Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Tuesday, April 10, 2012

KlabKlassik Edisi Nonton: Peran Musik dalam Film The Artist (2011)

Minggu, 8 April 2012 

KlabKlassik edisi nonton memilih The Artist sebagai filmnya. Mengapa? Bukan karena film bisu tersebut meraih lima Oscar di tahun 2012 ini, tapi karena tertarik untuk membedah: Sekrusial apa peran musik jika sebuah film tidak berkata-kata? 

Film berdurasi seratus menit itu bercerita tentang jatuh-bangun aktor film bisu bernama George Valentin (diperankan Jean Dujardin). Kejatuhan sang aktor terutama disebabkan justru oleh artis bernama Peppy Miller yang secara tidak langsung ia orbitkan sendiri. Konflik terjadi antara Valentin yang keukeuh berjuang sendiri di film bisu meski semakin tidak laku, dengan Peppy Miller yang malah menjulang dengan film yang bersuara. 

Setelah film selesai, muncul diskusi singkat tentang bagaimana peran musik dalam film tersebut. Ternyata ketika kata-kata tidak ada, musik sanggup mengolah emosi penonton. Hal ini sebenarnya selalu disadari oleh hampir semua sutradara. Misalnya, sinetron di Indonesia nyaris tidak ada adegan yang tanpa musik. Namun jika musik digarap secara baik, maka kata-kata bisa semakin diminimalisasi. Hal tersebut yang tidak dipunyai sinetron di Indonesia, dimana kata-kata dihamburkan secara berlebihan bahkan untuk kejadian yang sudah jelas. 

Selain musiknya, yang menarik lagi tentu saja konsep film itu sendiri. Ketika di Indonesia, misalnya, film tengah memasuki era eksplorasi teknologi, Hollywood justru mendapati dirinya dalam kejenuhan teknologis, maka itu konsep film bisu semacam The Artist menjadi kembali digandrungi. 

Kembali, jika membahas music scoring, pertanyaan itu selalu berulang: Beranikah penata musik di Indonesia bersikap serius dalam menggarap music scoring sehingga adegan per adegan menjadi monumental sekaligus berkualitas?

No comments: