Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Tuesday, April 10, 2012

Anime String Orchestra 2nd Concert: Mengapresiasi Rock dengan Rasa Klasik



Senin, 9 April 2012

Hujan yang turun cukup deras tidak mengurungkan niat para calon penonton untuk meramaikan Auditorium IFI – Bandung. Di gedung yang terletak di Jalan Purnawarman tersebut, hadir orkestra binaan Haryo ”Yose” Soejoto. Orkestra itu bukan akan memainkan karya-karya musik klasik seperti umumnya orkestra. Yang akan ditampilkan adalah musik yang diaransemen oleh Yose, dan musik itu adalah musik rock. 

Karya-karya rock legendaris seperti Spanish Castle Magic dan Crosstown Trafic (dari Jimi Hendrix), Kashmir dan Stairway to Heaven (Led Zeppelin), Sylvia dan Hocus Pocus (Focus), Love of My Life dan Bohemian Rhapsody (Queen), dan Roundabout (Yes) mengalun dari orkestra yang dinamai Anime String Orchestra tersebut. Anime String Orchestra berformasikan 24 pemain yang memainkan instrumen violin, viola, cello, dan kontrabass. 

Sebelum orkestra memainkan lagu pertamanya, Bambang Suardi, kawan dari Yose, memperkenalkan beberapa instrumen dalam orkestra yang menarik oleh sebab dibuat oleh luthier lokal bernama Juhana. Kelebihan suara instrumen cello dan viola buatan Juhana, dipraktekkan beberapa saat oleh Robby dan Angga lewat lagu karya J.S. Bach. Setelah demonstrasi tersebut, tampil sang konduktor, Yose, ke atas panggung. Tanpa bicara sepatah pun, Yose langsung membelakangi penonton, menghadap para pemainnya, dan memberi aba-aba lewat ayunan tangan: Rollover Beethoven dari The Beatles pun membuncah sebagai lagu pembuka. 

Lagu demi lagu, yang kebanyakan datang dari era 60-an dan 70-an, sanggup memberi perasaan haru bagi beberapa penonton yang relatif sudah senior. Banyak diantaranya yang lebih memilih untuk menunduk dan menutup mata, agar lagu legendaris dari Led Zeppelin dan Queen lebih terhayati. Konser ini memang, menurut Yose sendiri, ditujukan untuk mengangkat kembali band-band rock yang pernah sedemikian berpengaruh bagi dunia dan tak ayal salah satunya juga Indonesia. 

Namun performanya sendiri mengandung sedikit kendala. Amat terlihat bahwa aransemen Yose sedemikian ideal dan berupaya menyamai keruwetan lagu-lagu legendaris tersebut. Hasil aransemennya memang luar biasa, namun terlihat ada beberapa bagian yang terlalu sulit dimainkan untuk para pemain di orkestranya. Meski demikian, hal itu tidak menurunkan riuhnya tepuk tangan penonton setiap mereka selesai menampilkan karya demi karya. Karena penilaian atas konser ini bukan semata-mata akan performanya, melainkan juga tentang idealisme seorang Yose yang ingin membuka wawasan para apresiator bahwa yang klasik –jika klasik diartikan sebagai yang lampau dan melegenda- bukan terbatas pada area sebelum Perang Dunia. Musik rock, yang kejelimetannya tentu kalah dengan musik-musik Bach atau Mozart, bisa juga menjadi klasik jika digarap dengan keseriusan yang tinggi. 

Idealisme Yose itu mendapatkan apresiasi tinggi di konser kemarin. Dua ratusan penonton tidak berhenti bertepuk tangan tanda meminta encore, meski lagu pemuncak yaitu Roundabout dari Yes selesai dimainkan. Tak lama kemudian, Yose pun memenuhi tepuk tangan panjang itu. Ia naik kembali ke panggung dan menutup acara dengan gempita lagu Immigrant Song dari Led Zeppelin.

No comments: