Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Friday, April 27, 2012

KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang: Membasuh Kusam-Suramnya Hidup Melalui Black Metal


Minggu, 29 April 2012
Pk. 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56

Bulan April Indonesia dibanjiri konser-konser musik rock, sebut saja konser Dream Theater yang bertajuk  “A Dramatic Tour of Events” pada 21 April, konser Yes yang bertajuk "Fly From Here World Tour" pada 24 April, dan yang paling fresh konser kompilasi band-band Metal “Hammersonic: Jakarta International Metal Festival” pada 28 April. Musik rock menelurkan berbagai genre musik, mulai dari genre turunannya langsung (sub-genre), hingga genre peleburan atau perpaduan (fusion genre). Anak cucu turunan musik rock sangatlah luas, beragam dan tersebar meruap ke berbagai negara.
KlanKlassik Edisi Bincang-Bincang kali ini mengetengahkan topik “Black Metal”, sebuah genre musik metal yang paling populer dimana-mana. Populer dalam artian bukan sebagai konsumsi mainstream (pengecualian untuk Cradle Of Filth dan Dimmu Borgir). Narasumber yang di hadirkan kali ini adalah Rahar, pemerhati musik metal. Menurutnya, Black Metal merupakan genre extreme-metal yang sangat mengganggu bagi banyak orang. Mengganggu bisa dari segi musikalitas, tema, penampilan (aksi panggung), kualitas rekaman, perilaku musisinya dan misi-misi terselubung yang dibawa melalui genre ini, sebut saja kampanye Antichrist, Pagan, White Power, hingga isu-isu politik dan lingkungan.  
Bagaimana sejarah cikal musik ini berkembang? Idealisme dan konsep musik yang seperti apa yang hendak ditawarkan?

Mari berbincang!  Acara Gratiss!!!  Siapapun boleh hadir!!

Sunday, April 22, 2012

KlabKlassik Edisi Playlist #12: Dari Liquid Tension Experiment hingga Pink Floyd

Minggu, 22 April 2012


KlabKlassik Edisi Playlist #12 menyajikan tema yang sepertinya akan membuat ngantuk. Namun nyatanya, tema "Dongeng Sebelum Tidur" tersebut berbagi satu hal yang cukup penting: Setiap individu punya musiknya sendiri untuk memperngantuk diri, dan yang demikian belum tentu membuat yang lainnya terkantuk.
Lagu-lagu yang membuat orang terkantuk-kantuk
Hanya enam lagu yang disajikan, namun total pembahasan mencapai lebih dari dua jam. Berikut lagu-lagu yang diputar:
1. Liquid Tension Experiment - State of Grace
Musik yang dibawa oleh Mas Yunus ini adalah band "proyekan" John Petrucci, Mike Portnoy dan Jordan Rudess yang terkenal sebagai bagian dari band Dream Theatre. Lagunya sendiri dominan raungan gitar elektrik yang diiringi harmoni dari keyboard. Kata Warren, salah seorang peserta, lagu semacam ini terdengar menenangkan, namun di tengahnya ada bagian iringan keyboard yang berubah. Nah perubahan seperti itulah yang agaknya membuat seseorang menjadi gagal untuk tidur. Sedangkan peserta lain sepakat bahwa lagu ini menenangkan, namun tidak semua setuju bahwa yang menenangkan selalu berasosiasi dengan tidur.
2. Duke Ellington - Tourist Point of View
Musik yang dibawa Ben ini berbeda dengan musik sebelumnya. Duke Ellington, seorang pianis jazz, memainkan bebop yang notabene membuat rasa berdegup dan gelisah. Ketukannya cepat, melodi naik turun susah ditebak. Namun satu hal yang pasti: Ben bisa tidur dengan lagu tersebut! Hal yang sesungguhnya menjadi keanehan tersendiri bagi peserta lain yang relatif suka lagu-lagu konstan dan tenang menjelang tidur. Ben tidak sendirian ternyata, Rahar adalah orang yang juga bisa tidur dengan lagu-lagu seperti itu. 
3. DJ Tiesto - Lord of Trance
Musik trance ini dibawa oleh Warren. Ternyata bagi sebagian orang, memang iya cocok untuk menidurkan. Karena ada suara pengiring yang konstan dan "atmosferis", sehingga membawa pendengarnya mengawang-awang. Namun yang demikian tidak disetujui oleh Mas Yunus karena musik trance membuat jantung berdegup kencang. Hal yang sama juga dialami oleh Albi yang katanya urat lehernya mendadak menegang. 
4. OM - Meditation is The Practice of Death
The pranayamic ground litmus. Ascetic brace the will ascend.
Converge onto the death ground - Advance the Rinponche.
Negates now illusorics - ascendant to the cleric school.
Stands upon ground of flight and claim's freedom. Destroyer of the ghost void.
Rahar akhirnya membawa lagu yang berlirik. Meski demikian, liriknya tidak terlalu jelas diucapkan dan hanya terdengar seperti rapalan-rapalan. Aliran musiknya pun kata Rahar sendiri susah untuk diidentifikasi. Namun jika didengar sekelas, terdengar seperti metal namun bertempo lambat dan cenderung statis. Itulah, kata Rahar, yang menyebabkan ngantuk dan tertidur. Hal yang diamini juga oleh Warren, meskipun beberapa diantara peserta tidak setuju, karena lagu tersebut menimbulkan visual-visual yang kurang nyaman.
5. R.E.M. - Nightswimming
Lagu yang dibawa oleh Kang Trisna ini punya sejarah. Katanya ia sering mendengarkannya lewat walkman di atap sambil memandang bintang-bintang. Ini lagu bercerita tentang sebuah tradisi berenang di danau di malam hari. Hal yang sebetulnya mengganggu kesehatan, namun Kang Trisna seringkali mencita-citakan untuk melakukannya suatu hari. Hampir semua setuju, bahwa lagu ini paling membawa kantuk. Namun Royke dan Ping menolaknya, bukan yang seperti ini katanya yang membuat tidur.
6. Pink Floyd - Money
Lagu yang dibawa oleh Syarif ini dimulai dengan bunyi gemerincing uang logam yang biasa dimunculkan dari mesin kasir. Lalu lagu berubah menjadi dinamis dan progresif. Hal yang kemudian dikritik oleh Diecky, katanya, "Ini lagu tentang uang, dan biasa membuat kita kesulitan. Lalu lagu ini juga kencang, mengapa memilihnya? Bukan lagu-lagu Pink Floyd sebelumnya yang lebih psikedelik." Kata Royke, lagu tersebut bisa menidurkan jika didengarkan hingga tengah-tengah, karena bagian tengah hingga ke belakang agak berubah sehingga menimbulkan kekagetan.
Ada pendapat menarik dari Royke menanggapi playlist hari itu. Katanya, dalam musik terapi sekalipun, para pasien tidak bisa dipukul rata. Misalnya, orang yang baru saja terkena tsunami, mungkin tidak bisa langsung diberi terapi bersuara air. Hal tersebut menunjukkan beragamnya musik berpengaruh pada masing-masing orang. Bahkan pada hal yang keseharian seperti tidur pun, ternyata butuh musik yang amat majemuk untuk menstimulusnya.

Friday, April 20, 2012

Ayo Ikutan KlabKlassik Edisi Playlist #12: Dongeng Sebelum Tidur


Minggu, 22 April 2012
Pk. 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk umum!


> Tentang Edisi Playlist

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati. Semoga ada kebenaran yang bisa diraih disana. Amin.

> Tatacara

Peserta kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa satu lagu favoritnya (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

> Latar Belakang Edisi Kali Ini

Salah satu penggunaan musik yang cukup banyak dilakukan adalah sebagai pengantar tidur. Bahkan sejak bayi, seorang ibu telah menyanyikan lagu semacam "Nina Bobo" atau "Rock-a-bye" untuk melelapkan anaknya. Beranjak dewasa, pilihan musik semakin bervariasi, dengan beragam alasan. Tidak melulu lagu yang tenang, ada juga mereka yang butuh dosis musik yang berisik sebelum tidur.

Nah, dalam edisi playlist kali ini, setiap peserta wajib membawa sebuah musik yang menjadi pengantar tidurnya. Mari kita berbagi cerita di balik pemilihan lagu tersebut, dan niscaya, tidur kita semua pun akan semakin nyaman.


Wednesday, April 11, 2012

Bersiaplah untuk Audisi Classical Guitar Fiesta 2012!






Peraturan dan Formulir Pendaftaran

Keterangan: Formulir dikembalikan ke Tobucil, Jl. Aceh no. 56, Bandung bisa via pos atau langsung antara jam 10.00 hingga jam 20.00. 

Tuesday, April 10, 2012

Anime String Orchestra 2nd Concert: Mengapresiasi Rock dengan Rasa Klasik



Senin, 9 April 2012

Hujan yang turun cukup deras tidak mengurungkan niat para calon penonton untuk meramaikan Auditorium IFI – Bandung. Di gedung yang terletak di Jalan Purnawarman tersebut, hadir orkestra binaan Haryo ”Yose” Soejoto. Orkestra itu bukan akan memainkan karya-karya musik klasik seperti umumnya orkestra. Yang akan ditampilkan adalah musik yang diaransemen oleh Yose, dan musik itu adalah musik rock. 

Karya-karya rock legendaris seperti Spanish Castle Magic dan Crosstown Trafic (dari Jimi Hendrix), Kashmir dan Stairway to Heaven (Led Zeppelin), Sylvia dan Hocus Pocus (Focus), Love of My Life dan Bohemian Rhapsody (Queen), dan Roundabout (Yes) mengalun dari orkestra yang dinamai Anime String Orchestra tersebut. Anime String Orchestra berformasikan 24 pemain yang memainkan instrumen violin, viola, cello, dan kontrabass. 

Sebelum orkestra memainkan lagu pertamanya, Bambang Suardi, kawan dari Yose, memperkenalkan beberapa instrumen dalam orkestra yang menarik oleh sebab dibuat oleh luthier lokal bernama Juhana. Kelebihan suara instrumen cello dan viola buatan Juhana, dipraktekkan beberapa saat oleh Robby dan Angga lewat lagu karya J.S. Bach. Setelah demonstrasi tersebut, tampil sang konduktor, Yose, ke atas panggung. Tanpa bicara sepatah pun, Yose langsung membelakangi penonton, menghadap para pemainnya, dan memberi aba-aba lewat ayunan tangan: Rollover Beethoven dari The Beatles pun membuncah sebagai lagu pembuka. 

Lagu demi lagu, yang kebanyakan datang dari era 60-an dan 70-an, sanggup memberi perasaan haru bagi beberapa penonton yang relatif sudah senior. Banyak diantaranya yang lebih memilih untuk menunduk dan menutup mata, agar lagu legendaris dari Led Zeppelin dan Queen lebih terhayati. Konser ini memang, menurut Yose sendiri, ditujukan untuk mengangkat kembali band-band rock yang pernah sedemikian berpengaruh bagi dunia dan tak ayal salah satunya juga Indonesia. 

Namun performanya sendiri mengandung sedikit kendala. Amat terlihat bahwa aransemen Yose sedemikian ideal dan berupaya menyamai keruwetan lagu-lagu legendaris tersebut. Hasil aransemennya memang luar biasa, namun terlihat ada beberapa bagian yang terlalu sulit dimainkan untuk para pemain di orkestranya. Meski demikian, hal itu tidak menurunkan riuhnya tepuk tangan penonton setiap mereka selesai menampilkan karya demi karya. Karena penilaian atas konser ini bukan semata-mata akan performanya, melainkan juga tentang idealisme seorang Yose yang ingin membuka wawasan para apresiator bahwa yang klasik –jika klasik diartikan sebagai yang lampau dan melegenda- bukan terbatas pada area sebelum Perang Dunia. Musik rock, yang kejelimetannya tentu kalah dengan musik-musik Bach atau Mozart, bisa juga menjadi klasik jika digarap dengan keseriusan yang tinggi. 

Idealisme Yose itu mendapatkan apresiasi tinggi di konser kemarin. Dua ratusan penonton tidak berhenti bertepuk tangan tanda meminta encore, meski lagu pemuncak yaitu Roundabout dari Yes selesai dimainkan. Tak lama kemudian, Yose pun memenuhi tepuk tangan panjang itu. Ia naik kembali ke panggung dan menutup acara dengan gempita lagu Immigrant Song dari Led Zeppelin.

KlabKlassik Edisi Nonton: Peran Musik dalam Film The Artist (2011)

Minggu, 8 April 2012 

KlabKlassik edisi nonton memilih The Artist sebagai filmnya. Mengapa? Bukan karena film bisu tersebut meraih lima Oscar di tahun 2012 ini, tapi karena tertarik untuk membedah: Sekrusial apa peran musik jika sebuah film tidak berkata-kata? 

Film berdurasi seratus menit itu bercerita tentang jatuh-bangun aktor film bisu bernama George Valentin (diperankan Jean Dujardin). Kejatuhan sang aktor terutama disebabkan justru oleh artis bernama Peppy Miller yang secara tidak langsung ia orbitkan sendiri. Konflik terjadi antara Valentin yang keukeuh berjuang sendiri di film bisu meski semakin tidak laku, dengan Peppy Miller yang malah menjulang dengan film yang bersuara. 

Setelah film selesai, muncul diskusi singkat tentang bagaimana peran musik dalam film tersebut. Ternyata ketika kata-kata tidak ada, musik sanggup mengolah emosi penonton. Hal ini sebenarnya selalu disadari oleh hampir semua sutradara. Misalnya, sinetron di Indonesia nyaris tidak ada adegan yang tanpa musik. Namun jika musik digarap secara baik, maka kata-kata bisa semakin diminimalisasi. Hal tersebut yang tidak dipunyai sinetron di Indonesia, dimana kata-kata dihamburkan secara berlebihan bahkan untuk kejadian yang sudah jelas. 

Selain musiknya, yang menarik lagi tentu saja konsep film itu sendiri. Ketika di Indonesia, misalnya, film tengah memasuki era eksplorasi teknologi, Hollywood justru mendapati dirinya dalam kejenuhan teknologis, maka itu konsep film bisu semacam The Artist menjadi kembali digandrungi. 

Kembali, jika membahas music scoring, pertanyaan itu selalu berulang: Beranikah penata musik di Indonesia bersikap serius dalam menggarap music scoring sehingga adegan per adegan menjadi monumental sekaligus berkualitas?