 April 2012
Setelah terakhir kali menyimak music scoring film Taxi Driver (1976) hampir enam bulan silam, KlabKlassik kembali mengadakan acara serupa dengan film berbeda. Yang sekarang adalah film besutan Stanley Kubrick tahun 1968 yang berjudul 2001: A Space Odyssey.

Film berjudul 142 menit itu cukup unik. Selain karena maknanya yang sulit ditangkap karena dialog yang sedikit, film 2001 juga menghadirkan elemen visualisasi yang tajam dan begitu canggih di masanya. Selain itu, tentu saja, yang menjadi menarik adalah signifikansi peran music scoring yang terasa sekali begitu dominan. Ada musik dari Richard Strauss berjudul Also Sprach Zarathustra, musik dari Johann Strauss berjudul Blue Danube, dan musik avant-garde dari Gyorgy Ligeti berjudul Requiem. Film ini tergolong unik, karena terasa sekali tempo dalam scene filmnya sangat menyesuaikan diri dengan tempo si musik. Seperti misalnya ada adegan ketika seorang awak kapal ruang angkasa menyajikan makanan bagi awak kapal lainnya, ia berjalan seperti halnya mengikuti irama waltz di lagu Blue Danube.
Meskipun bagi peserta cukup melelahkan untuk menyaksikan film bernarasi lambat ini, namun sebagian besar bertahan sampai akhir dan berdiskusi mengenainya. Mas Daus, seorang penikmat film, membagi referensinya yaitu satu music scoring dari Alex North. Ketika Mas Daus bertanya, "Ada gak musik ini di film tadi?" Para peserta bersamaan menggeleng. "Ya, tadinya musik ini yang bakalan dipakai. Tapi Stanley Kubrick berubah pikiran, dan memilih musik-musik yang sudah jadi saja. Tapi Kubrick sendiri tidak bicara pada North sampai North mengetahuinya pas premiere film."
Yang menjadi perhatian Diecky justru ada dua: Pertama, ia begitu menyukai pemilihan Kubrick pada musik-musik Ligeti. Ini dianggap sangat cocok dan menimbulkan sensasi tersendiri. Kedua, dalam film tersebut ada tokoh bernama HAL 9000, semacam komputer yang punya karakter antagonis. Kata Diecky, "Menarik sekali, kenapa HAL 9000 bersuara laki-laki dan bukan perempuan? Apakah punya efek tersendiri? Padahal kita tahu di manapun, entah bioskop, stasiun, atau voice-mail, pengisi suara itu kerapkali perempuan."
Ketika membicarakan makna film, para peserta merasa kesulitan. Memang, Kubrick sendiri tidak berbicara gamblang, katanya bebas saja untuk menafsirkan aspek filosofis dari film tersebut. Kata Mas Daus, "Mungkin saja, di adegan-adegan awal, ada monyet yang memenangkan pertarungan dengan alat, itu simbol bahwa manusia kelak akan menggunakan alat untuk menguasai segalanya. Pada akhirnya, ribuan tahun kemudian memang iya, manusia terbang ke angkasa dengan alat, tapi juga alat itu sendiri mengontrol manusia." Alat yang dimaksud tentu saja adalah sang komputer antagonis: HAL 9000.

Saturday, March 17, 2012

KlabKlassik: Menyimak Music Scoring Film "2001: A Space Odyssey"


Minggu, 18 Maret 2012
Pk. 15.00 - 18.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan terbuka untuk umum

"2001: A Space Odyssey" adalah film fiksi-ilmiah yang disutradarai oleh Stanley Kubrick. Film berdurasi 142 menit tersebut berkisah tentang penyelidikan batu monolit hitam dan perjalanan ke Planet Jupiter. "2001: Space Odyssey" termasuk film brilian karena kombinasi visual dan audio yang apik. Kubrick juga meminimalisasi dialog. Katanya, "is basically a visual, nonverbal experience" . Terdapat interpretasi yang beragam tentang makna di balik film ini, namun satu hal yang paling sering disorot adalah pemilihan music scoring-nya, yaitu dua karya besar era romantik: On A Beautiful Blue Danube karya Johann Strauss II dan Also Sprach Zarathustra karya Richard Strauss. Suatu pertimbangan yang unik untuk film yang pada masa itu menggambarkan dunia nyaris lima puluh tahun ke depan. Mari kita dengar-lihat-hayati sama-sama, sebuah karya puitik Stanley Kubrick, yang futuristik sekaligus klasik.

Friday, March 16, 2012

KlabKlassik Edisi Playlist #11: Galau yang Merindukan Damai

Minggu, 11 Maret 2012
Berbeda dengan biasanya, KlabKlassik Edisi Playlist kemarin mulai pukul 13.00 oleh sebab adanya suatu urusan. Royke, Benn, Syarif, AM, Nita, Rudy, dan Desy menjadi peserta kali ini. Kecuali Desy, yang lain membawa lagunya, yang bagi mereka masing-masing memberikan kedamaian. Karena topiknya adalah One Day of Peace and Music.
 
1. (Suara Hujan)
Suara hujan ini diunduh langsung oleh Royke Ng di tempat. Ia memilih suara itu karena sederhana saja: Suara hujan selalu membuatnya tenang, apalagi di waktu malam. Deskripsi sampel suara itu adalah: Light summer rainstorm falling on St. Paul. The thunder was interesting, rumbling and echoing in the distance. "Lagu" ini menarik karena tanpa sadar selalu kita temukan dalam keseharian, namun jarang sekali diapresiasi secara pribadi. Jika mendengar hujan, Royke biasanya langsung bersantai dan menikmati secara mendalam. Meskipun demikian, tentu saja ada perbedaan antara "hujan audio" dengan hujan betulan. Pada hujan betulan, kita merasakannya dengan seluruh panca indera: Ada bau tanah, rasa dingin, dan rintik air dari langit.

2. Joe Pass - Georgia
Lagu yang dibawa oleh AM ini (inisial dari Muhammad Al Mukhlisiddin) berisikan melodi gitar jazz yang amat manis. AM memilih Joe Pass setelah membaca buku yang isinya daftar gitaris jazz terbaik. Joe Pass masuk hitungan karena kebiasaannya menggunakan suara clean tanpa efek. Lagu Georgia ini terbilang menenangkan, karena meski suara gitarnya dinamis, suara bassnya sedemikian statis, lambat, dan menyentuh "bawah" batin.
3. Michael Franks - Antonio's Song
Lagu yang dibawa Syarif ini adalah bossanova. Isinya percakapan antara Michael dan gurunya, salah satu Bapak Bossanova yaitu Michael Franks. Seperti lagu sebelumnya, Antonio's Song juga cukup membuat galau. Kata Nita, "Mendengarkan bossanova itu membuat dunia menjadi berwarna sephia." 
4. Frank Zappa - Worms from Hell
Berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya yang memang menenangkan, lagu yang ini membingungkan, karena begitu dinamis, tidak stabil, dan "meracau". Rudy bilang, "Lagu ini bikin saya panik." Sementara AM menganalogikan lagu ini sebagai, "Sesuatu yang mencoba keluar tapi tidak bisa." Sisi damainya kemudian dijelaskan oleh si pembawa lagu, Diecky, "Zappa sudah meninggal ketika lagu ini dirilis. Maksudnya, karya-karya Zappa sedemikian banyaknya sehingga setelah dia meninggal pun masih ada yang dirilis. Tapi interpretasi lainnya, bisa saja Zappa menulis karya ini di neraka. Artinya, dia cukup tenang bukan sehingga bisa memperhatikan cacing di alam sana?" 
5. The Korgiz - Everybody's Gotta Learn Sometimes
Lagu yang dibawa Nita ini terbilang sederhana. Liriknya cuma itu-itu aja: 
I need your loving like the sunshine
And everybody's got to learn sometime
Everybody's got to learn sometime
Everybody's got to learn sometime

Change your heart

Look around you
Change your heart
It will astound you
Namun lirik yang pasif dan irama yang statis ini justru menimbulkan efek yang meditatif: menenangkan.
6. Celtic Women - Danny Boy
Lagu yang dibawa oleh operator Adrian Benn ini didaulat sebagai lagu yang "menenangkan pada dirinya sendiri". Jika lagu sebelumnya ada yang galau dan meracau, maka lagu ini betul-betul membuat syahdu suasana. Danny Boy adalah lagu tradisional Irlandia, namun kata Benn, "Sering dimiskonsepsikan jadi lagu Gereja."
7. Dhafer Youssef - Al Hallaj
Lagu terakhir ini dibawa oleh Rudy. "Ditemukan secara tidak sengaja ketika ngetik keyword 'Al-Hallaj' di google," aku Rudy." Mendengarkan lagu ini, aku seperti sedang sendiri di gereja," lanjutnya. Lagunya memang berirama timur tengah. Msskipun liriknya tidak dipahami, namun semua setuju bahwa lagunya teramat mendamaikan dan sufistik.
Berakhir sudah tujuh lagu yang diputar sebagai ritual edisi playlist #11. Ada satu kalimat yang menjadi kesimpulan pertemuan tersebut, diambil dari kata-kata Diecky: "Ketika damai, orang akan tindu kegalauan. Namun ketika galau, orang akan merindukan kedamaian."

Friday, March 09, 2012

KlabKlassik Edisi Playlist #11: One Day of Peace and Music


Minggu, 11 Maret 2012
Pk. 13.00 - 15.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Tentang Edisi Playlist
Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.
Tatacara
Peserta kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.
Latar Belakang Edisi Kali Ini
Hari Minggu yang lalu KlabKlassik baru saja memutar dokumenter Woodstock, sebuah event yang bertajuk "An Aquarian Exposition: 3 Days of Peace & Music". Max Yasgur, pemilik tanah yang menjadi lokasi event tersebut menyatakan bahwa :

...it as a victory of peace and love. He spoke of how nearly half a million people filled with possibilities of disaster, riot, looting, and catastrophe spent the three days with music and peace on their minds. He states that "if we join them, we can turn those adversities that are the problems of America today into a hope for a brighter and more peaceful future."
Sebuah prestasi yang luar biasa, dimana segitu banyaknya orang berkumpul dalam sebuah mosi damai. Selain faktor subkultur 1960an dengan flower generationnya, dikatakan bahwa musik yang tersaji itu sendiri yang sanggup menghadirkan kedamaian.
Bagaimana tanggapan anda? Edisi playlist kali ini bertemakan '1 Day of Peace & Music'. Setiap peserta wajib membawa sebuah musik yang menurut peserta dapat membuat pendengarnya merasakan damai. Bisa damai yang subjektif, bisa perdamaian dunia utopian, bebas.

Friday, March 02, 2012

KlabKlassik Edisi Film: Woodstock (1970) The Documentary Film

Minggu, 4 Maret 2012
Pk. 15.00 - 18.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
(gratis dan terbuka untuk umum)

Majalah Rolling Stone menyebutnya sebagai “50 Moments That Changed the History of Rock and Roll”, ada juga yang menyebutnya Hippiefest, mungkin inilah salah satu tonggak sejarah dalam revolusi budaya pop yang begitu monumental dan penuh fenomena dimana ratusan ribu orang berkumpul dengan damai hanya untuk menikmati musik, ialah Woodstock Music and Art Fair yang terjadi pada tanggal 15 -18 Agustus 1969 menyandang tema “3 days of peace and music”, event ini bertempat di ladang peternakan sapi perah milik seorang petani Max Yasgur seluas 600 hektar di sullivan county sekitar 40 km sebelah barat daya dari kota woodstock, lahan peternakan yang mirip seperti mangkuk kolam itu menjadi saksi sejarah 3 hari yang yang terus menerus hujan dengan ribuan orang hippie mandi lumpur disana. Festival ini disebut Woodstock karena seharusnya dilaksanakan di kota woodstock di ulster county , new york namun pemerintah setempat tidak memberikan izin karena diperkirakan satu juta orang lebih akan datang memenuhi kota apalagi rencana penyelenggara untuk memfasilitasi toilet portable pun akhirnya ditolak oleh dewan kota, tetapi penolakan ini malah membuaat issue event ini jadi semakin booming dan mengundang ketertarikan banyak investor. Amerika saat itu sedang masa resesi setelah perang vietnam yang menciptakan trauma psikologis massal bagi para keluarga veteran yang dikirimkan ke vietnam, woodstock seakan ialah sebuah oase, sebuah kerinduan akan dunia yang damai tanpa kekerasan.

Sejumlah band dan artis yang tampil di Woodstock akhirnya menjadi superstar dan legenda seperti Creedence Clearwater Revival (CCR), The Jefferson Airplane, The Who, Joan Baez (sedang hamil 6 bulan), Janis Joplin with the cosmic blues band, Blood Sweat & Tears, Joe Cocker, Johnny Winter, Ten Years after, Crosby Stills Nash & Young, Jimi Hendrix, dan masih banyak performer lainnya, dibuka oleh Richie Havens dan ditutup sang dewa Jimi Hendrix sungguh event ini takkan pernah terulang dalam sejarah, pada hari pertama juga dibuka dengan opening speech dan doa bersama oleh brahmana Swami Satchidananda seorang guru spiritual yoga india yang bermukim di amerika membuat atmosfir woodstock terasa damai dan sakral.yang tidak terlupakan ialah performance gitar Jimi Hendrix memainkan lagu kebangsaan amerika “Star Spangled Banner” menurut kesaksian, banyak orang merasakan kegetiran perang vietnam dalam sayatan distorsi jimi, mungkin hal ini terpengaruh oleh masa wajib militer yang dijalaninya di tahun 1961. banyak juga band dan artis yang menolak tawaran bermain di woodstock dan sebagian menyesal, The Beatles menolak karena pihak panitia tidak mengizinkan permintaan John Lennon untuk sebuah spot stage bagi istrinya Yoko Ono's Plastic Ono Band, Bob Dylan yang kebetulan rumahnya dekat dengan area woodstock merasa tidak senang dengan aksi para hippie di belakang rumahnya, Jeff Beck sempat ditawarin tapi ia terlanjur membubarkan Band yang dibentuknya, Led Zeppelin bentrok dengan jadwal konsernya di jersey, Procol Harum juga sama sedang schedule Tour. Band yang paling potensial dan dinanti penampilannya di event ini oleh para hippies ialah The Doors, sayangnya tawaran ini ditolak oleh sang gitaris Robbie Krieger dengan alasan masih trauma dengan kasus morrison yang terjadi di monterey pop festival.

Dokumentasi Film Woodstock ini disutradarai oleh Michael wadleigh dan disunting kembali oleh Thelma Schoonmaker dan Martin scorsese, film ini meraih Oscar untuk dokumenter terbaik dan sangat menolong kebangkitan kembali bagi rumah produksi Warner Bros yang hampir bangkrut. Durasi film yang hampir mencapai 3 jam cukup menguras stamina tetapi 3 jam walaupun tidak cukup mewakili 3 hari woodstock yang sebenarnya, seharusnya layak untuk disimak dengan santai dibarengi kopi aroma yang selalu panas :)



Psikedelik: Hidup ini hanyalah mimpi, dan kita adalah imajinasi diri kita sendiri

Tubuh adalah Penjara Jiwa ~plato, Psikedelik Membebaskannya! 

Minggu, 26 Februari 2012 di Tobucil sedang berlangsung bincang-bincang musik. Isu yang diusung kali ini adalah Musik Psikedelik: Antara Spiritualisme dan Budaya. Sebenarnya ini bukan kali pertama Klabklassik mengangkat isu tersebut. Atas desakan rasa penasaran dan keingintahuan yang besar, akhirnya isu psikedelik musik diangkat kembali, namun dengan pokok bahasan yang lebih mendalam. Bincang-bincang ini menghadirkan Ismail Reza sebagai narasumber dan dipandu oleh Diecky K. Indrapraja. Diluar dugaan, peserta bincang-bincang kali ini cukup banyak, yaitu sekitar 12 orang lebih. Minggu sore yang hujan, tak terasa dinginnya setelah dihangatkan oleh sepuluh lagu psikedelik yang telah disiapkan oleh Reza.
Bincang-bincang dibuka oleh pendahuluan dari Diecky tentang kompleksitas manusia dewasa yang semakin berpengetahuan dan berpengalaman, serta memiliki pemahaman atas keduanya, justru merasa terkekang oleh beragam ikatan. Norma, adat, agama, hingga logika adalah belenggu ikatan yang kadang membatasi. Tentu saja ragam belenggu tersebut tidaklah salah untuk disepakati. Bagi kaum psikedelik, mereka hanya tidak mau menjadi naif dalam menjalani hidup. Selanjutnya Reza memaparkan cikal lahirnya psikedelik, yaitu di akhir tahun 60-an, ketika isu ras kulit putih dan kulit hitam begitu kental di Amerika dan Inggris pada umumnya. Ras kulit putih adalah “bangsawan”, yang seharusnya berprofesi sebagai pengacara, politisi, dan selera musiknya pun musik klasik Eropa, singkatnya ras kulit putih berderajat sosial lebih tinggi dan kaum mapan, baik secara pendidikan maupun secara ekonomi. Kendati demikian, beberapa golongan ras kulit putih tersebut justru ingin keluar dari pengelompokan strata saat itu. Mereka hanya ingin menjadi insan yang tak terkotakkan dan tak berbatas. Sejak itu tunas budaya psikedelik mulai tumbuh, baik di dunia seni visual, suara, hingga sastra.
Bincang-bincang diteduhkan sejenak dengan diputarnya dua buah lagu generasi psikedelik awal, yaitu dari The Byrds berjudul “Eight miles high” dan dari 13th Floor Elevators berjudul “You Don't Know (How Young You Are Now)”. Dari sisi instrumentasi, keduanya mencoba mengeksplorasi warna-warna bunyi baru dalam teknologi yang masih sangat sederhana. Artikulasi melodi gitar listriknya pun serasa entah sedang membuat kalimat apa. Lirik lagu “You don't know (How young you are now)” seolah mengingatkan pada para pendengar lagu ini untuk mempertanyakan kembali seberapa muda, lugu dan polos kah kita, hingga pendewasaan usia menjadikan kita naif dalam menghadapi banyal hal.
Selanjutnya Reza membawa kami pada band asal Inggris yang tersohor, yaitu The Yardbirds dengan lagu “For Your Love”. Band yang merupakan bagian dari gelombang British Invasion ini pernah melahirkan gitaris-gitaris dunia, antara lain Eric Clapton, Jeff Beck, dan Jimmy Page. Inovasi-inovasi untuk kekayaan suara pada gitar mulai dikenalkan di masa band ini populer. The Yardbirds merupakan cikal berdirinya band legendaris dunia, Led Zeppelin. Reza menjelaskan bahwa psikedelik juga mengusung kekayaan musikal dari negara-negara hasil jajahan kolonial, sebut saja India, Marroko, Jamaika, dan sebagainya. Sehingga tak heran jika lagu “For your love” yang melibatkan suara perkusi yang mirip dengan “Ketipung”.
Bincang-bincang semakin seru ketika dua lagu dari Soft Machine diputar, yaitu “Save Yourself” dan “Priscilla”. Soft Machine bisa disebut sebagai band psikedelik generasi awal yang beraliran rock. Reza membuka paparan tentang band ini melalui pilihan nama Soft Machine sebagai nama band. Soft Machine adalah nama dari buku yang ditulis oleh William Burroughs, yang konon merupakan salah satu penulis beraliran psikedelik. Pembicaraan makin menghangat ketika peserta bincang-bincang mempertanyakan kembali, sebenarnya apa sih psikedelik itu? Aliran kah? Gaya kah? Atau?. Memang, psikedelik merupakan sebuah budaya (culture), sehingga kalau dikaitkan ke dalam ranah musik disebut Psikedelik Musik, dalam ranah visual disebut Psikedelik Rupa (Surialisme), dalam ranah sastra disebut Psikedelik Sastra, dan seterusnya. Theo, salah satu peserta bincang-bincang mendefinisikan psikedelik sebagai “sikap” seorang kreator. Sementara Reza mendefinisikan psikedelik sebagai “ideologi” dalam berkarya. Artinya, psikedelik bukanlah aliran ataupun gaya dalam berkesenian. Sehingga psikedelik bisa mewujud sebagai musik Blues, Rock, Pop, Jazz, Progressive, hingga Kontemporer sekalipun. Kembali pada Soft Machine, emosi musikal yang ditawarkan oleh band ini sangatlah kuat, namun diendapkan. Menurut Budi Waskito, salah satu peserta bincang-bincang, penahanan emosi tersebut sebagai bagian dari pilihan estetik dalam bermusiknya.
Belum afdol rasanya jika belum mendengarkan band Inggris yang sangat kental aroma psikedeliknya, Pink Floyd. Reza memilihkan lagu Pink Floyd yang diambil dari album pertamanya yaitu “Interstellar Overdrive”. Lagu instrumental berdurasi hampir 10 menit ini menawarkan bebunyian unik, aneh, janggal dan liar, khususnya pada eksplorasi gitar yang dimainkan oleh Syd Barrett. Nuansa space out yang membawa pendengar pada dimensi dunia lain. Kekayaan imajinasi bunyi seolah menciptakan mimesis-mimesis alam dan mahluk yang mendiami di dalamnya. Seperti munculnya suara binatang yang entah itu ayam atau apa, dan pada akhirnya setiap bunyi akan menghadirkan tafsir yang tidak sekedar multi, tapi juga bertabir dan berlipat-lipat. Lagu ini lebih bersifat improvisatif, punctual dengan dukungan bentuk lagu yang free form, namun tetap menjaga tema musikalnya.
Setelah menyimak lagu-lagu dari Amerika dan Inggris, giliran band Jerman yang dipilihkan oleh Reza. Can dan Faust merupakan band Jerman menyikapi psikedelik dengan caranya sendiri: Jerman!. Baik Can maupun Faust, mereka mencoba keluar dari psikedelik yang mainstream dan lebih eksperimental. Can misalnya, lewat lagu “Oh Yeah”, namun dalam lirik lagunya tidak ditemukan kalimat “oh yeah” tersebut. Proses rekaman pun cukup unik, khususnya pada bagian vokal, yaitu setelah bagian vokal direkam, maka diputar kembali secara terbalik dari belakang ke depan (backwards). Selanjutnya digabungkan dalam bagian lagu secara utuh. Persoalan bagaimana mensiasati progresi akord, aksentuasi ritme, dan struktur atau bentuk lagu setelah proses backwards tersebut merupakan kecerdasan musikal tersendiri dari aspek komposisinya. Tidak cuman itu, lirik lagu juga terdiri dari dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Vokalis Can (Damo Suzuki) pada lagu ini memang orang Jerpang yang ditemukan oleh para personil Can di sebuah cafe di Jerman. Masih tentang lirik lagu yang berbahasa Inggris, susah sekali mencari makna apa yang hendak di sampaikan oleh band ini. Meskipun lirik lagu tersebut termasuk lirik yang singkat atau tidak panjang. Lagu “Oh Yeah” merupakan lagu dari album ketiga Can yang diabadikan dalam buku berjudul “1001 Albums You Must Hear Before You Die”. Tak kalah uniknya, Faust dalam lagu “Why Don’t You Eat Carrot” juga menyuguhkan komposisi yang lebih avantgarde untuk dunia industri musik. Lagu yang berdurasi hampir 10 menit ini menguras energi pendengaran peserta bincang-bincang sore ini. Lagu “Why don’t you eat carrot” ini melibatkan unsur-unsur musik elektronik khas Jerman dalam komposisinya. Teknik kolase atau teknik penggabungkan bagian per bagian lagu yang sangat radikal, hingga benturan kontras berbagai gaya musik terkombinasi dengan sangat vulgar. Seperti halnya Can, lirik lagu “Why don’t you eat carrot” susah dipahami maknaknya. Korelasi kata wortel (carrot) pun tidak jelas merujuk pada apa. Liriknya juga terdiri dari dua bahasa, Inggris dan Jerman. Album dari lagu ini memang tidak cukup laku di masanya, namun selalu diperbincangkan dan menjadi perdebatan yang tak pernah habis oleh para seniman musik dan kritikus musik kala itu.
Antusias Reza sebagai narasumber masih membara, masih banyak lagu-lagu yang dia siapkan sebagai stimulus memahami psikedelik lebih dalam. Namun demikian waktu yang tersedia tidak sebanding dengan ulasan yang hendak diperbincangkan. Akhirnya dua lagu terakhir yaitu dari Sly and The Family Stone berjudul  “I Want To Take You Higher” dan dari musisi kawan Miles Davis berjudul “Black Satin” menutup bincang-bincang sore kali ini. Bulan depan, di hari yang sama minggu keempat akan disuguhkan bincang-bincang dengan topik yang berbeda, yaitu ”Musik Blues”.

“Sesungguhnya musik telah mencintai kita abadi, bahkan sebelum kita bisa memahaminya” ~papameong
 Diecky K. Indrapraja


Foto-foto suasana pertemuan psikedelik oleh Ismail Reza

I