Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Friday, March 02, 2012

Psikedelik: Hidup ini hanyalah mimpi, dan kita adalah imajinasi diri kita sendiri

Tubuh adalah Penjara Jiwa ~plato, Psikedelik Membebaskannya! 

Minggu, 26 Februari 2012 di Tobucil sedang berlangsung bincang-bincang musik. Isu yang diusung kali ini adalah Musik Psikedelik: Antara Spiritualisme dan Budaya. Sebenarnya ini bukan kali pertama Klabklassik mengangkat isu tersebut. Atas desakan rasa penasaran dan keingintahuan yang besar, akhirnya isu psikedelik musik diangkat kembali, namun dengan pokok bahasan yang lebih mendalam. Bincang-bincang ini menghadirkan Ismail Reza sebagai narasumber dan dipandu oleh Diecky K. Indrapraja. Diluar dugaan, peserta bincang-bincang kali ini cukup banyak, yaitu sekitar 12 orang lebih. Minggu sore yang hujan, tak terasa dinginnya setelah dihangatkan oleh sepuluh lagu psikedelik yang telah disiapkan oleh Reza.
Bincang-bincang dibuka oleh pendahuluan dari Diecky tentang kompleksitas manusia dewasa yang semakin berpengetahuan dan berpengalaman, serta memiliki pemahaman atas keduanya, justru merasa terkekang oleh beragam ikatan. Norma, adat, agama, hingga logika adalah belenggu ikatan yang kadang membatasi. Tentu saja ragam belenggu tersebut tidaklah salah untuk disepakati. Bagi kaum psikedelik, mereka hanya tidak mau menjadi naif dalam menjalani hidup. Selanjutnya Reza memaparkan cikal lahirnya psikedelik, yaitu di akhir tahun 60-an, ketika isu ras kulit putih dan kulit hitam begitu kental di Amerika dan Inggris pada umumnya. Ras kulit putih adalah “bangsawan”, yang seharusnya berprofesi sebagai pengacara, politisi, dan selera musiknya pun musik klasik Eropa, singkatnya ras kulit putih berderajat sosial lebih tinggi dan kaum mapan, baik secara pendidikan maupun secara ekonomi. Kendati demikian, beberapa golongan ras kulit putih tersebut justru ingin keluar dari pengelompokan strata saat itu. Mereka hanya ingin menjadi insan yang tak terkotakkan dan tak berbatas. Sejak itu tunas budaya psikedelik mulai tumbuh, baik di dunia seni visual, suara, hingga sastra.
Bincang-bincang diteduhkan sejenak dengan diputarnya dua buah lagu generasi psikedelik awal, yaitu dari The Byrds berjudul “Eight miles high” dan dari 13th Floor Elevators berjudul “You Don't Know (How Young You Are Now)”. Dari sisi instrumentasi, keduanya mencoba mengeksplorasi warna-warna bunyi baru dalam teknologi yang masih sangat sederhana. Artikulasi melodi gitar listriknya pun serasa entah sedang membuat kalimat apa. Lirik lagu “You don't know (How young you are now)” seolah mengingatkan pada para pendengar lagu ini untuk mempertanyakan kembali seberapa muda, lugu dan polos kah kita, hingga pendewasaan usia menjadikan kita naif dalam menghadapi banyal hal.
Selanjutnya Reza membawa kami pada band asal Inggris yang tersohor, yaitu The Yardbirds dengan lagu “For Your Love”. Band yang merupakan bagian dari gelombang British Invasion ini pernah melahirkan gitaris-gitaris dunia, antara lain Eric Clapton, Jeff Beck, dan Jimmy Page. Inovasi-inovasi untuk kekayaan suara pada gitar mulai dikenalkan di masa band ini populer. The Yardbirds merupakan cikal berdirinya band legendaris dunia, Led Zeppelin. Reza menjelaskan bahwa psikedelik juga mengusung kekayaan musikal dari negara-negara hasil jajahan kolonial, sebut saja India, Marroko, Jamaika, dan sebagainya. Sehingga tak heran jika lagu “For your love” yang melibatkan suara perkusi yang mirip dengan “Ketipung”.
Bincang-bincang semakin seru ketika dua lagu dari Soft Machine diputar, yaitu “Save Yourself” dan “Priscilla”. Soft Machine bisa disebut sebagai band psikedelik generasi awal yang beraliran rock. Reza membuka paparan tentang band ini melalui pilihan nama Soft Machine sebagai nama band. Soft Machine adalah nama dari buku yang ditulis oleh William Burroughs, yang konon merupakan salah satu penulis beraliran psikedelik. Pembicaraan makin menghangat ketika peserta bincang-bincang mempertanyakan kembali, sebenarnya apa sih psikedelik itu? Aliran kah? Gaya kah? Atau?. Memang, psikedelik merupakan sebuah budaya (culture), sehingga kalau dikaitkan ke dalam ranah musik disebut Psikedelik Musik, dalam ranah visual disebut Psikedelik Rupa (Surialisme), dalam ranah sastra disebut Psikedelik Sastra, dan seterusnya. Theo, salah satu peserta bincang-bincang mendefinisikan psikedelik sebagai “sikap” seorang kreator. Sementara Reza mendefinisikan psikedelik sebagai “ideologi” dalam berkarya. Artinya, psikedelik bukanlah aliran ataupun gaya dalam berkesenian. Sehingga psikedelik bisa mewujud sebagai musik Blues, Rock, Pop, Jazz, Progressive, hingga Kontemporer sekalipun. Kembali pada Soft Machine, emosi musikal yang ditawarkan oleh band ini sangatlah kuat, namun diendapkan. Menurut Budi Waskito, salah satu peserta bincang-bincang, penahanan emosi tersebut sebagai bagian dari pilihan estetik dalam bermusiknya.
Belum afdol rasanya jika belum mendengarkan band Inggris yang sangat kental aroma psikedeliknya, Pink Floyd. Reza memilihkan lagu Pink Floyd yang diambil dari album pertamanya yaitu “Interstellar Overdrive”. Lagu instrumental berdurasi hampir 10 menit ini menawarkan bebunyian unik, aneh, janggal dan liar, khususnya pada eksplorasi gitar yang dimainkan oleh Syd Barrett. Nuansa space out yang membawa pendengar pada dimensi dunia lain. Kekayaan imajinasi bunyi seolah menciptakan mimesis-mimesis alam dan mahluk yang mendiami di dalamnya. Seperti munculnya suara binatang yang entah itu ayam atau apa, dan pada akhirnya setiap bunyi akan menghadirkan tafsir yang tidak sekedar multi, tapi juga bertabir dan berlipat-lipat. Lagu ini lebih bersifat improvisatif, punctual dengan dukungan bentuk lagu yang free form, namun tetap menjaga tema musikalnya.
Setelah menyimak lagu-lagu dari Amerika dan Inggris, giliran band Jerman yang dipilihkan oleh Reza. Can dan Faust merupakan band Jerman menyikapi psikedelik dengan caranya sendiri: Jerman!. Baik Can maupun Faust, mereka mencoba keluar dari psikedelik yang mainstream dan lebih eksperimental. Can misalnya, lewat lagu “Oh Yeah”, namun dalam lirik lagunya tidak ditemukan kalimat “oh yeah” tersebut. Proses rekaman pun cukup unik, khususnya pada bagian vokal, yaitu setelah bagian vokal direkam, maka diputar kembali secara terbalik dari belakang ke depan (backwards). Selanjutnya digabungkan dalam bagian lagu secara utuh. Persoalan bagaimana mensiasati progresi akord, aksentuasi ritme, dan struktur atau bentuk lagu setelah proses backwards tersebut merupakan kecerdasan musikal tersendiri dari aspek komposisinya. Tidak cuman itu, lirik lagu juga terdiri dari dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Jepang. Vokalis Can (Damo Suzuki) pada lagu ini memang orang Jerpang yang ditemukan oleh para personil Can di sebuah cafe di Jerman. Masih tentang lirik lagu yang berbahasa Inggris, susah sekali mencari makna apa yang hendak di sampaikan oleh band ini. Meskipun lirik lagu tersebut termasuk lirik yang singkat atau tidak panjang. Lagu “Oh Yeah” merupakan lagu dari album ketiga Can yang diabadikan dalam buku berjudul “1001 Albums You Must Hear Before You Die”. Tak kalah uniknya, Faust dalam lagu “Why Don’t You Eat Carrot” juga menyuguhkan komposisi yang lebih avantgarde untuk dunia industri musik. Lagu yang berdurasi hampir 10 menit ini menguras energi pendengaran peserta bincang-bincang sore ini. Lagu “Why don’t you eat carrot” ini melibatkan unsur-unsur musik elektronik khas Jerman dalam komposisinya. Teknik kolase atau teknik penggabungkan bagian per bagian lagu yang sangat radikal, hingga benturan kontras berbagai gaya musik terkombinasi dengan sangat vulgar. Seperti halnya Can, lirik lagu “Why don’t you eat carrot” susah dipahami maknaknya. Korelasi kata wortel (carrot) pun tidak jelas merujuk pada apa. Liriknya juga terdiri dari dua bahasa, Inggris dan Jerman. Album dari lagu ini memang tidak cukup laku di masanya, namun selalu diperbincangkan dan menjadi perdebatan yang tak pernah habis oleh para seniman musik dan kritikus musik kala itu.
Antusias Reza sebagai narasumber masih membara, masih banyak lagu-lagu yang dia siapkan sebagai stimulus memahami psikedelik lebih dalam. Namun demikian waktu yang tersedia tidak sebanding dengan ulasan yang hendak diperbincangkan. Akhirnya dua lagu terakhir yaitu dari Sly and The Family Stone berjudul  “I Want To Take You Higher” dan dari musisi kawan Miles Davis berjudul “Black Satin” menutup bincang-bincang sore kali ini. Bulan depan, di hari yang sama minggu keempat akan disuguhkan bincang-bincang dengan topik yang berbeda, yaitu ”Musik Blues”.

“Sesungguhnya musik telah mencintai kita abadi, bahkan sebelum kita bisa memahaminya” ~papameong
 Diecky K. Indrapraja


Foto-foto suasana pertemuan psikedelik oleh Ismail Reza

I

No comments: