Selamat datang di blog klabklassik, tempat dimana kita bisa berbagi apresiasi, edukasi dan informasi seputar musik klasik.

Dalam ruang maya ini, stereotip tangguh tentang eksklusivitas, kekakuan, dan tak membumi-nya musik klasik akan sama-sama kita upayakan agar cair lewat proses berbagi yang hangat, terbuka, santai, dan penuh cinta.

Mari mengapresiasi dengan hati, lalu ciptakan ruang musik klasikmu sendiri.

Monday, July 30, 2012

Inspirasi vs Plagiarisme

Minggu, 28 Juli 2012

KlabKlassik Edisi Playlist kali itu tidak seperti biasanya yang mewajibkan masing-masing pesertanya membawa satu lagu. Kali ini peserta mesti membawa dua lagu karena ada yang harus dipersandingkan. Topiknya adalah tentang inspirasi vs plagiarisme. Jika ada satu lagu mirip dengan lagu lainnya, kita bisa pertanyakan: Apakah itu inspirasi, ataukah itu plagiasi?

Meski yang hadir tidak terlalu banyak, namun edisi playlist kali ini justru menyuguhkan lagu cukup banyak. Selain karena memang yang dibawa masing-masing orang adalah dua, tapi penyebab utamanya adalah keberadaan Rahardianto yang membawa hingga belasan lagu. Katanya, "Mudah sekali menemukan lagu Indonesia yang mirip dengan lagu asing. Bahkan di youtube pun ramai-ramai mempersandingkan." Berikut adalah beberapa lagu yang kemarin diputar, yang dirasa punya kemiripan:

1. Le Marseilles (Lagu Kebangsaan Prancis) dengan Dari Sabang Sampai Merauke. Kemiripan ini cukup identik, meski yang sangat persis hanyalah dua bar pertamanya. Namun jika dicermati, bar-bar berikutnya dari lagu Dari Sabang Sampai Merauke hanyalah variasi sedikit dari Le Marseilles.

2. Frozen (Madonna) dan Ma Vie Fout Le Camp (Salvatore Acquaviva). Kemiripannya ada di beberapa bar bagian verse. Konon Acquaviva menggugat Madonna dan memenangkannya. Lagu Frozen pun dilarang diputar di Belgia. 

3. Kopi Dangdut (Fahmi Syahab) - Moliendo Cafe (Hugo Blanco). Siapa yang tidak kenal lagu Kopi Dangdut? Hampir semua lapisan masyarakat Indonesia tahu lagu dangdut populer ini. Namun tidak banyak yang tahu bahwa Moliendo Cafe nyaris tidak punya perbedaan dengan Kopi Dangdut.

4. Jangan Sakiti Aku Lagi (Radja) - No More Lonely Night (Paul McCartney). Rahar menyebut persamaan kedua lagu ini sebagai "persamaan pada intinya". Atau sekilas berbeda, tapi intinya sama-sama saja. Dalam arti kata lain, ini masuk kategori "plagiasi yang samar-samar".

5. Mari Bercinta (Aura Kasih) - Give it To You (Sean Paul). Kemiripan ini sangat identik. Hanya karena Aura Kasih memainkannya dengan beat disko dan Sean Paul hip-hop, maka bagi orang awam tidak akan terlalu kentara. Namun melodi lagunya sungguh persis.

6. Pupus (Dewa) - Life is Real (Queen). Ahmad Dhani terlihat sekali terinspirasi Queen dalam banyak lagunya. Rahar juga mengategorikan kemiripan ini sebagai cukup samar dan lebih terasa sebagai inspirasi daripada plagiasi.

7. Mak Comblang (Potret) - Alright (Supergrass). Kemiripan ini tidak terlalu jelas, namun terasa sekali dari ritem dan "semangat"-nya. Bahkan konsep video klip diantara keduanya pun punya kemiripan.

8. Bagaikan Langit (Potret) - Good Life (Weezer). Rahar mencium persamaan ini pada fill-in drum dan juga bagian tengah, semacam bridge dan solo-nya. Melly mengambil style yang luar biasa identik meski terlihat ia mengubahnya sedikit-sedikit.

9. Take em All (Cockspringer) - Iwa Peyek. Iwa Peyek orisinil? Tunggu sampai mendengarkan bagian reffrain lagu Cockspringer tersebut!

Ada cukup banyak lagu yang diputar, belum termasuk yang dihadirkan oleh Diecky -yang dengan niat ia sudah potong-potong lagu tersebut ke dalam satu file-. Namun yang lebih terpenting adalah membahasnya. Kata Diecky, dalam aturan hak cipta sendiri, lagu baru dianggap plagiasi jika menjiplak hingga delapan bar. Kenyataannya, banyak musisi, walaupun mirip, tapi secara cerdik berhasil menghindari aturan hingga delapan bar tersebut (simak Dari Sabang sampai Merauke yang cuma dua bar). "Selebihnya," lanjut Diecky, "Dikembalikan pada harga diri si musisi itu. Jika memang terasa menjiplak walaupun tidak bisa dibuktikan, ia bisa mendapat sanksi dari masyarakat berupa cap plagiator yang tidak resmi."


Tapi apa bedanya kemiripan seperti ini dengan misalnya Marcel Duchamp yang melukis monalisa dan hanya menambahkan kumis? Lanjut Diecky, "Beda, kalau Duchamp ada semacam mocking yang terang-terangan. Persis seperti parodi yang dilakukan oleh Project Pop. Namun musisi-musisi ini, sepertinya sengaja 'terinspirasi' oleh musisi yang kurang terkenal, yang asumsinya tak bisa dilacak oleh masyarakat banyak. Sedangkan 'menjiplak' Monalisa itu kasus lain, siapa yang tak tahu lukisan Monalisa?"  Inilah yang menjadi persoalan: Ketika akses terhadap internet sudah semakin marak, orang sudah bisa melacak lagu-lagu ke seluruh dunia, tidakkah sebaiknya pencipta lagu malah harus semakin mawas diri dalam mencipta? 


Friday, July 27, 2012

KlabKlassik Edisi Playlist #15: Inspiration vs Plagiarism

Minggu, 29 Juli 2012
Pk. 15.00 - 17.00
Tobucil, Jl. Aceh no. 56
Gratis dan Terbuka untuk Umum

> Latar Belakang Edisi Kali Ini

Plagiarisme secara sederhana dapat didefinisikan sebagai tindakan mengambil hasil karya orang lain dan menyatakannya sebagai karya pribadi. Secara hukum, plagiarisme termasuk pelanggaran hak cipta. Terkait dengan musik, ada dua aspek yang bisa ditelaah lebih lanjut yaitu aspek musikal (melodi, motif) dan aspek sampling (hasil rekaman yang dipakai ulang). Tidak hanya tentang keseluruhan lagu, tetapi juga bagian-bagian kecil di dalamnya.

Sangat banyak kasus tuduh-menuduh plagiarisme dalam musik kita dengar. Biasanya, pembelaan pertama yang dikemukakan adalah: inspirasi. Apakah ini membuat proses pencarian inspirasi menjadi salah? Pada saat seorang komposer ditanya dari mana ia mendapatkan inspirasi, seringkali jawabannya adalah dari musisi lain. Bahkan terkadang pengaruh dari musik lain datang menyelinap tanpa disadari. Tentu inspirasi bukanlah sebuah kesalahan. Sayangnya, batas antara inspirasi dan plagiarisme seringkali rancu.

Bagaimana kita mengkritisinya?

Khusus pada edisi kali ini, bawalah dua lagu yang menurut anda mirip. Apakah itu plagiarisme, atau inspirasi, atau apapun istilahnya, akan kita bahas bersama!

> Tentang Edisi Playlist

Edisi Playlist bertujuan untuk melatih apresiasi. Memberi pengetahuan tentang keberbedaan selera yang berkembang di masing-masing persona, dan bagaimana cara menghargainya. Terlebih ketika hari ini musik sudah jarang sekali diperlakukan sebagai "musik an sich". Musik sekarang kita dengar sebagai latar belakang, mulai dari berbelanja di mal, menonton televisi, hingga menyetir di mobil. Mari kita duduk, menghargai musik sebagai musik, didengarkan dalam entitasnya yang sejati.

> Tatacara

Peserta kumpul-kumpul berpartisipasi dengan cara membawa dua lagu (tidak harus klasik loh!) dalam flashdisk untuk diputar dan diapresiasi bersama-sama. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum.

Sunday, July 22, 2012

Mengapresiasi Nosferatu (1922): Kesan Seram bukan Melulu dari Musik

Minggu, 22 Juli 2012


KlabKlassik Edisi Nonton kali ini, Yunus Suhendar sebagai koordinator membawa film klasik Nosferatu karya F. W. Murnau. Karena di waktu yang sama, di beranda Tobucil sedang ada acara Aliansi Jurnalis Independen (AJI), maka acara nonton dipindahkan ke bagian dalam Tobucil.
Nosferatu adalah film bisu berdurasi 97 menit yang diambil dari novel Bram Stoker yang terkenal berjudul Dracula. Berkisah tentang Jonathon Harker yang mendapat surat dari Count Dracula untuk berkunjung ke kastilnya. Untuk apa? Dracula ingin mencari rumah di dekat warga, ia meminta orang untuk membantu surveinya. Namun Harker mencium ada banyak keanehan dari Dracula ini, misalnya, ketika tangannya berdarah karena tergores pisau, Dracula terlihat bergairah dan langsung mengisap darah itu dari tangan Harker. Harker juga di suatu pagi menemukan bahwa lehernya ada dua tanda bekas digigit. Beruntung ada istri Harker bernama Ellen yang sedemikian punya firasat kuat terhadap apa yang terjadi pada suaminya. Setelah membaca buku panduan Dracula, ia menemukan bahwa Dracula bisa dimusnahkan jika seorang wanita dengan hati bersih menyerahkan darahnya untuk dihisap. Ellen berkorban, Count Dracula mati, Harker pun selamat.
Meski musiknya terbilang datar dan tidak ada kejutan-kejutan khas film horror, namun Nosferatu membuat kita tercekam lewat sosok drakula-nya itu sendiri. Ditambah lagi, film yang hitam-putih membuat fokus menjadi lebih tertuju pada sosoknya, bukan dilapisi oleh pesona warna-warni seperti dalam Dracula versi Francis Ford Coppola. Dracula yang disebut terakhir ini, memang juga memiliki sosok Drakula yang menakutkan, namun “keberwarnaan” si film membuat sosoknya tetap nyaman bagi mata.
Hal ini menjadi bahan diskusi yang menarik. Kata Yunus, “Film horror Indonesia misalnya, lebih menekankan pada efek kejut lewat audio. Sehingga jika kita ingin menghindari rasa takut, lebih baik menutup telinga daripada menutup mata. Namun Nosferatu ini kita begitu dihantui oleh visualisasi Count Dracula yang diperankan Max Schreck.” Ia sendiri mengaku mendapat rekomendasi film ini dari Ismail Reza, yang mengatakan bahwa inilah Drakula paling seram sepanjang masa. Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi Tobing Jr., penggiat komunitas Layarkita yang juga menjadi peserta nonton bareng kemarin, bahwa film horror Indonesia sudah diwarnai ketidakbermutuan seperti Nenek Gayung atau Mama Minta Pulsa. “Mereka semestinya belajar dari film horror seperti Nosferatu ini. Kebanyakan sutradara lokal minim referensi. Hanya berkarya dan berkarya, tapi jarang mengacu pada film-film bagus. Sehingga karyanya menjadi kurang baik. Efeknya? Apresiasi penonton menjadi rendah. Lihat betapa kosongnya bioskop ketika Lewat Djam Malam-nya Usmar Ismail diputar. Berbanding terbalik ketika film-film seperti Pocong diputar.” 
Pernyataan kritis seperti ini selalu direspon secara klasik: Realistis dong, hidup ini kan butuh uang. Siapa yang mau bayar untuk nonton film seperti Nosferatu?


Syarif Maulana

Friday, July 20, 2012

Klab Klassik Edisi Nonton : Nosferatu A Symphony of Horror (1922) “Vampire terseram sepanjang masa”

Minggu, 22 Juli 2012
Pukul 15.00 s/d selesai
Tobucil, Jl. Aceh No. 56
Gratis dan terbuka untuk umum

Cerita tentang vampir penghisap darah dari kastil tinggi pegunungan carpathian, Romania yang berjuluk count drakula ini masih menyimpan banyak misteri dimana sesungguhnya figur drakula sendiri ialah adaptasi sang penulis Bram Stoker terhadap tokoh nyata Vlad the impaler seorang penguasa pelindung kristiani di daratan eropa timur. Drakula ialah makhluk terkutuk yang hidup abadi menyambung hidupnya dengan cara menghirup darah manusia, memiliki kemampuan mistis bisa mengubah dirinya menjadi kelelawar, menghipnotis binatang dan manusia, tidur didalam peti jenazah jika siang dan drakula hanya bisa dibunuh sebelum matahari terbenam dengan cara menusuk jantungnya dengan pasak atau salib kayu. Seperti itulah drakula yang digambarkan oleh bram stoker


Friedrich Wilhelm Murnau sutradara asal jerman sangat terkesan dengan kisah tersebut, hingga ia terobsesi membuat filmnya, mengambil judul “Nosferatu Ein Symphonie Des Grauens (judul baratnya ialah Symphony of Horror) film yang merupakan adaptasi 100 % dari novel drakula tersebut digugat hak cipta oleh janda sang penulis, florence stoker menuduh murnau sebagai plagiat dan pengadilan akhirnya mengabulkan gugatannya dengan menghancurkan seluruh copyan film ini dari peredaran pasar, walaupun akhirnya setelah florence stoker meninggal akhirnya film ini diangkat kembali dengan beberapa perubahan nama karakter untuk menghormati mendiang bram stoker, contohnya seperti Count Dracula dirubah menjadi Count Orlok, Jonathan Harker menjadi Thomas Von Hutter, dan apabila dalam novelnya drakula berlayar dari transylvania ke london, inggris maka di film ini diganti menjadi ke wishburg jerman, karakter kunci seperti Prof. Van Helsing dihilangkan oleh murnau.


Apabila kebanyakan film horor genre vampir sekarang menggambarkan drakula identik dengan casanova berwajah tampan karena untuk menarik perhatian mangsa wanita seperti yang terjadi di film “interview with the vampire” mungkin hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh karakter drakula oleh Bela Lugosi di tahun 1931, namun dalam Nosferatu visualisasi count orlok ialah tinggi kurus, botak, telinga panjang seperti setan, gigi depan seperti tikus dan kukunya yang sangat panjang membuat tokoh orlok sangatlah tidak “manusiawi” dan menakutkan untuk dilihat. Konon sang tokoh yang menjadi count orlok yaitu aktor watak Max Schreck (Schreck dalam bahasa jerman artinya teror) ialah aktor yang sangat metodis untuk menjiwai perannya sebagai vampire, ia tidak pernah melepaskan make up dan selalu muncul dihadapan para kru syuting hanya ketika malam hari, rumor mengatakan jika Max Schreck sebenarnya ialah vampir asli yang berperan menjadi aktor film, di tahun 2000 kisah dibalik pembuatan film nosferatu yang fenomenal ini kembali difilmkan dengan judul “Shadow of the Vampire” dimana John Malkovich berperan menjadi F.W.Murnau dam Willem Dafoe menjadi Max Schreck, dan dafoe meraih oscar best supporting actor untuk aktingnya yang brilian, remake film ini dibuat kembali mencekam di tahun 1979 oleh sutradara Werner Herzog dengan judul “Nosferatu The Vampyre” dan aktor jenius Klaus Kinski menjadi sang nosferatu.

Scoring film ini sangatlah cerdas, string section yang menghiasi kebisuan film ini bisa menghadirkan atmosfir yang mencekam sepanjang waktu, gestur max schrech sebagai nosferatu sang vampire di film ini tidak akan terlupakan, film ini berdurasi 82 menit dan sangat menakutkan.

Monday, July 16, 2012

Classical Guitar Fiesta 2012: Dari Ririungan Gitar Bandung hingga Jubing Kristianto


Jumat, 13 Juli 2012
 
KlabKlassik, untuk keempat kalinya, berhasil menggelar acara dwitahunannya yaitu Classical Guitar Fiesta. Acara yang keempat ini -seperti acara yang kesatu dan ketiga- diselenggarakan di Auditorium IFI-Bandung. Bintang tamunya adalah gitaris yang secara nasional sudah malang melintang, yakni Jubing Kristianto.

Ririungan Gitar Bandung. Foto oleh Adrian Ben.

Konser yang menampilkan ragam pemain gitar ini, memulai acaranya dengan ensembel Ririungan Gitar Bandung. Ensembel gitar yang dibuka untuk umum ini (rutin mengadakan latihan di Tobucil), menampilkan satu lagu karya Mozart berjudul Romance yang merupakan bagian dari Eine Kleine Nachtmusic. Setelah dibuka dengan tampilan cukup meriah, berikutnya yang tampil adalah para solois mulai dari William Ryan, Maria Elsa, Leonardus Satryo Wicaksono, Gregorius Jovan Kresnadi, Febian Natanael, Christian Indra Lesmana, Henry Dimas Krishnanda, Dennis Hadrian dan Donny Dwiputra. Mereka tampil dengan karya-karya beragam mulai dari yang berasal dari jaman klasik, romantik, modern, hingga populer.
Maria Elsa. Foto oleh Adrian Benn

Setelah istirahat sejenak sekitar sepuluh menit, Classical Guitar Fiesta menggeber penonton dengan beberapa solo gitaris semisal Kevin Cahyady, Ryan Sentosa, Dicky Salam, Timmie Reynaldi dan Teja Kusuma. Setelah para solis itu, ada penampil yang agak berbeda yaitu Rendy Lahope dan Joseph Sinaga. Keduanya ini menampilkan duet gitar dan flute membawakan karya Piazzolla. Semuanya ini mengantarkan penonton pada bintang tamu yang amat dinanti-nanti yaitu Jubing Kristianto.

Rendy  Lahope dan Joseph Sinaga. Foto oleh Adrian Benn.
Jubing Kristiano, gitaris yang paling banyak memenangkan Yamaha Festival Gitar Indonesia kategori pop ini, menggebrak hadirin dengan lagu Winter Games karya David Foster. Setelah itu, ia juga tidak luput memainkan karya yang cukup terkenal dari albumnya yang terakhir, Hujan Fantasy. Kurang puas dengan tiga lagu yang dimainkan Jubing, penonton menyuarakan encore agar Jubing tidak segera turun panggung. Hingga akhirnya, karena malam yang sudah terlalu larut, Jubing terpaksa mengakhiri penampilannya dengan lagu Bohemian Rhapsody yang merupakan pesanan salah satu penonton.

Setelah penampilan Jubing berakhir, berikutnya adalah penutupan yaitu pembagian sertifikat dan piala pada seluruh penonton. Tak hanya itu, ada juga pembagian doorprize dari Prim’s Guitars yaitu gitar seharga tujuh juta rupiah. Yang berpeluang mendapatkan gitar ini hanyalah para peserta (baik yang lolos ataupun tidak lolos) audisi. Akhirnya, nomor undian yang keluar adalah milik Gregorius Jovan Kresnadi. Jovan adalah anak berusia sekitar dua belas tahun yang baru lulus SD. Ketika diwawancara apa perasaannya setelah memenangkan undian ini, ia tidak bisa bicara, hanya gemetar sambil berkaca-kaca.

Classical Guitar Fiesta adalah konser yang pengisi acaranya dibuka untuk umum. Setelah mendaftar, calon pengisi acara kemudian diaudisi, agar bisa menyesuaikan dengan waktu yang disediakan panitia. Setelah lolos audisi, peserta berhak tampil di acara Classical Guitar Fiesta beserta bintang tamu yang berbeda-beda setiap audisinya. Tahun 2006, Classical Guitar Fiesta mengundang Royke B. Koapaha, tahun 2008 adalah Jubing Kristianto, sedangkan tahun 2010 yang dihadirkan adalah Phoa Tjun Jit.

Sampai jumpa di Classical Guitar Fiesta 2014!

Sunday, July 01, 2012

Classical Guitar Fiesta 2012!

Ketika Industri Indonesia Menodai Ska

Minggu, 2 Juli 2012


KlabKlassik Edisi Bincang-Bincang kali ini menghadirkan pembicara Rahardianto. Ia adalah orang yang sama yang juga mempresentasikan tentang black metal dua bulan silam. Kali ini, pengetahuan musiknya yang luas mengajak para peserta untuk menyelami sejarah musik ska. 

Rahardianto (Kanan)
Pada mulanya, pembahasan mengenai musik ska ini tidak menimbulkan ketertarikan. Alasannya, imej ska di Indonesia sudah dinodai oleh industri yang menghasilkan band-band seperti Tipe-X dan Tiger Clan. Namun kata Rahar, "Jangan khawatir, band seperti Tipe-X pun tidak terlalu dianggap serius di antara scene anak-anak ska." Dalam arti kata lain, Rahar akan memperlihatkan sejarah ska yang panjang dan tidak jarang juga mengusung misi-misi yang ideologis. Pada titik itu, barangkali kita bisa menilai bahwa ska pada mulanya tidak sedemikian punya imej hipster, setidaknya sebelum dijatuhkan oleh industri musik Indonesia.

Seperti biasa, Rahar menjelaskan kronologi musik ska ini secara runut. Pertama, ia hendak meluruskan persepsi kita bahwa reggae bukanlah akar segala musik di Jamaika. Justru ska lah yang menjadi akar dari reggae. Bahkan ska sendiri diawali oleh jenis musik lain yang bernama shuffle. Shuffle ini muncul di Jamaika dari sejak tahun 1950-an dan merupakan respons terhadap pengaruh-pengaruh "Barat" seperti jazz dan blues. Apa yang membuatnya jadi ska, adalah ditengarai sebagai hasil buah pikir Prince Buster. Ia mengubah musik yang tadinya downbeat menjadi upbeat, inilah yang menjadi kekuatan ska hingga hari ini. "Ska kekuatannya bukan di brass section, itu yang menjadi kekeliruan persepsi banyak orang," tambah Rahar.

Prince Buster tadi memelopori apa yang dinamakan sebagai ska gelombang pertama (1st wave). Band lainnya, kata Rahar, adalah Desmond Dekker, Toot and The Maytals, dan Lord Tanamo. Setelah itu, Rahar sendiri masuk ke gelombang kedua (2nd wave) yang sering disebut juga sebagai two tone ska. Ska yang ini dikembangkan di Inggris dan digabungkan dengan punk. Band-band seperti The Specials, Madness, dan Bad Manners adalah beberapa pengusungnya. Two tone ska ini yang menurut Rahar punya pesan-pesan anti-rasisme. Two tone melambangkan hitam dan putih yang menggambarkan warna kulit. Terlihat dari personil band-nya yang memang seringkali diisi oleh personil dari kulit hitam maupun putih.

The Specials
Penjelasan Rahar yang berlangsung kurang lebih sejam ini, mengandung pengetahuan yang bergizi. Misalnya, ia menyelipkan skank, yaitu istilah untuk gaya tarian dalam merespon musik ska (bukan pogo yang selama ini kita kenal). Lalu juga istilah rude boys yang mengacu pada penggemar ska yang pada masa itu sering berdandan ala american gangster dan terlibat kriminal. Rahar juga menyinggung kemunculan 3rd wave yang muncul di AS pada sekitar tahun 80-an. 3rd wave ini pun terbagi dua wilayah, yang pertama adalah wilayah Bay Area yang lebih independen, yang kedua adalah wilayah Orange County yang notabene lebih ke arah industri. Setelah itu disinggung lebih banyak tentang perpaduan ska dengan musik-musik lain seperti skacore dan skajazz, sekaligus mempertanyakan kehadiran 4th wave yang belum sanggup dirumuskan oleh para kritikus.

Pemaparan Rahar ini membawa pada diskusi yang tak kalah menarik. Misalnya, Diecky begitu curiga bahwa musik seringkali direspon secara kreatif justru dari para kulit hitam. Ini sudah mulai sering didengungkan sejak perbincangan tentang blues, ragtime, dan jazz. Sekarang, cukup mengejutkan setelah ska ternyata juga dikembangkan oleh orang-orang kulit hitam. Jazzy mempercayai hal tersebut sebagai, "Setiap ada manusia berkumpul, pasti mereka menciptakan kultur. Ini agaknya lumrah dalam segala kondisi. Hanya patut diakui bahwa apa yang diusung oleh orang-orang kulit hitam ini survive. Menurut saya, ada kok kebudayaan yang tidak survive karena selain tidak dilanggengkan oleh kekuasaan, mereka sendiri tidak mempunyai 'kebagusan' dalam dirinya sendiri."

Memang pada akhirnya mesti diakui. Jika berbicara soal kekuasaan, biasanya kita bicara orang-orang kulit putih. Orang kulit putih seringkali "berjasa" dalam melakukan resureksi musik-musik orang kulit hitam. Dan tidak seperti dugaan banyak orang bahwa musik orang kulit hitam itu lantas dijadikan musik borjuis orang-orang kulit putih, kata Rahar justru orang kulit putih itu juga memakainya di kalangan working class alias buruh.

Apa yang dipaparkan Rahar panjang lebar mengubah mindset para peserta diskusi 180 derajat. Membuat ska yang sempat dicap sebagai musik hipster di kalangan penggemar di Indonesia, ternyata punya sejarah panjang dan bernilai. Ini lagi-lagi sebuah kritik serius terhadap industri musik Indonesia yang seringkali tidak pernah menghasilkan band-band yang "mengerti" betul nilai-nilai historis. Walaupun ada, kata Rahar, seperti Jun Fan Gung Foo yang katanya cukup punya banyak referensi. Sekali lagi, ketika musik hanya ditujukan agar menjadi ledakan sesaat diantara para hipster, maka jangan sedih jika selera musik masyarakat juga timbul tenggelam, tidak ajek, dan -yang paling parah- tergantung pada apa yang dimaui industri.


RGB Semakin Siap

Minggu, 1 Juli 2012

Ririungan Gitar Bandung (RGB) yang digadang akan menjadi pembuka gelaran dwitahunan KlabKlassik yaitu Classical Guitar Fiesta (CGF) nanti, semakin mempersiapkan dirinya. Berbekal persiapan empat kali latihan hingga hari-H, pertemuan ketiga kemarin RGB mulai menyimulasikan posisi bermain.


RGB yang akan memainkan Romance karya Wolfgang Amadeus Mozart ini, akhirnya mendapat angka peserta finalnya: sebelas orang. Ini diputuskan setelah beberapa kali tambal sulam pemain. Pada akhirnya ada yang memutuskan tetap ikut, adapun yang mundur oleh sebab berbagai alasan. Hal tersebut bisa dibilang wajar terjadi mengingat ensembel gitar untuk umum ini tidak mengenal keanggotaan terikat. Orang boleh bebas datang dan pergi. Yang mengikat satu-satunya adalah keinginan untuk tampil di panggung kelak saja. 

Sebelas pemain ini, diputuskan pula, nanti akan dipimpin oleh Sutrisna yang berperan sebagai konduktor. Ini menjadi urgensi tersendiri karena kata Kang Trisna sendiri, "Temponya sering tambah cepat di tengah-tengah." RGB formasi untuk CGF ini terhitung diisi pemain yang amat beragam. Ada Lalang yang masih SD, hingga Rendy yang sudah berprofesi sebagai guru gitar. Di antaranya terdapat para pemain yang tersebar di SMP, SMA, hingga kuliah.

Semoga RGB yang disiapkan dalam waktu relatif singkat ini, bisa membuka CGF 2012 dengan meriah!